NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

"Nayla, ajak Papa masuk. Biar Mas bicara sebentar dengan Ayah dan Bunda," ucap Hilman lembut.

Dengan berat hati, Nayla melangkah mendekati papa kandungnya. "Ayo, Pa... masuk. Tapi tolong, jangan bikin ribut lagi. Nayla mohon."

Pak Baskoro berjalan masuk dengan gaya angkuhnya, diikuti dua pengawalnya yang membuat rumah mungil itu terasa sempit. Sementara itu, di teras, Pak Lurah menatap Hilman dengan penuh penyesalan.

"Maafkan Bapak ya, Man. Masa lalu Nayla memang agak rumit. Baskoro itu orang yang keras kepala," ucap Pak Lurah.

Hilman tersenyum tulus. "Tidak apa-apa, Ayah. Justru ini kesempatan Hilman untuk membuktikan bahwa Hilman serius menjaga Nayla. Hanya saja..." Hilman melirik ke dalam rumah, "...sepertinya tiga hari ke depan, Hilman harus ekstra sabar menghadapi ujian mertua yang sebenarnya."

Bunda mengusap lengan Hilman. "Sabar ya, Le. Mas Hilman tenang saja, Bunda ada di pihak kalian."

Suasana yang baru saja sedikit mereda tiba-tiba kembali pecah saat sebuah mobil mewah lain berhenti tepat di depan gerbang. Pintu mobil terbuka, dan turunlah Siska, istri baru Pak Baskoro, bersama putrinya, Tiara, yang merupakan adik tiri Nayla.

Siska melangkah dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi nyaring di atas tanah, wajahnya penuh polesan makeup tebal dan senyum yang terlihat meremehkan. Sementara Tiara, yang berpakaian sangat modis khas anak scenic Jakarta, tampak memandang jijik ke arah sekitar.

"Aduh, Mas Baskoro! Kok betah sih lama-lama di tempat terpencil begini? Panas, banyak nyamuk lagi!" keluh Siska sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya.

Lalu, matanya tertuju pada Nayla yang masih bersandar pada Hilman. Siska berjalan mendekat dengan gaya angkuhnya.

"Ayo, Kak Nayla, pulang! Apa sih yang dicari di sini? Lihat tuh, kulit kamu jadi kusam, bajunya juga jadi kampungan begitu. Papa sudah siapkan apartemen baru buat kamu di Jakarta kalau kamu mau balik sekarang," ucap Siska dengan nada bicara yang dibuat-baik padahal aslinya menyindir.

Tiara ikut menimpali sambil sibuk membenarkan rambutnya. "Iya, Kak. Lagian masa Kakak mau sih nikah sama... emm, Mas-mas sarungan begini? Nggak malu apa kalau diajak ke party temen-temen kita nanti?"

Mendengar hinaan terang-terangan itu, wajah Arkan langsung merah padam. "Heh, Tante! Jaga ya mulutnya! Mas Hilman ini lebih terhormat daripada laki-laki mana pun yang kalian kenal di Jakarta!"

Hilman sendiri hanya diam, wajahnya tetap tenang meski hatinya terusik melihat istrinya direndahkan. Ia justru semakin erat merangkul bahu Nayla, memberi kekuatan.

Nayla, yang biasanya meledak-ledak, kali ini justru menarik napas dalam. Ia menatap Siska dan Tiara bergantian. "Tante Siska, Tiara... makasih tawarannya. Tapi rumah aku di sini. Suami aku di sini. Dan soal pakaian atau kulit, itu nggak penting buat aku sekarang. Yang penting hati aku tenang, nggak penuh drama kayak di Jakarta."

Pak Baskoro berdehem keras. "Sudah! Siska, kamu jangan ikut campur dulu. Saya sudah buat kesepakatan. Kita menginap di sini tiga hari!"

"Apa?! Menginap di sini?!" Siska memekik kaget. "Mas, yang benar saja? Tidur di mana? Di kasur tipis begitu? Aku nggak mau ya kalau besok badanku pegal semua!"

Bunda (Ibu Nayla) mencoba menengahi dengan suara gemetar. "Kamar tamu sudah disiapkan, Jeng Siska. Memang sederhana, tapi bersih."

Siska melirik Bunda dengan tatapan sinis. "Oh, jadi ini rumahnya? Pantas saja. Ayo Tiara, bawa barang-barang kita masuk. Kita lihat sampai kapan Kakakmu ini betah hidup susah di sini."

Suasana jadi makin kacau. Hilman berbisik lembut di telinga Nayla, "Sabar ya. Mas ada di samping kamu. Anggap saja ini ujian naik kelas buat kita."

Nayla membalas bisikan Hilman, "Mas... kayaknya tiga hari ke depan bakal jadi neraka kalau ada mereka berdua. Mas kuat kan?"

Hilman tersenyum menenangkan, lalu menatap keluarga dari Jakarta itu satu per satu dengan tatapan seorang Gus yang tidak bisa diremehkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!