NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan kembali

Malam itu, di rumah kediamannya.Wijaya Kusuma nampak sedang duduk di ruang kerja dengan map-map terbuka di atas meja. Di hadapannya, layar laptop menampilkan laporan keuangan cabang perusahaan di New York—grafik naik stabil, ekspansi rapi, dan strategi yang presisi.

Semua itu ditangani oleh satu nama.

Arka Pratama

Wijaya menyandarkan tubuh ke kursinya, menghela napas panjang—bukan lelah, melainkan bangga. Sejak lulus dari akademinya, Arka tidak langsung pulang. Ia memilih bertahan di New York, belajar dari bawah, masuk ke dunia bisnis tanpa nama besar, tanpa perlindungan keluarga.

Dan ia berhasil.

Perusahaan yang dulu nyaris stagnan kini tumbuh cepat. Mitra baru berdatangan. Angka-angka di layar tidak pernah berbohong.

Wijaya mengambil ponselnya dan menekan satu nomor yang sudah lama tersimpan.

“Halo Arka,” katanya begitu sambungan tersambung. “Sudah waktunya kamu pulang.”

Di seberang sana, Arka terdiam.

“Memangnya kenapa Kak?” tanya Arka akhirnya, suaranya lebih dewasa, dan lebih berat.

“Aku akan menggantikan posisimu di New York,” jawab Wijaya. “Kantor pusat di Jakarta butuh orang yang bisa kupercaya.”

Arka menarik napas dalam. “Kakak tahu aku tidak berencana—”

“Aku tahu,” potong Wijaya. “Tapi ini sudah menjadi keputusanku.”

Arka menutup mata sejenak. Ia tahu nada itu. Wijaya tidak sedang meminta,tapi itu perintah.

Jakarta menyambut kedatangan Arka dengan langit abu-abu dan hiruk-pikuk yang tidak pernah benar-benar berubah. Dari balik jendela mobil, gedung-gedung tinggi berderet seperti saksi bisu dari waktu yang telah berlalu—waktu yang ia tinggalkan tanpa pamit.

Arka tidak langsung menuju rumah Wijaya.

Ia memilih tinggal di apartemen lama milik orang tuanya.

Apartemen itu masih berdiri kokoh di kawasan strategis Jakarta Selatan. Bersih, rapi, dan nyaris tak berubah. Hanya saja, udara di dalamnya terasa kosong. Terlalu sunyi. Seperti rumah yang sudah lama kehilangan kehangatan.

Arka meletakkan koper di sudut ruangan, berdiri diam beberapa saat, lalu menarik napas panjang.

“Aku kembali,” gumamnya pelan—bukan pada siapa pun, melainkan pada kenangan yang ia kubur rapat-rapat selama bertahun-tahun.

Keesokan harinya, Arka langsung menuju perusahaan induk Wijaya Kusuma Group.

Gedung itu megah, berlapis kaca, menjulang dengan wibawa yang sama seperti dulu. Namun kali ini, Arka memasukinya bukan sebagai anak yang dititipkan—melainkan sebagai pria dewasa yang membawa tanggung jawab besar.

Di ruang rapat utama, Wijaya sudah menunggunya.

“Kau datang tepat waktu,” ujar Wijaya sambil berdiri dan menjabat tangan Arka.

“Itu kebiasaan,” jawab Arka singkat.

Wijaya tersenyum tipis. Ia lalu mempersilakan Arka duduk dan menutup pintu ruangannya.

“Aku tidak akan bertele-tele,” kata Wijaya. “Mulai besok aku akan bertolak ke New York untuk mengurus ekspansi lanjutan. Dan kau akan menggantikanku di sini.”

Arka mengangguk. “Iya Aku siap.”

“Bagus.” Wijaya membuka map berisi dokumen. “Semua staf inti sudah kukumpulkan siang ini. Aku ingin mereka tahu bahwa kau yang akan memimpin.”

Tidak ada penolakan dari Arka. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk ini sejak lama.

Namun Wijaya belum selesai.

“Ada satu hal lagi,” ucapnya, nadanya berubah lebih personal.

Arka mengangkat pandangan. “Tentang apa?”

“Lara.”

Nama itu jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat Arka menegang.

“Lara akan tetap tinggal di Jakarta,” lanjut Wijaya. “Dia hanya ingin kuliah disini, Dia menolak ikut ke New York.”

Arka diam.

“Jarak kampus Lara ke apartemenmu jauh lebih dekat dibandingkan ke rumahku,” kata Wijaya tenang, seolah membicarakan hal biasa. “Aku ingin Lara tinggal bersamamu.”

Kalimat itu membuat Arka menutup map di depannya.

“Tidak,” katanya cepat.

Wijaya menghela napas. “Arka—”

“Aku tidak bisa kak itu diluar kapasitasku,” potong Arka. “Aku sibuk. Aku—”

“Kau orang yang paling bisa kupercaya,” ujar Wijaya tegas. “Dan kau tahu itu.”

Arka terdiam. Ada banyak alasan berputar di kepalanya—tentang masa lalu, tentang jarak, tentang kesalahan yang tidak pernah ia perbaiki.

Namun Wijaya berdiri dan menepuk bahu Arka.

“Pikirkanlah,” katanya. “Aku akan bicara dengan Lara malam ini.”

Malam itu, rumah Wijaya terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lara duduk di ruang makan, mengenakan kaus longgar dan celana rumah. Rambutnya diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan. Ia tampak seperti gadis biasa—jauh dari kesan pewaris keluarga besar.

Wijaya duduk di seberangnya.

“Lara,” panggilnya lembut. “Ayah ingin bicara.”

Lara mengangkat kepala. “Tentang pindah?”

Wijaya tersenyum kecil. “Ayah masih berharap,kau bisa ikut Ayah”

Lara menggeleng pelan. “Maaf, Yah. Lara tidak bisa.”

“Ayah hanya tidak ingin kamu sendirian disini.”

“Aku tidak sendirian,” jawab Lara ringan. “Aku akan segera kuliah, nantinyaLara pasti punya banyak teman,dan Lara lebih nyaman tinggal diJakarta.”

Wijaya menatap putrinya lama. Gadis kecil yang dulu selalu mengekor kini telah tumbuh menjadi perempuan dengan pendiriannya sendiri.

“Baiklah Ayah mengerti,” katanya akhirnya. “Tapi ada syarat.”

Lara mengernyit. “Syarat?”

“Kamu akan tinggal dengan Arka.”

Detik itu juga, udara di sekeliling Lara terasa berbeda.

“Apa?” Lara menegakkan duduk.

“Arka sudah pulang,” lanjut Wijaya. “Dia tinggal di apartemen orang tuanya. Jaraknya dekat dengan kampusmu. Ayah ingin kau berada di bawah pengawasannya.”

Nama itu—yang selama bertahun-tahun Lara paksa agar terkubur—muncul kembali begitu saja.

Arka Pratama.

Lara terdiam. Dadanya terasa hangat. Ada sensasi aneh yang menjalar perlahan, seperti sesuatu yang bergetar lembut di dalam dirinya.Seperti kupu-kupu yang berterbangan.

Ia tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Ia bahkan tidak menyangka namanya masih bisa membuat jantungnya berdebar.

“Kapan dia pulang?” tanya Lara pelan.

“Beberapa hari lalu.”

Lara menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang tiba-tiba muncul tanpa izin.

“Ayah tidak memaksa,” kata Wijaya. “Tapi ini keputusan terbaik.”

Lara mengangguk pelan. “Kalau itu syaratnya… Lara setuju.”

Wijaya tersenyum lega.

Namun Lara tidak mendengar apa pun lagi setelah itu.

Di kepalanya, hanya ada satu bayangan:

wajah Arka—yang kini mungkin sudah jauh berbeda dari kenangan masa kecilnya.

Ia tidak tahu bahwa pria itu sama sekali tidak siap menghadapi kenyataan yang sama.

Dan malam itu, tanpa mereka sadari, takdir mulai mengikat ulang benang-benang lama yang pernah terputus.

Dengan cara yang pelan…namun pasti.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!