Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
paspor Baru Nyali Lama
Suasana di terminal keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, setidaknya bagi Bagas. Ia berdiri di tengah kerumunan orang yang membawa koper-koper mewah, sementara ia sendiri hanya menenteng satu koper kain tua hasil pinjaman dari paman dan sebuah tas ransel yang isinya penuh dengan bekal sambal teri kering buatan Ibu sebuah "amunisi" penyelamat hidup jika nanti lidahnya kaget dengan makanan di Dubai.
Ibu dan Bapak berdiri di hadapannya. Wajah mereka adalah campuran antara bangga yang meluap dan kesedihan yang coba disembunyikan. Ibu berkali-kali merapikan kerah jaket Bagas, seolah-olah putranya itu masih anak kecil yang mau berangkat studi banding, bukan seorang pria yang mau mengadu nasib di negeri sejauh tujuh ribu kilometer.
"Gas, ingat pesan Ibu. Di sana jangan tinggalkan ibadah. Jangan sombong kalau nanti sudah pegang uang banyak. Dan yang paling penting... jangan lupa makan. Ibu sudah selipkan vitamin di saku tasmu," bisik Ibu dengan suara yang mulai serak.
Bagas mencoba tetap kuat. Ia tidak boleh menangis di depan mereka. Jika dia terlihat lemah, bagaimana mereka bisa tenang di rumah? "Iya, Bu. Bagas cuma pergi kerja, bukan pergi perang. Doakan Bagas sehat terus ya. Bapak juga, jangan capek-capek di bengkel. Kalau sudah lelah, istirahat. Nanti tiap bulan Bagas kirim uang buat beli obat batuk yang paling bagus."
Bapak hanya mengangguk, matanya yang mulai kusam tampak berkaca-kaca. Beliau menepuk pundak Bagas dengan keras, gaya khas lelaki yang sulit mengungkapkan perasaan. "Jaga diri, Gas. Kamu sekarang bawa nama keluarga, bawa nama bangsa. Tunjukkan kalau anak gang juga punya nyali.
Saat pengumuman keberangkatan menggema di seantero terminal, Bagas mencium tangan kedua orang tuanya dengan sangat lama. Ada rasa berat yang menggelayuti kakinya, namun setiap kali ia menoleh ke belakang, ia teringat atap rumah yang masih bocor dan impian umroh ibunya. Ia berbalik, melangkah masuk ke pintu keberangkatan, dan tidak menoleh lagi agar air matanya tidak tumpah di hadapan mereka.
Di dalam pesawat, Bagas duduk di kursi kelas ekonomi yang terjepit di antara seorang pria Arab bertubuh besar dan seorang turis yang asyik mendengarkan musik. Ini adalah kali pertama Bagas naik pesawat. Sensasi saat mesin menderu dan roda meninggalkan landasan membuat jantungnya hampir copot. Ia melihat lampu-lampu Jakarta yang mengecil di bawah sana, lalu menghilang di balik awan. Selamat tinggal, Jakarta. Selamat tinggal, Pak Baron. Selamat tinggal, masa lalu yang pahit, batinnya.
Sembilan jam kemudian, Bagas mendarat di Dubai International Airport. Begitu keluar dari pintu pesawat, udara panas yang kering langsung menyergap wajahnya panas yang berbeda dengan Jakarta yang lembap. Di sini, panasnya terasa seperti sedang berdiri di depan kompor raksasa. Matanya silau melihat kemegahan bandara yang interiornya lebih mirip istana daripada tempat transit transportasi.
Ia dijemput oleh perwakilan perusahaan, seorang pria bernama Rajesh yang sangat ramah namun bicara dengan aksen Inggris yang sangat cepat, mirip mesin ketik.
"Welcome, Bagas! You are from Indonesia? Good, good. Very hard worker people. Come, I show you your new life."Bagas dibawa menuju akomodasi karyawan di daerah Deira. Sepanjang jalan, ia hanya bisa melongo melihat gedung-gedung yang bentuknya aneh dan tinggi menjulang, mobil-mobil mewah yang berbaris di jalanan, hingga papan reklame yang semuanya menggunakan huruf Arab yang tidak ia mengerti. Ia merasa sangat kecil, seperti butiran pasir di tengah gurun.
Hari pertama bekerja di Logistics Hub Dubai, Bagas langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa "internasional" berarti "tanpa toleransi terhadap kesalahan". Ia bekerja di sebuah gudang raksasa yang luasnya mungkin setara dengan sepuluh lapangan bola. Ribuan peti kemas masuk dan keluar setiap harinya dari seluruh penjuru dunia.
"Listen, Bagas," ujar Mr. Khan, orang yang mewawancarainya lewat Zoom, saat mereka bertemu langsung di kantor pusat. "Di sini, waktu adalah uang yang sangat mahal. Jika ada satu kontainer telat masuk ke kapal karena kesalahan koordinasi di timmu, perusahaan merugi ribuan dolar. I hired you because I saw fire in your eyes. Don't let that fire go out."
Tugas Bagas adalah mengoordinasikan jadwal pengiriman barang dari manufaktur menuju pelabuhan Jebel Ali. Ia harus berkomunikasi dengan sopir dari berbagai negara: India, Pakistan, Mesir, hingga Filipina. Bahasa Inggrisnya yang pas-pasan benar-benar diuji. Sering kali ia harus menggunakan bahasa isyarat atau aplikasi penerjemah di ponselnya yang layarnya masih retak itu.
Gegar budaya benar-benar menghantamnya. Di sini, tidak ada "jam karet". Jika jadwal bilang jam sembilan, maka jam sembilan lewat satu detik sudah dianggap terlambat. Bagas sempat kena tegur habis-habisan di minggu pertama karena salah menghitung zona waktu pengiriman ke Eropa.
"You idiot! This is not a playground!" teriak salah satu manajer operasional berkebangsaan Eropa saat Bagas melakukan kesalahan kecil pada dokumen Bea Cukai.
Bagas sempat terdiam. Suara teriakan itu mengingatkannya pada Pak Baron. Untuk sesaat, ia merasa ingin menyerah. Ia merindukan gorengan Mbak Laras, merindukan keteduhan Pak Danu. Di sini, semuanya terasa robotik dan dingin. Namun, saat ia pulang ke kamarnya yang sempit dan melihat foto Ibu dan Bapak yang ia tempel di dinding, nyalinya kembali tegak.
"Sabar, Gas. Kamu sudah sampai sini. Jangan jadi pecundang yang pulang hanya karena dibentak," bisik Bagas pada dirinya sendiri sambil memakan sambal teri kiriman Ibu yang rasanya menjadi sepuluh kali lebih enak karena rasa rindu.
Bagas mulai beradaptasi. Ia bangun jam lima subuh, belajar istilah-istilah logistik dalam bahasa Inggris sampai larut malam, dan mencoba ramah kepada semua sopir truk yang biasanya bertampang sangar. Ketulusan Bagas perlahan mulai membuahkan hasil. Ia dikenal sebagai koordinator yang paling jujur dan tidak pernah mau menerima suap dari sopir yang ingin jadwalnya dipercepat.
Bulan pertama berakhir. Hari yang paling ditunggu pun tiba: Gajian Pertama dalam Kurs Dirham.
Saat melihat angka di saldo rekeningnya, Bagas harus duduk di lantai gudang agar tidak jatuh pingsan karena senang. Setelah dikonversi ke Rupiah, jumlahnya lebih besar dari gaji enam bulan di yayasan Pak Danu, bahkan jauh melampaui gaji di tempat Pak Baron.
Malam itu, Bagas melakukan video call dengan orang tuanya. Ia melihat wajah Ibu yang muncul di layar, tampak lebih cerah meskipun ada rona lelah.
"Ibu... Bapak... Bagas sudah gajian," kata Bagas dengan suara bergetar.
"Alhamdulillah, Gas. Syukuri ya, jangan boros," jawab Bapak.
Bagas tersenyum lebar. "Bagas sudah kirim uangnya. Coba Bapak cek ke ATM nanti. Itu ada uang buat bayar semua utang, buat Bapak operasi mata, dan... ada satu lagi." "Apa itu, Gas?" tanya Ibu penasaran.
Bagas menunjukkan sebuah brosur digital lewat layar ponselnya. "Itu DP untuk keberangkatan umroh Ibu dan Bapak tahun depan. Bagas sudah daftarkan lewat biro terpercaya di Jakarta. Kalian tinggal siapin fisik saja."
Di layar ponsel itu, Bagas melihat Ibunya menutup mulut dengan tangan, air mata tumpah membasahi pipinya yang sudah keriput. Bapak terdiam, bibirnya bergetar mencoba menahan tangis namun akhirnya gagal juga. Di ruko sepi di Dubai, Bagas ikut menangis bahagia. Segala rasa lelah, bentakan manajer asing, dan rasa sepi di negeri orang, semuanya terbayar lunas saat itu juga.
"Terima kasih, Gas... terima kasih anakku," isak Ibu.
Bagas menghapus air matanya sendiri. "Ini baru awal, Bu. Nanti setelah umroh, Bagas bakal bawa kalian ke Paris, ke Swiss, ke mana saja yang Ibu mau.
Ternyata ijazah SMK Bagas laku di sini, Bu. Doakan anakmu terus ya." Malam itu, Bagas tidur dengan perasaan yang sangat damai. Ia sadar, kesuksesan bukan tentang seberapa tinggi jabatanmu, tapi seberapa besar manfaatmu untuk orang yang paling mencintaimu.
Dan bagi Bagas, senyum orang tuanya adalah kurs mata uang yang nilainya jauh lebih tinggi daripada Dirham mana pun di dunia. Bagas tidak lagi sekadar "bertahan hidup", tapi mulai masuk ke arena permainan yang lebih besar. Ia akan menghadapi ujian integritas di tengah kemewahan Dubai dan politik kantor yang lebih halus namun lebih mematikan dari pada bentakan Pak Baron.