Likha Charina
Gadis desa yang merantau ke Ibu Kota Jakarta bersama temanya untuk bekerja. Bagaimana dia bisa hidup di tempat perantaun dan bagaimana dia bisa terjebak dengan pergaulan bebas.
21 +
di tunggu kritik dan saranya
jangan lupa vote like dan komen ya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti solikhah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat
Hari libur telah usai untuk Likha.
Kini dirinya memasuki depan restoran, dia berangkat menggunakan ojek online.
Irfan tak menjemputnya karena Irfan kesiangan katanya pada Likha di telephone tadi pagi.
Likha memasuki restoran dan bertegur sapa dengan karyawan yang lain.
Sepasang mata memperhatikan Likha penuh dengan marah.
Namun Likha tak melihat tatapan itu.
"Kha, kha, kha ." teriak Maya menghampiri Likha dari arah ruang karyawan.
Likha yang merasa ada memanggil-manggil namanya pun mencari sumber suara tersebut.
Dengan mengulas senyum manis di bibir tipisnya "hai" Likha menyapa Maya dengan tanganya melambai ke arah Maya.
Maya menghamburkan pelukan kerinduan terhadapa Likha yang kemarin jadwalnya libur.
Dan untuk hari ini Maya satu shif dengan Likha.
"Kangen" dengan mengeratkan pelukanya pada Likha.
"Iiih apaan si " kekeh Likha dan sama-sama melepaskan pelukan itu.
"Aku mau ganti baju dulu, nanti Bu Hani keburu dateng" Likha terlihat mencari seseorang yang ia sebutkan namanya baru saja.
"Saya memang sudah datang " ucap Bu Hani yang berdiri di belakang Likha.
Likha pun menjingkatkan tubuhnya karena terkejut dengan kehadiran Bu Hani yang tiba-tiba.
"Eh ibu" Likha menggaruk rambutnya yang tak gatal, di iringi membungkukan setengah badanya, untuk memberi rasa hormat pada atasanya tersebut.
"Kenapa telat ?" dengan tegas bu Hani berbicara.
"Hehehe" Likha malah tertawa ringan di deoan Bu Hani.
Baginya menjawab pertanyaan bu Hani pun akan sama, dan bu Hani akan menjawab alasan begitulah di benak Likha.
Maya yang melihat kecanggungan Likha pun menahan tawa dengan menutup mulutnya sesekali, baginya ini hal menarik untuk jadi hiburan jika ada karyawan terkena omel Bu Hani.
"tertawa lagi" Bu Hani dengan menatap tajam namun tidak terlihat galak.
"Maaf Bu" Likha dengan tersenyum dan tatapan canggung.
"Ya sudah sana ganti baju" Bu Hani menyuruh Likha mengganti pakaianya.
Dan Likha menganggukan kepalanya, lalu meninggalkan Bu Hani dan Maya.
"Kamu ngapain masih disini bukanya kerja" dengan menatap Maya yang terlihat cengengesan melihat Likha di semprot Bu Hani.
"Biasa saja kali Han" dengan Maya yang masih terlihat tersenyum-senyum atas kejadian di depan matanya.
"Ini di restoran, saya atasan kamu" dengan nada yang tegas dan agak sedikit keras agar di dengar karyawan lain.
Namun Bu Hani menaik turun kan alisnya untuk meledek Maya.
Maya yang masih termangu dari tempatnya, menatap Bu Hani dan memutar bola matanya malas.
Dan berlalu meninggalkan Bu Hani yang masih menaik turunkan alisnya sembari meanarik kedua sudut bibirnya ke atas.
Meledek Maya yang agak kesal dengan sikapnya.
"Hai mau kemana kamu ? Saya belum selasai" Bu Hani berusaha menghentikan Maya yang berlalu meninggalkanya.
"Nggak sopan" dengan tersenyum kemenangan, Bu Hani terhadap Maya.
Dan sesekali menutup mulutnya, agar karyawan lain tak melihatnya terkekeh atas sikapnya pada Maya.
"Kenapa kalia lihat-lihat. Sana kembali bekerja" dengan sedikit berteriak Bu Hani memerintah karyawanya untuk melanjutkan pekerjaanya.
Karena karyawan menghentikan pekerjaan sejenak untuk menonton Bu Hani, Likha dan Maya.
Dengan cepat karyawan kembali menyibukan dirinya kembali.
"huh huh huh"suara deru mulut Irfan yang berlari kecil Irfan memasuki restoran.
"Kamu kenapa terlambat ? " Tegur Bu Hani dan menghentikan langkah Irfan.
"Nggak usah berlebihan Han" Irfan menatap malas Bu Hani sembari mengatur nafasnya karena lari dari parkiran ke depan pintu masuk restoran.
"Ini restoran, gua harus profesional" Bisik Bu Hani pada Irfan.
Dan karyawan pun menatap mereka penuh curiga.
Bu Hani kembali memposisikan berdirinya menjauh satu langkah dari Irfan.
"Kali ini saya maafkan, besok ulangi lagi saya pecat kamu" nada tegas khas atasan membuat karyawan lain yang mendengarnya takut.
Karyawan yang tadi menatap Bu Hani dan Irfan langsung menyibukan diri mereka kembali pada kerjaanya masing-masing.
"Iya bu maaf" dengan nada malas Irfan mengucapkan permintaan maaf.
"Ya sudah sana ganti bajumu"
"Baik bu" Irfan memutar bola matanya, dan berlalu meninggalkan Bu Hani.
Bu Hani hanya menahan tawanya dan sesekali menutup mulutnya dan kembali ke dalam ruanganya.
Menurut Irfan tak harus si Hani seformal itu pada dirinya.
Ia menganggap Bu Hani terlalu berlebihan.
Namun ia mengerti Hani adalah orang perfectionis jadi dia akan melakukan sesuatu dengan profesional.
Irfan, Maya dan Hani adalah teman satu sekolah kuliah.
Irfan yang menyukai meracik berbagai jenis minuman dari teh, kopi dan lain lain menjadi hobinya.
Meski jurusanya kuliahnya dulu adalah IT.
Dan Maya yang sebarnya lebih cerdas dari mereka berdua, lebih menyukai kebebasan dan tidak menyukai hal-hal yang meropatkan.
Dan Hani ia adalah orang yang perfectionis dalam segala hal.
Makanya meski sedang di restoran dia mampu bersikap profesional.
Meski terhadap kedua sahabatnya itu.
Meski mereka berbeda karakter tak mengurangi rasa persahabatan mereka.
Jika waktu senggang mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah itu hanya ngopi di kafe atau sekedar menontom film.
***
"Mas bangun, kamu nggak kerja ?" Enik menggucang tubuh Bagas yang masih melingkarkan tanganya di bagian dada Enik.
"hhhmmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Bagas tanpa membuka matanya.
"iiihhh bangun" Enik menggucang tubuh Bagas lebih keras.
Membuat Bagas sedikit membuka matanya namun menutupnya kembali.
Enik yang sudah tak sabar, akan bangkit dari tidurnya namun dengan cepat Bagas menarik tubuh Enik kedalam pelukanya.
Enik tau apa yang Bagas inginkan.
Mereka yang masih-masih sama-sama polos membuat Bagas dengan mudah memainkan setiap inci bagian tubuh Enik.
Enik yang mulai menikmati permainan Bagas hanya memejamkan matanya.
Ia lupa, bagaimana dirinya membangunkan Bagas, dengan tubuhnya dalam benak Enik.
Meraka melakukanya olah raga pagi di atas kasur.
Sedangkan jam ding-ding di kamar menujukan pukul tujuh pagi.
Namun tak menghentikan permainan mereka.
***
Likha yang tengah bersiap untuk pergantian shif dan sesekali menatap dimana kekasihnya berada.
Kekasihnya berada di mini bar tempatnya bekerja dengan mengulas senyum di bibirnya, ia memperhatikan kekasihnya yang sedang meracik secangkir kopi untuk pelanggan.
*Bu*uuugggg
Suara seseorang menabrak Likha dari belakang dan membuyarkan tatapannya dan membalikan tubuhnya dengan kesal.
"Heiiii...." dengan suara semakin lirih ia menatap seorang pria yang sepertinya pernah ia lihat.
"Maaf" satu kata yang keluar dari lelaki yang menabrak Likha.
Dan berlalu meninggalkan Likha tanpa menunggu jawaban dari Likha.
Likha yang melihat itu membulatnya mulutnya.
"Dasar nggak sopan" dengan menatap punggung pria itu.
Ia baru teringat jika lelaki itu adalah orang yang pernah ia tabrak dua kali.
"ngapain dia keruangan bu Hani" batin Likha dengan memperhatikan kemana arah tujuan lelaki yang telah menabrak dirinya.
.
.
.
.
.hai guys jangan lupa tinggalkan jejak ya guys.
LIKE VOTE dan KOMEN.