Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Seragam Biru
Mata Bela terbelalak kaget. Cahaya dari layar ponselnya seolah menusuk pupil mata di tengah kegelapan kamar apartemen barunya yang masih terasa asing. Apartemen ini mewah, jauh lebih nyaman dari kosannya dulu, namun malam ini dinding-dindingnya yang kokoh seolah menjepit Bela dengan rasa takut yang baru.
Bela tahu persis siapa pengirimnya. Ia hafal siapa saja orang dari kehidupan lamanya yang masih memegang akses untuk menghubunginya, bahkan setelah ia mengganti nomor ponsel sekalipun. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca barisan kalimat tersebut.
"Apa kabar nak? Sudah sebulan gak ada kabarmu, maaf tante baru bisa berkabar karena nomor yang kamu tulis sempat tercecer."
"Mamah kamu tadi sempat datang ke sini, silaturahmi terus sekadar bertanya kamu ada mampir atau enggak. Duh, tapi tante takut soalnya Mamah kamu tuh bareng dua orang laki-laki berbadan besar. Lebih baik kamu pulang nak, Bela. Tante takut mamah kamu nekat loh."
Saking hebatnya guncangan emosional yang ia rasakan, janin di dalam perutnya seolah ikut memberikan reaksi. Bela merasakan nyeri yang tajam selama sepersekian detik di perut bawahnya. Ia meringis, mendekap perutnya dengan tangan yang gemetar.
Bela segera membalas pesan itu, jemarinya bergetar hebat di atas layar sentuh.
"Tante jujur sama Bela, Mamah ngapain aja di sana? Gak mungkin Mamah cuma silaturahmi. Tante nggak apa-apa, kan? Tante nggak disakitin sama orang-orang itu?"
Semenit kemudian, balasan masuk.
"Tante nggak apa-apa, Bela..."
Bela memejamkan mata erat. Ia tahu Tantenya berusaha menutupi ketakutannya, tapi ia bisa merasakan getaran panik dari balik teks itu. Ibunya bukanlah tipe wanita yang datang berkunjung dengan tangan kosong. Jika ia membawa dua pria berbadan besar, itu adalah misi pencarian paksa, bukan sekadar rindu seorang ibu.
Namun meski begitu, sebenarnya Bela tidak pernah berekspektasi bahwa Mamahnya akan rela merendahkan martabatnya, menginjakkan kaki di tempat yang dulu sangat ia benci, hanya untuk mencari keberadaan anak tunggalnya. Harga diri wanita itu biasanya setinggi langit, namun kini ia tawar demi sebuah jawaban. Apakah itu tanda peduli? Apakah itu tanda khawatir?
Logikanya berkata wajar jika seorang ibu mencari anak tunggalnya. Namun, nuraninya membisikkan pertanyaan yang lebih pahit.
'Apakah sikapnya akan tetap sama jika ia tahu rahim anak tunggalnya ini sudah terisi tanpa seorang suami?'
Semakin malam, Bela semakin tenggelam dalam pusaran overthinking. Di unit apartemen yang sunyi ini, ia merasa langkahnya akan mulai terintimidasi. Mamahnya bukan orang sembarangan, membawa dua pria berbadan besar berarti wanita itu sedang serius. Bela harus selalu waspada mulai saat ini.
"Keluar kota memang jalan terbaik sih," gumam Bela lirih pada langit-langit kamar apartemennya.
Detik itu juga, tekadnya bulat. Ia akan menemani Melani dalam perjalanan dinas mulai pekan depan, seberapa pun melelahkannya itu. Setidaknya dia tidak full stay di kota jakarta.
Namun, di tengah keputusannya, ia merenung.
'Apakah aku salah karena kabur? Harusnya aku mengaku saja. Toh, aku juga korban.'
Tapi Bela segera menepis pikiran itu. Mengaku pada Mamahnya sama saja dengan menyerahkan diri ke algojo. Citra dan nama baik adalah segalanya bagi wanita itu. Sedari dulu Bela kurang belaian karena Mamahnya terlalu sibuk membangun reputasi pekerjaan. Berharap empati dari wanita seperti itu sekarang? Mustahil.
Pesan berikutnya dari Tante membuat Bela tertegun lebih lama.
"Bela, sudah sebulan kamu pergi. Kamu sudah kontrol cekup rutin? Kamu harus jaga kondisi, apalagi kamu sendirian di sana. Sudah berapa minggu usianya sekarang?"
Pertanyaan itu seperti hantaman telak. Bela terdiam, menatap perutnya yang masih nampak rata. Air matanya nyaris luruh. Ia sendiri tidak tahu berapa usia kandungannya sekarang. Ia terlalu sibuk melarikan diri, mencari kerja, dan bertahan hidup hingga ia lupa untuk benar-benar peduli pada nyawa yang sedang ia kandung.
---
Pagi menyambut Bela dengan rasa pening yang luar biasa. Kepalanya terasa berat, seolah dipukul benda tumpul, dan badannya mulai terasa hangat, gejala demam ringan mulai menyerang akibat stres dan kurang tidur. Meski berat rasanya untuk sekadar beranjak dari kasur empuk di apartemennya, ia memaksakan diri.
Pukul 08.00 tepat, Bela sudah berdiri di depan gerbang besi raksasa di kawasan elit itu. Meski selalu ditawari masuk untuk menunggu di dalam, Bela merasa sungkan. Alhasil, ia memilih duduk di kursi panjang di depan pos penjagaan, tempat Pak Satpam dan Pak Sopir biasanya menyesap kopi pagi mereka.
'Vroom...'
Bukan suara mesin mobil Melani yang elegan, melainkan deru mesin mobil Raka yang lebih bertenaga. Bela menelan ludah, matanya refleks terpaku pada garasi mobil yang terbuka.
Ini adalah ritual pagi yang Bela nikmati secara diam-diam. Dari posisinya duduk, ia bisa melihat profil samping Raka dengan sangat jelas. Pria itu nampak sedang fokus menatap kaca spion tengah, jemarinya bergerak santai menyisir helai rambut hitamnya yang sebenarnya sudah tertata sangat rapi dan licin. Ada sesuatu tentang cara Raka mengenakan seragam biru Angkatan Udara. Lengannya yang kekar mengisi kemeja itu dengan sempurna, membuat napas Bela sejenak tertahan.
Raka terlihat begitu gagah, begitu berwibawa, hingga rasa pening dan suhu tubuh Bela yang hangat seolah memudar secara ajaib.
Memandang Raka di pagi hari seperti meneguk kafein dosis tinggi, artinya memberikan dorongan energi yang ia butuhkan untuk memulai hari.
Begitu mobil Raka melewati gerbang, ia sempat membunyikan klakson pendek. Kaca jendela diturunkan sedikit, memperlihatkan senyum tipis dan anggukan sopan Raka ke arah pos satpam. Bela tahu sapaan itu bukan untuknya, tapi hatinya tetap saja mencuri sedikit dari perhatian itu untuk dirinya sendiri.
"Beruntung banget si Mas Raka itu ya hidupnya. Dari keluarga berada, pekerjaan bagus, istri cantik," celetuk Pak Satpam sambil memandang sisa debu dari mobil Raka.
Bela terdiam, ada rasa insecure yang menyelinap masuk ke relung hatinya. Ia merasa dirinya hanyalah figuran kecil dalam drama kehidupan pasangan sempurna ini.
"Istri cantik juga percuma toh, Mas, kalau tiap hari ribut terus sampai tetangga sebelah mungkin dengar kalau temboknya nggak kedap," sela Pak Sopir, andalan Melani.
"Kadang yang terlihat berkilau di luar, di dalamnya retak seribu, Mbak Bela." Sambung pak sopir kini melirik Bela, seolah sedang memberi pembelajaran nyata.
Bela hanya tersenyum getir. Pak Satpam kemudian menoleh ke arah Bela dengan wajah jenaka.
"Eh mbak bela sudah punya calon belum nih? Kebetulan Bapak punya keponakan di luar kota, pegawai BUMN lagi cari jodoh serius. Orangnya mapan, rajin ibadah pula."
Bela tersentak dari lamunannya. Dalam hati ia bergumam getir...
'Sudah punya, Pak. Calon bayi, tapi.'
"Yaa... jodoh gak ke mana, Pak. Sekarang mau fokus kerja dulu," ucap Bela pelan, matanya masih menatap ke arah jalanan yang baru saja dilalui mobil Raka, menyembunyikan kenyataan bahwa hatinya sedang sehancur rumah tangga bosnya itu.