Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI YANG LELAH
Elvario duduk diam untuk waktu yang lama di atas sofa. Punggungnya bersandar pasrah, sementara pandangan matanya kosong menatap pola pada lantai marmer. Adrina dan Rizal tidak memaksanya bicara. Untuk pertama kalinya, mereka membiarkan sunyi bekerja—bukan sebagai hukuman atau kecanggungan, melainkan sebagai ruang untuk bernapas.
Beberapa menit berlalu sebelum Elvario akhirnya mengembuskan napas berat.
“Adrian Ghani itu…” suaranya pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Dia selalu datang dengan senyum. Media langsung jatuh hati padanya. Sementara ketika gue datang, mereka hanya duduk diam, menunggu gue melakukan kesalahan.”
Rizal hendak maju setengah langkah. “El—”
Adrina mengangkat tangan kecilnya, sebuah gestur halus yang menghentikan Rizal seketika. Rizal mengerti: ini adalah momen bagi Elvario untuk bicara tanpa perlu dibela atau dikasihani.
“Setiap kami berada di set yang sama,” lanjut Elvario, suaranya datar namun sarat akan kepahitan, “produser selalu berbisik kepada gue, ‘coba belajar dari Adrian.’ Seolah-olah selama ini gue gagal menjadi manusia.”
Adrina mendekat perlahan. Ia duduk di kursi seberang Elvario, menjaga jarak yang cukup aman agar pria itu tidak merasa terpojok.
“Mas,” katanya lembut namun tegas, “orang-orang sering menyuruh orang lain berubah hanya karena mereka sendiri tidak sanggup mengubah cara mereka menilai.”
Elvario mendongak. Tatapan mereka bertemu di udara.
“Kalau aku boleh jujur,” lanjut Adrina, “Mas bukan sisi jahat dalam cerita ini. Mas itu hanya... sisi yang sedang sangat lelah.”
Kata-kata itu jatuh tepat di sasaran. Elvario menelan ludah, rahangnya mengeras sesaat sebelum melunak kembali. Ada luka lama yang tersentuh, namun anehnya, tidak terasa menyakitkan seperti biasanya.
Rizal akhirnya ikut bicara, suaranya rendah dan hati-hati. “Pihak produksi bertanya siang ini, El. Kita masih punya waktu untuk memberikan jawaban.”
Elvario berdiri, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke jantung kota. Jakarta di pagi hari mulai berdenyut—deru kendaraan yang mulai padat dan cahaya matahari pucat yang menembus kaca.
“Kalau gue ambil proyek ini,” katanya tanpa menoleh, “lo yakin gue nggak akan meledak di lokasi?”
Adrina ikut berdiri. “Aku tidak bisa menjamin Mas tidak akan merasa emosi. Tapi aku bisa menjamin satu hal: Mas tidak akan menghadapinya sendirian.”
Elvario menoleh sedikit, tersenyum kecil yang getir. “Berani juga lo bicara begitu.”
“Aku bekerja untuk Mas, bukan untuk menjaga bayangan Mas di mata orang lain,” jawab Adrina tenang.
Keheningan kembali menyelimuti, namun kali ini terasa jauh lebih ringan. Seolah mendung hitam yang menggantung di ruangan itu perlahan mulai tersapu angin.
“Buat aturan,” kata Elvario akhirnya, suaranya kembali memiliki kekuatan. “Kalau gue ambil peran ini, gue mau aturan yang jelas.”
Rizal merespons dengan sigap. “Siap. Apa saja?”
Elvario menoleh sepenuhnya pada Adrina. “Lo yang susun.”
Adrina mengangguk pasti, langsung membuka tabletnya. “Oke. Ini garis besarnya.”
Ia menyebutkan poin demi poin dengan suara terukur: jadwal istirahat yang tidak boleh dilanggar oleh kru mana pun; durasi sesi pers yang harus disepakati di awal; larangan bagi tim media produksi untuk membandingkan pemain secara publik; serta satu jalur komunikasi utama yang hanya melalui dia dan Rizal. Tidak ada ruang untuk negosiasi emosional yang bertele-tele.
Elvario mendengarkan dengan saksama. Untuk pertama kalinya, raut wajahnya tidak terlihat defensif—melainkan fokus dan analitis.
“Dan satu lagi,” tambah Adrina, menatap Elvario langsung ke matanya. “Kalau Mas mulai merasa capek, langsung bilang padaku. Mas tidak perlu meledak hanya untuk membuat orang lain mengerti.”
Elvario menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Deal.”
Rizal hampir lupa caranya bernapas saking leganya. Ia tersenyum lebar, sebuah beban besar seolah terangkat dari pundaknya.
Ponsel Elvario bergetar di atas meja. Satu pesan masuk dari pihak produksi. Ia menatap layar itu sebentar, lalu mematikannya tanpa niat untuk membalas secara pribadi.
“Kita ambil,” katanya singkat.
Rizal mengangguk mantap. “Gue urus administrasinya sekarang.”
Pagi itu bergerak sangat cepat. Adrina merapikan berkas, menyusun jadwal baru, dan mengirim pesan-pesan terukur ke berbagai pihak terkait. Elvario menatapnya bekerja—melihat bagaimana asistennya itu tetap tenang, tertata, tanpa ada drama yang tidak perlu. Ada rasa asing yang mulai tumbuh di dadanya: rasa percaya yang murni.
Saat mereka bersiap untuk keluar menuju agenda pertama, Elvario berhenti tepat di ambang pintu.
“Adr.”
“Iya, Mas?”
“Kalau nanti Adrian Ghani coba bersikap manis secara berlebihan di depan kamera hanya untuk memancing gue... ingatkan gue untuk tetap menjadi diri gue sendiri.”
Adrina tersenyum kecil, sebuah senyuman penuh dukungan. “Mas tidak perlu diingatkan lagi. Mas sudah tahu caranya sekarang.”
Elvario mengangguk mantap. “Berangkat.”
Hari itu, mereka melangkah keluar bukan lagi sebagai seorang artis yang dikejar bayangan masa lalu, bukan pula sebagai manajer dan asisten yang hanya mengekor—melainkan sebagai sebuah tim yang memilih untuk berdiri sejajar menghadapi apa pun yang menunggu di depan sana.