NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab7

Pesawat mulai lepas landas, meninggalkan gemerlap lampu Jakarta di bawah sana. Namira yang awalnya sibuk melihat ke luar jendela sambil mengagumi pemandangan awan, perlahan-lahan mulai merasa berat di kelopak matanya. Efek bangun jam setengah tiga pagi tadi rupanya baru terasa sekarang.

Namira mencoba bertahan dengan menyandarkan kepalanya ke dinding pesawat yang dingin, tapi posisi itu tidak nyaman. Kepalanya berkali-kali terantuk kaca, lalu oleng ke depan, hampir saja wajahnya menabrak sandaran kursi di depannya.

Ayyan yang sejak tadi pura-pura fokus membaca kitab kecil di tangannya, sebenarnya tidak benar-benar fokus. Ia terus memperhatikan pergerakan istrinya dari sudut mata.

Saat kepala Namira kembali oleng dan hampir jatuh ke arah lorong pesawat, dengan gerakan cepat dan sigap, tangan besar Ayyan menahan dahi Namira.

"Pelan-pelan, Namira," bisik Ayyan sangat rendah.

Namira yang setengah sadar hanya bergumam tidak jelas, "Hmm... seblaknya pedes banget..."

Ayyan mendengus pelan, menahan tawa kecilnya. Bahkan dalam tidur pun, gadis ini masih memikirkan makanan itu. Melihat Namira yang tampak sangat kelelahan, Ayyan menghela napas panjang.

Ia menutup kitabnya, lalu dengan perlahan dan sangat hati-hati—seolah takut memecahkan porselen mahal—ia menarik bahu Namira.

Ayyan mengarahkan kepala Namira agar bersandar di bahunya yang kokoh. Begitu kepala Namira mendarat di bahu Ayyan, gadis itu langsung mencari posisi nyaman dan mengeratkan pelukannya pada lengan baju koko Ayyan, seolah-olah lengan itu adalah guling favoritnya.

Aroma parfum kayu cendana dan sabun bayi dari hijab Namira menyerbu indra penciuman Ayyan. Jantung Ayyan yang biasanya berdetak tenang, tiba-tiba berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Tadi bilangnya pangeran berkuda putih, sekarang malah pangerannya dijadikan bantal," gumam Ayyan pelan sambil menatap wajah tidur Namira yang tampak sangat tenang dan polos—jauh dari kesan cerewet yang biasanya melekat.

Ayyan memperbaiki posisi duduknya agar Namira tidak pegal. Ia bahkan memberanikan diri untuk sedikit mengusap kepala Namira yang tertutup hijab dengan sangat lembut.

"Tidurlah, Namira. Perjalananmu masih jauh, dan tanggung jawabmu nanti akan lebih berat. Selama ada saya, kamu tidak perlu takut jatuh," ucap Ayyan pelan, hampir seperti bisikan doa.

Tanpa sadar, Ayyan menyandarkan kepalanya di atas kepala Namira. Di tengah kabin pesawat yang redup, pasangan pengantin baru yang sangat kontras ini akhirnya tertidur bersama, menciptakan pemandangan yang sangat manis bagi siapapun yang melihatnya.

Umi Fatimah yang duduk di kursi baris belakang mereka tersenyum simpul. Ia menyenggol pelan lengan Abah Kyai yang sedang khusyuk berdzikir dengan tasbih digitalnya.

"Lihat tuh, Bah," bisik Umi sambil menunjuk ke arah kursi di depannya dengan dagu.

Abah Kyai membetulkan letak kacamatanya, lalu melongok sedikit. Pemandangan Ayyan yang membiarkan bahunya menjadi bantal bagi Namira—bahkan Ayyan sendiri ikut tertidur dengan kepala menempel di atas kepala istrinya—membuat Abah Kyai terkekeh pelan.

"Alhamdulillah," ucap Abah Kyai dengan suara rendah. "Ternyata 'Kulkas' kamu itu bisa cair juga kalau kena sinar matahari seperti Namira, Mi."

Umi Fatimah menutup mulutnya, menahan tawa agar tidak membangunkan mereka. "Iya, Bah. Umi tadinya sempat khawatir. Ayyan itu kan kaku sekali, disiplinnya luar biasa. Umi takut Namira yang ceria begitu malah jadi stres menghadapi Ayyan. Tapi lihat sekarang, malah Ayyan yang menjaga kepalanya supaya tidak terantuk."

Abah Kyai mengangguk-angguk setuju. "Namira itu memang obatnya Ayyan. Pesantren butuh warna seperti Namira. Dan Ayyan memang butuh seseorang yang berani membantah kata-katanya sesekali supaya dia tidak terlalu kaku jadi orang."

"Tapi Bah," Umi Fatimah melirik lagi, "Itu Namira kayaknya tidur nyenyak sekali ya? Sampai tangannya meluk lengan Ayyan kencang begitu. Kalau nanti bangun terus sadar, pasti mukanya merah padam itu anak."

"Biarkan saja, Mi. Itu namanya proses," jawab Abah Kyai bijak. "Dulu waktu kita awal nikah, kamu juga pernah ketiduran di pundak Abah waktu di angkutan umum, ingat?"

Umi Fatimah langsung tersipu malu, mencubit pelan lengan suaminya. "Huss, si Abah malah bahas masa lalu. Malu dilihat santri kalau ada yang tahu."

Mereka berdua pun kembali bersandar dengan perasaan lega. Melihat putra mereka bisa bersikap selembut itu, mereka yakin bahwa rumah tangga ini akan membawa keberkahan, meski diawali dengan perdebatan soal seblak.

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!