NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Luka yang Tersembunyi dan Kehangatan di Dermaga Barat

[Waktu: Minggu, 19 April, Pukul 02.15 AM]

[Lokasi: Rumah Aman Keluarga Gu, Dermaga Barat, Suzhou]

Perahu kayu itu akhirnya bersandar di sebuah dermaga kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon gandarusa. Di depan mereka berdiri sebuah rumah bergaya tradisional Suzhou dengan dinding putih yang sudah mengelupas dan atap melengkung yang elegan. Suasana di sini jauh lebih tenang dibandingkan pusat kota yang membara, hanya suara jangkrik dan riak air kanal yang menemani kesunyian malam.

Gu Jingshen membantu Lin Xia turun dari perahu. Saat tangan pria itu melingkar di pinggangnya, Lin Xia bisa merasakan tubuh Gu Jingshen sedikit menegang.

"Kau terluka?" tanya Lin Xia khawatir, matanya mencoba mencari tanda-tanda darah di balik seragam biru tua yang gelap itu.

"Hanya goresan kecil. Bukan masalah besar," jawab Gu Jingshen datar, meski napasnya terdengar sedikit berat.

Ia membimbing Lin Xia masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang tersamar. Di dalam, ruangan itu sangat sederhana namun berkelas—ada meja teh dari kayu cendana, lukisan tinta pegunungan, dan sebuah ranjang kayu dengan kelambu sutra. Gu Jingshen menyalakan sebuah lampu minyak kecil, memberikan cahaya jingga yang hangat ke seluruh ruangan.

"Duduklah. Di sini aman untuk sementara waktu," kata Gu Jingshen. Ia meletakkan pistolnya di atas meja dan mulai membuka kancing seragam militernya.

Lin Xia terpaku, wajahnya mendadak memanas. "Apa... apa yang kau lakukan?"

Gu Jingshen meliriknya dengan sudut mata, ada kilat jenaka yang jarang terlihat di sana. "Aku harus mengobati lukaku, Nona Penulis. Kecuali kau ingin Marsekalmu ini mati karena infeksi, bukan karena peluru."

Saat seragam itu terbuka, Lin Xia terkesiap. Di bahu kiri Gu Jingshen, terdapat luka goresan peluru yang cukup dalam. Darah masih merembes, membasahi kemeja putih di baliknya. Luka itu terlihat menyakitkan, namun pria ini bahkan tidak meringis sejak tadi.

"Biarkan aku membantumu," kata Lin Xia tiba-tiba. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh naluri untuk menolong. Ia menemukan kotak obat tua di lemari kayu—sebuah detail yang lagi-lagi ia ingat pernah ia tulis dalam naskahnya sebagai "tempat penyimpanan darurat".

Lin Xia mendekat, duduk di tepi ranjang di samping Gu Jingshen. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai membersihkan darah di bahu pria itu dengan kain kasa dan alkohol. Setiap kali kain itu menyentuh luka, otot-otot di lengan Gu Jingshen berkedut, namun ia tetap diam membatu, menatap wajah Lin Xia yang sangat dekat dengannya.

"Kenapa kau begitu nekat?" bisik Lin Xia tanpa sadar, fokus pada lukanya. "Kau bisa saja membiarkanku tertangkap dan menyelamatkan dirimu sendiri. Ini kan hanya permainan bagimu."

Gu Jingshen terdiam sejenak. Ruangan itu menjadi begitu sunyi hingga suara napas mereka saling bersahutan.

"Awalnya, memang begitu," suara Gu Jingshen terdengar lebih lembut, merambat di udara malam yang dingin. "Aku masuk ke sini hanya untuk Yanran. Bagiku, kau hanyalah kunci untuk membuka pintu keluar. Tapi..."

Ia menggantung kalimatnya. Lin Xia mendongak, matanya bertemu dengan mata hitam Gu Jingshen yang dalam. Jarak mereka hanya beberapa inci. Lin Xia bisa melihat pantulan dirinya di mata pria itu—seorang wanita yang tampak rapuh namun memiliki keteguhan yang aneh.

"Tapi apa?" desak Lin Xia pelan.

"Tapi melihatmu berjuang mengubah naskah demi menyelamatkanku... melihat ketakutan di matamu yang lebih besar untukku daripada untuk dirimu sendiri... itu membuatku sadar," Gu Jingshen mengangkat tangannya yang tidak terluka, menyelipkan sehelai rambut Lin Xia ke belakang telinganya. "Kau bukan sekadar penulis naskah bagiku sekarang, Lin Xia. Kau adalah realitaku yang paling nyata di dunia palsu ini."

Jantung Lin Xia berdegup kencang, seolah-olah ia baru saja berlari maraton. Sentuhan jari Gu Jingshen di pipinya terasa hangat dan membakar. Ia merasa seolah-olah garis antara penulis dan karakter, antara pencipta dan ciptaan, telah runtuh sepenuhnya.

"Aku takut, Jingshen," aku Lin Xia, suaranya bergetar. Untuk pertama kalinya, ia menyebut nama asli pria itu, bukan nama karakternya. "Aku takut jika aku membuat kesalahan lagi di naskah itu, kau benar-benar akan menghilang."

Gu Jingshen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tengkuk Lin Xia perlahan, membawanya ke dalam pelukan yang protektif. Lin Xia menyandarkan wajahnya di bahu pria itu yang tidak terluka, menghirup aroma maskulin yang kini terasa sangat menenangkan.

"Aku tidak akan pergi ke mana pun," bisik Gu Jingshen di telinganya. "Kita akan keluar dari sini bersama-sama. Aku berjanji."

Lin Xia memejamkan matanya, menikmati kehangatan di tengah badai yang mereka lalui. Di luar, hujan mulai turun, membasahi kota kuno Suzhou dengan rintik yang tenang. Di dalam rumah aman yang remang ini, waktu seolah berhenti.

Namun, momen romantis itu terusik oleh sebuah pikiran yang tiba-tiba melintas di benak Lin Xia. Ia melepaskan pelukannya perlahan dan menatap Gu Jingshen dengan serius.

"Jingshen, ada sesuatu yang aneh. Dalam naskah asliku, tidak pernah ada adegan penyerangan di perpustakaan. Serangan seharusnya terjadi di alun-alun kota besok pagi saat upacara militer," kata Lin Xia. "Artinya, seseorang di luar sana—atau di dalam sini—memang sengaja mempercepat alur ceritanya untuk membunuhmu lebih awal."

Gu Jingshen mengangguk, ekspresinya kembali dingin dan waspada. "Aku juga merasakannya. Dan laptopmu... bagaimana mungkin benda itu bisa muncul di sini jika bukan ada seseorang yang memiliki akses langsung ke sistem wahana ini?"

Lin Xia mengambil laptopnya yang diletakkan di meja. Ia mencoba masuk ke dalam folder sistem naskah yang tersembunyi. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di pojok layar:

[Pesan Baru dari: Penulis Bayangan]

“Permainan yang bagus, Lin Xia. Tapi ingat, setiap perubahan naskah memiliki harga yang harus dibayar. Siapa yang akan kau korbankan selanjutnya? Sahabatmu, atau kekasih barumu?”

Lin Xia membeku. Darahnya terasa dingin seketika. "Jingshen... lihat ini."

Gu Jingshen membaca pesan itu, dan rahangnya mengeras. "Penulis Bayangan? Siapa dia?"

"Aku tidak tahu. Tapi dia tahu segalanya. Dia tahu tentang Xiao Li, dan dia menyebutmu sebagai... kekasihku," Lin Xia menunduk, wajahnya merona namun hatinya diliputi kecemasan luar biasa.

"Berarti dugaanku benar," desis Gu Jingshen. "Ada pemain ketiga yang sedang mengawasi kita. Dan dia tidak ingin kita sekadar memainkan peran. Dia ingin kita menderita."

Gu Jingshen berdiri, mengenakan kembali kemejanya meski belum dikancingkan sepenuhnya. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah kegelapan kanal. "Lin Xia, mulai sekarang, kita tidak boleh berakting lagi. Kita harus benar-benar menjadi satu tim. Jika dia ingin bermain dengan perasaan kita, maka kita akan memberinya pertunjukan yang tidak akan pernah dia lupakan."

Lin Xia berdiri di sampingnya, ikut menatap hujan yang turun. Di kejauhan, lampu-lampu kota Suzhou tampak samar, menyimpan ribuan rahasia era Republik yang belum terpecahkan.

"Apa rencana kita?" tanya Lin Xia.

Gu Jingshen berbalik, menatap Lin Xia dengan tatapan yang penuh tekad dan sedikit kelembutan yang tersisa. "Kita akan mengikuti naskah besok pagi di alun-alun kota. Tapi kali ini, bukan kau yang menulisnya sendiri. Kita akan menjebak si Penulis Bayangan itu untuk menampakkan dirinya."

Ia mengulurkan tangannya ke arah Lin Xia. "Apakah kau bersedia mengambil risiko ini bersamaku? Menjadi istri sang Marsekal di depan seluruh dunia, demi menangkap dalang di balik semua ini?"

Lin Xia menatap telapak tangan Gu Jingshen yang besar dan kuat. Ia tahu, jika ia menerima tangan itu, hidupnya di Shenzhen tidak akan pernah sama lagi. Ia tidak lagi hanya menulis tentang cinta; ia sedang menjalaninya di tengah pertaruhan nyawa.

"Aku bersedia," jawab Lin Xia mantap, meletakkan tangannya di atas tangan Gu Jingshen.

Gu Jingshen menggenggam tangan Lin Xia erat, lalu menariknya mendekat untuk mengecup keningnya sekali lagi—sebuah tanda aliansi, dan mungkin, awal dari cinta yang tak terduga di antara baris-baris naskah yang berdarah.

[Waktu: Minggu, 19 April, Pukul 03.30 AM — Mempersiapkan Strategi Akhir]

[Lokasi: Dermaga Barat, Suzhou]

Di luar, hujan semakin deras, seolah ingin menghapus jejak pelarian mereka semalam, sementara di dalam rumah tua itu, dua jiwa yang berbeda dunia mulai menyusun rencana untuk menghancurkan skenario maut yang menjerat mereka.

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!