NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Kejadian Sebenarnya

Noel masih membeku dan terpaku di tempat. Tenggorokannya tercekat, dengan jantungnya berdebar seperti kesetanan, sementara wajahnya kini sudah terlihat memucat.

Mattew dan anak 11 IPS 1 lainnya melongok, jadi ikut penasaran.

Noel mengalihkan wajah sambil men-dribble bola basketnya lagi, "Gue nggak ngerti lo ngomong apa," balas Noel berlagak tenang.

Aqqela mengambil langkah mendekat dengan tatapan tajam.

"Nggak usah sok nggak tau apa-apa lagi brengsek!" sentak Aqqela sambil meraih kasar baju Noel, membuat cowok itu terkejut.

"WOI-WOI QELL, SANTAI!" panik Mattew menarik lengan gadis itu agar mundur, sadar betul bahwa dia sedang benar-benar marah.

"Qell, ini kenapa, sih? Kalem dulu, jangan pakai emosi!" kata Jefan.

Noel menelan ludahnya tercekat.

Sebenarnya sedikit bingung, bagaimana Aqqela bisa se-cepat itu menemukan dirinya, padahal clue yang dia berikan baru setengah.

"Gue nggak nyangka, selain playboy, elo tuh bener-bener bajingan," kata Aqqela sinis.

Noel menggigit bibir, "Elo salah paham," katanya serak dengan mata memerah.

"Salah paham soal apa?" tanya Aqqela dingin.

Noel melirik kiri kanan. Semua teman-teman cowok kelasnya sudah merapat ke arah mereka membuat nyalinya seketika menciut.

Tidak, bukan takut akan di pukul atau bagaimana.

Tapi lebih takut tentang penghakiman mereka padanya.

Noel memejamkan matanya sesaat, "Qell, gue bisa jelasin..."

"Karena itu emang yang pengen gue denger."

Aqqela menatapnya semakin dingin, "Who are you? Siapa lo sebenarnya?" tanyanya dengan mata memerah.

Mattew, Jefan dan lainnya mengerutkan kening tak paham. Sementara Noel meneguk ludah dan merapatkan bibir mengerti.

"Elo kan, cowok di halte yang bawa gue ke panti asuhan?" Desis Noel tajam.

Noel menggigit bibir keras dan mengangguk pelan.

"Dan ini..." Noel mengangkat kotak kado di tangannya, "Beberapa hari ini, gue terima kado-kado yang gue nggak tau siapa pengirimnya. Itu semua dari elo, kan?"

Mattew dan Jefan tersentak. Mereka kompak membulatkan mata terkejut.

Aqqela tersenyum sinis, "Inisial L, E, O. Itu di ambil dari nama belakang lo. Elo sengaja balik clue-nya, buat bisa mengecoh gue. Iya, kan?"

Aqqela tidak bodoh.

L, E dan O.

Jika di balik menjadi OEL. Dan gelang tali ini jadi bukti kuat bahwa Noel yang menaruh kado di lokernya.

Noel menghela napas panjang.

Ya udahlah, udah basah. Nyebur aja sekalian.

"Iya, itu dari gue."

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Noel, membuat semua orang jadi terkejut.

"Qell, sabar dulu, sabar! Pelan-pelan ngomongnya!" Jefan memutuskan maju-berdiri di depan Noel dan melindungi temannya itu.

"Gue nggak bisa sabar, terus lo mau apa?

Temen lo ini udah bener-bener brengsek," bentaknya.

"El, jelasin ke kami, ini ada apa sebenarnya? Kenapa Aqqela semarah itu?" tanya Mattew.

Noel terdiam. Memejamkan mata sesaat-mencoba menguatkan diri, "Ini urusan gue sama Aqqela. Kalian bisa pergi," katanya pelan.

"Kenapa? Lo malu semua orang tau kebusukan lo?"

"Qell, kita bisa bicara-in ini baik-baik. Please, gue bakalan jelasin semuanya, tapi nggak di sini," katanya memohon.

"Jelasin baik-baik? Elo tau nggak, karena kasus lo, ada satu anak yang harus kehilangan ayahnya buat selama-lamanya. Cuma ayah gue yang di cap penjahat di sini, sementara elo masih hidup dengan baik sampai sekarang. Lo pikir itu adil?" katanya meradang.

Jefan menghela napas, "Tenang dul-"

"Elo nggak tau apa-apa, mending diem!"

bentak Aqqela menunjuknya nyalang, membuat Jefan reflek diam.

Aqqela memandang Noel lagi, "Jadi bener elo kan, cowok yang satu tahun lalu jadi tersangka di persidangan karena kasus asusila itu?"

Mattew, Jefan dan lainnya tersentak, kompak membulatkan mata mereka begitu saja.

"A-apa?" tanya Mattew kaget.

"Beneran elo kan, El?" tanya Aqqela dengan nada meninggi.

Mata Noel mulai memerah. Cowok itu mengangguk kemudian.

BUGH!

"ANJING LO!" umpat Aqqela sambil melayangkan pukulan keras ke pipi cowok itu, membuat kepala Noel menoleh ke samping.

Aqqela terkekeh sinis, lalu menatap cowok itu nyalang, "Setelah apa yang lo lakuin, sekarang lo masih bisa buat sembunyi di balik topeng lo? Lo tuh punya muka nggak sih sebenarnya?"

"Gue nggak maksud gitu Qell," kata Noel serak.

"Terus maksud lo apa? Elo bahkan dengan nggak tau malunya jadi temen baik Fattah, setelah elo bikin Fattah kehilangan pacarnya buat selamanya. Lo bener-bener jahat tau nggak," kata Aqqela tanpa sadar meneteskan air matanya.

Mattew dan seluruh anak 11 IPS 1 terdiam dengan raut wajah memias total dan juga syok.

"El, jelasin apa maksud ini semua anjing? Elo terlibat sama kematian Sandrina?" tanya Jefan membentak.

Noel menggigit bibir keras-keras dengan setetes air mata jatuh di pipi putihnya, "Sorry!"

"Wait!" kata Mattew dengan raut wajah tak terbaca, "Jadi elo, cowok yang selama ini anak Levian cari?"

Dengan terpaksa, Noel mengangguk pelan, "Tapi demi Tuhan, gue nggak terlibat pembunuhan itu. Gue nggak tau apa-apa dari awal," katanya berusaha menjelaskan.

"SETAN!"

BRUGH!!

Tubuh Noel jatuh ke lantai lapangan setelah perutnya di tendang oleh Jefan.

"Ini ada apa?" Suara berat seseorang membuat tubuh Noel yang sudah tergeletak di lapangan jadi membeku.

Kepala mereka spontan menoleh ke Fattah yang baru mendekat sambil membawa minuman.

Aqqela diam dengan matanya masih memerah.

"Kenapa nangis?" tanya Fattah mendekati Aqqela, tetapi gadis itu hanya diam menatapnya.

Hening.

Semuanya tidak ada yang berani bersuara.

Fattah mulai menoleh ke mereka satu-satu dengan tatapan dingin seakan mulai terganggu.

"Ini ada apa sebenarnya?" tanya Fattah dengan tatapan menusuk tajam.

Mattew mendesah berat, "Noel, Fat. Dia-"

Fattah menoleh padanya, "Kenapa sama Noel?"

"Dia orang yang kita cari selama ini. Dia anak pejabat yang jadi tersangka kasus asusila yang libatin Odit waktu itu," ucapnya membuat Fattah tersentak.

"A-apa?" Wajah Fattah pias-dan membeku syok di tempat.

"Jadi secara nggak langsung, dia ada kaitannya sama kematian Odit," jelas temannya.

Tenggorokan Fattah tercekat, seakan kehilangan kata-katanya. Dia melangkah mendekati Noel yang kini berdiri dan menatapnya nanar.

"Fat, gue minta maaf-"

"Jadi bener?" gumam Fattah-nyaris tedengar seperti bisikan lirih, "Lo sahabat gue. Tapi lo ternyata pelakunya?"

Noel mulai meneteskan air matanya lagi, "Sorry Fat, gue nggak mak-"

"Elo tinggal jawab, yang di bilang Mattew bener apa enggak anjing?" sentak Fattah membuat Noel terkejut.

Cowok berkulit putih dengan mata sipitnya itu mengangguk.

"Iya, itu bener gue-"

"ANJING!" Kepalan tangan Fattah langsung melayang ke muka Noel, membuat Aqqela memekik kaget.

"SINI LO BANGSAT!" Fattah menarik kerah bajunya dan kembali memukul rahang Noel dengan sangat keras, membuat Noel meringis kesakitan.

"Gue minta maaf, Fat! Gue emang tersangka-nya waktu itu, tapi sumpah, gue nggak tau apa-apa soal Sandrina dan kecelakaan yang dia alami," katanya benar-benar memohon ampun.

"Harusnya gue udah curiga dari awal, sejak lo putusin buat join di LEVIAN," sentak Fattah nyalang, "Apa tujuan lo sebenarnya, hah?"

"Fat, udah!" Aqqela kali ini menarik lengannya.

Fattah menatap Noel dengan aura menindas, "Kenapa lo jadi temen gue, setelah lo jadi penyebab kematiannya Sandrina? Gue tau lo ada maksud tersembunyi."

Noel merunduk dan terisak pelan, "Fat karena gue pikir... gue bakalan bisa bantu lo lupa sama cewek murah itu. Gue nggak pengen lihat lo menderita setelah kematiannya," katanya sungguh-sungguh.

Fattah tersentak kaget, pun dengan Aqqela dan lainnya

"Maksud lo?" tanyanya tajam, "Cewek murah gimana yang lo maksud?"

Noel menggigit bibir, menatapnya dengan mata memerah.

"Lo salah kalau mikir Sandrina selama ini setia sama lo." Fattah tersentak kaget.

"Lo mungkin pacarnya. Tapi lo nggak tau, kelakuan cewek lo yang sebenarnya kayak apa."

BUGH!!

"NGOMONG YANG JELAS ANJING!" bentak Fattah.

"Woi-woi udah Fat, udah! Kasihan," lerai anak-anak cowok.

Noel merintih kesakitan memegangi perutnya, sementara Aqqela menatap cowok itu dengan wajah bingung.

Cewek murah apa?

Noel mendongak menatap Aqqela dengan mata berkaca-kaca.

"Qell, lo tau, kenapa gue nggak pernah bisa lupain elo selama ini?" tanyanya dengan pelan, membuat Aqqela jadi menatapnya.

Fattah mengerutkan kening.

"Karena saat semua orang caci maki gue sebagai pelakunya, elo satu-satunya yang datang dan bilang kalau lo percaya sama gue, padahal kita nggak pernah saling kenal."

Noel yang duduk di lantai lapangan merunduk dan menangis pelan.

"Mungkin lo pikir itu sederhana. Elo cuma ngasih gue permen dan bilang supaya gue tetep ceria buat ngelawan mereka selagi gue bener." Cowok itu mendongak dengan mata memerah, "Tapi kenapa sekarang lo nggak mau dengerin penjelasan gue?"

Aqqela tersentak dan membulatkan matanya kaget. Diam-diam tertegun merasa tersudut begitu saja.

"Elo cewek yang paling gue hargai dan gue hormati setelah mama gue. Elo mungkin nggak kenal gue, tapi gue tau lo lebih banyak daripada apa yang Fattah tau," kata Noel pelan, membuat Fattah tersentak.

"Lo suka Aqqela?"

Noel mendesah berat, "Gue bakalan ambil dia dari elo lebih lama, kalau gue suka Aqqela," katanya serak lalu memandang Aqqela, "Gue sayang sama Aqqela. Rasanya lebih banyak daripada rasa sayang gue ke adik gue sendiri. Tapi tujuan gue bukan buat cinta."

Aqqela mengalihkan wajah dan menatap Noel, "Fine, gue dengerin penjelasan dari elo. Apa yang terjadi sebelum sidang itu?"

Noel menggigit bibir dan berdiri. Cowok itu mendesah berat, kemudian melangkah lebih dulu.

"Kalian ber-empat ikut gue!" Dengan langkah tertatih, Noel melangkah ke rooftop di susul oleh Fattah, Aqqela, Mattew dan Jefan.

***

Flashback On!

1,5 tahun yang lalu...

Pemuda tampan 17 tahun itu terlihat mengenakan seragam sekolah dengan badge salah satu sekolah swasta elite di Jakarta Pusat, SMA Cakrawala.

Dia mengendarai sebuah motor hitam dan melaju cepat di jalan raya.

Motor itu berhenti di depan parkiran club malam, membuatnya melepas kemeja-menyisakan kaos hitam dan melangkahkan kakinya ke dalam.

"Ada KTP?"

Dia langsung memberikan KTP-nya kepada petugas yang menghadang.

Dan di sana tertera sebuah nama.

Xixin Araga Nicholas.

"Silahkan masuk!" ujar satpam, membuatnya tersenyum singkat.

sofa. "WOI RAGA!" panggil temannya di salah satu

Raga menoleh dan merekah menemukan temannya yang dari sekolah lain. Raga memang punya pertemanan yang luas.

"Woooo Raga my boy!" sorak Damar beradu tos dengannya.

"Yooo Damar my friend," kata Raga tidak kalah rusuh, "Eh, sendirian doang lo? Katanya bawa temen?"

"Noh, cewek gue di lantai dansa sama temen-temennya."

Raga memicingkan mata melihat ke arah dance floor.

"Eh, itu ada Miko? Tumben tuh anak mau di ajak?"

Damar terkekeh sambil menghirup rokok di tangannya, "Iya, gue paksa. Lagian seneng tuh anak, Sandrina bisa ikutan," balasnya.

"Sandrina?" Raga mengerutkan kening, "Siapa?"

"Anak Jaksel. Temennya cewek gue."

"Yang mana?"

"Wih, gercep banget soal cewek. Tuh-tuh yang pakai thanktop putih sama hotpants," katanya menunjuk.

Alis Raga terangkat melihat gadis berambut panjang itu dengan riang menggerakkan tubuhnya dengan luwes, mengikuti musik yang di bawakan DJ tampan di balik meja putar.

"Jangan naksir! Udah ceweknya Miko," katanya membuat Raga menoleh.

"Siapa juga yang naksir?" cibirnya.

"Eh-eh, mereka mau ke sini tuh," kata Damar membuat Raga melihatnya.

Sandrina, Bella, Miko dan juga Julia terlihat melangkah mendekati mereka.

"Tumben si Raga gabung?" tanya Bella meraih gelas bening dan meneguk alkohol di gelas.

"Ya namanya juga kangen elo Bel," kata Raga tanpa dosa.

Sandrina di samping Bella tampak melebarkan mata samar, tersenyum begitu saja menatap Raga.

Ganteng.

"Sayang, duduk sini!" ajak Miko, "Kenalin Ga, cewek gue. Sandrina."

Raga tertawa, "Kok lo mau sih sama dia?" ceplosnya pada Sandrina, membuat Miko mengumpat.

"Kenalan dong, kenalan!" suruh Jeha menyenggol Sandrina.

Gadis itu memajukan tangan ke arah Raga, "Sandrina, kak."

"Eh?" Raga mengerjap polos, "Kak?"

"Dia baru kelas 10."

"H-hah? Oh..." Dia mengangguk dan membalasnya, "Gue Raga. Salam kenal ya!" katanya.

Sandrina menggigit bibir. Diam-diam menahan senyum dan mengangguk malu.

"Kok bisa masuk? Emang udah ada KTP?"

"Gampang lah, kan yang punya club bapak gue," kata Damar sombong.

"Sini duduk!" Miko menepuk sofa di sebelahnya membuat Sandrina jadi menurut.

Otomatis, Sandrina kini duduk di antara Raga dan juga Miko.

Mereka semua saling berbincang seru dan tertawa-tawa sambil menikmati minuman mereka.

"Sumpah, Miko pas nyemplung ke got gokil banget, AHAНАНАНАНА." Tawa Raga pecah membuat Sandrina yang sejak tadi memperhatikan jadi ikutan tersenyum samar.

Entah kenapa dada Sandrina berdesir melihat gaya slengean cowok ini yang lucu sekali di matanya.

"Sandrina kan anak Jaksel. Terus ke sini sama siapa?" tanya Raga manis.

"Sama kak Bella kak," jawabnya tersenyum.

Raga kembali meneguk alkoholnya entah sudah yang ke-berapa dia teguk.

"Si Miko nih ceweknya ke sini nggak di jemput," omel Raga sok ganteng.

Miko tertawa, "Dia nggak mau gue jemput. Kata dia bapaknya galak."

"Kenal dimana sama Miko?" tanya Raga basa-basi.

"Waktu itu ketemu di jalan, kak. Pas ban motor aku pecah, di tolongin."

"Ughhh pangeran berkuda putih," ledek Raga penuh semangat, membuat Miko mengumpat.

Mereka semua kembali meneguk minuman ber-alkohol tinggi itu.

Entah perasaan Raga atau memang benar, bahwa sejak tadi Sandrina memang sengaja mendempet ke arahnya.

Satu tangan gadis itu bahkan memeluk pinggang Raga dari belakang, membuat cowok itu menoleh ke Sandrina yang jadi menoleh padanya juga.

Karena ruangan yang terkesan gelap, hanya di bagian dance flooryang lebih terang, membuat Sandrina semakin mendekati Raga dan secara tiba-tiba mencium pipi cowok itu singkat, membuat Raga terbelalak.

Raga berdehem kaku, jadi gugup sendiri sebenarnya. Takut jika Miko melihat tingkah kekasihnya.

"Eh, gue ke toilet dulu, deh!" katanya sambil berdiri dari sofa, membuat Sandrina mendongak dengan helaan napas berat.

"Udah kencing aja lo," ledek Miko, sementara Jeha ikutan bangkit dari sofa menuju ke bertender.

Raga keluar dari dalam toilet sambil menghembuskan napas lega, setelah selesai buang air kecil dan cuci muka supaya tetap waras.

"Tuh cewek bikin gue tegang aja," gumamnya mengumpat.

Raga cowok normal. Jelas sentuhan itu membuatnya merinding, apalagi Sandrina sampai menciumnya.

"Nggak-nggak, Ga. Dia ceweknya temen lo, jangan lo embat juga."

Raga memang player. Tapi tolong ingatkan bahwa Sandrina adalah pacar temannya.

Tapi saat melangkah di lorong toilet, cowok itu terkejut melihat Sandrina sedang berdiri menyender di dinding.

"Loh San, kok di sini?"

Sandrina menoleh, "Nungguin kamu."

"Eh, kenapa?" Raga mengerjap.

Sandrina melangkah mendekatinya, membuat Raga mundur kaget, "Kamu kenapa ngehindar tadi?"

Raga tersentak diam, dengan punggungnya menempel di dinding.

"Karena aku cium?"

Raga terkejut saat Sandrina semakin maju-mengikiskan jarak membuat dada kecilnya dari balik tanktop menempel ke tubuh Raga.

"Dit, elo ngapain?" panik Raga mencoba membuat dirinya tetap waras, "Jangan aneh-aneh ya, elo pacar temen gue."

Kepala Raga sudah berdenyut efek alkohol. Sekarang malah di tambah kelakuan cewek ini yang mendempet ke arahnya membuat tubuh Raga jadi panas dingin.

"Kenapa? Kita bisa diem-diem."

Raga melotot lebar, "Maksud lo apa?"

"Kalau aku suka kak Raga gimana?"

Raut wajah Raga langsung pias, "A-apa? Kita baru kenal."

"No." Sandrina menggeleng, "Aku tau kamu dari lama."

"Y-ya?"

"Kak Miko sering upload foto bareng kamu. Aku suka kamu dari sana."

"The fuck?" Raga ternganga, "Dek, elo masih anak kecil. Elo belum ngerti makna cinta sebenarnya."

"Anak kecil?" Sandrina mendengus sinis-merasa tersinggung, "Anak kecil nggak mungkin bisa lakuin ini."

Raga tersentak saat Sandrina tiba-tiba berjinjit dan menarik leher Raga, kemudian mencium bibir cowok itu.

Raga berniat mendorongnya, namun Sandrina justru semakin gencar untuk menciumnya. Melumat bibir Raga dengan rakus.

Kepala Raga makin pusing. Suhu tubuhnya tiba-tiba memanas, merasa tegang juga cemas takut ketauan.

"Dit..." kata Raga serak.

Sandrina melepaskan tautan bibir mereka sejenak, lalu memiringkan wajahnya dan kembali melumat bibir cowok itu.

Merasa terpancing, Raga menarik pinggang ramping Sandrina dan menghisap bibir gadis itu penuh tuntutan.

Tidak. Raga melakukan ini tidak dengan perasaan.

Dia cowok normal yang bisa dengan mudah tergoda perempuan. Apalagi Sandrina cantik.

Keduanya saling mendesah dengan bibir saling melumat. Bahkan tangan Raga menekan leher Sandrina untuk memperdalam pagutan.

Sampai suara dering ponsel membuat keduanya tersentak dan melepaskan ciuman.

Sandrina merunduk melihat panggilan yang masuk.

Fattah is calling...

"Fattah?" gumam Raga.

Sandrina tampak gugup sekarang, "A-aku angkat telepon dulu."

Raga tersenyum miring, menarik lengan Sandrina sesaat dan mengecup pipi gadis itu singkat.

"See you, baby!"

Pipi Sandrina langsung bersemu memerah karena malu dan salah tingkah.

Raga segera melangkah pergi meninggalkan Sandrina yang menerima telepon.

"Sayang, kamu dimana? Kok aku ke rumah, kamu nggak ada?"

Suara cowok dari sebrang telpon masih bisa Raga dengar membuat cowok itu tersenyum miring tanpa sadar.

Kirain gue polos. Tapi emang doyan selingkuh ternyata.

"RAGA!" panggil Jeha membuat Raga mendekati Jeha dan Bella.

"Kenapa?"

"Nih, minuman khusus buat lo." Jeha tersenyum manis.

"Tumben?" Raga mengangkat alis-meraihnya.

"Ya elah, kan kita udah lama nggak ketemu. Anggap aja itu minuman karena kita ketemu lagi."

"Serah lo, deh. Thanks, ya!" Raga meneguknya sambil melangkah pergi menuju ke sofa.

Bella menoleh cemas ke Jeha, "Je, elo gila ya?

Gimana kalau Raga tau?"

"Bel, lo tau sendiri kalau gue naksir Raga dari lama. Tapi dia cuma anggap gue temennya. Kan anjing."

"Je, tapi elo masih kelas sebelas."

"Udahlah, gue cuma mau bikin dia terikat sama gue aja kok. Gue bakalan main aman. Tenang aja!"

"Gila lo." Bella mengumpat. Dia cemas luar biasa setelah melihat Jeha telah meracikan pil neraka ke minuman Raga.

***

Gesture tubuh Raga terlihat gusar dan tidak nyaman di sofa.

"Shit!" umpatnya saat tiba-tiba merasakan sesuatu asing di balik celananya.

Raga mengerang pelan, merasakan nyeri di bagian selakangan-nya.

Jeha tersenyum melihat obat itu mulai bekerja.

"Raga, elo kenapa?" tanya Jeha sambil memegang dada cowok itu, "Elo terlalu mabuk, ya?

Mau ke kamar atas aja?"

Bella melirik itu, hampir mengumpat melihat Jeha yang sudah mirip seperti wanita murah di clubini.

Sudah tidak bisa di kontrol lagi, Raga menatapnya, "Iya."

"Gue temenin Raga ke atas dulu!"

"Heh, jangan buat dosa ya lo berdua," kata Damar.

Keduanya melangkah di lorong hendak menuju ke lift.

Tapi sudah tidak mampu di kontrol lagi, Raga langsung mendorong tubuh Jeha ke dinding.

"G-gue nggak tau gue kenapa. Tapi bisa tolong bantu gue?" tanyanya dengan matanya berkabut gairah.

Kepala Raga pusing. Semua di sekitarnya tampak blur.

Jeha dengan senang hati menarik leher Raga ke arahnya dan mencium bibir cowok itu lebih dulu.

Jeha menyeringai karena Raga membalas ciumannya tidak kalah liar.

Yes, Raga miliknya setelah ini.

"JEHA!"

Suara lantang seseorang membuat keduanya menoleh.

Miko-kakak sepupunya mendekat dan mengomel, "Lo ngapain, sih?"

Jeha meruntuk, "Sebentar, ya! Gue urusin nih primata satu dulu," kata Jeha dan menarik Miko kesal, "Mik, lo tuh ganggu banget kenapa, sih?"

"Elo ngapain ciuman gitu ege?"

"Gue udah gede."

Napas Raga terengah saat di tinggalkan. Tatapannya berkabut, buram seluruhnya.

"Kak Raga kenapa?" Sebuah tangan menyentuh lengannya.

"Shit!"

Itu suara Sandrina.

"Nggak, gue nggak papa." Raga menggeleng.

Susah payah masuk ke dalam lift, membuat cewek cantik itu menyusul.

"Kak Raga mabuk banget?"

"Jangan sentuh gue!" sentak Raga takut jika nanti kelewatan kepada Sandrina.

Sandrina melihat celana Raga yang mengembung, membuatnya melotot.

"K-kak? Itu..."

Raga merunduk dan mengumpat, "Please, gue nggak tau gue kenapa. Jadi tolong pergi! Gue nggak mau tanggung jawab kalau lo kenapa-napa."

Ting!

Lift terbuka membuat Raga ingin mencari kamar mandi secepat mungkin.

Bukannya berhenti, Sandrina justru berlari mendekatinya.

Dia yakin ada yang tak beres.

Atau ini ulah kak Jeha?

Dia sempat mendengar obrolan Jeha dan Bella yang membahas tentang obat.

"Sialan," umpatnya dan segera mengejar Raga.

"Kak!" panggilnya menarik lengan Raga, "Aku bisa bantu kak Raga."

"Nggak, gue nggak mau." Raga mati-matian menepis tangan Sandrina menyuruhnya pergi.

Tapi Sandrina langsung mendorong Raga memasuki kamar mandi.

"Aku cuma kasihan sama kak Raga. Nggak papa, aku bisa bantuin."

Tanpa banyak kata, Sandrina langsung membungkam bibir Raga dengan ciumannya. Kedua tangan gadis itu mengalung di leher Raga, menciumnya dengan sensual.

Tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, selain menerima ciuman itu dan membalas ciuman Sandrina lebih buas.

Tangannya bahkan meraba di setiap tempat, termasuk dada Sandrina yang menantang dari balik tanktop, membuat tangan Raga gemetaran meremasnya.

Sandrina melenguh saat lehernya di hisap Bukannya berhenti, Sandrina justru berlari mendekatinya.

Dia yakin ada yang tak beres.

Atau ini ulah kak Jeha?

Dia sempat mendengar obrolan Jeha dan Bella yang membahas tentang obat.

"Sialan," umpatnya dan segera mengejar Raga.

"Kak!" panggilnya menarik lengan Raga, "Aku bisa bantu kak Raga."

"Nggak, gue nggak mau." Raga mati-matian menepis tangan Sandrina menyuruhnya pergi.

Tapi Sandrina langsung mendorong Raga memasuki kamar mandi.

"Aku cuma kasihan sama kak Raga. Nggak papa, aku bisa bantuin."

Tanpa banyak kata, Sandrina langsung membungkam bibir Raga dengan ciumannya. Kedua tangan gadis itu mengalung di leher Raga, menciumnya dengan sensual.

Tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, selain menerima ciuman itu dan membalas ciuman Sandrina lebih buas.

Tangannya bahkan meraba di setiap tempat, termasuk dada Sandrina yang menantang dari balik tanktop, membuat tangan Raga gemetaran meremasnya.

Sandrina melenguh saat lehernya di hisap kuat oleh Raga.

Tidak menunggu waktu lama, Sandrina melepaskan tanktop dan bra-nya, membuat tubuh atasnya polos tanpa pakaian.

Mata Raga di penuhi kilat gairah saat tangan Sandrina melepas kaosnya juga, membuat keduanya sama-sama polos di bagian atas.

Keduanya saling berciuman penuh tuntutan.

Entah Raga akan mengingatnya atau tidak besok, Sandrina tidak peduli. Sentuhan cowok itu membuat gadis itu mendesah terputus-putus, apalagi saat mulut Raga mengulum dada kanannya dengan sensual.

"BRENGSEK, ELO NGAPAIN?" bentak Jeha menarik Sandrina, kemudian melayangkan tamparan keras ke pipinya.

Raga lagi-lagi mengumpat karena dia di tinggalkan, sementara selakangannya terasa sakit luar biasa.

Dia memilih memasuki bilik toilet, tidak memperdulikan dua gadis yang terlibat aksi saling jambak. Raga memilih menuntaskan hasratnya sendirian di dalam kamar mandi.

Dia mendesah lega saat gelombang panas menerjang keluar dari dalam miliknya.

Hingga kesadarannya perlahan mulai hilang. Dia jatuh pingsan di dalam toilet.

***

Dan keesokan harinya, dia justru terbangun dengan banyak orang sudah mengepungnya.

Raga tersentak melihat Jeha duduk tanpa pakaian di dalam toilet yang sama dengannya.

Jeha memeluk tubuhnya sendiri dan terisak.

"Dia paksa gue," kata Jeha sambil menangis.

Raga menggeleng cepat, "Nggak, gue nggak ngapa-ngapain."

"BRENGSEK LO!" Miko tiba-tiba maju melayangkan pukulan ke arahnya.

"Gue nggak ngapa-ngapain anjing," balas Raga tak mau kalah.

Jeha terisak dengan Bella kali ini memeluknya, seakan menenangkan.

"Kita semua punya saksinya. Elo emang yang apa-apain Jeha."

"Nggak, lo bohong." Raga membentak marah, "Siapa saksinya?"

Sosok Sandrina muncul, menyeruak di antara kerumunan orang. Dengan wajah takut-takut, dia menelan ludah, menatap cowok itu ragu.

"Aku orangnya."

Sandrina tidak ada pilihan lain. Jeha sudah mengancamnya akan melaporkan kejadian semalam ke Fattah, membuat dia takut setengah mati. Bahkan juga soal perselingkuhan dia dan Miko. Sandrina tidak mau Fattah kecewa dan meninggalkannya.

"Lo mau ngelak apalagi anjing? Ceweknya Miko udah bilang dia lihat semuanya," bentak Jelo kakak Jeha yang pagi itu menyusul.

"Anjing lo!" Beberapa orang ikut memukulnya.

Damar sendiri diam. Sebenarnya ragu kalau Raga benar-benar memaksa Jeha.

Kalaupun benar mereka melakukan itu, bisa jadi mereka mau sama mau, karena Damar melihat keduanya pergi bersama ke lantai atas.

"Gue nggak ngapa-ngapain. Demi Tuhan gue nggak tau apa-apa."

***

Kasus itu sampai ke pengadilan tinggi.

Jeha merasa tak terima karena Raga masih mengelak dari apa yang terjadi, sehingga Jeha memutuskan membuat dirinya hamil dan meminta Raga bertanggung jawab.

Raga yang masih kekeuh merasa itu bukan anaknya, menerima saat keluarga Jeha melaporkannya ke polisi.

Ayah Raga yang bukan orang sembarangan, membuat Raga dengan mudah mendapatkan keadilan dan dia di bebaskan. Bahkan tidak ada media atau portal apapun yang berani menaikkan kasusnya karena ayahnya memiliki power lebih untuk itu. Dia juga salah satu petinggi di negara ini.

Satu hal yang Raga tau, Sandrina yang di jadikan saksi tewas dalam kecelakaan, karena Michael-sang hakim bekerja sama dengan ayahnya untuk menyingkirkan saksi itu.

Setelah kasus itu selesai, Raga memutuskan untuk tinggal di Jakarta Selatan dan mengubah namanya menjadi Noel-lengkap dengan tanggal kelahirannya.

Dia memutuskan untuk masuk ke SMA Taruna Jaya Prawira dan kembali menjadi pelajar kelas 10.

Dari sana, dia bertemu Fattah Fernandez. Kekasih Sandrina yang sebenarnya.

Flashback Off

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!