"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAINGAN BARU DI KANDANG MIXER
Di dapur studio, Nana sedang sibuk dengan ritual kopinya. Ia bersenandung kecil, sesekali terdengar suara denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen. Sementara itu, di ruang utama, Ghava mencoba terlihat sibuk di depan monitor, padahal fokusnya sama sekali tidak ada pada gelombang audio di layar.
Begitu Nana menghilang di balik pintu dapur, tangan Ghava dengan gerakan kilat merogoh ponsel di saku celananya di bawah meja. Dengan jempol yang bergerak gelisah, ia mengetikkan sebuah nama yang tadi membuatnya hampir jantungan: "Kang Ha Neul".
Ia menyipitkan mata, menatap satu demi satu foto pria Korea yang muncul di layar pencarian. Wajahnya yang tampan, senyumnya yang terlihat sangat ramah, dan tubuhnya yang atletis benar-benar membuat Ghava merasa... terancam.
"Ini Kang Ha-neul, Ghav," ucap Adrina tiba-tiba, muncul di samping bahu Ghava sambil menunjuk layar ponsel pria itu.
Ghava tersentak hingga nyaris menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia buru-buru mematikan layar, tapi terlambat. Adrina sudah melihat semuanya.
"Kenapa? Kamu lagi riset saingan?" goda Adrina dengan senyum kemenangan. "Dia aktor papan atas di sana, Ghav. Dikenal karena sifatnya yang sangat baik, ramah, dan sopan. Sama sekali bukan tipe 'Kulkas' kayak kamu."
Elvario yang ikut mengintip dari belakang langsung tertawa terbahak-bahak. "Wah, Ghav! Lo beneran googling pacar halu Nana? Gila, lo beneran panik ya? Gue nggak nyangka produser jenius kayak lo bakal merasa tersaingi sama aktor luar negeri!"
"Saya cuma... cuma mau tahu siapa yang dia bicarakan," kilah Ghava, wajahnya kini memerah sampai ke tengkuk. "Takutnya dia pacaran sama orang yang nggak jelas. Sebagai bos, saya punya tanggung jawab moral untuk memantau pergaulan asisten saya."
"Tanggung jawab moral atau tanggung jawab perasaan?" timpal Elvario lagi, membuat Ghava semakin salah tingkah.
Tiba-tiba, Nana muncul dari dapur membawa nampan berisi empat cangkir kopi yang aromanya sangat harum. Ia menyadari suasana studio yang kembali riuh dan wajah Ghava yang terlihat seperti sedang tertangkap basah melakukan kejahatan.
"Ada apa nih? Kok nama pacar aku disebut-sebut lagi?" tanya Nana sambil meletakkan kopi satu per satu. Ia menatap Ghava yang pura-pura batuk kecil. "Mas Bos kenapa mukanya merah gitu? Barusan googling Kang Ha-neul ya? Gimana? Ganteng kan? Mirip Mas Bos nggak?"
"Nggak mirip sama sekali!" jawab Ghava cepat dan ketus.
"Yah... iya sih, emang beda," Nana menaruh cangkir terakhir di depan Ghava. "Kang Ha-neul itu matahari, hangat banget. Kalau Mas Bos itu es serut, dingin-dingin bikin nagih. Tapi tenang aja, Mas, hari ini aku lebih suka es serut kok daripada matahari."
Setelah mengucapkan itu dengan wajah tanpa dosa, Nana kembali ke mejanya dan mulai asyik memeluk "Imoet" lagi, meninggalkan Ghava yang kini benar-benar terdiam dengan jantung yang berdegup kencang.
Setelah Elvario dan Adrina pamit pulang, suasana studio kembali tenang, hanya menyisakan suara dengung AC yang stabil. Ghava, yang tampaknya merasa energinya terkuras habis karena diledek habis-habisan, kini sedang merebahkan tubuhnya di lantai studio yang beralaskan karpet tebal—posisi favoritnya jika sedang mencari inspirasi atau sekadar mengistirahatkan kepalanya yang panas.
Nana yang sejak tadi hanya duduk tenang di mejanya sambil memperhatikan Ghava, akhirnya berdiri. Ia menghampiri bosnya itu, lalu ikut duduk bersila di dekat kepala Ghava yang sedang menatap langit-langit studio.
"Mas... sebenernya tugas aku di sini cuma jadi hiasan kayak si 'Beruang Kulkas' di mobil sama 'Imoet' ini ya?" tanya Nana tiba-tiba, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Ghava hanya melirik sedikit ke arah Nana tanpa mengubah posisinya. "Kenapa kamu nanya gitu?"
Nana menghela napas, ia memandangi tumpukan kertas aransemen dan layar monitor yang penuh dengan grafik audio. "Ya abisnya, dari pagi aku liat Mas Ghava ngerjain semuanya sendiri. Semuanya terus yang dikerjain. Aku mau bantu input data, Mas bilang 'nanti aja'. Aku mau bantu rapiin kabel, Mas bilang 'jangan nanti kusut'. Aku jadi merasa nggak berguna, cuma mondar-mandir bawa kopi sama es teh doang."
Ghava terdiam sejenak. Ia memejamkan matanya, membiarkan keheningan mengisi jeda di antara mereka.
"Nadin," panggil Ghava pelan, masih sambil tiduran.
"Apa, Mas?"
"Kamu tahu kenapa saya naruh boneka beruang itu di dashboard?" tanya Ghava tanpa membuka mata.
Nana mengernyitkan dahi. "Ya karena aku paksa? Dan karena dia lucu?"
Ghava tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus. "Bukan cuma itu. Mobil itu tadinya cuma besi dingin yang isinya suara mesin. Tapi setelah ada boneka aneh itu, mobil saya jadi punya... 'nyawa'."
Ghava akhirnya bangun dari posisi tidurnya dan duduk berhadapan dengan Nana. Ia menatap asistennya itu dengan sorot mata yang sungguh-sungguh, menghilangkan sejenak aura bos yang galak.
"Sama kayak studio ini. Sebelum kamu datang, tempat ini cuma tempat kerja yang kaku. Saya ngerjain semuanya sendiri karena saya nggak percaya sama orang lain. Tapi sekarang, tugas kamu bukan cuma beresin kabel atau input data, Na. Tugas kamu itu... jagain biar 'kulkas' ini nggak beku lagi."
Nana melongo. Jantungnya terasa seperti habis melakukan marathon. "Jadi... aku ini penghangat ruangan Mas Bos?"
"Bisa dibilang gitu," jawab Ghava sambil berdiri dan mengacak rambut Nana sekilas. "Sudah, jangan merasa jadi pajangan. Sekarang bantu saya pilih loop drum buat lagu barunya Elvario. Kuping kamu kan kuping 'rakyat jelata', biasanya lebih tahu mana lagu yang bakal viral di TikTok daripada kuping produser saya."
Nana langsung berdiri dengan semangat, rasa tidak bergunanya hilang seketika digantikan dengan rasa percaya diri yang meluap. "Nah! Gitu dong! Sini biar aku pilihin yang paling asik buat joget-joget!"
Suasana studio yang tenang mendadak berubah menjadi serius namun hangat. Ghava sudah duduk di depan meja mixer raksasanya, sementara Nana membungkuk di sampingnya, ikut menajamkan telinga mendengarkan dentuman beat yang keluar dari speaker monitor. Mereka berdua terhanyut dalam diskusi tentang loop drum yang paling pas untuk proyek terbaru Elvario.
"Coba yang nomor empat, Mas. Itu lebih nendang," usul Nana antusias.
"Bukannya yang nomor dua lebih clean?" balas Ghava sambil tangannya bergerak menuju salah satu tombol fader.
Tepat saat itu, Nana juga berpikiran sama untuk menekan tombol preview. Tanpa disengaja, telapak tangan Nana yang kecil mendarat tepat di atas punggung tangan Ghava yang sedang memegang tombol.
Deg.
Waktu seakan berhenti berputar di dalam studio itu. Ghava mematung, matanya terpaku pada tangan Nana yang masih menempel di atas tangannya. Rasa hangat dari sentuhan itu merambat cepat ke seluruh tubuhnya, membuat saraf-saraf di otaknya mendadak konslet. Dalam hitungan detik, warna merah yang sangat mencolok menjalar dari leher hingga memenuhi seluruh wajah Ghava.
Nana, yang awalnya juga sempat terkejut, langsung menyadari perubahan drastis pada bosnya. Alih-alih merasa canggung atau segera menarik tangannya, Nana justru tertawa lepas. Ia menarik tangannya sambil menunjuk-nunjuk wajah Ghava yang kini benar-benar terlihat seperti tomat matang.
"Hahaha! Ya ampun, Mas Ghava!" seru Nana di sela tawa renyahnya. "Mas Bos, udah berapa kali sih aku liat Mas kegeeran kayak gini cuma gara-gara disentuh dikit?"
Ghava buru-buru menarik tangannya dan membuang muka, pura-pura sibuk mengatur knob volume yang sebenarnya sudah pas. "Siapa yang kegeeran? Saya cuma... AC-nya mati ya? Kok tiba-tiba panas begini," kilahnya dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya.
"Alasan!" Nana mendekatkan wajahnya ke arah Ghava, mencoba mencari sisa-sisa rona merah itu. "AC-nya dingin banget kok, Mas. Itu wajah Mas Bos aja yang emang nggak bisa bohong. Masa sama asisten sendiri baperan banget? Gimana mau saingan sama Kang Ha-neul kalau begini caranya?"
"Nadin, diam atau saya suruh kamu pulang sekarang juga!" ancam Ghava, namun kali ini ia tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul meski ia sedang berusaha terlihat marah.
Nana hanya menjulurkan lidahnya, sama sekali tidak takut dengan ancaman kosong itu. "Dih, ngancemnya gitu terus. Padahal hatinya lagi diskoan tuh, iya kan? Ngaku aja deh, Mas Kulkas emang udah resmi mencair hari ini!"
Ghava hanya bisa menghela napas pasrah. Ia sadar, benteng pertahanannya yang selama ini ia bangun dengan susah payah sudah benar-benar hancur berantakan oleh gadis yang hobi makan es teh plastik ini.
Suasana manis yang baru saja tercipta mendadak pecah saat suara ketukan pintu terdengar tegas. Mbak Yane menyembul dari balik pintu dengan buku agenda di tangannya, memecah ketegangan romantis yang baru saja menyelimuti meja mixer.
"Ghav, soal calon pegawai yang mau wawancara hari ini, dia udah dateng tuh di depan," ucap Mbak Yane memberikan informasi.
Nana yang masih dalam mode tertawa langsung terdiam. Ia mengerutkan dahi, menatap Ghava dan Mbak Yane bergantian dengan ekspresi bingung yang sangat kentara.
"Karyawan? Buat di mana? Kok aku nggak tahu kalau ada lowongan baru?" tanya Nana beruntun. Ia merasa sedikit terusir, pasalnya selama ini ia merasa studio ini adalah wilayah kekuasaannya sebagai asisten tunggal Ghava.
Ghava berdehem, mencoba menormalkan kembali detak jantungnya yang baru saja "disko" karena sentuhan tangan Nana. Ia merapikan duduknya, kembali ke mode bos yang profesional.
"Iya, Na. Dia bakal kerja di ruangan ini juga, bertiga sama kita," jawab Ghava pendek.
Nana makin melongo. "Hah? Bertiga di sini? Kok mendadak banget? Terus tugas dia apa kalau aku udah di sini?"
Ghava melirik Nana sebentar, lalu beralih ke Mbak Yane. "Gue butuh cowok buat bantu operasional teknis yang berat-berat, Na. Sekaligus asisten kedua buat urusan gear musik. Biar kamu nggak usah repot-repot lagi angkat kabel atau beresin stand mic yang berat," jelas Ghava.
Mendengar kata "cowok", Nana langsung terdiam sejenak. Pikirannya melayang. Wah, bakalan ada penghuni baru di kulkas ini?
"Oalah... jadi Mas Bos mau nambah pasukan?" tanya Nana dengan nada menyelidik. "Cowo nih? Ganteng nggak? Kalau lebih ganteng dari Kang Ha-neul, aku sih setuju banget!"
Ghava yang tadinya sudah tenang, mendadak kembali memasang wajah datar saat nama aktor Korea itu disebut lagi. "Nggak usah mikirin gantengnya. Yang penting kerjanya bener. Mbak Yane, suruh dia masuk sekarang."
Nana segera merapikan meja kerjanya yang berantakan, ia merasa tertantang sekaligus penasaran. Ia ingin melihat siapa pria yang bakal berani masuk ke "kandang" Mas Bos Kulkas dan asisten ajaib seperti dirinya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰