Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bisikan kematian dan kunjungan sang putri
Dinginnya dinding batu yang lembap menembus hingga ke tulang Mei Lin. Aroma apak dan lembab dari penjara bawah tanah menyesakkan napasnya. Ia terdiam di sudut sel, matanya menatap kosong pada jeruji besi yang memisahkan dirinya dari dunia luar. Luka di pipinya masih terasa nyeri, namun luka di hatinya jauh lebih menyakitkan.
“Ada baiknya aku mati saja,” bisiknya pelan, suaranya parau dan hampir tak terdengar. Kehidupan ini terasa begitu berat, begitu kejam. Setiap langkahnya membawa kehancuran dan setiap napasnya mendatangkan penderitaan bagi orang lain. Jika ia menghilang, mungkin semua kekacauan ini akan berakhir. Sebuah gagasan gelap mulai berputar di benaknya. Ia memandang celah kecil di dinding, memikirkan bagaimana caranya untuk mengakhiri segalanya.
Namun, saat bayangan kematian mulai terasa dekat, tiba-tiba terlintas senyum lembut ibunya yang selalu sabar, dan tawa ceria Xiao Mei, adik bungsunya. Ia mengingat janji yang pernah ia buat untuk melindungi mereka. “Jika aku mati, Jian Feng pasti akan menepati ancamannya untuk menghancurkan desa dan membunuh keluargaku,” pikirnya ngeri. Kenyataan pahit itu mengikatnya kembali pada kehidupan yang tak diinginkan ini.
Tawa getir meluncur dari bibir Mei Lin, bercampur dengan isak tangis yang tertahan. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Lin Hua, adik kandungnya sendiri, bisa melakukan hal sekeji itu? Tuduhan ilmu hitam, di depan seluruh bangsawan, seolah ia adalah iblis yang mengoyak jiwa. Mei Lin menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin ia terlalu naif, terlalu percaya pada kebaikan orang lain. Mungkin kebebasan yang ia dambakan adalah keserakahan yang tak pantas ia miliki.
Dan Jian Feng... mengapa ia hanya terdiam? Mengapa ia membiarkan Mei Lin dipermalukan dan disiksa? Mengapa ia tidak berdiri untuk istrinya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya, menggerogoti sisa-sisa harapannya.
Satu hari kemudian, ketika Mei Lin sudah hampir menyerah pada kegelapan, suara langkah kaki yang anggun terdengar mendekat. Jeruji selnya terbuka, dan sesosok wanita yang mengenakan gaun sutra mewah berwarna merah menyala muncul di ambang pintu. Itu adalah Putri Isabella dari Negeri Timur. Ia datang dengan senyum sinis di wajahnya, ditemani oleh dua pengawal dan seorang pelayan pribadinya.
"Lihatlah dirimu, Tian-Zhi-Bao," cibir Isabella, matanya memindai Mei Lin dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan jijik. "Kaisarmu sudah bosan, kan? Sekarang lihatlah siapa yang menjadi pendamping sejati bagi Negeri Tengah. Bukan kau, si kotor dan hina."
Isabella melangkah lebih dekat, menendang bebatuan kecil di lantai sel. "Aku sudah mendengar semua ceritamu. Kau pikir kecantikanmu bisa mengikat hati seorang Kaisar? Kau adalah bunga liar yang hanya cocok membusuk di tempat kotor seperti ini."
Ia melirik luka di pipi Mei Lin. "Oh, aku dengar adikmu sendiri, Lin Hua, juga ingin menjatuhkanmu. Sungguh ikatan saudara yang patut dicontoh. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihatmu hancur oleh tangan keluargamu sendiri."
Mei Lin hanya bisa menunduk, bibirnya bergetar. Ia ingin membalas, ingin membela diri, namun rasa sakit dan kehampaan merenggut seluruh suaranya.
"Ini adalah tempat yang cocok untukmu," lanjut Isabella, suaranya seperti desisan ular berbisa. "Seorang pelayan kotor yang berani mencuri perhatian Kaisar. Kau tidak pantas mendapatkan cahaya matahari, tidak pantas mendapatkan cinta. Dan aku akan memastikan bahwa Jian Feng melupakan setiap jejakmu. Pernikahan palsu kalian akan terkubur bersama kegelapan penjara ini."
Isabella tertawa renyah, tawa kemenangan yang menusuk telinga Mei Lin. Ia berbalik, memerintahkan para pengawal untuk mengunci kembali sel itu. "Nikmati sisa hidupmu di sini, Tian-Zhi-Bao. Atau lebih baik lagi, matilah saja. Itu akan jauh lebih mudah bagi semua orang."
Suara langkah kaki Isabella menjauh, disusul dentingan gerbang besi yang dikunci kembali. Mei Lin kembali sendirian dalam kegelapan. Kata-kata Isabella tentang Jian Feng yang bosan, tentang Lin Hua yang mengkhianatinya, dan tentang kehinaannya, seperti pisau yang mengoyak-oyak jiwanya. Ia tidak tahu lagi siapa yang bisa ia percaya, atau apakah ada harapan tersisa untuknya.
Bersambung