NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: JEJAK YANG TERLUPA

Fajar di rumah sakit membawa kelegaan yang rapuh. Kinan terbangun sepenuhnya pukul enam pagi, matanya membuka lebar dengan kebingungan khas anak-anak yang terbangun di tempat asing. Dokter memeriksa sekali lagi, mengangguk puas, lalu mengizinkan pulang dengan daftar larangan sepanjang satu halaman.

Di taksi pulang, Kinan tidur lagi di pangkuan Maya. Kali ini, tidurnya damai, tanpa kerut di dahinya. Bima duduk di sampingku, diam saja. Tapi ketika aku menoleh, kulihat air mata diam-diam mengalir di pipinya.

"Bima?" bisikku.

Dia mengusap mukanya cepat, berusaha tersenyum. "Aku cuma lega aja, Om."

Tapi itu lebih dari sekadar lega. Di matanya ada sesuatu yang lebih dalam ketakutan yang sudah terlalu lama dipendam, yang baru berani keluar sekarang ketika bahaya sudah lewat.

 

Rumah terasa berbeda ketika kami kembali. Bukan hanya karena keheningan pagi, tapi karena atmosfernya. Seperti rumah yang baru saja melewati badai dan masih meneteskan sisa hujan dari atapnya.

Maya menidurkan Kinan di kamar mereka. Bima masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu dengan pelan. Aku berdiri di ruang tamu, melihat sekeliling. Foto-foto keluarga di dinding, mainan Kinan yang berserakan, buku pelajaran Bima di meja semuanya tiba-tiba terlihat sangat berharga. Sangat rapuh.

"Kopi?" suara Maya dari dapur.

Aku mengangguk, mengikutinya.

Dia membuat kopi dengan gerakan otomatis, tapi tangannya masih gemetar sedikit. Ketika menyerahkan cangkir padaku, jari-jari kami bersentuhan sebentar. Dingin.

"Terima kasih," ucapnya, mata menatap lantai. "Untuk semuanya. Untuk kemarin. Untuk... untuk tidak panik ketika aku panik."

"Aku juga panik, Maya. Aku cuma pura-pura tenang."

Dia tersenyum kecil. "Pura-pura yang bagus."

Kami duduk di meja dapur. Di luar, matahari mulai naik, menyinari halaman belakang yang masih basah oleh embun.

"Aku harus bilang sesuatu," kataku, menempatkan cangkir.

Maya menatapku, waspada. "Apa?"

"Tentang... tentang berapa lama aku akan tinggal."

Dia menghela napas, seperti sudah menunggu pertanyaan ini. "Kamu sudah bilang kamu batalkan tiket pulang."

"Tapi itu belum jawaban lengkap. Aku... aku sudah telepon kantor di Singapura kemarin, sebelum ke pantai. Aku minta cuti panjang. Tiga bulan."

"Oh." Ekspresinya tidak terbaca. "Lalu setelah tiga bulan?"

"Aku belum tahu. Tergantung..."

"Tergantung apa?" Kali ini suaranya sedikit tajam. "Tergantung apakah kami sudah 'baik-baik saja'? Tergantung apakah kamu sudah merasa cukup membayar 'utang' masa lalu?"

"Bukan begitu"

"Atau tergantung apakah cintamu padaku cukup kuat untuk bertahan lebih dari tiga bulan?"

Diam yang menusuk. Aku tidak menyangka reaksi ini.

"Maya"

"Delapan tahun, Raka." Dia berdiri, berjalan ke jendela. "Delapan tahun kamu pergi. Dan sekarang kamu kembali, bilang akan tinggal tiga bulan. Itu seperti... seperti uji coba. Seperti kamu mau lihat dulu apakah kami layak untuk komitmen yang lebih panjang."

"Itu tidak adil," protesku, juga berdiri. "Aku butuh waktu juga. Butuh pastikan ini bukan hanya rasa bersalah atau nostalgia. Butuh pastikan kita... cocok. Setelah delapan tahun berubah."

"Dan kami yang harus menunggu? Kami yang harus cemas apakah setelah tiga bulan kamu akan bilang 'maaf, ternyata tidak bekerja' dan pergi lagi?"

"Kamu pikir ini mudah bagiku?" suaraku meninggi tanpa kusadari. "Meninggalkan segalanya di Singapura? Karir yang sudah kubangun delapan tahun? Hidup yang sudah terbentuk?"

"LALU KENAPA KAU KEMBALI?!"

Teriakannya menggelegar di dapur kecil itu. Kinan terbangun di kamar, menangis. Tapi Maya tidak bergerak. Dia hanya menatapku, napasnya tersengal-sengal, mata penuh dengan segala rasa sakit delapan tahun terakhir.

"Kenapa kau kembali kalau masih ragu? Kenapa kau beri harapan pada anak-anak? Kenapa kau buat aku... buat aku mulai percaya lagi?"

Aku ingin menjawab. Tapi kata-kata macet di tenggorokan. Karena dia benar. Aku memang ragu. Aku memang takut. Aku memang kembali setengah hati, dengan satu kaki masih di Singapura, dengan pintu keluar yang masih terbuka.

Kinan menangis lebih keras. Maya akhirnya bergerak, tapi sebelum pergi, dia berkata dengan suara hancur: "Aku tidak bisa lagi, Raka. Tidak bisa lagi dicintai setengah-setengah. Tidak bisa lagi dijanjikan sesuatu yang mungkin akan ditarik kembali."

Dia pergi ke kamar. Aku terduduk lagi, tangan menggenggam rambut. Ini salah. Semua salah. Aku datang ingin memperbaiki, tapi justru membuat segalanya lebih sakit.

 

Beberapa jam kemudian, Bima keluar dari kamarnya. Dia sudah mandi, berpakaian rapi, seperti mau pergi.

"Kemana, Bima?" tanyaku.

"Tempat les. Sabtu ini ada tambahan."

"Tapi setelah kejadian kemarin"

"Habis les aku mau ke rumah Nenek," potongnya, tidak menatapku. "Mau tinggal semalam di sana."

Ini tidak biasa. Bima jarang minta tinggal di rumah neneknya sejak Rangga pergi.

"Ada apa?" tanyaku, berjongkok hingga sejajar dengannya.

Dia diam lama. Lalu: "Aku dengar. Mama dan Om bertengkar."

"Aku... kami bukan bertengkar. Hanya bicara."

"Dengan suara keras. Kinan sampai nangis."

Aku merasa seperti ditampar. "Kami tidak bermaksud"

"Papa dan Mama dulu juga gitu," dia melanjutkan, masih tidak menatapku. "Awalnya bicara biasa. Lalu suara keras. Lalu Mama nangis. Lalu Papa pergi."

"Bima"

"Om Raka juga akan pergi kan?" Sekarang dia menatapku langsung, dan di matanya ada tuduhan yang membuatku terengah. "Setelah tiga bulan?"

"Tidak, aku"

"Kalian semua sama," dia memotong lagi, suaranya datar. "Bilang sayang, bilang akan tinggal, tapi akhirnya pergi juga. Aku lebih baik ke Nenek saja. Di sana, setidaknya Nenek tidak janji-janji yang nggak ditepati."

Dia mengambil tasnya, berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia berbalik. "Jaga Mama dan Kinan ya, Om. Tapi kalau Om mau pergi juga, kasih tahu dari sekarang. Biar aku yang jaga mereka."

Pintu tertutup. Aku terduduk di lantai, tubuh lemas.

 

Sepanjang hari, suasana rumah seperti kuburan. Maya tidak keluar dari kamar kecuali untuk membuatkan makanan untuk Kinan. Kinan sendiri masih lemah, tidur lebih banyak daripada bangun.

Aku membereskan rumah. Mencuci piring. Mengepel lantai. Membersihkan debu. Aktivitas fisik untuk menenangkan pikiran yang berputar-putar.

Apakah aku egois? Ya.

Apakah aku ragu? Ya.

Apakah aku takut? Ya.

Tapi apakah aku mencintai mereka? Juga ya.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku, cinta itu harus lebih besar daripada keraguan dan ketakutan.

Sore hari, ketika Maya keluar untuk mengambil air di dapur, aku menghampirinya.

"Aku minta maaf," kataku, sebelum dia sempat menghindar.

Dia berhenti, tidak menoleh. "Untuk apa?"

"Untuk semua. Untuk delapan tahun lalu. Untuk keraguanku sekarang. Untuk membuatmu dan anak-anak terluka lagi."

Dia diam.

"Aku akan tinggal, Maya. Tidak cuma tiga bulan. Untuk selamanya, jika kamu mau."

Sekarang dia menoleh. Matanya bengkak, merah. "Jangan janji kalau tidak bisa tepati."

"Ini bukan janji. Ini keputusan." Aku mendekat, pelan. "Aku sudah telepon Singapura lagi. Mengundurkan diri. Bukan minta cuti."

Maya terkesiap. "Apa? Kamu... kamu serius?"

"Iya. Aku juga sudah telepon orang tuaku. Bilang aku tidak akan kembali ke Singapura. Bilang aku akan tinggal di sini, membantumu, membesarkan anak-anak, jika kamu mengizinkan."

"Tapi karirmu"

"Karir bisa dicari di sini. Atau buat dari nol. Tapi kamu... kamu tidak bisa diganti."

Air mata mulai menggenang di matanya lagi. "Raka, kamu nggak harus"

"Aku harus. Untuk diriku sendiri. Karena delapan tahun di Singapura, aku belajar satu hal: kesuksesan karir tidak berarti apa-apa kalau pulang ke apartemen kosong. Tidak berarti apa-apa kalau tidak ada yang menunggumu. Tidak berarti apa-apa kalau orang yang paling kau cintai menderita sendirian."

Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku cinta kamu, Maya. Selama ini. Dan aku mau membuktikannya. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan. Dengan tetap tinggal. Meski sulit. Meski keluarga tidak setuju. Meski dunia bilang kita salah."

Maya menutup wajah, bahunya berguncang. Aku tidak menyentuhnya, memberinya ruang.

"Kamu tahu nggak," akhirnya dia berkata, suara tertahan. "Waktu Kinan jatuh kemarin... yang pertama aku pikirkan? 'Kalau sesuatu terjadi padanya, Raka akan pergi lagi. Karena dia nggak tahan lihat kesedihan.'"

"Dan aku tidak pergi."

"Belum."

"Aku tidak akan." Kali ini aku menyentuh bahunya, pelan. "Kesedihan adalah bagian dari hidup. Dan aku mau berbagi kesedihanmu, bukan lari darinya."

Dia melihat tanganku di bahunya, lalu menatapku. "Kamu yakin?"

"Tidak," jawabku jujur. "Aku masih takut. Masih ragu. Tapi satu hal yang pasti: ketakutanku kehilanganmu lagi lebih besar daripada ketakutanku menghadapi semua ini."

Itulah kebenaran paling jujur yang bisa kuberikan. Dan mungkin, itulah yang dibutuhkannya kejujuran, bukan janji muluk.

Maya mengangguk pelan, lalu tiba-tiba memelukku. Pelukan erat, seperti orang tenggelam yang berpegangan pada penyelamat terakhir.

"Jangan sakiti kami lagi," bisiknya di bahuku. "Kalau mau pergi... kasih tahu dari awal. Jangan beri harapan dulu."

"Tidak akan ada kepergian lagi," balasku, memeluknya kembali. "Kecuali kamu yang suruh aku pergi."

Kami berdiri seperti itu lama, di dapur yang mulai gelap oleh senja. Dua tubuh yang terluka, dua hati yang rapuh, berjanji untuk tidak saling melukai lagi.

 

Malam itu, Bima pulang dari rumah neneknya. Dia terkejut melihat kami duduk bersama di ruang tamu, menonton film kartun dengan Kinan yang sudah lebih ceria.

"Makan malam masih ada," kata Maya, tersenyum padanya. "Dapur."

Bima melihatku, lalu melihat Maya. "Kalian... baik-baik lagi?"

"Kami baik-baik saja," jawabku. "Dan Om ada sesuatu untuk kamu."

Aku memberikan amplop kecil padanya. "Buka."

Dia membuka, mengeluarkan kunci. "Ini...?"

"Kunci rumah ini. Kamu selalu bilang takut kehilangan kunci, jadi Om buatkan kopian. Sekarang kamu punya kuncimu sendiri."

Bima memandang kunci itu, lalu menatapku. "Berarti Om akan tinggal?"

"Untuk selamanya," jawabku, dan kali ini tidak ada keraguan di suaraku.

"Janji?"

"Bukan janji. Tapi rencana. Dan kamu boleh ingatkan Om kalau Om lupa rencana ini."

Bima tersenyum, senyum lepas, senyum anak delapan tahun yang seharusnya. "Oke."

Malam itu, ketika semua sudah tidur, aku berdiri di teras depan, melihat bintang-bintang. Delapan tahun lalu, aku melihat bintang yang sama dari balkon apartemen di Singapura, merasa sendiri, merindukan rumah.

Sekarang aku di rumah. Bukan rumah fisik, tapi rumah di mana hatiku berada. Rumah dengan seorang perempuan yang kucintai, dua anak yang mulai kuanggap sebagai milikku sendiri, dan masa depan yang tidak pasti tapi layak diperjuangkan.

Dari dalam, Maya keluar, membawakan secangkir teh. "Masih banyak yang harus kita bicarakan," katanya, duduk di sampingku.

"Iya. Tentang Rangga. Tentang perceraian yang belum selesai. Tentang reaksi keluarga."

"Dan tentang kita. Apa kita... bisa bersama? Dengan semua sejarah kita?"

Aku memegang tangannya. "Kita tidak akan tahu kalau tidak coba."

"Kamu tidak takut?"

"Takut. Tapi lebih takut kehilanganmu lagi."

Dia tersenyum, mencondongkan kepalanya di bahuku. "Delapan tahun yang terbuang."

"Bukan terbuang. Kita butuh waktu itu untuk tumbuh. Untuk belajar. Untuk jadi orang yang sekarang orang yang siap berjuang untuk cintanya."

Di langit, bintang-bintang berkelap-kelip. Seperti mata Kinan yang cerah. Seperti senyum Bima yang langka. Seperti harapan yang baru saja lahir dari puing-puing luka delapan tahun.

Dan aku tahu, ini baru awal. Akan ada lebih banyak badai. Lebih banyak air mata. Lebih banyak pertanyaan tanpa jawaban.

Tapi untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tidak sendiri menghadapinya.

Dan itu sudah cukup untuk hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!