𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 18
...왕신...
...ー...
...•...
Telah sah bercerai dengan Yoo Ana, Shin kembali ke separuh kehidupannya, ke ーsebelum bertemu dan menjalani pernikahan rumit dengan wanita itu.
Dia sebagai pengusaha bar juga kuliner, usaha yang menambah pundi-pundi kekayaannya selain tunjangan dan pesangon mantan keprajuritan.
Menyinggung usaha, bar di mana pertama kali dia bertemu Yoo Ana adalah salah satu miliknya juga, lebih tepatnya bar tua kesayangan tempatnya menghabiskan waktu jika senggang dari banyak tugas yang menyibukkan.
Hari ini ...
Pertemuan terjadwal dengan seorang kepercayaan yang sudah sangat berjasa membantu mengelola semua bisnisnya itu.
Seo Jiho namanya, pria sederhana dan cerdas, 29 tahun. Kepribadiannya selain jujur, juga sangat cekatan dalam tugasnya, tidak pernah mengeluh, sopan dan penuh semangat.
“Setelah sekian lama, senang bertemu kau kembali, Hyung!”
𝐇𝐲𝐮𝐧𝐠 (형) 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐊𝐨𝐫𝐞𝐚 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 ‘𝐊𝐚𝐤𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐤𝐢-𝐥𝐚𝐤𝐢’, 𝐝𝐢𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐥𝐚𝐤𝐢-𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝐥𝐚𝐤𝐢-𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐭𝐮𝐚 (𝐊𝐚𝐤𝐚𝐤 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠, 𝐬𝐞𝐩𝐮𝐩𝐮, 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐤𝐚𝐭, 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐢𝐨𝐫), 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐣𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐡𝐨𝐫𝐦𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐚𝐤𝐫𝐚𝐛𝐚𝐧.
Mata Seo Jiho berbinar terang melihat hyung-nya ada di hadapannya sekarang. Tidak berbohong soal kerinduannya saat Shin mengatakan ingin bertemu, melalui panggilan telepon. Tentu saja langsung disambutnya tanpa memakan detik yang banyak.
Shin sudah lebih dulu di sana, duduk santai menikmati aroma laut ditemani segelas jus berwarna putih, entah sirsak atau kelapa.
“Kita hanya tidak bertemu satu setengah bulan, kau sudah bersikap seperti tak makan. Apalagi kalau aku menghilang lima tahー”
“Aku akan mati karena kehilangan semangat hidup!” sambar Jiho, lalu mendengus, “Satu setengah bulan itu lama, Hyung! Aku bahkan nyaris melupakan wajahmu yang iblis itu.”
“Iblis?”
“Ya. Sangat iblis sampai tak pantas dimuliakan!”
“Bajingan ini mulai berani.”
Jiho terkekeh. “Aku serius, Hyung. Aku sungguh senang bertemu denganmu lagi. Rasanya seperti lama tak bertemu kekasih.”
“Ck! Apa selera seksualmu mulai berubah?”
“Jangan gila! Anuku masih tegak saat melihat wanita dengan bikini.”
“Manula pun tak masalah?”
“Hey!!”
“Asal wanita saja, kan?”
Usia keduanya hanya terpaut empat tahun saja dengan Shin lebih tua di atas. Seo Jiho sudah dianggapnya adik sendiri. Seorang anak muda yatim piatu yang diselamatkan dari kekejaman seorang paman, sebelas tahun lalu.
Meski restoran atau bar Shin tersebar banyak, tapi pertemuannya dengan Jiho saat ini dilakukan di restoran kecil pesisir Jeju.
Sekalian berlibur, begitu saran Jiho yang katanya sangat ingin bertemu.
“Bagaimana tentang rencana pembukaan cabang?” tanya Shin, mulai membuka obrolan serius. “Dan apa temanya? Restoran Indonesia? Kau yakin dengan itu?’'
“Hmm, sangat yakin!” Seo Jiho mengangguk semangat. Kunyahan desert di dalam mulut lebih dulu ditelan sebelum menjabarkan penjelasannya.
“Kekayaan kuliner Indonesia mencerminkan keragaman budaya, alam dan sejarahnya. Untuk rasa jangan ditanya, banyak turis berbagai negara yang tidak bisa melupakannya. Makanan mereka punya keunikan yang langka.” Dia sampai mengabsen nama-nama menu khas Indonesia yang pernah dinikmatnyaーdipesan secara daring, sambil dua tangan bergerak repot mendukung kata-katanya.
Shin manggut saja. “Bagaimana dengan persiapan? Seperti letak tempat, arsitektur dan ... koki?”
“Semua sudah mantap. Aku bertemu orang yang tepat untuk bekerja sama. Namanya Ian Haris, dia cerdas dan sederhana, lulusan sekolah kuliner dari Jakarta. Kemampuan memasak dan pengetahuan semua jenis makanan dari negaranya sangat mengagumkan. Aku sudah mencicipi beberapa hasil olah tangannya saat kami bertemu, benar-benar berbeda dari yang pernah kumakan di sini. Yang dia olah sangat enak dan luar biasa, terasa seperti berkunjung langsung ke negaranya.”
“Jadi dia seorang koki?"
“Hmm!”
Shin melihat kilat membara di wajah itu, keyakinan yang tak terpatah. “Jika kau sudah merasa begitu, aku hanya harus setuju. Jadi lakukan saja.”
“Oke, Hyung! ... Tapi ... apa perlu kuperkenalkan Ian padamu?”
“Lain kali saja. Aku percayakan semua pada konsistensimu.”
Mata tipis Seo Jiho membeliak. “Pasti begitu,” katanya mencebik, lalu pasrah tak lama setelahnya. “Well yeaaah, bos besar memang akan selalu bersembunyi di balik sandaran kursi yang tinggi sambil membelakangi.”
“Aku bisa tarik semua jika kau terus mengusikku seperti badut.”
“Andwe! Ampuni hamba, Paduka. Tidak lagi-lagi.”
Beberapa menit obrolan tentang usaha itu selesai dengan cara konyol, Seo Jiho bertanya hal lain dengan sedikit ragu, “Umm, maaf, Hyung. Tentang Kakak Ipar ... kau sungguh tidak apa-apa bercerai dengannya?”
Sekali saja Shin mengangguk. “Ya! Tidak ada yang berubah dariku.”
Menyentil Ana, tatapannya menerawang ke kejauhan, melintasi debur ombak yang sesekali mengamuk karena sentuhan angin. Bayangan pelukan wanita itu dengan Sol Gibaek mendadak sok meraja di pikirannya.
‘Kadang hidup menjatuhkanmu bukan karena kau lemah, tapi karena jodoh orang lain yang memaksa ingin ditiduri. Dan yang paling menyebalkan adalah saat kau dihukum seolah-olah kau sendiri yang mengguncang hubungan mereka.’
Rasanya sungguh ingin terbahak menyikapi pemikiran demikian di kepalanya, tapi karena ada Seo Jiho, berpura-pura datar adalah keputusan tepat.
“Padahal kami baru bertemu sekali.” Seo Jiho menyayangkan dengan wajah tertekuk seperti bocah.
Saat itu di depan Ana dia diakui sebagai teman oleh Shin, pemilik restoran yang dikunjungi.
“Kau akan bertemu kakak ipar yang lain ke depannya! Tidak usah merengek sedih seperti balita."
“Benarkah? Bagaimana kalau kukenalkan dengan seseorang? Dia adik temanku, manis dan lugu!”
Bisa-bisanya dalam sekejap wajah kecewa berubah semangat lagi.
“Tidak! Kecuali hanya untuk sekali pakai.”
“HYUNG!"
“Karena itu hentikan omong kosongmu! Aku mungkin tidak akan pernah bisa serius dengan wanita. Ada hal besar di depan sana ... yang menungguku.”
***
Dua hari kemudian liburan telah selesai. Seo Jiho pergi lebih dulu terkait janji temu dengan Ian Haris siang kemarin.
Sedang Shin memilih pergi pagi ini setelah semalaman menghabiskan waktu berjalan sendiri menyusur pantai.
Menggunakan feri, lalu kereta untuk sampai di Incheon, begitu yang akan dilakukannya dengan perjalanan pulang.
Lama tempuh sampai 12 jam, dia ingin menikmati setiap waktu untuk menjadi selaksa waktu yang bisa dikenang. Menggunakan pesawat, tidak ada yang membuatnya terburu-buru seperti Seo Jiho si worka holic.
Turun dari kereta, mobilnya sudah di sana, diantarkan suruhan Paman Hong dua jam lalu.
Sekarang Shin akan berkendara sendiri.
Dalam perjalanan, di kesepian yang remang, laju mobil diperlambatnya saat sepasang mata menangkap pemandangan yang sangat janggal di depan sana.
Sebuah mobil mewah hitam melintang di tepi, sedang satu lainnya bersiap untuk melaju.
Setelah dekat, Shin menghentikan mobilnya, tepat di belakang mobil yang melintang lalu segera keluar untuk melihat. Cukup terkejut saat mendapati seorang pria terkapar di aspal dengan luka serius di bagian kepala.
“To ... long.”
Tanggap cepat, dia mengangkat dan menyandarkan punggung pria itu lalu berjongkok di hadapannya. “Apa yang terjadi?!”
Dengan tersengal dan susah payah, serta tatapan hampir tenggelam, pria itu bicara, “Mobil putih itu ... membawa Nyonya. Tolong ... sela ... matkan.” Terbatuk dengan napas kacau.
“Maksudmu nyonyamu diculik?” tanya Shin memastikan.
Pria itu mengangguk sekali saja, lalu menyebutkan dengan terbata plat nomor seri mobil yang diingatnya di waktu akhir. “서울 828.” Sebelum kemudian terkulai tak sadarkan diri.
Pandangan Shin lari ke depan, mobilnya sudah hampir tidak terlihat. Gegas ponsel dikeluarkan dari saku coat yang dikenakan.
“Kecelakaan di jalan Geon-wu km 45. Tolong kirim ambulans segera.”
Setelahnya, tanpa babibu dia berlari ke arah mobilnya, masuk lalu melejit pergi untuk mengejar.
Melaju seperti angin, zigzag melewati beberapa kendaraan lain yang juga meramaikan jalan, akhirnya, mobil putih dengan plat yang disebutkan pria tadi dilihatnya juga.
Terus dipepetnya mobil itu dari samping setelah terkejar. Mobil itu tak mau mengalah, menginjak pedal gasnya dengan kecepatan penuh.
Tepat di belokan menuju kawasan rawan, akhirnya Shin berhasil menjegal dan membuat mobil itu kalah terdiam tak bisa gerak.
Keluarlah dua orang pria dengan kepala tertutup kupluk sepenuh wajah, kecuali mata.
Shin melakukan hal serupa, keluar juga dari mobilnya.
“Siapa kau, Keparat?!” teriak salah satu dari mereka.
Begitu saja Shin mengayun tinju ke wajah salah satunya sebagai pembuka sapa. Dari sana pergelutan terjadi. Begitu cepat. Turun dua orang lagi dengan senjata tajam, juga dihadapi Shin.
Satu lawan empat.
Tidak masalah. Tidak ada yang menyulitkan.
“Aku Wang Shin.”