Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: RAHASIA DI BALIK KACA CAMERA
Setelah berhasil menyelesaikan masalah kecil tentang kesalahan detail dalam adegan perjumpaan karakter utama, kini Rara (penulis muda yang sedang membuat cerita tentang dunia pararel) mulai merencanakan adegan kunci di bab ini.
Saat sedang mengetik di kafe favoritnya, tiba-tiba seorang pria misterius datang duduk di mejanya. Dia membawa sebuah buku tua dengan sampul yang sama persis dengan buku ajaib yang menjadi kunci di cerita Rara. Tanpa banyak bicara, pria itu berkata, "Kamu pikir hanya kamu yang tahu tentang dunia itu?"
Rara kaget dan mulai curiga—apakah cerita yang dia tulis benar-benar hanya imajinasi, atau ada hubungan dengan kenyataan yang belum dia ketahui? Sementara itu, di dunia cerita yang dia buat, karakter utama Dika mulai menemukan jejak rahasia yang mengungkapkan bahwa dirinya bukanlah orang pertama yang bisa berpindah antar dunia...
...Sementara itu, di dunia cerita yang dia buat, karakter utama Dika mulai menemukan jejak rahasia yang mengungkapkan bahwa dirinya bukanlah orang pertama yang bisa berpindah antar dunia.
Di dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik patung tua di istana kerajaan, Dika menemukan sebuah lemari besi yang terkunci dengan simbol yang sama seperti pada kalung yang selalu dia bawa. Setelah berusaha membukanya dengan kekuatan yang muncul dari dalam dirinya, lemari itu perlahan terbuka—menunjukkan tumpukan surat tua yang tertulis dengan tangan kasar.
Salah satu surat yang paling jelas terbaca berisi catatan seorang wanita bernama Lia, yang hidup ratusan tahun yang lalu. "Saya bukan satu-satunya yang bisa merasakan getaran dunia lain. Jika kamu menemukan surat ini, berarti kamu adalah penerusnya. Hati-hati dengan mereka yang ingin menguasai pintu antar dunia—mereka tidak akan ragu menggunakan siapapun untuk mencapai tujuan itu," demikian isi suratnya.
Dika merasa dada nya terasa sesak. Semua ini waktu ini dia berpikir dirinya berbeda karena kelainan yang dia miliki, tapi ternyata ada sejarah yang jauh lebih dalam di balik kemampuannya. Saat dia hendak mengambil surat lain, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Dia cepat-cepat menyembunyikan lemari dan mencari tempat untuk bersembunyi—tahu bahwa orang yang datang tidak akan baik untuknya.
Sementara itu di dunia nyata, Rara masih tercengang mendengar kata-kata pria misterius itu. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rara dengan suara sedikit gemetar. Pria itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Seseorang yang pernah seperti kamu—yang berpikir cerita yang mereka buat hanyalah khayalan belaka. Tapi sekarang, kamu harus memilih: melanjutkan menulis dan menghadapi konsekuensinya, atau berhenti sebelum terlambat."
Rara melihat buku tua yang ada di mejanya, lalu melihat layar laptopnya yang masih menampilkan draft bab 7 cerita nya. Kata-kata pria itu membuatnya merenung, tapi di dalam hatinya sudah muncul keputusan—dia akan terus menulis, dan mencari tahu apa hubungan sebenarnya antara dirinya, cerita yang dia buat, dan pria misterius ini.
Setelah berhasil menyelesaikan masalah kecil tentang kesalahan detail dalam adegan perjumpaan karakter utama—dimana awalnya Rara salah menggambarkan warna mata karakter pendukung tapi langsung diperbaiki setelah melihat catatan risetnya—kini Rara (penulis muda yang sedang membuat cerita tentang dunia pararel) mulai merencanakan adegan kunci di bab ini.
Hari itu cuaca di Surabaya sedikit mendung, dengan angin sepoi-sepoi yang masuk ke dalam kafe favoritnya bernama "Kopi Kenangan". Tempat ini selalu jadi tempatnya buat menulis karena suasananya yang tenang dan ada banyak buku lama yang bisa jadi referensi. Rara duduk di sudut pojok yang dekat dengan jendela, meletakkan laptop, buku catatan, dan gelas kopi susu yang masih menghangatkan di mejanya. Tangan nya meluncur cepat di atas keyboard, menuliskan setiap ide yang muncul dengan cepat.
Tiba-tiba saja, seorang pria misterius datang mendekat dan tanpa izin langsung duduk di kursi depan nya. Pria itu mengenakan jas hitam tua dengan topi fedora yang menutupi sebagian wajahnya, tapi mata nya yang tajam seperti bisa membaca pikiran Rara. Dia membawa sebuah buku tua dengan sampul kulit yang sudah mengelupas, warna coklat kehitaman dengan simbol bintang delapan yang sama persis dengan buku ajaib yang menjadi kunci utama dalam cerita Rara. Tanpa banyak bicara, pria itu menaruh buku nya di mejanya dan berkata dengan suara dalam yang sedikit menggema, "Kamu pikir hanya kamu yang tahu tentang dunia itu?"
Rara kaget hingga tangan nya hampir menjatuhkan gelas kopinya. Jantung nya berdebar kencang dan badan nya sedikit menggigil. "Siapa kamu? Dan bagaimana kamu bisa punya buku yang sama dengan yang ada di cerita ku?" tanya Rara dengan suara sedikit gemetar tapi tetap berusaha tegas. Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu membuka halaman pertama buku nya. Di situ tertera tulisan tangan yang sama dengan tulisan di buku dalam cerita nya: "Dunia tidak hanya satu, dan mereka yang bisa berpindah adalah penjaga keseimbangan atau pemusnah dunia itu sendiri."
Sementara itu, di dunia cerita yang dia buat, karakter utama Dika sedang berada di hutan misterius yang dikenal sebagai "Hutan Awan Terbalik"—tempat dimana langit terlihat seperti berada di bawah tanah dan bintang-bintang bersinar terang di malam hari yang tidak pernah datang. Setelah berhasil melewati rintangan makhluk halus yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang punya hati yang murni, Dika akhirnya menemukan jejak rahasia yang mengungkapkan bahwa dirinya bukanlah orang pertama yang bisa berpindah antar dunia.
Di dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik patung naga tua yang berdiri kokoh di tengah istana kerajaan yang sudah sepi ratusan tahun, Dika menemukan sebuah lemari besi besar yang terkunci dengan gembok besi yang memiliki simbol bintang delapan sama seperti pada kalung yang selalu dia bawa dari kecil. Tanpa tahu darimana datangnya kekuatan itu, tangannya secara otomatis mengeluarkan kalung nya dan menyentuh gembok tersebut. Sebelum dia menyadari, cahaya keemasan menyala terang dan gembok itu terbuka dengan suara "kresek" yang menusuk telinga.
Lemari itu perlahan terbuka—menunjukkan tumpukan surat tua yang tertulis dengan tangan kasar, beberapa buku catatan, dan sebuah peta kuno yang menggambarkan semua dunia pararel yang ada. Salah satu surat yang paling jelas terbaca berisi catatan seorang wanita bernama Lia, yang hidup ratusan tahun yang lalu dan ternyata adalah nenek buyut dari keluarga Dika. "Saya bukan satu-satunya yang bisa merasakan getaran dunia lain. Jika kamu menemukan surat ini, berarti kamu adalah penerusnya. Hati-hati dengan mereka yang ingin menguasai pintu antar dunia—mereka tidak akan ragu menggunakan siapapun untuk mencapai tujuan itu," demikian isi suratnya. Di bagian bawah surat juga tertulis daftar nama orang-orang yang pernah menjadi penerus kekuatan itu, dan nama terakhir sebelum Dika adalah... Rara—nama yang sama persis dengan penulisnya di dunia nyata!
Dika merasa dada nya terasa sesak dan kepalanya seperti akan meledak karena kejutannya. Semua ini waktu ini dia berpikir dirinya berbeda karena kelainan yang dia miliki, tapi ternyata ada sejarah yang jauh lebih dalam di balik kemampuannya. Saat dia hendak mengambil surat lain yang tampaknya berisi rahasia besar tentang cara mengontrol pintu antar dunia, suara langkah kaki berat terdengar dari luar ruangan—diikuti dengan suara teriakan makhluk yang menyeramkan. Dia cepat-cepat menyembunyikan lemari dan mencari tempat untuk bersembunyi di balik rak buku tua yang tinggi, tahu bahwa orang yang datang tidak akan baik untuknya.
Kembali ke dunia nyata, Rara masih tercengang mendengar kata-kata pria misterius itu. Pria itu mulai menceritakan bahwa dunia pararel yang dia tulis bukanlah imajinasi belaka—melainkan dunia yang benar-benar ada dan dia sendiri adalah salah satu penjaga pintu antar dunia yang telah lama hilang. "Kamu lupa bukan? Saat kamu masih kecil, kamu pernah melihat dunia lain melalui jendela kamar mu kan? Kamu bahkan pernah berbicara dengan seorang anak laki-laki bernama Dika di situ," ujar pria itu sambil melihat mata Rara yang mulai menunjukkan tanda-tanda ingatan yang lama terpendam.
Rara merasa kepalanya berputar dan ada kilas balik tentang masa kecilnya—saat dia masih tinggal di rumah nenek nya di desa, dia sering bermain dengan seorang anak laki-laki yang selalu datang dari balik pohon beringin tua di halaman belakang. Anak itu selalu bercerita tentang dunia yang berbeda, dengan istana megah dan makhluk ajaib. Tapi setelah nenek nya meninggal dan dia pindah ke kota, ingatan itu perlahan hilang dan dia mengira itu hanya mimpi atau khayalan anak-anak.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rara lagi, kali ini suara nya sudah lebih tenang karena mulai mengingat sesuatu. Pria itu menarik topi nya dan menunjukkan wajahnya yang ternyata memiliki bekas luka khas yang sama dengan karakter pendukung dalam cerita nya yang bernama Pak Joko—penjaga pintu antar dunia yang selalu membantu Dika. "Aku adalah Pak Joko yang kamu tulis di cerita mu. Di dunia nyata aku memang penjaga pintu, dan kini waktunya kamu kembali menjalankan tugas mu sebagai penerusnya. Jika kamu tidak melanjutkan cerita nya dan menemukan cara untuk menutup pintu antar dunia yang mulai terbuka secara tidak terkendali, kedua dunia akan hancur!"
Rara melihat buku tua yang ada di mejanya, lalu melihat layar laptop nya yang masih menampilkan draft bab 7 cerita nya. Kata-kata Pak Joko membuatnya merenung dalam waktu yang lama. Di satu sisi dia takut dengan keselamatan dirinya dan orang-orang terkasih, tapi di sisi lain dia merasa ada panggilan hati yang kuat untuk terus menulis dan menyelamatkan kedua dunia tersebut. Akhirnya dia mengambil keputusan—dia akan terus menulis cerita nya dengan sepenuh hati, dan bersama Pak Joko serta Dika di dunia cerita nya, mereka akan mencari tahu cara untuk menutup pintu antar dunia dan menghentikan musuh yang ingin menguasainya.
Saat itu juga, layar laptop nya tiba-tiba menyala terang dan ada pesan yang muncul dari dalam cerita nya—pesan dari Dika yang berkata, "Aku tahu kamu bisa melihat ini. Mari kita bekerja sama menyelamatkan dunia kita berdua!" Dengan tangan yang kini sudah tidak lagi gemetar, Rara mulai mengetik lagi, melanjutkan cerita yang ternyata bukan hanya sekadar tulisan—melainkan nyawa bagi dua dunia yang terhubung erat satu sama lain.