Rahmeta putri Gadis yang selalu tampak ceria, dibalik keceriaannya tersimpan ketangguhan dan kepedihan secara bersamaan.
menyukai seorang pria yang pernah menjadi dosennya , ditolak sekian kalinya hingga memutuskan menyerah kemudian takdir membawanya kembali kepada cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.
"Aku sudah berusaha lupa, tapi kenapa takdir semakin menjeratku dalam pelukannya?"
Ahmad Faruq syahreza, hidupnya menjadi aneh dan kacau ketika gadis itu mulai menganggu ketenangan harinya, tapi siapa sangka kehadiran gadis itu ternyata membawa warna bagi kaku nya hidup Reza.
" menjauhlah dariku,aku ini dosenmu."
" oke pak, saya akan selalu berada didekat bapak."
Apakah Meta tetap mencintai pria itu meski ia telah ditolak kesekian kalinya? bagaimana meta menjalani kemelut hidupnya?
Bagaimana cara Reza menghadapi gadis dengan mood labil itu? Bagaimana pula pria patah hati itu mengenali isi hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kanza-azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21. MERINDUKAN.
Meta menatap langit malam yang penuh dengan taburan bintang dan indahnya cahaya bulan nan bersinar indah. Angin berhembus pelan meniup rambut indah, milik gadis bermata teduh ini.
Seorang wanita paruh baya datang menghampiri dan mengusap lembut kepala putri tegar ya itu.
Ia mengajaknya untuk masuk kedalam rumah,angin malam tak bagus untuk kesehatan bukan?
senyuman wanita inilah yang membuat meta tetap tegar dan tenang. Hari-harinya berjalan lancar selama ia berada dikampung, semua tampak baik sesuai yang ia harapkan.
pikirannya menerawang kembali kekejadian beberapa hari lalu ketika ia bertemu ayahnya.
' Ayah, meta rindu kita seperti dulu lagi' lirihnya
sembari menatap-langit kamar dengan air mata yang berlinang. Meta menekan dadanya kuat, perih sungguh perih rasanya. Larut dalam kerinduan benar-benar menyiksanya, lamunannya buyar ketika dering ponsel berbunyi cukup keras. Ia menyambar ponsel, melihat sejenak kearah benda itu.
Panggilan tak terjawab dan pesan yang cukup intens dikirim bertubi-tubi oleh pria yang selalu menganggu ketenangannya selama dikampung, siapa lagi kalau bukan Rayyan.
Meta menghembuskan nafas pelan, ia cukup sibuk beberapa hari ini sehingga tak sempat membalas pesan pria itu.
pria itu tak pernah menyerah, menyadari hal itu Meta tersenyum tipis, seandainya pak Reza seperti ini. Mengingat nama pria itu ada nyeri di ulu hatinya.
Ia tak menyangka candaannya benar-benar berubah menjadi perasaan cinta yang nyata.
********
Keesokan paginya Meta bersiap untuk melakukan beberapa kegiatan sosial didaerahnya. Ia dipercaya sebagai salah satu orang penting terkait kegiatan sosial yang akan berlangsung didaerahnya.
Rok berwarna navy dan kemeja panjang tangan berwarna hitam semakin membuat ia tampak manis dipadu bag hitam kesayangannya, kali ini mengikat rambut panjangnya menampilkan leher putih jenjang dan mulus.
Meta tampak sibuk hari ini, sepertinya ini akan menyita waktunya. Ia memasukkan beberapa bahan pangan kedalam kardus yang sudah disediakan. Ditengah kesibukannya salah seorang pria bertubuh jangkung datang menghampiri Meta.
" Assalamualaikum dek"
"waalaikumusalam" Meta menoleh ke asal suara.
"Apa kabar dek?"
" kabar baik kak" Meta masih ingat siapa sosok yang berdiri didepannya, pria itu tersenyum kepadanya dan iapun membalas dengan senyuman yang sama.
Pria ini adalah Ilham, kakak kelasnya sewaktu SMA dahulu, ketua OSIS populer yang tampan dan cerdas, menjadi idaman semua murid kala itu.
Pria berdarah Aceh yang sudah cukup lama tinggal di tanah minang. Mengikuti sang ayah karena alasan pekerjaan. Ia cukup mengerti bahasa Minang tapi tak pernah bisa mengucapkannya.
hidungnya mancung, kulitnya putih dengan tubuh yang cukup proposional khas pria Aceh yang kebanyakan tampan. Semasa sekolah dulu, pria ini sempat mengutarakan perasaan cintanya pada Meta namun gadis yang memiliki mata teduh ini enggan akan hal itu dan menolak menjalin hubungan dengan Ilham, meski tak ia pungkiri perasaannya sama dengan apa yang dirasakan Ilham kala itu.
Siapa yang tak jatuh cinta pada pria baik seperti Ilham, namun seiring waktu rasa itu hilang dan terkikis digantikan rasa cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada pria yang bahkan enggan menatapnya, jangankan menatap seakan Reza yang pernah menjadi dosennya itu, seolah sering terlihat kesal ketika bertemu dirinya.
semiris inikah percintaannya?
membayangkannya saja sungguh sangat menyakiti hati Meta, ingin rasanya ia menangis namun akan tampak bodoh bila ia menangis untuk pria yang tak pernah menatapnya itu.
'biarlah aku belajar melupakanmu mas'
********
Aduh sudah lama gak mampir disini karena kesibukan yang benar2 menguras waktu