Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Suami yang Terlalu Dingin
Minggu pagi datang dengan gerimis tipis yang membasahi kaca jendela besar, menciptakan suara pelan seperti bisikan lembut di rumah yang biasanya sunyi. Alya terbangun lebih awal dari biasanya, kebiasaan yang sudah mendarah daging sejak ia harus mengurus segalanya sendiri bersama Arka. Cahaya abu-abu pagi menyusup pelan melalui gorden, menerangi wajah anaknya yang masih tertidur nyenyak di sisi tempat tidur king size. Alya bergerak pelan-pelan, takut membangunkannya, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah hati-hati. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, membuatnya sedikit menggigil, tapi ia tersenyum kecil. Pagi seperti ini selalu memberinya ketenangan sebelum hari dimulai.
Di dapur, Alya mulai menyiapkan sarapan sederhana tapi hangat: nasi goreng aromatik dengan telur mata sapi yang kuningnya mengkilap sempurna, potongan timun segar dan tomat merah di sampingnya untuk menambah warna. Untuk Arka, ia menuang susu cokelat hangat ke gelas favorit anaknya ritual pagi yang tak pernah ia lewatkan, meski hidup mereka pernah penuh ketidakpastian. Aroma bawang goreng dan kecap manis mulai menyebar, mengisi ruangan yang biasanya dingin dan steril. Alya menata piring-piring di meja makan dengan rapi, hatinya sedikit lebih ringan hari ini. Setidaknya, ia bisa melakukan sesuatu yang kecil untuk membuat rumah ini terasa lebih seperti rumah.
Saat ia sedang meletakkan sendok di samping piring, suara langkah kaki pelan terdengar dari tangga. Alya menoleh, dan hatinya sedikit berdegup lebih cepat. Reyhan turun dengan penampilan yang jarang ia lihat: kaus hitam polos yang longgar di tubuh atletisnya, celana training abu-abu yang nyaman, rambutnya masih sedikit acak-acakan seperti baru bangun, dan wajahnya tampak sembab karena tidur malam yang mungkin tak nyenyak. Ini pertama kalinya Alya melihat Reyhan di pagi Minggu tanpa kemeja formal dan dasi rapi. Biasanya pria ini langsung keluar untuk olahraga pagi atau mengurung diri di ruang kerja sepanjang hari.
“Pagi,” sapa Alya pelan, suaranya lembut agar tak terlalu mengganggu suasana pagi yang hening.
Reyhan mengangguk singkat, matanya masih agak mengantuk. “Pagi.”
Ia berjalan ke dapur tanpa banyak bicara, menuang kopi hitam pekat dari mesin kopi otomatis yang tampaknya jarang dipakai. Aroma kopi langsung memenuhi udara. Reyhan duduk di ujung meja makan, membuka tablet-nya, dan mulai membaca berita bisnis dengan ekspresi serius seperti biasa. Alya diam-diam meletakkan sepiring nasi goreng di hadapannya, lengkap dengan telur dan sayuran segar.
Reyhan mengangkat wajah, alisnya sedikit terangkat. “Aku tidak minta.”
“Sudah masak kok,” jawab Alya tenang, tanpa nada memaksa. “Kalau nggak dimakan, sayang. Mubazir.”
Reyhan menatap piring itu sejenak, lalu kembali ke tablet-nya. Tapi tak sampai semenit kemudian, tangannya meraih sendok dengan gerakan pelan. Ia mulai makan dalam diam, sendok demi sendok, seolah tak ingin terlihat terlalu menikmati. Alya yang sedang membersihkan meja tersenyum tipis di dalam hati. Ia mulai paham pola Reyhan pria ini tak suka mengakui kebutuhannya, tapi ia juga tak pernah menolak kebaikan yang datang dengan tulus. Itu sudah cukup bagi Alya. Setidaknya, ada kemajuan kecil di pagi yang gerimis ini.
Sepuluh menit kemudian, Arka turun dengan langkah gontai khas anak baru bangun. Rambutnya acak-acakan, mata masih setengah terpejam, dan piyama robotnya agak miring. Ia langsung mendekat ke Alya dan menyandarkan kepalanya di lengan ibunya, mencari kehangatan pagi.
“Pagi, sayang,” bisik Alya sambil mengusap rambut Arka dengan lembut, jari-jarinya menyisir helai-helai lembut itu penuh kasih.
“Pagi, Mama…” gumam Arka, suaranya serak dan menggemaskan.
Reyhan melirik dari balik tablet-nya. Ada sesuatu yang berubah di matanya sesuatu yang aneh, seperti rasa penasaran yang tak biasa. Cara Arka menyandarkan kepala ke Alya dengan penuh percaya diri, cara Alya mengusap rambut anaknya dengan gerakan alami dan penuh kehangatan… itu sangat natural. Sesuatu yang Reyhan tak pernah rasakan dari ibunya sendiri dulu. Hatinya seperti disentuh sesuatu yang lama terkubur.
“Arka, cuci muka dulu ya, sayang. Biar lebih segar,” kata Alya lembut.
Arka mengangguk malas, tapi tetap bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah terseret. Ruangan kembali hening sejenak. Reyhan meletakkan tablet-nya perlahan, matanya tertuju pada Alya.
“Kamu… selalu sedekat itu sama dia?” tanyanya tiba-tiba, suaranya rendah tapi penuh rasa ingin tahu.
Alya menoleh, sedikit bingung. “Maksud Om?”
“Kamu terlalu lembut. Apa nggak takut dia jadi manja?”
Alya tersenyum miris, senyum yang menyembunyikan banyak luka lama yang tak pernah ia ceritakan. “Arka nggak bisa manja, Om. Dia terlalu mandiri untuk ukuran anak seusianya. Kadang aku justru khawatir dia terlalu dewasa, terlalu cepat berpikir. Aku ingin dia tetap merasakan masa kecil, meski otaknya berjalan lebih cepat.”
Reyhan tidak langsung menjawab. Tapi ada kilatan di matanya ketertarikan, atau mungkin sedikit iri yang tak terucap. “Dia aneh,” lanjut Reyhan pelan, nada bicaranya lebih lembut dari biasanya. “Maksudku… dia terlalu pintar. Itu bukan pintar biasa. Itu… luar biasa.”
Alya menunduk, jemarinya meremas ujung kain lap di tangannya. “Aku tahu. Kadang aku sendiri kagum, tapi juga takut.”
“Kamu pernah tes IQ-nya?”
“Belum. Aku takut hasilnya malah bikin dia terstigma. Anak genius itu nggak mudah, Om. Mereka sering kesepian, sulit bergaul dengan teman sebaya, kadang dianggap aneh oleh lingkungan. Aku ingin Arka bahagia dulu, bukan jadi anak ajaib yang dikurung ekspektasi orang lain.”
Reyhan terdiam lama, matanya menerawang. Lalu ia bergumam pelan, nyaris tak terdengar, “Aku tahu rasanya.”
Alya mengangkat wajah, menatap Reyhan dengan tatapan penuh tanya. Kata-kata itu terdengar begitu pribadi, seolah menyentuh bagian yang jarang ia tunjukkan. Tapi sebelum Alya sempat bertanya lebih lanjut, Arka sudah kembali dengan wajah segar dan rambut sedikit basah.
“Mama, aku mau nanya sesuatu,” kata Arka sambil duduk kembali.
“Apa, sayang?”
Arka melirik Reyhan sebentar, lalu berbisik meski bisikannya cukup keras untuk didengar semua orang, “Om Reyhan itu suami Mama kan?”
Alya mengangguk hati-hati, pipinya sedikit memanas. “Iya…”
“Terus kenapa dia nggak pernah peluk Mama? Atau pegang tangan Mama? Bukannya suami istri itu mesra?”
Alya hampir tersedak ludahnya sendiri. Reyhan membeku dengan sendok masih di tangannya, mata tajamnya melebar sedikit.
“Arka, itu” Alya mencoba memotong, suaranya gugup.
“Aku baca di buku psikologi keluarga,” lanjut Arka dengan nada serius dan logis seperti biasa, “kalau suami istri nggak ada kontak fisik, itu tandanya ada masalah dalam relasi. Atau salah satunya nggak suka sama yang lain. Secara ilmiah, sentuhan itu penting untuk oksitosin.”
Hening mencekam langsung menyelimuti meja makan. Alya merasakan pipinya panas, jantungnya berdegup kencang. Ia tak tahu harus menjawab apa tanpa membuat semuanya semakin canggung. Reyhan meletakkan sendoknya pelan, menatap Arka dengan ekspresi yang campur aduk antara geli, kesal, dan… gugup yang jarang terlihat.
“Arka,” panggil Reyhan dengan nada rendah tapi terkendali, “orang dewasa punya cara sendiri. Nggak semua harus persis seperti di buku.”
“Tapi secara biologis dan psikologis, manusia butuh sentuhan untuk merasa aman dan dicintai. Itu fakta ilmiah, Om,” jawab Arka polos tapi tegas.
Reyhan menatap Arka lebih lama. Lalu ia menghela napas panjang, berdiri dari kursinya, dan berjalan mendekati Alya. Alya menatapnya bingung, matanya melebar. “Om…”
Tanpa banyak kata, Reyhan mengulurkan tangannya tangan besar dengan jemari panjang dan telapak yang hangat di depan Alya. “Pegang,” katanya datar, seperti memberikan instruksi sederhana dalam rapat bisnis.
“…Apa?” Alya hampir tak percaya.
“Pegang tanganku. Biar anak ini nggak nanya terus.”
Alya terdiam sejenak, hatinya berdegup kencang seperti drum. Ini absurd. Ini hanya sandiwara kecil demi anaknya. Tapi… perlahan, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh telapak tangan Reyhan. Hangat. Telapak tangan pria itu besar, sedikit kasar di bagian ujung jari karena mungkin sering memegang pena atau keyboard, tapi sentuhannya lembut tak terlalu erat, tapi cukup untuk memberi rasa aman. Jemari Reyhan menutup pelan di atas tangan Alya. Alya merasakan kehangatan itu merayap ke dada, membuat napasnya sedikit tersendat. Ini hanya pura-pura. Ia tahu itu. Tapi kenapa rasanya begitu familiar, seperti sesuatu yang pernah hilang lama lalu?
Arka menatap tangan mereka dengan serius, lalu mengangguk puas seperti ilmuwan yang puas dengan eksperimen. “Oke. Sekarang lebih normal.”
Reyhan langsung melepaskan tangan Alya dengan cepat, seolah tersengat listrik kecil. Ia berbalik dan kembali duduk, tapi kali ini tablet-nya tak lagi menarik perhatiannya. Matanya melayang entah ke mana, pikirannya jelas sedang kacau. Alya menggenggam tangannya sendiri di bawah meja, masih merasakan sisa kehangatan yang baru saja hilang. Kenapa sentuhan sesederhana itu terasa begitu… mengganggu ketenangannya?
Siang harinya, setelah sarapan selesai, Reyhan mengurung diri lagi di ruang kerja seperti biasa. Alya membereskan dapur dengan tenang, sementara Arka duduk nyaman di sofa ruang keluarga dengan buku tebal di pangkuannya buku tentang astronomi yang ia pinjam dari perpustakaan umum minggu lalu. Alya duduk di sampingnya, melipat cucian sambil sesekali melirik anaknya yang terlalu serius membaca.
“Arka, kamu nggak capek baca buku terus?” tanya Alya lembut, suaranya penuh kasih.
“Nggak, Mama. Ini seru banget. Aku lagi baca tentang black hole. Ternyata gravitasinya bisa membelokkan cahaya. Keren kan?”
Alya tersenyum, hatinya hangat. “Kamu mau jadi astronom nanti?”
Arka berpikir sejenak, jarinya menelusuri gambar di buku. “Nggak tahu. Aku suka banyak hal. Mungkin nanti aku jadi ilmuwan multi-disiplin, kayak Leonardo da Vinci. Bisa ngerti seni sekaligus sains.”
Alya tertawa pelan bukan mengejek, tapi penuh kekaguman. Anaknya ini benar-benar luar biasa, dan ia akan melakukan apa saja agar Arka bisa berkembang tanpa tekanan.
Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka pelan. Reyhan keluar, mengenakan kacamata baca tipis yang membuatnya terlihat lebih intelektual dan… manusiawi. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil Segelas air putih, tapi langkahnya berhenti saat melihat buku yang Arka baca. “Itu buku kuliah,” komentarnya pelan.
Arka menoleh dengan mata berbinar. “Iya. Tapi bahasanya masih bisa aku pahami. Cuma bagian persamaan matematisnya yang masih agak susah.”
Reyhan berjalan lebih dekat, berdiri di belakang sofa, dan melirik halaman yang sedang dibaca Arka. “Kamu ngerti konsep event horizon?”
“Iya. Itu batas di mana cahaya nggak bisa kabur dari gravitasi black hole. Setelah melewati event horizon, apapun akan tertarik ke singularitas titik dengan densitas tak terbatas.”
Reyhan terdiam, benar-benar terkesan. Lalu ia duduk di sofa single di samping, melepas kacamatanya, dan menatap Arka dengan tatapan yang berbeda bukan sekadar penasaran, tapi kagum yang tulus. “Kamu belajar sendiri semua ini?”
“Iya. Dari buku, YouTube, dan artikel ilmiah yang Mama download-in buat aku.”
Reyhan melirik Alya sekilas. Wanita itu tersenyum tipis sambil terus melipat baju, tapi Reyhan bisa melihat kebanggaan yang bersinar di matanya. “Kamu suka sains?” tanya Reyhan pada Arka, suaranya lebih hangat.
“Suka banget. Tapi aku juga suka sastra, musik, dan sejarah. Aku nggak mau jadi orang yang cuma ngerti satu bidang. Itu membosankan.”
Reyhan tersenyum tipis sangat tipis, hampir tak terlihat. Tapi Alya melihatnya. Senyum pertama yang ia lihat dari pria ini. “Kamu… mengingatkanku sama diriku waktu kecil,” gumam Reyhan pelan, seperti bicara pada diri sendiri.
Alya membeku di tempatnya. Kata-kata itu terdengar begitu pribadi.
Arka mengangkat wajah, matanya penuh rasa ingin tahu. “Om Reyhan juga genius waktu kecil?”
Reyhan tidak langsung menjawab. Ia menatap jendela yang masih diguyur gerimis tipis, matanya menerawang jauh ke masa lalu. “Aku tidak bilang genius. Cuma… berbeda. Dan itu nggak mudah. Kadang rasanya sendirian di tengah keramaian.”
Arka mengangguk pelan, terlalu paham untuk anak seusianya. “Om kesepian waktu kecil ya?”
Reyhan terdiam lama. Lalu ia berdiri, mengambil gelas kosongnya. “Aku harus kembali kerja.”
Ia pergi meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab, dan dua pasang mata yang menatap punggungnya penuh tanda tanya. Alya menatap Arka lembut. “Jangan tanya yang terlalu personal, sayang. Biarkan Om Reyhan nyaman dulu.”
“Tapi aku cuma mau tahu, Mama. Dia kayaknya… sedih.”
Alya terdiam. Ia tak pernah berpikir Reyhan bisa terlihat sedih. Pria itu selalu tampak terlalu sempurna, terlalu terkontrol. Tapi mungkin Arka benar. Mungkin di balik topeng dingin dan profesional itu, ada luka lama yang tak pernah sembuh total.
Malam harinya, di kamar Alya dan Arka, anak kecil itu sudah tidur nyenyak dengan pelukan boneka robot lusuh di dadanya. Alya duduk di tepi ranjang, menatap wajah damai Arka di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Ia mengusap pipi anaknya lembut, hatinya penuh doa. Kamu terlalu pintar, sayang. Terlalu peka. Mama harap dunia tidak menyakitimu seperti yang Mama alami dulu.
Ponselnya bergetar pelan di nakas. Pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Alya membukanya.
[Nomor Tidak Dikenal]: Ini Reyhan. Besok Senin, aku ada urusan penting pagi-pagi. Kalau butuh sesuatu, hubungi Mbak Tari. Nomornya sudah aku simpan di kontak dapur.
Alya menatap pesan itu lama. Singkat, formal, tanpa emoji atau kata-kata manis. Tapi setidaknya… ia memberi tahu. Itu lebih dari yang ia harapkan dari pernikahan kontrak ini. Alya mengetik balasan sederhana: Baik. Terima kasih.
Tiga titik muncul di layar Reyhan sedang mengetik. Lalu menghilang. Tidak ada balasan lagi. Alya meletakkan ponselnya pelan, berbaring di samping Arka, dan menatap langit-langit kamar yang asing. Suami yang aneh, batinnya. Dingin, tapi perhatian. Jauh, tapi selalu memberi tahu. Tidak mencintai, tapi bertanggung jawab. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan menariknya ke dalam tidur yang damai.
Di kamar seberang, Reyhan duduk di tepi ranjangnya yang dingin, menatap layar ponsel dengan pesan terakhir dari Alya. Dua kata sederhana: Terima kasih. Tapi kenapa dadanya terasa hangat, seperti ada sesuatu yang lama hilang mulai kembali? Ia membuka folder foto lama lagi foto wanita dari enam tahun lalu, dengan senyum hangat yang pernah membuat dunianya berubah. Lalu membuka foto Alya yang diam-diam ia simpan.
Semakin lama ia menatap bergantian, semakin besar keraguan di benaknya. Senyum itu… mata itu… bahkan cara bicaranya. Siapa kamu sebenarnya, Alya Zahra? Dan kenapa hatiku yang sudah lama beku ini mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya?