NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Antara Berkah dan Musibah

Malam ke-sebelas Ramadan itu datang dengan udara yang jauh lebih dingin dari biasanya. Suara tadarus yang menggema dari pengeras suara masjid terdengar lamat-lamat, membawa getaran yang seharusnya menenangkan hati, namun bagi Bayu, setiap bait ayat suci yang terucap terasa seperti vonis yang sedang dibacakan untuknya.

Ia masih mematung di teras rumah, menatap layar ponsel yang menyala redup. Pesan dari Rian baru saja masuk, sebuah desakan singkat yang berbunyi.

"Lima menit lagi, Bay. Kalau nggak ada jawaban, seratus jutanya melayang."

Bayu menghela napas panjang, memasukkan ponselnya ke saku, dan memutuskan untuk berjalan menuju panti asuhan. Ia ingin melihat kenyataan sekali lagi sebelum benar-benar menggadaikan jiwanya pada iblis yang bernama uang haram.

Setibanya di sana, suasana jauh dari kata damai. Bayu bersembunyi di kegelapan koridor panti yang hanya diterangi lampu neon yang berkedip-kedip. Di sudut ruang tamu yang sederhana, ia melihat Nayla. Wanita itu sedang duduk bersimpuh di lantai, wajahnya disembunyikan di balik kedua telapak tangannya. Bahunya naik turun, terguncang oleh isak tangis yang coba ia redam sekuat tenaga.

"Kenapa harus Haikal, Ya Allah? Dia masih kecil ... dia belum tau apa-apa," isak Nayla lirih.

Bayu merasakan dadanya seperti dihantam godam. Ia melihat Nayla yang biasanya begitu tegar dan penuh energi, kini nampak hancur dan tak berdaya. Nayla merasa gagal. Ia merasa tanggung jawab yang ia pikul sebagai pengurus panti terlalu berat ketika dihadapkan pada ketiadaan materi.

Bayu ingin sekali melangkah maju, menghapus air mata itu, dan menunjukkan bukti transfer seratus juta rupiah. Ia ingin menjadi pahlawan bagi wanita yang ia cintai. Namun, kakinya terasa berat, terbelenggu oleh kenyataan dari mana uang itu berasal.

Tak lama kemudian, suara mobil berhenti di halaman. Fahmi turun dengan terburu-buru, membawa seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih yang disampirkan di lengan. Itu Dokter Heru, dokter senior di rumah sakit daerah yang juga merupakan kerabat jauh Fahmi.

"Nay, bangun, Nay. Ini Dokter Heru datang," ujar Fahmi sambil membantu Nayla berdiri. Suaranya serak karena kelelahan, namun tetap mengandung otoritas yang tenang.

Nayla menghapus air matanya dengan cepat. "Mi, dokter ... gimana Haikal?"

Dokter Heru menghela napas, menatap Fahmi dan Nayla bergantian. "Saya sudah koordinasi dengan bagian bedah. Besok pagi tim kami siap bergerak. Fahmi sudah menjaminkan dirinya dan beberapa aset pribadinya yang tidak sedang diagunkan untuk menutupi deposit awal. Kita nggak bisa nunggu uang cair bulan depan, jadi saya ambil risiko ini secara personal."

Bayu yang menguping di balik bayangan merasa seluruh tubuhnya mati rasa. Fahmi, pria yang ia anggap sedang menghinanya dengan tawaran kerja itu, ternyata siap mempertaruhkan segalanya, bahkan kredibilitas dan sisa asetnya yang sedang sulit, demi seorang anak yatim. Fahmi tidak sekadar berbicara tentang kebaikan; ia menghidupinya.

"Tapi Dok, biaya sisanya gimana? Fahmi bilang proyeknya lagi macet," tanya Nayla dengan nada khawatir yang luar biasa.

"Nanti kita pikirkan belakangan, Nay. Yang penting nyawa Haikal dulu. Fahmi bilang dia bakal cari pinjaman kemana pun malam ini," jawab Dokter Heru sebelum melangkah masuk ke ruang perawatan darurat di dalam panti.

Fahmi menyeka keringat di dahinya, lalu bersandar di tiang teras dengan wajah yang sangat pucat. Ia nampak seperti orang yang sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Namun, ia tidak mengeluh. Ia justru berbisik pelan, sebuah doa yang bisa ditangkap oleh telinga Bayu.

"Ya Allah, beri aku jalan. Mudahkanlah hamba-Mu ini."

Kebaikan Fahmi yang tanpa pamrih itu justru membuat Bayu merasa semakin tidak berguna. Ia merasa seperti debu di bawah kaki Fahmi. Ia memiliki cara instan untuk menyelesaikan masalah ini, sebuah cara yang akan membuat Nayla berhenti menangis dan Fahmi tidak perlu berutang nyawa. Namun, cara itu adalah pengkhianatan terhadap semua hal yang baru saja ingin ia perbaiki dalam hidupnya.

Bayu berjalan menjauh dari panti dengan langkah yang tidak tentu arah. Ia berakhir di teras samping masjid, tempat yang relatif sepi. Di tangannya, ponsel itu terasa panas, seolah-olah benda itu menyimpan bara api neraka. Jarinya sudah berada di atas kontak Rian. Ia hanya perlu menekan tombol panggil dan berkata "Deal", maka dalam hitungan jam, masalah Haikal selesai.

‘Ayo, Bay. Apa bedanya? Seratus juta buat nyawa orang itu amal jariyah, kan? Persetan dengan asalnya,’ sisi gelap di kepalanya berbisik dengan nada yang sangat logis.

‘Nggak, Bay. Ibu nggak bakal bangga kalau dia tau uang yang kamu kasih itu hasil nipu. Kamu mau kasih makan Haikal dan Ibu pake api?’ sisi lainnya membalas dengan tegas.

Tepat saat itu, lantunan ayat suci dari dalam masjid mengudara. Seseorang sedang melantunkan Surah Al-Ma'un dengan suara yang begitu dalam dan bergetar.

“Ar-a'aytal lazii yukazzibu bid diin ....” (Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?)

Ayat itu menghantam ulu hati Bayu. Ia merasa ayat itu sedang menunjuk hidungnya tepat di depan wajah. Selama ini, bukankah ia telah mendustakan agama dengan kesombongannya? Dan sekarang, ia berniat melakukannya lagi dengan alasan "kebaikan".

"Gue mau jadi pahlawan, atau gue cuma mau nyelametin ego gue sendiri biar keliatan hebat di depan Nayla?" bisik Bayu pada kegelapan malam.

Ponselnya bergetar lagi. Panggilan masuk dari Rian.

Bayu menatap layar itu dengan napas yang memburu. Jika ia mengangkatnya, ia kembali ke dunia hitam Jakarta yang menghancurkannya. Jika ia mematikannya, Haikal mungkin akan berada dalam bahaya, dan Fahmi akan semakin terpuruk dalam beban utang. Bayu merasa terjepit di antara dua gunung besar yang siap melumatnya.

Ia berdiri di teras masjid, menatap ke arah kubah yang diterangi cahaya bulan. Di seberang sana, ia bisa melihat lampu-lampu panti asuhan yang masih menyala. Di sana ada tangisan, di sana ada perjuangan, dan di sana ada ketulusan.

"Gue benci lo, Mi. Gue benci karena lo selalu lebih bener dari gue," gumam Bayu dengan air mata yang mulai mengalir. "Gue benci karena gue nggak bisa jadi kayak lo."

Bayu menyadari bahwa selama ini masalahnya bukanlah ia kehilangan harta, melainkan ia kehilangan pegangan. Tawaran seratus juta itu bukan berkah, itu adalah musibah terakhir yang dikirim untuk menguji apakah ia benar-benar ingin berubah atau hanya ingin kembali menjadi "Bayu yang lama" dengan topeng yang berbeda.

Jarinya gemetar. Jempolnya menggantung di atas tombol hijau untuk menerima panggilan Rian. Detak jantungnya berpacu searah dengan suara detak jarum jam yang seolah mengejeknya. Satu detik, dua detik, tiga detik...

"Halo, Yan ...," Bayu menjawab panggilan itu dengan suara yang nyaris hilang.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!