NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Menguatnya Peran Mafia yang Berlawanan dengan Dosen

Alya masih sakit.

Tubuhnya terasa ringan, tapi kepalanya berat. Setiap kali membuka mata, dunia seperti bergoyang pelan. Ia masih berada di sofa ruang tengah, diselimuti jaket Haruka yang kebesaran,

sementara hujan turun tipis di luar jendela—sunyi, menenangkan, tapi juga membuat rasa lelah semakin menekan.

Haruka tidak tidur.

Ia duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa, punggungnya tegak seperti biasa. Satu tangannya memegang ponsel yang sejak tadi hanya menyala—tanpa suara. Tatapannya dingin. Jauh berbeda dari Haruka yang tadi siang mengelus rambut Alya dengan canggung.

Dosen Haruka sudah kembali rapi.

Tenang.

Terkontrol.

Namun ada sisi lain yang perlahan bangkit.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Lalu dua.

Lalu panggilan—tanpa nama.

Haruka berdiri, melangkah menjauh ke balkon. Suara hujan menelan suaranya, tapi ekspresinya berubah drastis. Tidak ada lagi kelembutan. Tidak ada lagi keraguan.

“Aku sudah bilang,” ucapnya rendah, dalam bahasa yang tidak pernah ia gunakan di kampus,

“aku sedang tidak bisa diganggu.”

Suara di seberang terdengar samar, tapi cukup untuk membuat rahang Haruka mengeras.

“Mereka bergerak?”

Jeda.

“Di wilayah timur?”

Ia memejamkan mata sesaat.

“Aku mengerti.”

Panggilan diputus.

Haruka menatap hujan dengan tatapan yang sama seperti bertahun-tahun lalu—tatapan seseorang yang terbiasa berdiri di tengah kekacauan, bukan ruang kelas.

Di balik jas dosen, peran lain itu kembali menguat.

Peran yang tidak pernah benar-benar pergi.

Mafia.

Bukan dalam arti kekerasan membabi buta, tapi jaringan bayangan yang menjaga keseimbangan dunia dengan cara yang tidak pernah tercatat di buku hukum. Dunia yang membesarkannya. Dunia yang menyelamatkannya saat dunia lain justru ingin menyingkirkannya.

Dan kini… dunia itu memanggil lagi.

“Alya,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Ia kembali ke dalam. Alya menggeliat kecil, keningnya berkerut. Demamnya belum turun sepenuhnya. Haruka berlutut di samping sofa, menyentuh dahi Alya—masih hangat.

“Aku tidak boleh membawamu ke sana,” bisiknya.

“Dan aku tidak boleh membawa ‘itu’ ke dekatmu.”

Dua dunia.

Dua peran.

Dosen yang berdiri di depan kelas, memberi masa depan pada mahasiswa.

Dan pria yang di balik layar, memastikan dunia tidak runtuh dengan caranya sendiri.

Kontrak itu kembali terlintas di pikirannya.

Bukan sekadar pernikahan.

Bukan sekadar kesepakatan.

Melainkan pagar.

Untuk melindungi Alya dari dirinya sendiri.

Alya membuka mata sedikit, suaranya serak.

“Haruka… kamu mau ke mana?”

Haruka tersenyum tipis. Senyum yang aman. Senyum dosen.

“Aku di sini.”

Dan itu bukan bohong.

Belum.

Namun di luar sana, dunia lain sudah mulai bergerak...

Alya kembali terlelap.

Napasnya masih tidak teratur, tapi tidak separah sebelumnya. Haruka duduk di sisi sofa, satu lengannya menjadi sandaran kepala Alya, satu tangannya lagi memegang cangkir teh hangat yang bahkan belum disentuhnya sendiri.

Ia memperhatikan wajah Alya lama sekali.

Setiap tarikan napas perempuan itu selalu membuat dadanya mengencang—bukan karena takut kehilangan, tapi karena ia sadar betapa mudahnya dunia merenggut sesuatu yang ia sayangi.

Dan Alya…

terlalu rapuh untuk dunia yang kejam.

Ponsel Haruka kembali bergetar. Kali ini ia tidak mengangkatnya. Ia hanya membaca sekilas pesan yang masuk.

“Mereka sudah tahu posisimu.”

“Jika kau tidak turun tangan, perang kecil akan pecah.”

Haruka mengunci layar.

Perang.

Kata itu sudah lama tidak berarti darah baginya. Yang berarti darah adalah… kehilangan.

Ia menunduk, mendekatkan keningnya ke rambut Alya, tanpa benar-benar menyentuh. Jarak tipis. Sengaja.

“Aku tidak akan menyeretmu ke dalam hidupku,” bisiknya.

“Bahkan jika dunia memaksaku kembali.”

Alya bergerak kecil, jari-jarinya mencengkeram ujung kemeja Haruka. Refleks. Seolah tubuhnya tahu, ia aman di sana.

Dan itu membuat keputusan Haruka semakin jelas.

Keesokan harinya, Haruka tetap datang ke kampus.

Rapi.

Tenang.

Profesional.

Ia mengajar seperti biasa—menulis di papan, menjelaskan materi dengan suara datar dan logis. Mahasiswa melihat dosen muda yang sempurna. Cerdas. Berwibawa. Tidak tersentuh.

Tak satu pun dari mereka tahu—

malam sebelumnya, pria yang sama menolak perintah yang bisa mengguncang satu wilayah.

Karena satu alasan sederhana.

Di rumah, ada seseorang yang masih demam

dan memanggil namanya dalam tidur.

Sore itu, Haruka pulang lebih cepat.

Ia mendapati Alya terbangun, duduk bersandar dengan selimut menutupi bahunya. Wajahnya pucat, tapi matanya lebih jernih.

“Kamu pulang,” kata Alya pelan.

“Iya.”

“Kamu… tidak ke mana-mana kan?”

Nada itu bukan menuduh.

Takut.

Haruka berlutut di depannya, menyamakan tinggi mata mereka. Tidak ada aura mafia. Tidak ada dingin dosen. Hanya Haruka.

“Aku ke mana pun,” katanya pelan namun tegas,

“aku akan selalu kembali ke kamu.”

Alya menatapnya lama, lalu tanpa sadar menyandarkan keningnya ke dada Haruka.

Lemah. Percaya.

Dan di saat itu, Haruka tahu—

Perannya sebagai mafia bisa menguasai dunia luar.

Perannya sebagai dosen bisa membentuk masa depan banyak orang.

Namun perannya sebagai suami Alya

adalah satu-satunya peran

yang tidak akan pernah ia korbankan.

Apa pun yang harus ia hadapi nanti,

Alya tidak akan pernah menjadi korban.

Ia akan menjadi alasan...

kenapa Haruka Sakura tetap manusia

di tengah dunia yang memaksanya menjadi monster.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!