Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MinNami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Pertengkaran -
Binar sedang menyapu halaman rumah ketika sekumpulan Ibu-Ibu penggosip itu menghampirinya. Binar tahu pasti ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan, dan entah mengapa Binar merasa yang ingin mereka bicarakan bukanlah hal baik.
“Sore Ibu-Ibu,” sapa Binar ramah.
“Sore mbak Binar,” balas Bu Indah yang jarang terlihat ikut perkumpulan penggosip ini.
Sedangkan Bu Ani, Bu Rini serta Bu Wiwi hanya menatap sinis pada Binar.
“Duh rajin banget mbak Binar sore-sore begini nyapu halaman rumah.” Ucap Bu Wiwi yang menurut Binar tidak ada unsur pujian didalamnya.
Binar hanya tersenyum menanggap, sebenarnya dia tidak ingin mengobrol banyak dengan Ibu-Ibu di depannya ini. Karena dari yang Binar tahu para Ibu-Ibu ini adalah biang gosip yang suka sekali menggosipi tetangga mereka.
“Rajinnya kalau ada suami saja Bu,” sahut Bu Ani disertai tawa mengejek.
“Maksud Ibu apa ya?” tanya Binar tak mengerti.
“Halah mbak Binar ini sok polos, kita ini tahu kelakuan mbak Binar yang sebenarnya. Iyakan Ibu-Ibu?” Ujar Bu Wiwi meminta persetujuan Ibu-Ibu yang lain.
“Saya nggak ngerti apa yang Ibu-Ibu sekalian bicarakan.” Binar berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap sopan dan tidak menyinggung.
“Saya terus terang aja nih mbak, kita ini tahu mbak Binar itu suka sekali ribut sama adik ipar sendiri dan lebih parahnya malah suka melawan sama mertua sendiri. Seharusnya mbak Binar ini sadar, sudah menumpang di rumah mertua malah berlaku seenanya sendiri.” Binar terkejut mendengar kata-kata kejam seperti itu yang dilontarkan oleh Bu Rini.
Kali ini Binar tidak menyembunyikan tatapan sinisnya, dia akan menunjukkan seperti apa Binar yang sesungguhnya. Lawan seperti Ibu-Ibu ini sungguh mudah untuk ditangani.
“Oh ya?” Binar berpura-pura kaget, “saya terharu Ibu-Ibu sekalian begitu tahu seperti apa saya. Karena seingat saya kita tidak tinggal serumah bahkan mengobrol saja kita jarang. Saya salut sama Ibu-Ibu sekalian,” lanjutnya kemudian.
“Saya beritahu ya mbak, seharusnya mbak itu banyak-banyak bersyukur punya Ibu mertua yang perhatian seperti itu, bukan malah bersikap seenaknya bahkan menginap di rumah orang tua sendiri saja tidak memberi kabar.” Ujar Bu Ani membuat Binar semakin marah.
Binar tertawa geli membuat Ibu-Ibu yang lain menatapnya heran. “Kok malah ketawa mbak, kita ini bermaksud baik loh.” Sahut Bu Indah yang tidak habis pikir dengan reaksi Binar.
Seketika Binar merubah ekspresi wajahnya menjadi datar, “apapun yang terjadi sama keluarga saya seharusnya bukan menjadi konsumis publik. Seharusnya Ibu-Ibu paham dengan kalimat ‘apa yang kita dengar dari orang lain belum tentu benar’ jadi sebaiknya cari tahu lebih dulu sebelum berbicara dengan dalih manasehati.”
Keempat Ibu-Ibu itu tercengang, menatap tak percaya pada Binar yang berucap begitu sadis. Seharusnya mereka tahu Binar ini bukan wanita sembarangan yang mudah ditindas hanya dnegan kalimat-kalimat receh tadi.
Binar bersiap kembali ke dalam rumah, namun wanita itu mengurungkan niatnya dan malah mendekati para Ibu-Ibu itu. “Satu lagi, lebih baik para Ibu-Ibu sekalian sibuk mengurus anak perempuan kalian masing-masing daripada sibuk mengurus anak perempuan orang lain.” Bisik Binar yang membuat para Ibu-Ibu itu semakin tidak berkutik. Mereka kalah telak.
...****************...
“Kenapa Bi?” tanya Albiru saat melihat wajah masam Binar yang baru memasuki kamar.
“Tanya itu sama Ibu kamu!” Binar menjawab sinis membuat Albiru semakin kaget.
“Kenapa kamu ngomong gitu? Ada masalah apa lagi?”
“Masalahnya ada di Ibu kamu. Selama ini aku diam, tapi sekarang aku sudah muak. Kamu harus tahu semua kelakuan Ibu kamu sama aku selama ini.” Binar berucap dengan suara bergetar menahan amarahnya.
“Yang sopan kamu Bi, kenapa kamu bicara begitu tentang Ibu?” Albiru berusaha tidak terpancing melihat Binar yang dikuasai emosi.
“Aku nggak boleh ngomong apapun tentang Ibu tapi Ibu boleh ngomong apapun tentang aku termasuk hal-hal buruk.”
Albiru menarik lengan Binar berusaha menenangkan istrinya yang semakin tidak terkendali. Namun Binar tidak peduli, wanita itu sudah muak dengan kebaikan palsu Ibu mertuanya.
“Asal kamu tahu selama ini Ibu kamu itu sering menceritakan hal buruk tentang aku. Kamu tahu kenapa aku pernah nanya apa sebaiknya aku berhenti kerja? Itu semua karena Ibu kamu yang mengeluh ketetangga lain tentang aku yang nggak becus mengurus rumah.” Binar kembali bersuara mengeluarkan semua keresahan hatinya selama ini.”
Albiru diam tidak tahu harus berkata apa. Melihat suaminya diam Binar kembali bersuara, “apa kamu tahu betapa sakit hatinya aku yang dibandingin sama menantu tetangga yang lain. Bahkan mereka lebih setuju kamu menikah dengan Intan karena dianggap bisa menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Aku bahkan dikatai menantu nggak tahu diri karena menumpang di rumah mertua tapi bersikap seenaknya.”
Albiru menggeleng menatap tidak percaya, “nggak mungkin Ibu seperti itu.”
“Kamu pikir aku bohong?” tanya Binar tak percaya.
Binar menangis, hatinya sakit karena semua perlakuan Ibu mertuanya dan sekarang suaminya sendiri tidak percaya pada ucapannya. Binar tidak punya tempat bersandar di rumah ini.
“Aku sudah pernah bilangkan, lebih baik kita hidup mandiri daripada tinggal disini tapi kamu selalu menyangkal dengan alibi Ibu kamu. Dan lihat sekarang mereka pikir aku numpang di rumah ini, mereka pikir aku menantu durhaka.” Lanjut Binar dengan air mata yang mengalir semakin deras.
“Tapi Ibu..Ibu nggak mungkin seperti itu. Bisa saja kan semua itu hanya gosip dari tetangga yang nggak suka sama keluarga kita.” Albiru masih menyangkal, tidak ingin percaya bahwa Ibunya bisa sejahat itu terhadap istrinya sendiri.
“Terus dari mana mereka tahu kalau kita nginap di rumah orang tuaku dan lupa ngabari Ibu kamu? Jawab aku dari mana mereka tahu itu semua? Apa mungkin mereka menguping atau hanya mengarang sesuka hati?”
Albiru terdiam, tidak bisa menyangkal. Jika yang diucapkan Binar semua berasal dari Ibunya sungguh Albiru kecewa. Dia menghormati dan menyayangi Ibunya tapi mengapa sikap Ibunya begitu buruk terhadap Binar, wanita yang dia cintai.
Keduanya tidak sadar bahwa pertengkaran mereka disaksikan oleh seseorang yang berada dibalik pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Orang itu tersenyum penuh kemenangan, dia sangat bahagia jika Albiru dan Binar semakin renggang dan pada akhirnya akan berpisah.
TBC
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa dukungannya ya. Kritik dan saran dipersilahkan karna ini novel pertama saya 😊
Promo novel bagus untuk kalian karya Raf Sinary
Judul : Pernikahan Terpaksa Tamara
*Tamara mendapat hukuman dari ayahnya untuk pindah sekolah dan dimasukkan ke pesantren. Namun, siapa sangka justru di pondok itu ia bertemu dengan cinta pertamanya dan berlanjut hingga bertunangan tetapi dia harus LDR selama empat tahun untuk menyelesaikan kuliahnya setelah itu baru diberikan restu untuk menikah.
Ketika waktu pernikahan tiba, tunangannya yang bernama Reza menghilang entah kemana. Dia hanya memberikan kabar kalau tidak bisa menikah dengan Tamara.
Ayahnya yang sudah menyebarkan undangan kepada semua rekan kerjanya tentu sangat malu.
Pada saat yang bersamaan Tamara mendapat lamaran dari guru ngajinya. Kemudian ayahnya memaksa dia untuk menerima lamaran ustad tersebut.
Hatinya sangat hancur, terluka dua kali. Oleh pengkhianatan Reza dan pemaksaan ayahnya.
Tamara harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai demi menyelamatkan nama baik keluarganya dari rasa malu.
Bagaimana perasaan Tamara menerima nasibnya*?
lagiiii...