NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5.Maaf yang terlambat

Rumah itu kembali sunyi.

Bukan sunyi setelah pertengkaran.

Bukan sunyi karena marah.

Melainkan sunyi yang penuh penyesalan.

Sejak pernikahan itu, Lian nyaris tak terlihat. Ia lebih sering berada di kamar. Pagi ke kampus. Sore pulang. Malam menghilang di balik pintu yang tertutup rapat. Tidak ada musik keras. Tidak ada tawa. Tidak ada jejak kenakalan yang selama ini Maya yakini sebagai identitas anaknya.

Dan justru itu…

yang membuat Maya tidak bisa tidur.

Malam itu, Maya duduk sendirian di ruang keluarga. Lampu hanya satu yang menyala. Teh di cangkirnya sudah dingin—lagi-lagi.

Ia menatap lorong menuju kamar Lian.

Sejak kapan rumah ini terasa seperti bukan rumah?

Pikirannya melayang ke tamparan itu.

Tangan yang terangkat.

Suara kulit bertemu kulit.

Tatapan Lian yang tidak marah—tidak juga menangis.

Kosong.

Maya menutup matanya kuat-kuat.

“Ya Allah…” gumamnya. “Apa yang sudah aku lakukan?”

Ketika ia membuka mata, pandangannya jatuh pada sesuatu di meja sudut: sebuah tas kain lusuh.

Tas itu milik Lian.

Biasanya tas itu selalu dibawa. Entah ke kampus, entah ke mana. Tapi malam ini tertinggal.

Entah dorongan apa yang membuat Maya bangkit.

Ia mendekat. Mengambil tas itu dengan tangan bergetar.

“Hanya lihat,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku ibunya.”

Resleting dibuka perlahan.

Buku catatan pertama—materi kuliah.

Buku kedua—jadwal organisasi.

Botol air kosong.

Lalu…

sebuah buku kecil berwarna hitam, sudutnya sudah kusut.

Maya berhenti.

Ia mengenali buku itu.

Bukan buku kuliah.

Tangannya gemetar saat membukanya.

Halaman pertama kosong.

Halaman kedua kosong.

Hingga akhirnya—tulisan tangan Lian.

Hari ini bunda bilang aku memalukan.

Maya menelan napas.

Ia membaca.

Aku tahu aku bukan anak baik.

Aku tahu aku keras, bandel, dan sering bikin orang marah.

Tapi kenapa bunda nggak pernah nanya kenapa aku begini?

Maya menjatuhkan diri ke sofa.

Tangannya mencengkeram buku itu seolah takut isinya menguap.

Ia terus membaca.

Aku berantem hari ini. Bukan karena aku mau.

Ada nenek jatuh. Semua orang cuma nonton.

Kalau aku diam, siapa yang nolong?

Air mata mulai jatuh, satu-satu.

Halaman berikutnya.

Orang bilang aku nakal. Aku terima.

Tapi aku capek dianggap jahat tanpa pernah didengar.

Maya menggeleng pelan.

“Tidak… tidak…”

Ia membalik halaman dengan napas terengah.

Setiap kali aku jelasin, bunda bilang aku cari alasan.

Jadi sekarang aku diam.

Diam lebih nggak sakit.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan apa pun.

Maya menutup mulutnya, isaknya pecah.

“Ya Allah… Lian…”

Ia membuka halaman terakhir yang tertanggal beberapa hari lalu.

Hari ini bunda nampar aku.

Aku nggak marah.

Aku cuma yakin… aku nggak pernah benar di mata bunda.

Buku itu jatuh ke lantai.

Maya terisak keras, tubuhnya gemetar. Tangannya menutup wajah, seolah ingin menghapus semua keputusan yang telah ia ambil.

Selama ini ia yakin:

Anaknya nakal.

Anaknya salah.

Anaknya perlu diselamatkan.

Namun tidak pernah—

tidak sekalipun—

ia bertanya: diselamatkan dari apa?

Pintu kamar terbuka pelan.

Haikal berdiri di ambang pintu.

Ia tidak berniat menguping.

Ia hanya mendengar tangis—tangis yang terlalu jujur untuk diabaikan.

“Bunda…” panggil Haikal pelan.

Maya—menoleh dengan mata sembab. Wajahnya runtuh sepenuhnya.

“Haikal…” suaranya bergetar. “Saya… saya salah.”

Haikal tidak langsung mendekat. Sikapnya tetap hormat, suaranya ditahan agar tidak terdengar menggurui.

“Lian bukan anak rusak, Bun,” ucapnya tenang. “Dia anak yang Tidak pernah benar-benar didengar.”

Tangis Bunda pecah.

“Saya pikir saya menyelamatkannya,” isaknya. “Saya pikir saya ibu yang baik…”

Haikal menunduk sedikit, sebagai tanda hormat.

“Kadang,” katanya lirih, “niat baik yang tidak disertai mendengar… berubah jadi luka.”

Bunda menggenggam buku catatan itu ke dadanya, tubuhnya gemetar.

“Saya menampar anak saya sendiri,” katanya tercekik. “Dan dia bahkan tidak membela diri.”

“Karena Lian sudah terlalu lama belajar,” jawab Haikal pelan, “bahwa penjelasan tidak pernah mengubah apa pun.”

Sunyi kembali turun.

Namun kali ini, sunyi itu tidak kosong.

Ia penuh penyesalan, kesadaran, dan kebenaran yang terlambat datang.

Di kamar, Lian duduk di tepi ranjang. Ia memandang dinding kosong. Tidak tahu bahwa di luar sana, ibunya sedang dihantam kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya, Maya sadar—

Ia tidak kehilangan anaknya karena kenakalan.

____

Malam itu, pintu kamar Lian diketuk pelan.

Tidak tergesa.

Tidak memaksa.

Tok. Tok.

Lian yang sedang duduk bersandar di ranjang menoleh. Buku catatan ada di pangkuannya, tapi matanya kosong, seperti biasa sejak beberapa hari terakhir.

“Masuk,” ucapnya pelan.

Pintu terbuka.

Bunda berdiri di ambang pintu.

Bukan dengan wajah marah.

Bukan dengan nada tinggi.

Melainkan wajah seorang ibu yang telah runtuh oleh kesadarannya sendiri.

“Lian…” panggilnya lirih.

Lian bangkit perlahan. Ia berdiri dengan sikap sopan yang kini terasa terlalu dewasa untuk usianya.

“Iya, Bun?”

Suara itu tenang. Tidak dingin. Tidak juga hangat.

Dan justru itu yang membuat dada Bunda semakin sesak.

Bunda melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. Tangannya gemetar, seolah setiap langkah membutuhkan keberanian yang tidak sedikit.

“Bunda boleh duduk?” tanyanya.

Lian mengangguk kecil.

“Silakan.”

Bunda duduk di tepi ranjang. Jarak mereka dekat, tapi terasa sangat jauh.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Hingga akhirnya, Bunda menangis.

Bukan isak keras.

Melainkan tangis tertahan yang pecah pelan, seperti bendungan yang retak.

“Maafin Bunda, Nak…” ucapnya tercekik.

Lian membeku.

Bunda mengangkat wajahnya, mata merah, basah, penuh penyesalan yang tidak dibuat-buat.

“Bunda salah. Salah besar,” lanjutnya. “Bunda nggak pernah benar-benar dengar kamu.”

Lian menunduk.

Bunda mengangkat tangannya—ragu, takut—lalu perlahan menyentuh pipi Lian.

Pipi yang pernah ia tampar.

Sentuhan itu sangat hati-hati, seolah ia takut mengulang luka yang sama.

“Di sini…” bisik Bunda, ibu jarinya mengusap lembut. “Maafkan Bunda.”

Lian mengangkat wajahnya.

Matanya tidak basah.

Tidak juga marah.

“Bun…” suaranya pelan. “Lian nggak marah.”

Bunda tersentak.

“Apa?” tanyanya nyaris berbisik.

“Aku nggak dendam,” lanjut Lian jujur. “Aku juga nggak benci Bunda.”

Air mata Bunda jatuh lagi.

“Terus… kenapa kamu diam?” tanyanya putus asa.

Lian menarik napas panjang.

“Karena waktu itu aku kaget,” jawabnya perlahan. “Dan… sedih.”

Hanya itu.

Tidak dilebihkan.

Tidak dikurangkan.

“Aku nggak pernah kepikiran Bunda bakal nampar aku,” lanjut Lian lirih. “Aku nggak siap.”

Bunda menutup mulutnya, terisak.

“Lian nggak perlu memaafkan Bunda,” kata Lian jujur. “Soalnya… Lian nggak marah.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari kata aku marah.

Bunda akhirnya tidak kuat menahan diri.

Ia menarik Lian ke dalam pelukannya.

Pelukan seorang ibu yang terlambat sadar.

Lian terkejut sesaat—lalu membalasnya.

Tidak erat.

Tidak juga menolak.

Hanya diam.

Bunda mengusap rambut Lian, kemudian pipinya lagi, berkali-kali, seolah ingin menghapus hari itu dari ingatan.

“Bunda janji,” bisiknya di sela tangis. “Bunda akan dengar. Walaupun ceritanya buruk. Walaupun orang lain bilang kamu salah.”

Lian menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya terasa sedikit… ringan.

Namun bukan berarti sembuh.

Pelukan itu tidak menghapus luka.

Tidak juga mengembalikan gadis ceria yang dulu.

Tapi setidaknya—

malam itu—

Lian tahu satu hal:

Ibunya akhirnya melihatnya.

Di luar kamar, Haikal berdiri diam.

Ia tidak masuk.

Tidak juga menguping.

Namun dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat pelukan itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, Haikal menghela napas lega.

Perlahan.

Namun ia juga tahu—

pelukan itu bukan akhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!