Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Hujan turun sejak sore, membasahi kaca-kaca gedung perusahaan Pak Zaenal. Di lantai lima, ruangan IT tampak terang benderang, kontras dengan suasana muram di luar. Layar-layar komputer berjejer menampilkan deretan alamat IP, tangkapan layar akun palsu, jejak digital, dan metadata foto-foto Queen yang beredar.
Fauzan duduk tegang di depan keyboard, jarinya bergerak cepat. Di sampingnya, Ashabi berdiri dengan rahang mengeras, mata tajam menatap layar.
“Ada pola yang sama,” ujar Fauzan pelan, tetapi tegas. “Semua akun ini dibuat dalam rentang waktu yang berdekatan. Foto-fotonya tidak diunggah dari satu tempat, tapi diarahkan dari sumber yang sama.”
Ashabi menyipitkan mata. “Maksudmu?”
Fauzan menoleh, menatapnya serius. “Seseorang sengaja menyebarkannya secara sistematis. Ini bukan kebocoran, ini serangan.”
Detik berikutnya, Fauzan mengklik sebuah file. Layar menampilkan bukti transaksi iklan digital, pembayaran untuk promosi konten, serta jejak email.
Napas Ashabi tertahan. Nama yang muncul di layar membuat ruangan seolah membeku.
ZAHIRA.
Bukan sekadar nama akun, tetapi identitas lengkapnya. Email pribadinya. Bukti transfer. Bukti penggunaan jasa buzzer. Bahkan percakapan dengan seorang admin anonim yang diminta “menggoreng” isu tentang Kayla.
Tangan Ashabi mengepal. “Jadi, ini benar-benar dia,” gumamnya, suaranya bergetar antara marah dan kecewa.
Fauzan mengangguk pelan. “Bukan hanya itu. Dari riwayat pencarian dan pesan-pesannya, dia sudah lama mencari tahu tentang Kayla. Identitas aslinya. Masa lalunya. Di mana Kayla pernah bekerja sebelum rumah Pak Ramlan. Semua dia kumpulkan, sedikit demi sedikit.”
Ashabi terdiam. Dadanya sesak. Bayangan wajah Kayla yang tegar, rapuh, tetapi selalu berusaha berdiri, melintas di benaknya.
Di saat yang sama, pintu ruangan terbuka. Pak Zaenal masuk bersama Bu Zahra. Wajah Pak Zaenal tegang, tetapi penuh ketegasan.
“Sudah ada hasil?” tanyanya tanpa basa-basi.
Fauzan berdiri dan memutar layar ke arah mereka. “Ini, Pak. Semua bukti mengarah ke Zahira.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Bu Zahra menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah, tega sekali dia kepada Kayla.”
Rahang Pak Zaenal mengeras. Sorot matanya tajam seperti pisau.
“Kalau begitu, kita tidak main-main lagi,” ucapnya tegas. “Siapkan pengacara. Kayla harus membuat laporan pencemaran nama baik.”
Ashabi menghela napas panjang, hatinya bergemuruh. “Pak, biarkan saya yang menemani Kayla.”
Pak Zaenal mengangguk. “Kamu boleh ikut. Tapi ingat, keputusan tetap ada di tangan Kayla.”
Kayla dipanggil ke ruang utama. Langkahnya mantap, tetapi wajahnya pucat. Di dalam ruangan, ia melihat Fauzan, Ashabi, Pak Zaenal, dan Bu Zahra menunggunya.
Fauzan menampilkan layar laptop di hadapannya. “Kayla, kami sudah tahu siapa yang menyebarkan foto-fotomu,” katanya pelan.
Kayla menatap layar. Napasnya tertahan saat melihat nama itu. Zahira.
Dunia seolah berputar. Dada Kayla terasa dihantam batu besar. “Dia…?” bisiknya lirih.
Ashabi menatapnya dengan penuh penyesalan. “Maaf, Kay. Aku tidak menyangka kalau dia akan tega melakukan itu padamu. Aku benar-benar tidak menyangka.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Kayla bukan karena takut, tetapi karena perih. Dia ingat dengan ucapan Zahira yang menghina dirinya, dahulu.
“Jadi, selama ini dia memang berniat menjatuhkan aku,” gumamnya. “Bukan sekadar cemburu, tapi ingin menghancurkan hidupku.”
Pak Zaenal berdiri, berjalan mendekat, lalu menatap Kayla dengan lembut tetapi tegas.
“Kayla, kamu tidak bersalah. Yang bersalah adalah orang yang dengan sengaja menyebarkan fitnah dan membuka luka lamamu.”
Kayla menatapnya, air mata mengalir tanpa suara. “Aku lelah, Pak,” ucapnya lirih. “Kenapa masa laluku tidak pernah mau melepaskanku?”
Pak Zaenal menatapnya penuh kasih. “Karena kamu terlalu baik. Tapi sekarang, saatnya kamu tegas.”
Pak Zaenal menyerahkan map berisi dokumen. “Pengacara sudah siap. Kamu hanya perlu mengatakan satu hal: apakah kamu bersedia melapor?”
Kayla menggenggam map itu. Jarinya bergetar. Ia terdiam beberapa detik, lalu menarik napas panjang.
“Aku bersedia.” Suara itu tidak keras, tetapi tegas.
Keesokan harinya, berita resmi keluar. Kayla membuat laporan pencemaran nama baik terhadap Zahira dan pihak-pihak yang menyebarkan foto-foto tersebut.
Media langsung ramai. Netizen terbagi, tetapi semakin banyak fakta terungkap, semakin banyak yang berubah sikap.
Beberapa karyawan kantor yang sebelumnya mencibir, berbisik, bahkan menjauhi Kayla, kini hanya bisa menunduk malu.
Fauzan berdiri di dekat meja Kayla saat beberapa rekan kerja mendekat satu per satu.
“Kayla, aku minta maaf,” ucap seorang perempuan pelan, wajahnya memerah. “Aku … aku sempat percaya gosip itu.”
Kayla menatapnya tenang. “Aku menerima permintaan maafmu.”
Seorang pria lain menunduk. “Maaf, Kay. Kami tidak tahu kebenarannya.”
Kayla hanya mengangguk, tanpa dendam. “Tolong, lain kali jangan mudah menghakimi seseorang.”
Di media sosial, gelombang empati mulai muncul. Banyak netizen menulis tentang kekuatan Kayla.
Gadis yang kehilangan orang tua, mengurus tiga adik kecil. Anak yang terpaksa jatuh ke jalan kelam demi bertahan hidup. Perempuan yang bangkit, belajar, bekerja keras, dan memilih berubah.
Tagar tentang Kayla mulai beredar:
#JusticeForKayla
#KuatSepertiKayla
Komentar-komentar penuh dukungan mengalir.
Zahira dipanggil pihak berwajib untuk dimintai keterangan. Di rumahnya, ia menangis histeris, membanting barang-barang, tidak terima dengan keadaan. Namun, bukti terlalu kuat.
Bukan hanya tentang penyebaran foto, tetapi niat jahat yang sudah lama dipersiapkan.
Malam itu, Kayla berdiri di teras mess karyawan. Angin malam berembus lembut, membawa bau tanah basah setelah hujan.
Ashabi berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Kayla,” panggilnya pelan.
Kayla menoleh.
“Terima kasih,” ucap Ashabi lirih. “Bukan hanya karena bertahan, tapi karena tidak membenci semua orang.”
Kayla tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak ingin hidup dengan kebencian, Abi. Aku hanya ingin hidup dengan tenang.”
Di kejauhan, lampu kota berkelip. Kayla menarik napas panjang, menatap langit gelap yang perlahan mulai cerah. Dia merasa masa lalunya mungkin kelam, tetapi masa depannya masih bisa terang.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya