NovelToon NovelToon
Sang Ratu Dua Dunia

Sang Ratu Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.

Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.

Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.

Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.

Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Parameter Kepunahan Part 1

POV Dunia

Hari kedua tidak dimulai dengan matahari.

Karena di banyak tempat—matahari terlihat berbeda.

Di Argentina, ia tampak terlalu besar.

Di Norwegia, terlalu redup.

Di sebagian Asia, bayangannya jatuh ke arah yang salah.

Observatorium global menyampaikan laporan yang sama:

Konstanta kosmologis berubah tipis—

tidak cukup untuk membunuh langsung,

cukup untuk membuat segalanya tidak stabil.

Zona anomali Antartika kini berdenyut seperti jantung.

Setiap 47 menit—

ia mengembang.

Lalu menyusut.

Seolah sesuatu sedang bernapas.

Dan dunia tahu—

itu bukan dunia yang bernapas.

POV Maria

Aku terbangun bukan karena cahaya.

Tapi karena rasa hampa.

Bukan hampa emosional.

Hampa eksistensial.

Seolah sebagian kecil dunia… tidak lagi ada di dalam diriku.

Ruang medis bawah tanah markas Koalisi terasa terlalu sempit.

Monitor di sekitarku berbunyi pelan.

Arthur diam.

Bukan menghilang.

Hanya… menunggu.

Sebastian duduk di kursi di samping tempat tidurku.

Adrian berdiri dekat dinding, tangan bersilang.

Keduanya terlihat seperti belum tidur.

“Berapa lama?” tanyaku pelan.

“Enam jam,” jawab Sebastian.

“Dia tidak bergerak jauh. Tapi anomali terus meluas.”

Detak jantung stabil.

Aktivitas neural… tidak stabil.

Aku duduk perlahan.

Kepalaku terasa seperti menahan dua langit sekaligus.

“Dia sedang menyesuaikan model.”

Adrian menatapku.

“Model apa?”

Aku menarik napas.

“Model kepunahan.”

POV Dunia

Laboratorium fisika kuantum di Swiss melaporkan fenomena baru:

Partikel virtual di vakum ruang kosong menunjukkan pola koreksi.

Seolah realitas sedang menulis ulang dirinya sendiri—

untuk menyesuaikan kehadiran entitas asing.

Vatikan mengunci Arsip Omega.

Beijing mengaktifkan Protokol Sky Firewall.

Washington dan Moskow—

untuk pertama kalinya dalam sejarah modern—

Berbagi data tanpa sensor.

Tidak ada yang lagi berbicara soal geopolitik.

Hanya satu pertanyaan:

Apakah kita masih punya ruang untuk eksis?

POV Raja Sejati Kedua

Parameter diperbarui.

Subjek: Maria Joanna

Status: Stabilizer lokal

Ancaman: Tidak absolut. Tidak bisa diabaikan.

Simulasi 4.821 kemungkinan.

Dalam 4.817 skenario—

manusia punah dalam 11–19 hari.

Dalam 4 skenario—

anomali warisan berkembang.

Probabilitas gangguan sistem penuh: 3.2%

Nilai tersebut… tidak nol.

Ia mengangkat tangan.

Tidak untuk menyerang.

Untuk mengkalibrasi ulang ruang di sekitarnya.

Langit retak lebih dalam.

POV Maria

Aku berdiri di depan panel taktis.

Hologram Antartika berdenyut merah.

“Dia tidak mencoba menghapus cepat,” kataku.

“Dia sedang mencari cara paling efisien.”

Seorang ilmuwan menelan ludah.

“Efisien… dalam arti?”

“Dalam arti,” aku menatap titik pusat anomali,

“membuat kepunahan kita permanen.”

Ruangan hening.

Sebastian melangkah lebih dekat.

“Kalau begitu kita ganggu prosesnya.”

Aku menoleh.

“Dengan apa?”

Ia tidak langsung menjawab.

Adrian yang berbicara.

“Dengan membuatnya tidak yakin.”

POV Sebastian

Aku bukan ilmuwan kosmik.

Aku hanya manusia yang tahu satu hal:

Makhluk itu tidak terbiasa dilawan.

Bukan dilawan secara militer.

Dilawan secara… prinsip.

“Dia menganggap kita variabel kecil,” kataku.

“Kalau kita bisa membuat variabel itu tidak bisa diprediksi—”

Maria menyambung pelan:

“—maka modelnya rusak.”

Aku mengangguk.

“Dan dia harus menyesuaikan lagi.”

Setiap penyesuaian berarti waktu.

Dan waktu adalah satu-satunya mata uang yang masih kita miliki.

POV Dunia

Proyek baru diluncurkan dalam 90 menit.

Nama kode:

Protokol Babel

Tujuan:

Menciptakan ketidakstabilan pola eksistensial global secara terkendali.

Caranya?

Mengaktifkan secara serempak:

9 collider partikel besar

14 fasilitas eksperimen medan gravitasi

3 reaktor fusi eksperimental dalam mode tidak konvensional

Artefak Vatikan kelas Omega—dibuka sebagian

Risiko:

Ketidakstabilan tambahan 6% pada struktur dimensi lokal.

Manfaat potensial:

Mengganggu pembacaan sistem Raja Sejati Kedua.

Dunia memilih risiko.

POV Adrian

Aku melihat Maria membaca semua laporan itu.

Ia tidak ragu.

Ia tidak gentar.

Tapi aku tahu—

Ia menghitung kemungkinan kematian dalam diam.

“Apa kau yakin?” tanyaku.

Ia menatapku.

Tidak sebagai pemimpin.

Sebagai manusia.

“Tidak.”

Kejujuran itu membuatku lebih tenang daripada kepastian palsu.

POV Maria

“Mulai Protokol Babel.”

Perintah itu terasa lebih berat daripada perintah militer mana pun.

Karena kali ini—

Kami bukan menyerang.

Kami merusak dunia kami sendiri.

Sedikit.

Cukup untuk membuatnya tidak nyaman bagi sesuatu yang mencoba menstandarkan kepunahan kami.

Hitungan mundur dimulai.

10.

Di Antartika—

mahkota hitam berputar pelan.

9.

Arthur bergerak samar di dalam diriku.

8.

Sebastian berdiri di kiri.

Adrian di kanan.

Untuk pertama kalinya—

aku tidak merasa sendirian sepenuhnya.

6.

Langit dunia mulai berkedip.

Collider aktif.

Medan gravitasi global fluktuatif.

Artefak Omega menyala—cahaya putih menyebar dari Roma.

Raja Sejati Kedua menoleh.

1.

Aktif.

POV Dunia

Gelombang eksistensial menyapu planet.

Tidak terlihat.

Tapi terukur.

Konstanta lokal berubah 0.0003%.

Cukup kecil bagi manusia.

Tidak kecil bagi sesuatu yang membaca realitas sebagai data.

Di Antartika—

Mahkota hitam berhenti berputar.

Retakan di langit berubah arah.

Zona anomali berhenti mengembang.

Untuk 23 detik.

Seluruh dunia menahan napas.

POV Raja Sejati Kedua

Pembacaan gagal.

Variabel meningkat.

Model tidak konsisten.

Sumber gangguan:

Spesies target sendiri.

Perhitungan ulang diperlukan.

Parameter kepunahan tertunda.

Status operasi berubah:

Eliminasi langsung → Pengamatan lanjutan.

POV Maria

Aku merasakan perubahan itu.

Seperti tekanan besar yang tiba-tiba bergeser.

Ia tidak menyerang.

Ia… memikirkan ulang.

“Kita berhasil,” bisik salah satu ilmuwan.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak.”

Aku menatap Antartika.

“Dia hanya memutuskan untuk belajar lebih dulu sebelum membunuh kita.”

Sebastian menatapku.

“Berapa lama kita dapat?”

Aku melihat angka di layar.

Zona anomali stabil.

Model kosmik tidak lagi agresif.

“Tidak lama,” jawabku.

Adrian mendekat sedikit.

“Tapi cukup.”

Aku menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak perang ini dimulai—

Kita bukan hanya bertahan.

Kita memaksa sesuatu yang lebih tua dari bintang… untuk berhenti dan berpikir.

Dan mungkin—

Itulah awal dari perubahan aturan permainan.

Di Antartika—

Raja Sejati Kedua mengangkat wajahnya ke langit.

Mahkota hitam kembali berputar.

Lebih lambat.

Lebih hati-hati.

Dan jauh di dalam inti kesadarannya—

Variabel baru tercatat:

Manusia — tidak sepenuhnya dapat diabaikan.

Perang belum berhenti.

Tapi untuk pertama kalinya—

Kepunahan tidak lagi menjadi hasil otomatis.

Dan di ruang komando bawah tanah—

Maria Joanna berdiri di antara dua pria yang mencintainya dengan cara berbeda.

Dunia belum selamat.

Tapi dunia—

Masih ada.

POV Dunia

Dua puluh tiga detik stabilitas global tercatat sebagai anomali paling berharga dalam sejarah manusia.

Bursa saham tidak dibuka.

Parlemen tidak bersidang.

Tidak ada konferensi pers.

Semua mata tertuju pada satu titik koordinat:

Antartika Selatan.

Zona anomali kini tidak lagi mengembang secara agresif.

Ia berdenyut… seperti sesuatu yang berpikir.

Untuk pertama kalinya sejak kemunculannya—

Raja Sejati Kedua tidak sedang menghapus.

Ia sedang menganalisis.

Dan itu membuat dunia lebih takut.

Karena sesuatu yang belajar… bisa berkembang.

POV Maria

Aku masih berdiri di ruang komando saat alarm baru berbunyi.

Bukan alarm kehancuran.

Alarm perubahan pola.

“Dia tidak lagi membaca realitas sebagai struktur tetap,” kata ilmuwan kuantum di sampingku. “Dia mulai menguji respons lokal terhadap variasi kecil.”

Di layar, Antartika terlihat seperti permukaan air yang disentuh jari tak terlihat.

Realitas bergelombang.

Arthur bergerak di dalam diriku.

Tidak agresif.

Waspada.

“Apa yang dia cari?” tanya Adrian.

Aku menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

“Batas.”

Sebastian menyempitkan mata.

“Batas apa?”

“Batas di mana kita berhenti menjadi gangguan… dan mulai menjadi ancaman.”

Ruangan kembali sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!