Menikah adalah hal sakral yang tidak boleh di permainkan. Namun, pernikahan Elena terjadi karena semata-mata ingin menyelamatkan nyawa papanya yang sedang terancam. Dan tanpa diketahui, ternyata dirinya menjadi istri kedua dan bukanlah istri satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anasta_syia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Elena" panggil Rafael membuat Elena membalikkan badannya menghadap Rafael. Wajah keduanya bertemu dan hanya berjarak beberapa senti saja. Rafael mendekatkan wajahnya pada Elena membuat gadis itu kebingungan. "Ada apa?" tanya Elena dan memundurkan wajahnya mengikuti gerakan Rafael yang terus maju.
Hingga tangan Rafael menahan kepala gadis itu membuat wajah Rafael dan Elena benar-benar semakin dekat. Ucapan papanya selalu berputar-putar di ingatannya. "Ada apa?" tanya Elena semakin takut dengan Rafael yang matanya sudah berubah menjadi sayu.
Elena meneguk ludahnya kasar dan degup jantungnya semakin berpacu dengan cepat. Apa yang akan dilakukan oleh pria itu? Tanpa aba-aba Rafael mencium bibir Elena membuat gadis itu terkejut bukan main. Elena terdiam tak berkutik dengan apa yang dilakukan oleh Rafael. Meskipun hatinya ingin menolak namun tubuhnya tak melakukan apapun bahkan memberontak.
Kini tangan Rafael sudah menyusup masuk ke dalam piyamanya. Elena mendorong wajah Rafael hingga ciuman mereka terlepas. Gadis itu kehabisan nafas karena Rafael tak memberinya celah sedikit pun untuk dirinya mengambil nafas.
"Aku menginginkanmu malam ini" Rafael semakin brutal dan melepas seluruh kancing piyamanya tanpa meminta persetujuan Elena terlebih dahulu. Rafael mengeksplor seluruh tubuh Elena bagian atas dan bermain-main dengan liar. Entah kenapa ia begitu menginginkan tubuh Elena saat ini meskipun ia sudah melupakan permintaan Arthur.
Entah keinginan tubuhnya sendiri atau ada dorongan lain Rafael pun tak tau. "Rafael" lenguh Elena menyebut nama pria itu membuat Rafael menyunggingkan senyuman puas. Beberapa menit bermain di area atas, Rafael kini pindah pada bagian tubuh Elena yang bawah.
Ia akan memiliki Elena seutuhnya malam ini. "Sayang" Rafael mencium kedua pipi Elena dengan penuh kasih. Tidak seperti beberapa waktu lalu dimana selalu ada pertengkaran diantara keduanya.
"Arghhh" jerit Elena sembari mencengkeram sprei untuk menahan rasa sakit saat Rafael berusaha menerobos masuk pertahanannya. "Rafael pelan-pelan" Air mata wanita itu menetes dari sudut matanya dan langsung dihapus oleh Rafael. "Aku akan lebih pelan lagi sayang" bisikan Rafael tepat di telinga Elena membuat gadis itu sedikit lebih rileks hingga ia bisa menikmati permainan Rafael. Meskipun sedikit brutal namun Rafael tetap mengutamakan kenyamanan Elena.
"Elena" lenguh Rafael menyebut nama wanita itu yang kini sudah ia miliki seutuhnya. Ia menatap wajah Elena yang dipenuhi dengan peluh. Dengan perlahan Rafael mengusap peluh di wajah Elena dan membiarkan wanita itu tertidur.
Ia turun dari ranjang dan membersihkan kamarnya yang berantakan karena ulahnya beberapa saat lalu. Waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi dan dia belum tidur sama sekali? Rafael menurunkan suhu AC dan ikut masuk ke dalam selimut. Rafael melirik sekilas wajah Elena sebelum akhirnya menutup matanya dan masuk ke dalam alam mimpi.
Pagi harinya, Rafael bangun terlebih dahulu di pukul 9 pagi. Sedangkan Elena masih nyenyak tidur dan berkutat di alam mimpinya tanpa ada niatan untuk bangun. Rafael membuka selimutnya dan melihat ada noda darah di sprei putih itu. "Aku gatau apa yang istimewa dari mu yang membuat papa memintaku untuk menikahi gadis sepertimu" gumam Rafael.
Pria itu menikmati wajah Elena yang tenang dan sangat cantik ketika sedang tertidur. Tangan pria itu terulur menyentuh hidung Elena kemudian beralih pada kedua mata dan berakhir di bibir wanita itu. Entah mengapa ia ingin mengecup bibir wanita itu yang begitu manis baginya. Rafael memajukan wajahnya dan mencium sekilas bibir Elena.
"Eughh" Elena perlahan membuka kedua matanya dan langsung bersitatap dengan netra Rafael. Elena terlonjak kaget sehingga langsung memposisikan tubuhnya dengan duduk. Wanita itu lebih dikejutkan lagi dengan tubuhnya yang polos begitupun dengan Rafael. "Jadi semalam bukan mimpi?" gumam Elena.
"Apa yang aku lakukan" Elena memukul kepalanya sendiri kemudian menatap Rafael yang mengangkat satu alisnya saat ia tatap.
"Kenapa? Mau lagi?" Elena mencebik dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri meninggalkan Rafael yang masih duduk di atas ranjang dengan tubuh yang polos.