Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin
Sementara orang-orang membungkuk hormat padanya. Pelayan wanita di sampingnya terdiam dan diam-diam menggerakkan jari telunjuknya. Tiba-tiba aura Qi samar-samar muncul dari matanya dan warna putihnya menjadi lebih lebar dan hitamnya mengecil. Penglihatannya lalu melesat menjauh; melewati pepohonan, seorang gadis yang berlari sembari memegang baling-baling, kakek yang berjalan membungkuk. Selain melihat, dia juga mendengar apa pun yang di lewatinya dan suaranya muncul dan hilang sangat cepat. Lalu setelah beberapa saat, akhirnya berhenti di depan kediaman keluarga Yun. Mengamati sebentar betapa megahnya bagunan itu yang di jaga dua orang kemudian melesat masuk, melewati lorong dan akhirnya melihat madam Xu yang duduk di ruangan tamu sembari meminum teh, bergerak lagi, dia melihat Yun Taoshi, dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Setelah itu pandangannya menjauh ke langit dan mengamati kediaman yang besar itu. Semuanya terlihat normal dan baik-baik saja. Pelayan itu ingin menarik pandangannya, namun segera melihat aura aneh dari kejauhan.
Menoleh, itu berasal dari sisa bangun yang hancur dan orang-orangnya sudah pergi. Alisnya sedikit berkedut dan segera melayangkan pandangannya ke sana.
Dia melewati tempat yang terbengkalai dan sepi, bahkan dipenuhi reruntuhan. Kemudian berhenti setelah melihat seorang wanita yang sedang membersihkan beras. Ternyata masih ada orang di sini. Melewatinya dan akhirnya dia menemukan subernya. Itu dari seorang pemuda yang sedang duduk di kursi bambu sembari memejamkan matanya. Pelayan itu memicingkan matanya dan tidak salah lagi jika sumbernya berasal dari pemuda itu.
Pelayan itu tersenyum manis dan dari belakang punggungnya menjentikan jarinya. Tiba-tiba seutas cahaya kuning muncul dan melesat. Tidak ada yang tahu. Cahaya itu berputar-putar dan semakin memebesar dan lebih besar.
Ketika mencapai gang bekas kediaman pemberontak besarnya sudah memenuhi gang dan mengeluarkan suhu yang sangat panas.
Namun di mata orang biasa itu hanya hembusan angin kencang yang bertiup dan bahkan tidak memiliki suhu yang panas. Akan tetapi ketika bergerak di gang semua tumbuhan-tumbuhan kayu.
Ketika melewati rumah Yun Xiao, itu sudah seperti angin putih yang bergerak cepat. Ibu Yun Xiao memandangnya dan penasaran. Tapi kecepatan angin itu sangat cepat dan dia tidak sempat memperhatikannya. Tidak lama daun-daun pohon mulai layu dan berguguran. Dia tidak tahu apa yang terjadi tapi itu sangat membuatnya penasaran. Angin apa itu?
Sementara bola itu telah mencapai rumah Chen Li dan meledak menjadi burung api yang berteriak nyaring dan bulu-bulunya dipenuhi api yang sangat panas.
Chen Li membuka matanya. Dia tidak beranjak dan hanya sedikit menatapnya. Tatapanya juga seperti seseorang yang melihat langit-langit kamar setelah lama tertidur.
Tidak lama aura dari dalam rumah muncul dan bersatu di langit. Alirannya seperti air yang mengalir dan akhirinya membentuk seorang wanita bergaun hijau yang sangat cantik. Energi besar muncul dan seluruh tumbuhan di tekan. Dengan tatapan kebencian mengayunkan kakinya yang indah dan melesat ke arah burung itu. Muncul sebuah pedang di tangannya dan segera mengayunkannya ke depan, berniat memotong leher burung itu.
Ledakan!!!
Ayunannya sangat cepat, memotong burung itu dalam sekali tebasan. Chen Li hanya memandangnya. Burung itu meledak dan akhirinya perlahan-lahan lenyap. Dan wanita itu berubah menjadi aura lalu masuk ke dalam lukisan di dalam rumah.
Sekali lagi, tidak ada orang yang tahu apa yang terjadi kecuali angin meledak di halaman rumah Chen Li lalu akhirnya menghilang.. Namun daun-daun pohon menjadi abu dan kulit kayu berubah menjadi abu-abu.
Ibu Yun Xiao menatapnya dan keheranan lalu dia tidak tahan beratnya, “Chen Li, apa yang terjadi?”
*****
Gadis pelayan itu terkejut. Matanya sedikit terbelalak tidak percaya dan jari telunjuknya sedikit bergetar. Jantungnya berdetak lebih kecang dan nafasnya jauh lebih cepat. Buih-buih keringat mulai muncul dari rambut-rambutnya. Wajahnya terlihat lebih pucat seperti sedikit demam. Dia lalu menarik nafas, mengusap keringat di dahinya dan menatap orang-orang.
Tuan putri sudah masuk dan menyibak korden lalu muncul, bertanya pada pelayannya mengapa belum masuk.
Kusir yang dari tadi bersandar sedikit mengangkat topi capilnya. Pandanganmya jauh ke depan.
Pelayan itu segera mendekat dan meminta maaf. Dia naik dan kerata pun berjalan.
Butuh beberapa menit untuk tiba di kediaman keluarga Yun. Ketika kereta tuan putri tiba, dua penjaga langsung tahu dan salah satunya berlarian ke dalam untuk memberi tahu.
Tuan putri turun perlahan dan menatap kediaman keluarga Yun yang sangat megah dan luas. Di gerbangnya ada gerbang tradisional dengan genteng hitam kecokelatan yang bersinar di bawah sinar matahari. Di sudut-sudutnya ada lampion merah yang bergoyang-goyang lembut.
Tuan putri merasa senang mengunjungi rumah seseorang walaupun istana selalu terlihat cantik dan megah. Dia tidak tahu entah mengapa setiap rumah yang ingin dikunjunginya selalu membawa perasa baru dan kehidupan dari pemiliknya.
Dua sudut bibirnya yang lembut sedikit di tarik yang menyebabkannya terlihat tersenyum tipis yang manis dan cantik.
Tidak lama penjaga itu kembali datang dan seorang wanita paruh baya memakai Han Fu hijau datang dan segera membungkuk, “Nyonya Yun memberi hormat pada tuan putri.”
Madam Xu lalu mengangkat wajahnya dan membuka satu tangannya untuk mempersilakan. “Yang mulia, silahkan masuk.”
“Tidak perlu. Aku hanya ingin bertanya di mana putri Yun Leng itu?”
“Putri Yun Leng?”
Tuan putri mengangguk dan mengeluarkan buku dari pakaiannya. “Seseorang yang menulis kumpulan puisi ini. Anda pasti tahu bukan?”
Alis putih Madam Xu sedikit berkerut dan tidak lama kembali normal sembari berkata, “Dia sudah pergi bersama ibunya dan sekarang tinggal di rumahnya yang dulu. Saya akan mengirim seseorang untuk mengantar anda jika mau. Biasanya dia akan berjualan di pasar.”
“Antarkan aku ke sana.”
“Sesuai dengan perintah anda yang mulia...” Madam Xu membungkuk lagi dan segera salah satu penjaga pergi dan kembali menaiki kuda.
Yang mulia tuan putri sudah di dalam kereta. Melihat keluar lalu berkata, “Ayo pergi.”