Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bara di Dalam Sekutu
Pagi di rumah persembunyian itu diawali dengan aroma minyak kayu putih dan kopi pahit. Devan masih terbaring di tempat tidur, wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya, namun sorot matanya sudah kembali tajam. Di luar kamar, suara debuman keras terdengar berulang kali. Lia sedang berada di halaman belakang bersama Baron, menjalani hari pertama latihan fisik yang sesungguhnya.
"Lagi, Nona Lia! Jangan gunakan perasaan, gunakan pinggulmu untuk menambah tenaga!" seru Baron sambil memegang padding tinju.
Lia terengah-engah, keringat membasahi kaos abu-abunya. Ia melayangkan pukulan lurus yang mengenai sasaran dengan bunyi plak yang cukup nyaring. Meski tangannya terasa pedas, ia tidak berhenti. Bayangan saat ia diseret paksa oleh Marco menjadi bahan bakar emosinya. Ia tidak ingin lagi menjadi beban yang hanya bisa menjerit saat bahaya datang.
Di ambang pintu belakang, Devan muncul dengan bahu yang masih diperban, bersandar pada kusen kayu sambil memperhatikan Lia. Ada rasa bangga sekaligus pedih di hatinya melihat gadis lembut itu harus mengotori tangannya dengan kekerasan.
"Cukup untuk hari ini, Baron," perintah Devan pelan.
Baron menurunkan padding-nya dan membungkuk hormat. Lia segera mengambil handuk dan berlari ke arah Devan. "Kenapa bangun? Dokter Han bilang kamu harus tidur!"
Devan tersenyum tipis, mengusap peluh di dahi Lia. "Aku tidak bisa tidur kalau mendengar pacarku sedang berusaha merobohkan tembok rumah ini dengan tinjunya. Kamu hebat, Lia."
Namun, suasana hangat itu terusik ketika sebuah motor sport hijau—warna yang jarang digunakan oleh inti Black Roses—berhenti di depan rumah. Seorang pria bertubuh tegap dengan rambut cepak dan tato kalajengking di lehernya turun dari motor. Namanya adalah Raka, salah satu komandan divisi wilayah Utara yang dikenal temperamental dan haus kuasa.
Baron langsung berdiri di depan Devan, wajahnya menegang. Raka adalah orang yang paling vokal mengkritik kepemimpinan Devan sejak Devan mulai dekat dengan Lia.
"Bos," sapa Raka dengan nada yang tidak terlalu hormat. Ia melirik Lia dengan tatapan meremehkan.
"Maaf mengganggu waktu 'bulan madu' kalian, tapi markas sedang kacau. Anak-anak di Utara mulai bertanya-tanya, kenapa ketua mereka bersembunyi di rumah tua sementara sisa-sisa The Vipers mulai mengambil alih jalur distribusi kita?"
Devan menegakkan punggungnya, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di punggungnya. "Aku tidak bersembunyi, Raka. Aku sedang memulihkan diri untuk menghancurkan mereka sekaligus."
Raka terkekeh sinis, ia melangkah maju, melewati garis batas yang seharusnya. "Atau kamu terlalu sibuk mengajari gadis sekolah ini cara meninju? Dengar, Devan. Black Roses dibangun di atas darah dan aspal, bukan di atas kisah cinta picisan. Jika kamu tidak bisa memimpin karena sibuk menjaga 'Ratu' barumu ini, mungkin sudah saatnya kursi ketua diberikan pada orang yang lebih fokus."
Suasana mendadak dingin. Baron sudah mengepalkan tangannya, siap menghantam wajah Raka, namun Devan mengangkat tangan, menahan Baron.
"Kamu menantangku, Raka?" tanya Devan dengan suara yang sangat rendah, jenis suara yang biasanya menjadi pertanda badai besar.
"Aku hanya menyampaikan aspirasi anak-anak, Bos," jawab Raka, meski matanya jelas menunjukkan ambisinya sendiri. "Kami tidak ingin dipimpin oleh seseorang yang kelemahannya sudah diketahui seluruh kota. Clara dulu hampir menghancurkan kita, dan sekarang gadis ini? Kamu tidak belajar dari sejarah."
Lia merasa jantungnya berdegup kencang. Ia merasa menjadi penyebab keretakan di dalam keluarga Devan. Ia ingin bicara, namun ia tahu di dunia ini, ia belum memiliki suara.
"Pergi dari sini, Raka," perintah Devan. "Besok malam, aku akan datang ke markas. Kita selesaikan ini di depan seluruh anggota. Jika kamu merasa lebih pantas, kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Raka tersenyum puas, ia memakai helmnya kembali. "Aku tunggu di markas, Devan. Jangan sampai telat hanya karena harus membacakan dongeng sebelum tidur untuk pacarmu."
Setelah Raka pergi, Devan terdiam cukup lama. Ia memandang langit yang mulai mendung. Lia mendekat, menggenggam tangan Devan yang gemetar karena amarah yang ditahan.
"Devan, apa aku benar-benar membuatmu dalam masalah?" tanya Lia lirih.
Devan berbalik dan memeluk Lia erat, mengabaikan rasa sakit di luka jahitannya. "Bukan kamu, Lia. Raka hanya mencari alasan. Dia sudah lama menginginkan posisiku, dan dia menggunakanmu sebagai senjatanya. Tapi dia salah satu hal... dia tidak tahu bahwa kamu adalah alasan aku masih ingin mempertahankan Black Roses."
Malam itu, Devan tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang tamu bersama Baron, merencanakan strategi. Ia tahu bahwa Raka tidak bergerak sendirian. Ada kemungkinan Raka telah melakukan kontak dengan Clara atau Marco untuk menjatuhkan Devan dari dalam.
Lia, yang mengamati dari balik pintu, menyadari bahwa musuh kali ini jauh lebih berbahaya karena mereka mengenakan seragam yang sama dengan Devan. Ia mengambil buku catatannya, bukan untuk menulis puisi, melainkan untuk mencatat poin-poin yang ia dengar tentang pergerakan divisi Utara. Ia ingin membantu Devan dengan cara yang ia bisa—lewat otaknya.
"Jika mereka menyerang dari dalam, kita harus tahu siapa saja yang masih setia," gumam Lia pelan sambil menuliskan nama-nama anggota yang pernah ia temui.
Keesokan harinya, Devan bersiap pergi ke markas. Ia mengenakan jaket kulitnya kembali, menutupi perban yang masih terpasang. Sebelum berangkat, ia memberikan sebuah pisau lipat kecil yang cantik dengan ukiran mawar pada Lia.
"Simpan ini. Jika terjadi sesuatu di rumah ini saat aku pergi, Baron akan membawamu ke bunker bawah tanah," pesan Devan.
"Hati-hati, Devan. Jangan biarkan emosimu mengendalikanmu," Lia mencium pipi Devan.
Saat motor Devan dan Baron menghilang di balik tikungan, Lia merasakan firasat buruk. Ia merasa bahwa malam ini bukan hanya tentang siapa yang akan menjadi ketua Black Roses, melainkan tentang hidup dan mati cinta mereka yang baru saja mekar. Ia tidak tahu bahwa di markas, Raka sudah menyiapkan jebakan yang jauh lebih licik daripada sekadar tantangan duel satu lawan satu.
Di sudut lain markas, Raka sedang menerima telepon dari seseorang. "Semua sudah siap. Devan akan datang malam ini. Dan saat dia jatuh, gadis itu akan menjadi milikmu untuk kau lakukan apa saja, Marco."
Pengkhianatan telah dimulai, dan bara di dalam sekutu itu siap membakar siapa saja yang ada di dekatnya.