NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kepulangan yang Mencurigakan

"KAU MAU MATI, HAH?! DASAR ANAK NAKAL! BERANI-BERANINYA KAU PULANG DENGAN KEADAAN SEPERTI INI! INIKAH KEJUTAN YANG KAU MAKSUD?!"

PLAK! PLAK!

Gagang sapu lidi mendarat bertubi-tubi di bahu dan punggung Ji Zhen. Ibunya, seorang wanita yang garis-garis wajahnya dipenuhi kelelahan, memukulinya dengan tangan gemetar. Air mata deras mengalir, membasahi pipinya. Setiap pukulan itu tidak ada artinya dibanding rasa sakit saat meridian Ji Zhen terbakar oleh qi naga, namun ia tetap mengaduh demi menenangkan hati ibunya.

"Ibu, ampun! Berhenti dulu, nanti sapunya patah!" Ji Zhen mencoba mengelak sambil tertawa kecil, meski tubuhnya penuh memar biru dan luka naik-turun gunung yang belum kering.

"Kalau begitu biar patah sekalian! Supaya kau tahu rasanya kalau ibu jantungan menunggu kabar! Kau sangat keras kepala, Zhen-er! Orang-orang bilang kau pergi ke puncak gunung es itu! Kenapa kau nekat sekali? Aku sudah kehilangan ayahmu, jangan sampai kau juga pergi meninggalkan aku!" Ibunya menjatuhkan sapu itu, lalu menubruk Ji Zhen dengan pelukan yang sangat erat, seakan-akan jika dia melepaskan sedikit saja, putranya akan lenyap.

Ji Zhen pun terdiam, merasakan kehangatan yang kontras dengan hawa dingin yang masih bersemayam di sumsum tulangnya. Ia membalas pelukan itu, menepuk punggung ibunya dengan lembut. "Ibu, kalau aku tidak nekat, aku tetap menjadi sampah selamanya di sekte ini. Sekarang aku mulai punya harapan dan juga… kejutan. Aku tidak akan mati semudah itu."

Ibunya terisak lebih keras, membenamkan wajah di dada Ji Zhen yang kini terasa lebih bidang dan keras. Ketakutan itu perlahan berganti menjadi rasa lega yang amat sangat.

Kepulangan Ji Zhen ke Sekte Qingyun memicu kegaduhan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Saat ia berjalan melewati gerbang utama menuju aula pusat, atmosfer di sekelilingnya berubah drastis. Murid-murid luar yang biasanya berisik mendadak bungkam saat melihat pemuda yang berantakan, namun langkah kakinya mantap.

Tatapan mereka penuh dengan ketidaknyamanan. Tidak ada yang bersorak menyambut keberhasilannya. Sebaliknya, mereka menjauh, membentuk lingkaran kosong seolah Ji Zhen membawa wabah mematikan.

"Bagaimana mungkin dia selamat? Bukankah senior itu bilang dia pergi ke puncak terlarang?" bisik seorang murid di balik pilar batu. "Lihat luka-luka itu. Seharusnya dia sudah membeku di lereng tengah."

"Pasti ada yang tidak beres," sahut yang lain dengan nada curiga. "Mungkin dia menemukan benda terlarang atau menggunakan metode sesat untuk bertahan hidup. Tidak masuk akal jika sampah Pemurnian Tubuh Lapis Satu bisa naik ke puncak dan kembali dengan selamat."

Ji Zhen mengabaikan semuanya. Ia terus berjalan dengan kepala tegak, melewati kerumunan yang memandangnya dari kejauhan dengan mata penuh curiga. Di depan Aula Agung, ia berhenti. Di sana, Patriark Fei Wang sudah menunggu, berdiri dengan jubah kebesarannya yang memancarkan wibawa kuat.

Tanpa banyak bicara, Ji Zhen merogoh balik pakaiannya dan mengeluarkan setangkai tanaman berwarna perak transparan yang memancarkan hawa murni. Bunga Hanling.

Ji Zhen mengulurkan bunga itu. "Patriark, tugas selesai."

Fei Wang menerima bunga tersebut. Jari-jarinya menyentuh kelopak bunga yang membeku, memastikan keasliannya. Wajah pemimpin sekte itu pun tetap datar. Tidak ada pujian, tidak ada senyum kebanggaan. Ia justru menatap Ji Zhen dengan mata tajam yang seakan-akan ingin membedah setiap rahasia di dalam tubuh pemuda itu.

"Bagaimana kau bisa sampai ke puncak tertinggi?" tanya Patriark singkat. Suaranya berat, menekan udara di sekitar mereka.

"Dengan nekat dan menolak untuk menyerah, Patriark," jawab Ji Zhen jujur. Suaranya stabil, tanpa ada nada gemetar sedikit pun di hadapan tekanan tingkat Pemahaman Dao.

Fei Wang terdiam cukup lama. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari aura Ji Zhen, sesuatu yang lebih padat dan tajam, meski ia tidak bisa memastikan apa itu karena tertutup oleh hawa dingin gunung yang masih melekat kuat. Akhirnya, sang pemimpin sekte mengibaskan tangannya.

"Pergilah. Kau sudah memenuhi tugasmu. Statusmu sebagai murid luar tetap aman untuk saat ini."

Ji Zhen memberi hormat singkat, lalu berbalik pergi tanpa menunggu komentar lebih lanjut. Ia tahu, di mata orang-orang kuat ini, keberhasilannya hanyalah sebuah pemuda rendahan yang belum cukup untuk mengubah status sosialnya.

Malam harinya, di dalam kamar kecilnya yang pengap, Ji Zhen duduk bersila di atas dipan kayu. Lampu minyak yang menyala di sudut ruangan memberikan penerangan yang cukup untuk melihat uap dingin yang keluar dari setiap hela nafasnya.

Ia memejamkan mata, mencoba menarik qi naga yang bersemayam di dalam pusat energinya. Namun, proses itu sangat jauh dari kata mulus. Begitu ia menggerakkan energinya, tubuhnya bereaksi dengan penolakan keras. Penyatuan darah naga dan raga manusianya belum sempurna.

Rasa panas yang membakar dan dingin yang menusuk bertabrakan di dalam jalur meridiannya. Kepalanya terasa sangat pusing, seakan-akan otaknya sedang diperas.

Uhuk!

Ji Zhen tersentak, memuntahkan gumpalan darah berwarna merah tua ke lantai tanah. Dadanya terasa sesak, seolah ada bongkahan es besar yang mengganjal pernafasannya. Namun, ia tidak berhenti. Ia menyeka darah di bibirnya dengan kasar dan kembali fokus.

Ia mengarahkan qi itu ke telapak tangan kanannya. Butuh konsentrasi luar biasa untuk menjaga agar energinya tidak meledak dan merusak dagingnya sendiri. Setelah berjuang selama hampir satu jam, lapisan es tipis yang jernih mulai terbentuk di atas kulitnya.

"Ini normal," suara Zulong bergema di dalam kesadarannya, datar tanpa emosi. "Tubuhmu tidak dirancang untuk menampung Dao Es tingkat tinggi dalam sekejap. Kau beruntung tidak langsung meledak saat kontrak itu ditandatangani."

Ji Zhen mengatur nafasnya yang berat. "Berapa lama lagi aku harus menahan rasa sakit seperti ini?"

"Kau perlu waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan untuk beradaptasi sepenuhnya dengan aliran qi ini. Meridianmu harus diperkuat secara bertahap. Jangan terburu-buru melakukan terobosan besar, atau jalur energimu akan robek secara permanen," Zulong memberi peringatan dengan nada jujur yang brutal.

Ji Zhen membuka mata, menatap lapisan es di tangannya yang perlahan mencair. "Tapi aku tidak punya banyak waktu. Ma Yingjie tidak akan diam saja melihatku kembali."

"Buru-buru di tempat dengan sumber daya selemah ini? Di mana qi alamnya sangat kotor dan jarang?" Zulong mendengus meremehkan. "Setidaknya tiga bulan jika kau berlatih tanpa henti setiap malam. Itu pun jika tubuhmu tidak hancur duluan. Tentu saja, akan lebih cepat jika kau memiliki sumber daya seperti batu roh atau pil berkualitas tinggi."

Zulong terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada provokatif. "Atau kau bisa mencuri sumber daya dari murid-murid kaya di sekte ini. Tapi itu akan membuatmu menjadi musuh lebih banyak orang dalam waktu singkat."

Mendengar itu Ji Zhen lantas terdiam, menatap pintu kamarnya yang tertutup. Senyuman tipis muncul di wajahnya yang masih pucat. "Kalau begitu, aku harus pintar-pintar memanfaatkan situasi."

Zulong merasakan getaran ambisi yang sangat kuat dari pemuda ini. Biasanya, manusia akan merasa takut atau ragu saat diberitahu risiko yang begitu besar. Namun, Ji Zhen justru terlihat sedang menyusun strategi di dalam kepalanya. Kemauan untuk melakukan apa pun demi kekuatan ini sangat menguntungkan bagi tujuan Zulong untuk bangkit kembali, namun di sisi lain, kepribadian Ji Zhen yang tidak bisa ditebak ini mulai terasa mengganggu bagi sang naga.

"Ingat, Bocah. Jika kau tertangkap dan mati karena kebodohanmu sendiri, aku akan mencari wadah lain sebelum kau benar-benar membusuk," ancam Zulong.

"Jangan khawatir, Ular sawah," gumam Ji Zhen sambil kembali memejamkan mata untuk menstabilkan qi-nya yang liar. "Aku belum berniat mati sebelum melihat mereka semua merangkak di bawah kakiku. Lagipula targetku memang orang-orang yang sombong."

Di luar sana, angin malam berhembus kencang, membawa bisikan-bisikan curiga dari setiap sudut sekte yang semakin liar. Ji Zhen sadar, ia harus bergerak lebih cepat. Sekte Qingyun bukan lagi rumah, melainkan sarang predator, dan ia harus segera menumbuhkan taringnya sebelum mereka memutuskan untuk menerjang lebih dulu.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!