Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang Nomor 47
Malam di Yorknew terasa lebih gelap dari biasanya. Awan tebal menutupi langit, membuat lampu neon kota terpantul di genangan air hujan sisa sore tadi. Raito dan Mira berjalan cepat melalui distrik industri pinggiran—tempat pabrik-pabrik tua yang sudah ditinggalkan, gudang berkarat, dan jalanan yang jarang dilalui orang. Udara bau besi karat dan minyak mesin lama.
Gudang nomor 47 berdiri sendirian di ujung jalan buntu, pintu besinya setengah terbuka, cahaya kuning redup menyembur dari celah. Di depan pintu, dua penjaga berdiri dengan jaket kulit berlambang ular hitam—sama seperti yang mereka temui di pasar gelap kemarin.
Mira berhenti di belakang tumpukan drum kosong, menarik Raito ikut bersembunyi. “Kita nggak masuk langsung. Kita dengar dulu.”
Mereka mendekat pelan, bersembunyi di bayang-bayang. Suara dari dalam gudang terdengar samar: bicara pelan, tawa kecil, dan bunyi logam bergesekan seperti senjata sedang dibersihkan.
Salah satu penjaga berbicara ke walkie-talkie. “Bos, dua orang mendekat. Satu cowok muda dengan aura aneh, satu cewek berpisau. Cocok dengan deskripsi.”
Suara dari walkie: “Biar mereka masuk. Kita tunggu di dalam.”
Mira melirik Raito. “Mereka tahu kita datang. Ini jebakan atau undangan sungguhan. Kamu yakin mau lanjut?”
Raito mengangguk. Cahaya di dadanya berdenyut pelan—bukan takut, tapi siap. “Kalau kita kabur sekarang, mereka akan terus kejar. Lebih baik hadapi sekarang.”
Mira menghela napas. “Baik. Aku masuk duluan. Kamu ikut dari belakang. Kalau ada yang salah, kabur ke pintu belakang gudang. Jangan heroik.”
Mereka maju. Penjaga tidak menghalangi—malah membuka pintu lebar-lebar.
Di dalam gudang luas tapi gelap, hanya beberapa lampu gantung kuning yang menyala. Di tengah ruangan, meja panjang besi dengan kursi-kursi kosong. Di ujung meja duduk seorang pria paruh baya—rambut pendek abu-abu, jas hitam rapi, tapi mata kirinya ditutup penutup mata kulit. Di sekelilingnya, enam orang berdiri dengan senjata: tongkat besi, pisau, dan satu orang memegang pistol.
Pria itu tersenyum. “Selamat malam, Raito. Dan Mira—mantan tentara bayaran yang hilang dari radar. Duduk.”
Mereka tidak duduk. Raito berdiri tegak, Mira di sampingnya dengan tangan dekat pisau.
“Siapa kamu?” tanya Raito.
“Namaku Viktor. Pemimpin Shadow Serpent di distrik ini. Kami bukan mafia besar seperti Troupe atau yang di lelang besar. Kami kecil, tapi kami pintar. Dan kami dengar tentang anak baru di Heavens Arena yang punya ‘cahaya’. Cahaya yang bisa menyilaukan, menyembuhkan kecil, dan… membuat orang menyerah tanpa pukulan telak.”
Raito diam. Viktor melanjutkan.
“Kami butuh orang seperti kamu. Kami punya musuh: geng saingan yang mulai kuasai pasar gelap. Mereka punya petarung Nen kuat. Kalau kamu bergabung, kami beri perlindungan, uang, dan info tentang ‘Eclipse Stone’ yang kamu cari kemarin. Kami tahu itu asli—dan kami tahu cara pakainya tanpa mati.”
Mira mendengus. “Dan kalau kami tolak?”
Viktor tersenyum lebih lebar. “Kalian nggak akan keluar dari Yorknew hidup-hidup. Kami punya orang di arena, di pasar, di jalan. Cahaya-mu terlalu mencolok, Raito. Kalau nggak bergabung dengan kami, kamu akan jadi target semua orang.”
Raito merasakan aura Viktor—dingin, licin, seperti ular yang melingkar. Bukan Nen kuat seperti Blind Shadow, tapi penuh niat jahat. Enam orang di sekitar mulai maju pelan, senjata siap.
Mira berbisik. “Kita kabur. Pintu belakang di sebelah kanan.”
Raito menggeleng pelan. “Kalau kita kabur sekarang, mereka akan kejar terus. Dan kalau mereka tahu tentang Eclipse Stone… mungkin mereka tahu lebih banyak tentang aku.”
Dia maju selangkah. “Aku nggak mau bergabung. Aku nggak mau jadi senjata kalian. Tapi aku mau tahu: dari mana kalian tahu tentang cahaya-ku? Dan Eclipse Stone itu benar-benar bisa buka portal?”
Viktor tertawa. “Kamu berani tanya. Bagus. Cahaya-mu sudah jadi rumor di arena bawah tanah. Dan Eclipse Stone… kami dapat dari pedagang yang lolos dari Dark Continent. Itu batu dari ‘Zona Cahaya Gelap’—tempat di mana cahaya dan kegelapan bertabrakan. Katanya bisa hubungkan dunia. Tapi butuh pengorbanan besar. Darah keluarga, atau jiwa seseorang yang kamu sayang.”
Raito merasa dingin menjalar di punggung. Mira menarik lengannya. “Cukup. Kita pergi.”
Tapi Viktor angkat tangan. “Terlambat.”
Enam orang maju serentak. Pertarungan pecah lagi—tapi kali ini lebih brutal.
Mira langsung bertarung dengan dua orang—pisau berputar cepat, darah muncrat dari lengan salah satu penyerang. Raito menghadapi tiga orang sekaligus. Aura Ten-nya aktif penuh, tapi lawan-lawannya bukan pemula: satu pakai tongkat besi dibungkus aura Enhancement, yang lain pisau dengan aura tajam seperti Lena.
Raito menghindar, menangkis, tapi jumlah terlalu banyak. Tongkat mengenai bahunya—tulang terasa retak lagi. Pisau menggores lengan—darah menetes deras. Dia balas dengan Light Burst—cahaya meledak di wajah salah satu penyerang, membuatnya menjerit dan mundur.
Tapi yang lain maju. Raito jatuh ke belakang, punggung menghantam drum besi. Napasnya tersengal. Aura-nya mulai retak.
Mira berteriak. “Raito! Bangun!”
Dia melihat Mira terpojok—dua lawan menekannya ke dinding. Viktor berdiri di belakang, tersenyum.
Raito bangun pelan. Darah menetes dari lengan ke lantai. Dadanya panas—Inner Light berdenyut kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang lebih dalam: dia tidak mau Mira terluka. Tidak mau orang yang sudah bantu dia sejak hutan itu mati di sini.
Cahaya di dadanya meledak pelan—bukan bola kecil, tapi gelombang hangat yang menyebar ke seluruh tubuh. Luka-lukanya terasa hangat, darah berhenti mengalir lebih cepat. Aura-nya pulih seketika—bukan penyembuhan sempurna, tapi cukup.
Dia maju. Cahaya di tangan kanannya membentuk sinar tajam lagi—tapi kali ini lebih panjang, lebih terang. Seperti pedang cahaya kecil.
Tiga penyerang maju bersamaan. Raito ayunkan “pedang” itu—sinar cahaya mengiris udara, bukan memotong fisik, tapi mengiris aura mereka. Ketiganya terpental ke belakang, aura retak, tubuh lemas seperti disetrum.
Viktor melebar mata. “Apa itu…?”
Mira memanfaatkan momen—dia dorong dua lawannya, lalu lari ke arah Raito. “Ayo kabur!”
Mereka berlari ke pintu belakang. Viktor berteriak. “Tangkap mereka!”
Tapi Raito berbalik sebentar. Dia angkat tangan—gelombang cahaya hangat meledak lagi, bukan untuk serang, tapi untuk silau dan ganggu. Cahaya menerangi seluruh gudang seperti siang hari, membuat semua orang menutup mata.
Mereka kabur ke malam gelap.
Di gang belakang, mereka berlari sampai napas habis. Mira bersandar di tembok, napas tersengal. Raito memegang lengan yang berdarah, tapi cahaya di dadanya masih berdenyut—seperti pelindung.
“Kamu… tadi itu apa?” tanya Mira.
Raito menggeleng. “Aku nggak tahu. Rasanya… aku nggak mau kamu terluka.”
Mira memandangnya lama. Lalu dia tersenyum kecil. “Terima kasih. Tapi ini baru permulaan. Shadow Serpent nggak akan berhenti. Dan kalau mereka tahu Eclipse Stone bisa buka portal… mereka akan kejar kamu lebih ganas.”
Raito memandang langit gelap. “Kalau gitu, aku harus lebih kuat. Bukan cuma untuk pulang… tapi untuk lindungi orang yang ada di sampingku.”
Cahaya di dadanya berpendar pelan—seperti setuju.
Malam itu, konflik tidak berakhir. Malah baru mulai membesar.
Dan Raito tahu, cahaya kecilnya harus menjadi lebih terang—atau Yorknew akan menelannya selamanya.