menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 Perjamuan di Meja Makan yang Hilang
Suasana di dalam rumah di pinggiran kota itu terasa sunyi, namun tidak lagi dingin. Aroma semur daging—resep rahasia keluarga yang selama bertahun-tahun hanya menjadi hantu di ingatan Saka—kini memenuhi ruangan. Di dapur, seorang wanita paruh baya dengan apron bunga-bunga bergerak lincah, seolah-olah ia tidak pernah menghilang dari sejarah selama sepuluh tahun.
Saka duduk di meja makan, menatap kosong ke arah piring kosong di depannya. Di pergelangan tangannya, luka parut hitam itu telah memudar menjadi garis putih tipis yang samar.
"Saka, panggil ayahmu. Masakannya sudah matang," suara ibunya terdengar begitu nyata, begitu normal.
Saka tersentak. Ayahnya.
Ia teringat bahwa ayahnya di garis waktu ini adalah pria yang melupakannya, sedangkan ayahnya di garis waktu lain adalah The Eraser. Namun, berkat pengorbanan Rian Dewasa di Zona Nol, realitas telah melakukan "koreksi otomatis".
Pintu depan terbuka. Ayah Saka masuk dengan membawa koran dan tas kerja, tampak lelah namun tersenyum hangat saat melihat istrinya. Ia berjalan menuju Saka dan menepuk bahunya dengan akrab.
"Kenapa bengong, Ka? Lapar ya?" tanya ayahnya.
Saka menatap ayahnya lama. Tidak ada kebencian, tidak ada topeng perak, hanya seorang pria yang mencintai keluarganya. Paradoks telah sembuh. Namun, Saka tahu bahwa kebahagiaan ini dibangun di atas fondasi yang rapuh: Kebohongan Waktu.
Malam itu, setelah perjamuan makan malam yang emosional, Saka duduk di teras depan. Ia mengeluarkan arloji saku dari sakunya. Jarumnya kini berhenti tepat di angka 12, seolah-olah waktu telah mencapai garis finisnya.
Tiba-tiba, seorang gadis dengan sepeda motor berhenti di depan pagar rumahnya. Anita.
Ia turun dari motor dengan wajah bingung, memegang sebuah foto lama yang sudah menguning. "Saka... aku menemukan ini di bawah kolong tempat tidurku sore tadi."
Saka mendekat. Foto itu menunjukkan Saka dan Anita di festival budaya sekolah, namun di latar belakangnya, ada sosok Rian yang sedang tertawa merangkul mereka. Di dunia yang sekarang, Rian tidak pernah ada. Semua orang lupa siapa Rian.
"Aku tidak tahu siapa orang ketiga di foto ini, Saka," bisik Anita dengan suara bergetar. "Tapi setiap kali aku melihat wajahnya, hatiku terasa sangat sakit. Seolah-olah aku telah kehilangan bagian dari hidupku."
Saka terdiam. Ini adalah "Gema" dari pengorbanan Rian. Meskipun sejarah telah menghapus keberadaannya, kasih sayang dan persahabatan tidak bisa dihancurkan sepenuhnya oleh hukum fisika.
"Namanya Rian, Nit," ucap Saka pelan, akhirnya berani menyebut nama itu.
Begitu nama itu diucapkan, arloji saku di tangan Saka berdetak satu kali. Klik.
"Dia adalah orang yang memberikan kita kesempatan untuk duduk di sini sekarang. Dia adalah pahlawan yang tidak butuh diingat oleh dunia, asal kita tetap bahagia," lanjut Saka.
Anita menangis tanpa tahu alasannya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Saka. Di langit malam Bandung yang cerah, sebuah bintang jatuh melesat, meninggalkan jejak cahaya biru yang mirip dengan energi kronos milik Rian.
Di kejauhan, di atas atap sebuah gedung tua di Jalan Braga, Luna sedang berdiri bersama seorang pria misterius yang mengenakan mantel abu-abu.
"Dia berhasil memulihkan keluarganya," ucap Luna.
"Tapi dia melanggar hukum keseimbangan," jawab pria itu, suaranya berat dan berwibawa. "Satu nyawa untuk satu nyawa. Rian menggantikan ibunya, tapi siapa yang akan menggantikan The Chrono Guard jika ancaman dari dimensi luar datang lagi?"
Luna hanya tersenyum. "Dia sudah bukan lagi penjaga waktu, Tuan. Dia sudah menjadi 'Waktu' itu sendiri. Dia akan tahu saat masanya tiba."
Saka memandang ke arah Jalan Braga dari teras rumahnya. Ia tahu petualangannya mungkin belum benar-benar berakhir. Selama ia masih memegang arloji tanpa jarum itu, ia akan selalu menjadi sasaran bagi mereka yang ingin mencuri detik. Namun untuk malam ini, ia hanya ingin menjadi seorang anak bagi ibunya, dan seorang kekasih bagi Anita.
Ia menutup mata, menikmati detik demi detik yang mengalir jujur, tanpa manipulasi, tanpa rasa takut.