Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Malam mulai menyelimuti kota, dan suasana di dalam apartemen terasa jauh lebih tenang. Leonor, yang sudah merasa sedikit lebih baik namun tenaganya belum pulih sepenuhnya, menatap Edgar yang sedang merapikan jaketnya di ambang pintu kamar.
Ada perasaan hampa yang tiba-tiba menyerang saat ia membayangkan Edgar akan pergi dan meninggalkannya sendirian di ruangan yang luas ini.
"Edgar," panggil Leonor pelan.
Edgar menoleh, tangannya berhenti di ritsleting jaket. "Ya? Kau butuh sesuatu lagi sebelum aku pergi?"
Leonor meremas ujung selimutnya, ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri. "Menginaplah di sini saja. Maksudku... daripada kau harus bolak-balik ke rumah orang tuamu yang jauh itu. Di luar juga mulai hujan lagi."
Mendengar permintaan itu, sebuah senyum jahil langsung merekah di wajah Edgar. Ia melepaskan kembali jaketnya dan melemparkannya ke sofa dengan gerakan teatrikal. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang Leonor, menumpukan satu tangannya di tiang ranjang sambil menatap Leonor dengan sorot mata yang penuh dengan godaan maut.
"Hey, sayang... apa baby kita merindukan Daddy-nya secepat itu?" bisik Edgar dengan nada suara yang sengaja dibuat berat dan seksi. "Baiklah, aku akan menginap demi dirimu. Apakah ini termasuk bagian dari mengidam? Ingin tidur ditemani pria setampan aku?"
Leonor mendengus, namun ia tidak bisa menahan senyum tipisnya. "Hahaha, kau tampak konyol, Edgar! Benar-benar alay. Kalau semua orang di kampus, atau kolega bisnismu tahu bahwa pangeran Edgar yang dingin dan angkuh aslinya seperti ini, hancur sudah reputasi mu dalam semalam."
Edgar tertawa lepas, ia tidak peduli lagi dengan reputasi itu. "Biarkan saja mereka tahu. Aku hanya Alay untukmu, bukan untuk mereka."
Malam semakin larut. Karena apartemen itu hanya memiliki satu ranjang besar, mereka sepakat untuk berbagi tempat tidur dengan satu syarat yang diajukan Leonor, sebuah guling besar diletakkan tepat di tengah-tengah sebagai pembatas suci.
"Jangan berani-berani melewati batas ini, Martinez," ancam Leonor sebelum ia memejamkan mata.
"Siap, Tuan Putri," jawab Edgar sambil terkekeh di sisi lain guling.
Malam itu, Leonor tidak lagi menggigil. Kehadiran Edgar di sampingnya, meski terhalang guling, memberikan rasa aman yang luar biasa. Suara napas Edgar yang teratur menjadi lagu pengantar tidur yang lebih ampuh daripada obat manapun.
Namun, alam bawah sadar tidak mengenal batas guling.
Saat fajar mulai menyingsing dan cahaya biru pagi masuk ke kamar, Leonor merasa tubuhnya sangat hangat dan nyaman. Ia merasa seperti sedang memeluk bantal besar yang empuk dan memiliki aroma kayu cendana yang sangat maskulin. Saat ia perlahan membuka matanya, ia menyadari sesuatu yang mengejutkan.
Guling pembatas itu entah sudah terbang ke mana, tergeletak mengenaskan di lantai bawah ranjang. Dan kini, Leonor berada sepenuhnya di dalam pelukan Edgar. Kepalanya bersandar di dada bidang Edgar, sementara lengan kokoh Edgar melingkar erat di pinggangnya, seolah-olah mereka adalah potongan puzzle yang akhirnya bertemu.
Sebelum Leonor sempat menarik diri, ponsel Edgar yang berada di nakas bergetar hebat.
Edgar terbangun dengan mata mengantuk, tangannya meraba ponsel tanpa melepaskan pelukannya pada Leonor.
"Halo?" suara Edgar serak khas bangun tidur.
"Edgar? Ini Mommy. Kenapa kau tidak pulang ke mansion semalam? Kau di mana, Nak? Mommy khawatir," suara Isabella Martinez terdengar jelas bahkan sampai ke telinga Leonor yang masih berada di dada Edgar.
Edgar berdehem, mencoba menormalkan suaranya. "Aku tidur di apartemen, Mom. Ada banyak pekerjaan proyek yang harus aku selesaikan pagi-pagi sekali. Maaf tidak memberi kabar."
"Oh, syukurlah kalau kau baik-baik saja. Jangan lupa sarapan, ya? Mommy akan menyuruh pelayan mengirimkan vitamin ke apartemen mu nanti siang. I love you, sayang."
"I love you too, Mom," jawab Edgar sebelum mematikan panggilan tersebut.
Suasana kembali hening, namun Leonor tidak lagi merasa nyaman. Ia perlahan menarik diri dan duduk di tepi ranjang. Wajahnya yang semula tenang kini tampak muram. Edgar menangkap perubahan ekspresi itu dengan sangat cepat.
"Ada apa, Leo?" tanya Edgar lembut.
Leonor menunduk, menatap jemarinya. "Aku hanya... merasa iri padamu, Edgar. Kau tidak pulang semalam saja, ibumu langsung menelepon karena khawatir. Kau sangat dicintai. Sedangkan aku? Seminggu aku tidak pulang ke mansion Gonzales pun, tidak akan ada yang bertanya. Mungkin mereka malah bersyukur karena beban di rumah itu berkurang satu."
"Sekarang Aku Suamimu"
Edgar terdiam sejenak. Ia melihat luka yang begitu dalam di mata Leonor, luka karena merasa tidak diinginkan. Tanpa banyak bicara, Edgar ikut duduk di belakang Leonor dan memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. Ia memegang kedua bahu Leonor dengan mantap.
"Dengar, Leonor Kaia," ucap Edgar dengan nada yang sangat serius, tidak ada lagi jejak candaan di sana. "Mungkin di rumah itu kau tidak dianggap. Tapi di sini, di depan mataku, kau adalah segalanya."
Edgar menyunggingkan senyum miringnya yang khas. "Sekarang, aku suamimu, Leonor. Setidaknya dalam drama kita, kan? Jadi, jangan pernah merasa tidak ada yang menunggumu. Mulai sekarang, kalau kau pulang telat sedikit saja ke rumah, atau kau menghilang tanpa kabar, maka aku tidak akan segan-segan menelpon mu seribu kali untuk menyuruhmu pulang ke apartemen."
Ia mencubit hidung Leonor dengan gemas. "Aku akan menjadi orang paling menyebalkan yang akan terus mencari mu."
Leonor merasa dadanya sesak karena haru, namun ia memilih untuk menutupi perasaannya dengan memutar bola matanya dengan gaya malas. "Ya, ya, baiklah suamiku. Puas sekarang?"
"Sangat puas," jawab Edgar sambil tertawa menang. "Sekarang, karena aku adalah suami yang baik, ayo kita mandi dan aku akan membuatkan mu sarapan yang enak sebelum kita ke kampus. Hari ini kau tidak boleh telat, desainer hebat."
Leonor tersenyum lebar. Rasa iri yang sempat muncul tadi menguap begitu saja. Mungkin ia memang tidak beruntung dalam hal keluarga, tapi ia baru menyadari bahwa memiliki seorang Edgar Martinez yang alay dan protektif di sampingnya adalah sebuah keberuntungan yang tak ternilai harganya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰