sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keluarga alga
Sesampai di rumah Al, aku di gendongnya masuk kedalam rumahnya. Al tidak sadar bahwa sekarang ini aku sudah sadar. Karena teramat malu aku memutuskan untuk berpura-pura belum sadar sampai Al menurunkan ku nanti. Tapi sepertinya aku mendengar orang tua Al sedang bertengkar. Sepertinya Ayah Al berteriak marah pada mama Al. Jantungku berdetak sangat kencang, aku terkejut dengan satu fakta tentangnya.
" anak gadis orang mana yang kau bawah kerumah Mahensa Putra?" Perkataan Ayah Al yang begitu dingin terdengar dan dilewatinya tanpa jawab.
Tujuan Al hanya satu kamarnya untuk membaringkanku yang sedang pingsan. Setelah membaringkanku, Al bergegas turun menemui orang tuanya. Aku mendengar Al menutup pintu kemudia membuka mataku. Aku berdiri mondar-mandir di kamar Al sambil menggigiti ujung kuku. Di bawah sana terdengar sangat gaduh membuatku ingin tahu. Aku gusar, apa aku akan melihat atau bagaimana. Tapi, rasa penasaran lebih tinggi saat ku dengar sedikit samar. Aku mencoba menguping pembicaraan mereka walaupun terdengar tidak sopan. Aku keluar kamar Al dengan hati hati takut menimbulkan suara walaupun di bawah sana sangat ramai.
" ternyata anda tau jalan pulang tuan Mahesa Putra?? Masih ingatkah bahwa anda masih memiliki keluarga" perkataan dingin Al terdengar menyeramkan di setiap sudut ruangan itu. Aku melihat mereka dengan jelas apa yang mereka ributkan hari ini.
Amarah Al yang tak pernah bisa di kuasai dengan sekejap memuncak, tak peduli ayahnya Al tetap berkata dingin. Semua itu akibat rasa kecewa yang amat mendalam yang dirasakan dia sejak kecil. Sosok ayah yang seharusnya di bangakan adalah sosok yang amat di bencinya atas kelakuan tercelanya terhadap keluarga. Luka yang dominan dalam dirinya bukan cumin fisik namun juga batin yang ada.
" kendalikan bicaramu Putra, aku adalah ayahmu tak sepatutnya kau berbicara seperti itu." Kembali tuan Mahesa menjawab tak kala dinginnya.
" apakah pantas anda di sebut ayah, jika anda tak pernah menganggap keluarga anda ada.? Jangan salakan saya jika itu adalah kesalahan anda." Jawab Al dengan ekspresi yang sama.
" seperti itukah caramu mendidik anakmu, wiilll? Anak yang semakin hari semakin kurang ajar yang kau banggakan" teriak ayah Al kepada bunda Al.
" itu bukanlah hal yang penting lagi untuk dipertanyakan bukankah kau semakin senang jika Al ku menjadi orang yang seperti itu, dan kau yang hanya mencotohkan sifat keras kepala dan ambisius dirimu akan uang. Kau jadikan dia boneka penghasil uang, kau batasi pergaulan anakmu dengan temannya. Kau paksa anakmu untuk belajar di setiap waktunya, apakah itu didikan yang pantas baginya, menindas tanpa belas kasihan yang jadi sifat utamanya." Teriak bunda Al meluapkan semua kekesalannya.
" dasar wanita tak tau di untung, sudah jelas aku mau menampung kamu dan anakmu" teriak tuan Mahesa dengan keras penuh amarah.
" jelas itu tanggung jawabmu, seandainya dulu kau tak pernah merusak anak gadis orang pasti tak akan seperti ini' amarah sang bunda telah membeberkan aib keluarganya sendiri.
" aku melakukan itu semua juga demi penerusku, kau adalah istri tapi apakah pernah kau memberiku anak." Teriak tuan Mahesa murka dan berlari meninggalkan rumah.
" sebenarnya rahasia apa yang telah bunda simpan bertahun tahun. Apakah benar semua yang mereka bilang?" Tanya Al kepada bundanya.
Bagaikan di hantam seribu batu, semua kejadian yang aku lihat dan dengar untuk seorang Alga yang dingin. Sekarang aku paham mungkin ini yang membentuk karakter Al yang dingin.
Dengan perlahan aku menuruni tangga saat aku melihat sudah tenang suasana di bawah sana.
"Al apa yang terjadi??" tanyaku pura-pura tidak melihat semuanya.
Semua diam membisu saat aku bertanya seakan mereka ingin menutupi semuanya dariku. Tapi aku mengetahui kebenaranya, aku bukanlah keluarga darinya tak sepantasnya aku ikut campur. Walaupun aku sedikit melihat dan menguping pertengkaran mereka. Badanku gemetar saat di hadapan mereka mengingat jelas beberapa menit adegan di depanku tadi. Dadaku tak terkontrol, nafasku tercekat.
" La aku antar kamu pulang. " Ucap Alga berdiri menghampiriku dengan datar. Guratan wajah Alga masih mengeras serat kemarahan yang belum sepenuhnya padam.
Aku menolak dengan halus agar Alga tidak mengajarkanku pulang. Tapi Alga yang tak terbantahkan memaksaku untuk pulang. Ucapan Alga tak bisa aku bantah. Alga yang sekarang bukan yang aku kenal. Dingin, nafasnya terdengar kasar tak beraturan.
" Jangan Aku anterin, kamu belum pulih sepenuhnya. " Ucap Alga menahanku.
Sambil menggenggam tanganku dia berkata dengan guratan wajah yang mengeras.
" Tunggu aku, aku akan bersiap." Dia mengelus surai rambutku yang sedikit berantakan dan berjalan meninggalkanku yang berdiri mematung.
Setelah itu Alga berjalan ke atas untuk bersiap. Aku memanfaatkan waktu itu untuk kabur darinya. Aku berpesan pada mama Alga untuk memberitahunya bahwa aku telah pulang menggunakan taksi. Mama Alga sempat menolak keputusanku tapi dia tidak bisa menahanku.
Aku buru buru keluar dari rumah mewah itu untuk menunggu taksi yang sedari tadi ku pesan saat aku berdebat untuk pulang tadi. Aku tidak tahu keadaanku jika terus ada di sana. Aku lemas, dadaku masih berdetak tak karuan mengetahui fakta tadi.
Sesuai rencana taksi itu telah tiba di hadapanku. Tanpa berlama lama aku berlalu memasuki taksi tersebut. Taksi ku melaju meninggalkan tempat itu. Tapi perasaanku masih belum pulih