NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RETAKAN PADA DINDING KACA

Matahari sore di Sentul membiaskan cahaya keemasan yang menenangkan melalui jendela besar ruang keluarga Maximilian dan Vivien. Di lantai kayu yang hangat, Alaric kecil sedang asyik menyusun balok-balok kayu, sementara suara tawa Nyonya Aksara terdengar dari taman belakang saat ia berbincang dengan perawatnya. Semuanya tampak sempurna. Selama setahun terakhir, Maximilian telah berhasil mengubah citra Alfarezel-Aksara Global menjadi raksasa yang transparan dan humanis.

Vivien masuk ke ruangan membawa dua cangkir teh. Ia memperhatikan Maximilian yang duduk di sofa, namun suaminya itu tidak sedang membaca laporan tahunan atau buku sejarah. Maximilian sedang menatap layar ponselnya dengan kening berkerut dalam. Ada kilatan kegelisahan di matanya—kilatan yang sudah lama tidak Vivien lihat sejak badai di Phuket mereda.

"Max? Ada apa?" tanya Vivien, meletakkan cangkir teh di meja.

Maximilian tidak langsung menjawab. Ia mengunci ponselnya dan menghela napas panjang, mencoba memaksakan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Hanya laporan rutin dari tim audit di Singapura, Viv. Ada beberapa anomali kecil dalam transaksi lama yang belum sempat kita bersihkan."

Vivien duduk di sampingnya, meraih tangan Maximilian. Ia sudah terlalu mengenal suaminya. "Kau berbohong. Anomali kecil tidak akan membuat tanganmu sedingin ini. Katakan padaku, Max. Kita sudah berjanji, tidak ada lagi rahasia."

Maximilian menatap istrinya, lalu beralih menatap putra mereka yang sedang bermain. Ia merasa berat untuk menghancurkan gelembung kebahagiaan ini, namun ia tahu Vivien benar. Rahasia adalah racun yang hampir menghancurkan mereka dulu.

"Gideon menemukan sesuatu pagi ini," ucap Maximilian pelan, suaranya nyaris berbisik agar tidak terdengar oleh Alaric. "Kau ingat server rahasia Julian Vane yang kita sita? Kita pikir kita sudah mengunduh semuanya. Tapi ternyata, ada partisi tersembunyi yang baru aktif tepat satu tahun setelah kematiannya. Sebuah 'Pesan Tertunda'."

Mereka pindah ke ruang kerja Maximilian yang kedap suara di lantai bawah. Di sana, layar monitor raksasa sudah menampilkan barisan kode yang sangat rumit. Gideon sudah menunggu melalui sambungan video terenkripsi dari pusat data mereka di Jakarta.

"Nyonya," Gideon menyapa dengan nada berat. "Saya baru saja menyelesaikan dekripsi tahap pertama. Pesan ini bukan dikirim oleh Julian. Julian hanya digunakan sebagai 'host' atau tempat penyimpanan. Pengirim aslinya menggunakan tanda tangan digital yang sangat kuno, protokol yang sudah tidak digunakan sejak era Perang Dingin."

Gideon menekan sebuah tombol, dan sebuah rekaman audio mulai diputar. Suaranya penuh dengan derau statis, namun frekuensinya sangat jelas.

"Selamat atas restorasi kalian, Alfarezel dan Aksara. Kalian membangun di atas abu, tapi kalian lupa bahwa abu itu masih menyimpan bara dari api yang jauh lebih besar. Julian Vane hanyalah seorang pion yang sombong. Dia pikir dia sang Arsitek, padahal dia hanyalah kontraktor lokal. Jika kalian ingin tahu siapa yang sebenarnya membayari peluru yang membunuh ayah kalian... perhatikan jam tangan yang akan tiba di depan pintu kalian sore ini."

Suara itu berhenti. Vivien merasa merinding hebat. "Siapa itu, Max?"

Belum sempat Maximilian menjawab, interkom di pintu gerbang depan berbunyi. Seorang kurir internasional baru saja meninggalkan sebuah paket kayu kecil yang dibalut segel diplomatik Swiss.

Maximilian membuka paket itu dengan tangan yang gemetar. Di dalam kotak beludru hitam, tergeletak sebuah jam tangan Patek Philippe klasik dengan goresan-goresan dalam pada kacanya. Ada bekas hangus di talinya.

Vivien menutup mulutnya. "Itu... itu jam tangan Ayahmu, Max. Jam yang dia pakai saat ledakan di Melbourne sepuluh tahun lalu."

Maximilian membalikkan jam tangan itu. Di bagian belakang, terdapat ukiran kecil berbentuk burung Phoenix yang sedang mengepakkan sayap di dalam sebuah lingkaran. Itu bukan simbol Obsidian Circle. Itu adalah sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, dan lebih kuat.

"Ini adalah simbol The Phoenix Syndicate," ucap Maximilian, suaranya parau. "Ayahku pernah bercerita tentang mereka saat aku masih sangat kecil. Dia bilang mereka adalah kelompok bayangan yang mengendalikan aliran emas di Eropa. Dia bilang dia berutang hidup pada mereka."

"Lalu kenapa jam tangan ini dikirim sekarang?" tanya Vivien.

Maximilian membuka penutup belakang jam tangan itu menggunakan alat presisi. Di dalamnya, tidak ada mesin jam. Sebagai gantinya, terdapat sebuah chip memori mikro yang dibungkus dalam pelindung timah.

Saat chip itu dimasukkan ke dalam komputer, muncul sebuah dokumen PDF tunggal. Itu adalah sebuah kontrak yang ditandatangani pada tahun 1995. Di bagian bawah, terdapat dua tanda tangan yang sangat mereka kenal: Alaric Alfarezel dan Aksara.

Namun, kontrak itu bukan tentang kerjasama bisnis. Itu adalah kontrak "Penyerahan Hak". Kedua ayah mereka ternyata telah menjaminkan seluruh aset keluarga mereka—termasuk masa depan anak-anak mereka—kepada The Phoenix Syndicate sebagai imbalan atas perlindungan dan modal awal pembangunan imperium mereka.

"Jadi... selama ini mereka bukan membangun imperium sendiri?" suara Vivien bergetar. "Mereka adalah budak sindikat ini?"

"Dan yang lebih buruk, Vivien," Maximilian menunjuk ke sebuah klausul di halaman terakhir. "Klausul ini menyatakan bahwa jika salah satu dari mereka mencoba keluar atau membocorkan keberadaan sindikat ini, maka pihak sindikat berhak melakukan 'pembersihan total' terhadap seluruh garis keturunan."

Vivien terduduk lemas di kursi. "Artinya... kematian Ayahku dan 'kematian' Ayahmu... itu bukan sekadar pengkhianatan Julian Vane. Itu adalah eksekusi yang diperintahkan dari Swiss. Julian hanya pelaksananya."

Maximilian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Julian ingin mengambil alih posisi sebagai agen utama sindikat ini di Asia. Itu sebabnya dia membunuh ayahmu dan mencoba membunuhku. Dia ingin membuktikan bahwa dia lebih berguna daripada dua orang tua yang mulai memberontak."

Tiba-tiba, layar monitor Gideon di Jakarta berkedip-kedip merah. "Tuan! Sesuatu sedang terjadi! Sistem keuangan Alfarezel-Aksara Global... ada penarikan dana besar-besaran secara otomatis dari akun utama kita di Zurich!"

"Berapa banyak, Gideon?" tanya Maximilian cepat.

"Hampir empat puluh persen dari total likuiditas kita, Tuan! Dana itu dialirkan melalui ribuan akun cangkang di Kepulauan Cayman dan kemudian menghilang ke jaringan kripto yang tidak terlacak. Ini adalah serangan 'Empty Nest'. Mereka sedang mencoba membuat kita bangkrut dalam hitungan jam!"

Maximilian segera mengambil alih keyboard, jarinya menari dengan cepat mencoba memblokir akses tersebut. "Vivien, panggil Bara! Suruh dia membawa Ibu dan Alaric ke bunker bawah tanah sekarang! Ini bukan lagi sekadar pesan, ini adalah serangan terbuka!"

Vivien berlari keluar ruangan, jantungnya berpacu. Ia menemukan Bara di taman, sedang menggendong Alaric.

"Bara! Bawa mereka ke dalam! Sekarang!" teriak Vivien.

Namun, sebelum mereka bisa mencapai pintu masuk rumah, tiga buah drone hitam kecil muncul dari balik pepohonan. Drone-drone itu tidak membawa kamera pengintai, melainkan senjata kejut listrik frekuensi tinggi.

BZZZT!

Salah satu drone menembak ke arah tanah di depan Bara, menciptakan ledakan kecil yang melempar mereka ke belakang. Bara dengan sigap melindungi Alaric dengan tubuhnya, mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan menembak jatuh salah satu drone tersebut.

"Masuk, Nyonya! Masuk!" teriak Bara.

Rumah yang tadinya merupakan tempat penyembuhan jiwa kini berubah kembali menjadi medan perang. Maximilian keluar dari ruang kerja dengan senapan serbu di tangannya, wajahnya yang penuh kedamaian tadi telah digantikan oleh topeng dingin sang predator.

Ia membantu Vivien dan ibunya masuk ke dalam ruang aman (safe room) yang tersembunyi di balik perpustakaan.

"Tetap di sini! Jangan buka pintu ini kecuali kau mendengar suaraku atau Gideon dengan kode sandi 'Phoenix Down'!" perintah Maximilian.

"Max, jangan pergi sendiri!" tangis Vivien, memegang lengan suaminya.

"Aku harus menghentikan mereka di gerbang depan, Viv. Jika mereka masuk ke sistem utama rumah ini, mereka bisa mengunci kita di dalam sini dan membakar kita hidup-hidup. Aku tidak akan membiarkan sejarah berulang."

Maximilian keluar, bergabung dengan Bara dan tim taktis kecil yang mereka miliki di lokasi. Di luar, sekelompok pria berpakaian taktis hitam tanpa identitas mulai turun dari helikopter yang melayang rendah tanpa lampu navigasi. Mereka bergerak dengan efisiensi yang jauh melebihi tentara bayaran Julian Vane. Ini adalah unit elit—para eksekutor dari The Phoenix Syndicate.

Baku tembak pecah di halaman rumah Sentul. Suara tembakan senapan mesin merusak kesunyian malam pegunungan. Maximilian menggunakan keahlian taktisnya yang telah diasah selama bertahun-tahun dalam kegelapan. Ia bergerak di antara bayang-bayang, melumpuhkan musuh satu per satu dengan presisi yang mematikan.

Namun, musuh kali ini seolah tidak ada habisnya. "Tuan! Mereka meretas sistem pertahanan perimeter kita!" teriak Bara melalui radio. "Mereka tidak hanya datang untuk membunuh, mereka datang untuk mengambil chip memori itu!"

Maximilian menyadari bahwa chip yang ia temukan di jam tangan ayahnya adalah target utama. Chip itu berisi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kontrak lama—itu adalah kunci digital untuk mengakses dana abadi milik sindikat tersebut yang disimpan di bank-bank gelap Swiss.

Di tengah pertempuran, Maximilian berhasil memojokkan salah satu penyerang. Ia mencengkeram kerah pria itu. "Siapa yang mengirimmu?! Berbicara atau kau mati di sini!"

Pria itu hanya tersenyum dingin, memperlihatkan sebuah kapsul sianida di balik giginya. Sebelum Maximilian bisa mencegahnya, pria itu menggigitnya. Sebelum tewas, ia membisikkan satu nama:

"Elena... Sang Matriark sudah menunggu di Zurich..."

Pertempuran akhirnya mereda saat helikopter pendukung dari Jakarta yang dikirim Gideon tiba. Para penyerang yang tersisa melarikan diri ke dalam hutan, meninggalkan beberapa mayat dan kehancuran di halaman rumah mereka yang indah.

Maximilian kembali ke ruang aman. Ia menemukan Vivien sedang memeluk Alaric dengan erat, sementara ibunya mencoba menenangkan mereka. Saat melihat Maximilian yang berlumuran darah dan debu, Vivien langsung berlari memeluknya.

"Kita tidak bisa tinggal di sini, Viv," ucap Maximilian dengan suara berat. "Mereka tahu di mana kita. Dan mereka tidak akan berhenti sampai kita menyerahkan apa yang ditinggalkan Ayahku."

Vivien menatap rumah mereka yang kini rusak. Dinding kaca yang tadinya melambangkan transparansi dan kedamaian, kini retak dan hancur oleh peluru. Ia menyadari bahwa fase "pemulihan jiwa" mereka telah berakhir secara brutal.

"Jadi... kita harus ke Zurich?" tanya Vivien.

"Bukan hanya ke Zurich," jawab Maximilian, matanya berkilat dengan amarah yang dingin. "Kita akan mendatangi jantung mereka. Jika mereka ingin mengambil imperium kita, kita akan mengambil milik mereka terlebih dahulu. Kita akan menghancurkan The Phoenix Syndicate sampai ke akar-akarnya."

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!