Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama
Pagi pertama Lily di Kingdom Conqueror telah datang dengan sunyi yang asing. Cahaya fajar menyusup pelan melalui celah jendela tinggi, menyentuh dinding Royal Chambers yang megah. Seperti kebiasaannya di Hutan Moonveil, Lily terbangun bahkan sebelum burung pertama bernyanyi.
Ia menggeser pandangannya sekilas. King Cristopher masih terpejam dengan napas teratur, bahkan saat tidur pun wajahnya tetap kaku. Lily menunduk memeriksa dirinya sendiri, lalu menarik napas lega.
“Syukurlah, aku masih utuh.” batinnya.
Eri meringkuk di bawah kakinya, ekornya tak bergerak tanda masih di dalam mimpi. Lily turun dari kursi dengan hati-hati, melangkah tanpa suara menuju kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitnya, membersihkan sisa kelelahan semalam, bukan kelelahan malam pertama, melainkan lelah menghadapi dunia baru yang menuntut kewaspadaan tanpa jeda.
Saat kembali, matanya tertumbuk pada jubah kebesaran Cristopher yang tergeletak sembarangan di lantai. Lily berhenti sejenak, lalu menghela napas kecil karena tak bisa mengabaikannya. Ia mengambil jubah itu, melipatnya rapi seperti yang biasa ia lakukan bersama ibundanya pada selimut dan pakaian di Moonveil. Setelah rapi, baru ia meletakkannya di atas meja.
Pandangannya beralih ke lemari. Pakaian-pakaiannya telah tersusun rapi, bersih, dan teratur.
“Laory…” Senyum tipis terukir di bibirnya. “Aku harus benar-benar berterima kasih padanya nanti.”
Lily memilih gaun linen sederhana berwarna putih gading. Tidak ada bordir emas, tidak ada batu permata, namun jahitannya pas mengikuti lekuk tubuhnya. Gaun itu dibuat oleh tangan ibundanya, penuh ketelitian dan kasih yang tak pernah pudar. Setiap helainya adalah kenangan tak ternilai. Tidak lupa Lily mengepang rambutnya sendiri, lalu melangkah keluar dari kamar.
Koridor istana masih lengang. Beberapa pengawal yang berjaga terkejut saat melihatnya keluar seorang diri, tanpa kemegahan yang biasa melekat pada seorang ratu.
“Selamat pagi…” sapa Lily dengan senyum ceria.
Para pengawal refleks berhenti. Sebagian membeku sesaat, sebagian lain menunduk gugup. Mereka tidak menyangka, bukan pada senyumnya saja, tetapi pada cara sang ratu memandang mereka. Tidak dari atas, tidak dengan jarak, melainkan sejajar.
“Selamat pagi, Your Majesty.” jawab mereka hampir bersamaan, suara mereka terdengar lebih lembut dari biasanya.
Lily mengangguk kecil, tetap tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya dengan anggun.
Para pengawal saling berpandangan setelah ia berlalu. Ada keheningan yang aneh karena perasaan yang sulit dijelaskan. Selama bertahun-tahun mereka berdiri di koridor ini, mereka hanya dilihat sebagai tembok hidup, sebagai bayangan tak bernama. Namun pagi ini, seorang ratu menyapa mereka seperti manusia.
Langkah Lily berhenti di sebuah taman luas tepat di depan jendela kamarnya. Rumputnya terpangkas rapi, bersih, namun terasa kosong. Hanya beberapa pohon hijau kecil berdiri berjauhan, daunnya monoton tanpa warna, tanpa kehidupan yang benar-benar bernyawa di sekitarnya.
“Kediaman ini terawat… namun dingin.” pikirnya.
“Your Majesty.”
Lily menoleh, melihat Laory berdiri di belakangnya dengan tubuh gemetar.
Laory menunduk, “Mohon ampuni saya karena terlambat datang, Your Majesty.” katanya panik, menunduk berkali-kali seolah takut satu detik keterlambatan bisa merenggut nyawanya.
“Berhentilah menunduk, Laory.” kata Lily tegas.
Nada suaranya membuat Laory refleks berdiri tegak. Wajahnya masih pucat, matanya menyimpan kecemasan yang sulit disembunyikan.
“Aku tidak marah,” lanjut Lily. Ia menoleh kembali ke taman, lalu berkata dengan nada lebih lembut. “Jadikan hari ini pelajaran untuk hari esok. Besok bangunlah lebih pagi, supaya tubuhmu lebih sehat.”
Laory terdiam sesaat, lalu mengangguk cepat.
“Baik, Your Majesty. Terima kasih atas kebaikan hati Anda.”
Lily mengangguk singkat, lalu menunjuk taman.
“Sekarang lakukan tugas pertamamu. Ayo kita menanam bunga di sini.”
“Apa?” Laory membelalak. Wajahnya langsung berubah panik. “Tidak, Your Majesty, mohon jangan lakukan ini. Izinkan hamba saja yang melakukannya. Tanah yang kotor tidak diizinkan menyentuh tangan seorang ratu.”
Lily menoleh padanya, lalu tersenyum tipis. Tanpa ragu ia berjongkok, menekan lututnya ke rumput, dan menggenggam segenggam tanah dengan tangannya sendiri. Tanah itu lembap, namun terasa hangat oleh matahari pagi.
“Kau menyebut tanah ini kotor?” Lily menatap Laory dengan ketenangan.
Laory tercekat, tak mampu langsung menjawab.
“Makanan yang mengenyangkanmu, obat yang menyembuhkanmu, pakaian yang kau kenakan, bahkan pijakan tempat kakimu berdiri, semuanya berasal dari tanah ini, Laory.”
Lily membuka telapak tangannya, memperlihatkan butiran tanah yang melekat di kulitnya.
“Tidakkah manusia justru angkuh jika menganggapnya kotor?”
Laory menunduk malu. “M-maaf, Your Majesty.” ucapnya lirih.
Lily mengangguk, lalu mengembalikan tanah itu ke tempatnya. Ia berdiri, menepuk ringan tangannya.
“Ambil peralatannya sekarang.”
“T-tapi, Your Majesty…”
“Laory!” suara Lily menajam, tidak keras namun cukup untuk membuat jantung Laory berdegup lebih cepat.
“I-iya! Baik, Your Majesty!” Laory mengangguk tergesa, lalu berbalik dan berjalan cepat mengambil peralatan berkebun sesuai permintaan ratunya.
Lily kembali menatap taman kosong itu. Angin pagi mengibaskan ujung gaunnya, membawa aroma tanah basah yang ia rindukan.
"Jika aku harus hidup di tempat ini," batinnya tenang, "maka aku akan membuatnya bernapas."
Setelah lima tahun berlalu, kini taman Royal Chambers bersiap menyambut kehidupan baru. Bukan atas perintah raja, melainkan oleh tangan seorang ratu yang lahir dari hutan.
Lily melangkah kembali ke kamarnya dengan langkah ringan. Ia berlutut di depan peti kayu kecil yang tersimpan rapi di sudut lemari, kotak hadiah dari Pangeran Aurelian. Ia membuka tutupnya, memilah kertas-kertas kecil berlipat yang masing-masing berisi biji bunga dan tanaman obat. Aroma samar daun kering langsung membangkitkan kenangan rumah.
Lily tersenyum kecil, “Ini dia…” gumamnya pelan.
Ia mengambil bibit magnolia dan Camelia. Bunga yang hanya bisa tumbuh alami di benua timur. Selain itu, ia juga mengambil beberapa bibit tanaman yang bisa dijadikan obat.
Saat hendak keluar, langkahnya terhenti sebentar. Matanya melirik Eri yang masih terlelap di dekat kursi, dadanya naik turun perlahan, ekornya sesekali bergerak malas. Wajah sang singa tampak damai, jarang sekali ia melihat Eri setenang itu di tempat asing.
“Aku akan membiarkanmu hari ini saja,” kata Lily pelan, nyaris berbisik. “Besok tidak ada hari libur lagi.”
Lalu ia melangkah keluar, membiarkan pintu menutup perlahan di belakangnya.
Di balik keheningan kamar, sepasang mata terbuka. Cristopher menatap langit-langit sesaat, lalu bangkit dari tempat tidur. Tanpa benar-benar menyadarinya, langkahnya membawanya ke arah jendela. Ia menarik tirai sedikit, cukup untuk mengintip keluar.
Ratu Kingdom Conqueror menyentuh tanah tanpa rasa canggung. Rambut kepangnya bergoyang setiap kali ia berjongkok dan berdiri. Laory mondar-mandir membawa alat, sementara ia mengatur posisi tanaman dengan penuh perhatian. Taman yang selama bertahun-tahun dibiarkan kosong… kini diisi kembali.
Cristopher merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Pemandangan itu memanggil kenangan lama. Taman itu mungkin masih bisa hidup, tapi tidak dengan seseorang yang pernah memilikinya. Ia menutup tirai itu dengan satu tarikan tegas, lalu berpaling. Pandangannya jatuh pada jubah kebesaran Kingdom Conqueror yang terlipat rapi di atas meja. Bukan pelayan yang melakukannya, entah bagaimana ia menyakininya.
King Cristopher mengenakan jubah itu, lalu melangkah keluar dari Royal Chambers. Meninggalkan taman yang perlahan hidup kembali, juga perasaan asing di dalam jiwanya.
Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Terimakasih up nya hari ini 🙏🙏
Aq kasih kopi biar tambah semangat mengerjai raja yang ingin mengerjaimu Lili💪