Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Di Dalam Goa
Tak berselang lama mereka tiba di mulut goa. Wanita ular itu masuk tanpa ragu, tubuhnya yang besar dengan mudah melewati pintu goa yang cukup lebar. Xu Hao mengikuti dari belakang, langkahnya mantap meskipun hatinya bergejolak.
Mereka melewati lorong-lorong yang berbelok-belok. Dinding goa dipenuhi kristal-kristal kecil yang memancarkan cahaya redup, menerangi jalan setapak. Semakin ke dalam, udara semakin hangat dan lembab. Aroma bunga samar-samar tercium, bercampur dengan aroma khas ular yang tidak terlalu menyengat.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah ruangan besar. Ruangan ini sangat luas, mencapai ratusan meter persegi. Langit-langitnya tinggi, dihiasi stalaktit yang memancarkan cahaya keemasan. Dinding-dindingnya ditutupi lumut bercahaya yang membuat seluruh ruangan terang meskipun tidak ada sumber cahaya langsung.
Namun yang paling menarik perhatian Xu Hao adalah di tengah ruangan.
Sebuah ranjang besar terbentuk dari bunga-bunga indah yang entah bagaimana bisa tumbuh di tempat seperti ini. Bunga-bunga itu berwarna putih dan ungu, kelopaknya lembut dan mengeluarkan aroma menenangkan. Di sekeliling ranjang, cahaya penerangan bersinar terang namun lembut, menciptakan suasana yang begitu damai.
Dan di atas ranjang itu, terbaring sesosok tubuh.
Xu Hao berhenti. Matanya bergetar. Kakinya melangkah perlahan, mendekati ranjang itu. Dadanya terasa sangat sesak, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya.
Ia terus menatap sosok itu.
Seorang wanita berbaring dalam tidur panjang. Rambutnya hitam panjang terurai di atas bantal bunga. Wajahnya cantik, begitu cantik, dengan alis halus dan bibir tipis yang sedikit terbuka. Ia mengenakan gaun ungu yang sama seperti yang dikenakannya ribuan tahun lalu saat menghilang menjadi partikel cahaya.
Tubuhnya sedikit redup, tidak sepenuhnya solid. Ini hanya pecahan jiwa, bukan tubuh fisik. Tapi bagi Xu Hao, itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup.
Xu Hao akhirnya sampai di pinggir ranjang. Lututnya lemas. Ia berlutut di samping ranjang itu, tangannya terulur gemetar.
Jari-jarinya menyentuh wajah itu.
Dingin. Lembut. Seperti menyentuh kabut tipis yang hampir menghilang. Tapi dia ada. Dia benar-benar ada.
Air mata mengalir di pipi Xu Hao. Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, ia menangis. Bukan tangis histeris, tapi tangis sunyi yang keluar dari lubuk jiwa yang paling dalam. Bahagia, sedih, haru, semuanya bercampur menjadi satu.
"Xue'er..."
Suaranya serak, hampir tidak terdengar.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Ia mengelus pipi Lianxue dengan lembut, seolah takut pecahan jiwa itu akan hancur jika disentuh terlalu keras. Matanya menatap setiap inci wajah itu, mengingat kembali setiap detail yang sudah ribuan tahun ia pendam dalam ingatannya.
Waktu berlalu. Xu Hao tidak tahu berapa lama ia berlutut di sana, hanya menatap wajah kekasihnya. Mungkin beberapa menit. Mungkin beberapa jam. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, hatinya terasa sedikit tenang.
Akhirnya ia menghela nafas panjang. Ia menatap wanita ular yang sejak tadi diam mengamati dari kejauhan.
"Aku akan membawanya."
Wanita ular itu mendekat perlahan. Matanya yang emas menatap pecahan jiwa di atas ranjang, lalu beralih ke Xu Hao. Ekspresinya rumit.
"Sepertinya orang itu adalah orang yang sangat berharga bagimu," katanya lembut. "Sebenarnya tidak masalah jika kau ingin membawanya."
Ia berhenti, lalu memiringkan kepalanya.
"Tapi... untuk apa?"
Xu Hao mengerutkan kening.
Wanita ular itu melanjutkan, "Dia tidak bisa dihidupkan lagi. Itu hanya sedikit pecahan jiwa. Bukan jiwa utuh. Hanya pecahan kecil yang entah bagaimana bisa bertahan. Tidak lebih dari itu."
Xu Hao terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya seperti ribuan pisau. Tapi ia tidak bisa menerimanya. Ia tidak akan menerimanya.
Ia menekan perasaan itu, lalu bertanya, "Bagaimana kau bisa mendapatkan pecahan jiwa ini?"
Wanita ular itu menyentuh dagunya, berpikir keras untuk mengingat. Matanya menerawang, mencoba menggali ingatan yang sudah lama tersimpan.
"Kalau tidak salah ingatanku yang sering lupa ini," katanya perlahan, "enam ribu tahun lalu aku menemukannya di dekat gerbang keluar menuju Alam Dua. Waktu itu aku sedang berburu di sekitar area itu. Tiba-tiba ada celah dimensi terbuka, dan pecahan jiwa ini melayang keluar. Aku mengambilnya, membawanya pulang, dan merawatnya di sini."
Ia menatap Lianxue dengan tatapan aneh.
"Aku tidak tahu penyebab pecahan jiwanya bisa ada di dekat gerbang itu. Tapi yang pasti, dia bukan dari jurang ini. Dia datang dari suatu tempat di luar."
Xu Hao terdiam beberapa saat. Pikirannya bekerja cepat.
Enam ribu tahun lalu. Itu tepat setelah pertempuran besar di Wilayah Selatan. Setelah Lianxue mengorbankan dirinya. Jika pecahan jiwanya muncul di dekat gerbang menuju Alam Dua, itu berarti ada kekuatan yang membawanya ke sini. Kekuatan yang sengaja atau tidak sengaja memindahkan pecahan jiwa ini.
Mungkin ini ada kaitannya dengan dewa-dewa di Alam Surgawi. Mereka yang mengatur takdir, yang memberikan kesengsaraan, yang memainkan kehidupan makhluk hidup sesuka hati. Jika benar mereka yang bertanggung jawab atas semua ini, maka mereka harus membayar segala perbuatannya. Ribuan kali lipat.
Xu Hao menatap Lianxue lagi. Dalam hatinya, ia berjanji.
"Xue'er... Kita pasti akan bersama lagi. Ini janjiku padamu!"
Perlahan, Xu Hao mengulurkan kedua tangannya. Ia mengangkat pecahan jiwa Lianxue dengan sangat hati-hati, seolah mengangkat sesuatu yang paling berharga di seluruh alam semesta. Tubuh Lianxue yang redup itu terasa ringan, hampir tidak berbobot.
Xu Hao memejamkan mata. Ia menarik pecahan jiwa itu ke dalam kesadarannya.
Di dalam kesadaran Xu Hao, sebuah dunia luas terbentang. Langitnya berwarna ungu, dengan awan-awan emas melayang lambat. Di tengah dunia itu, Xu Hao mulai menciptakan sesuatu.
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya. Energi ilahi mengalir deras dari tubuhnya, masuk ke dalam kesadaran. Di sana, energi itu membentuk fondasi.
Sebuah ranjang mulai terbentuk. Ranjang itu besar, mewah, terbuat dari kristal transparan yang memancarkan cahaya hangat. Di sekeliling ranjang, Xu Hao menciptakan bunga-bunga ungu. Bunga itu tumbuh subur, mekar dengan indah, menyebarkan aroma yang menenangkan.
Ia menciptakan lapisan energi ilahi murni di sekitar ranjang, membentuk semacam kubah pelindung. Di dalam kubah itu, udara terasa hangat dan damai. Tidak ada gangguan yang bisa masuk. Hanya kedamaian abadi.
Untuk menciptakan semua ini, Xu Hao mengorbankan sesuatu yang sangat berharga.
Empat bintang kultivasinya.
Di dunia luar, tubuh Xu Hao tiba-tiba pucat pasi. Darah mengalir deras dari bibirnya, membasahi dagu dan lehernya. Tubuhnya bergetar hebat, lututnya hampir rubuh ke lantai. Kultivasinya yang tadinya Dewa Bumi bintang sepuluh, turun drastis ke bintang enam. Empat bintang lenyap dalam sekejap.
Wanita ular itu menatap dengan mata membelalak. Ia melihat Xu Hao berjuang, melihat pengorbanan yang dilakukan pria ini hanya untuk sebuah pecahan jiwa. Rasa kagum bercampur dengan rasa bersalah menyelinap di hatinya. Sebelumnya ia sempat berbuat intim pada pria ini, menggoda, menggigit bibirnya, mendekatinya dengan niat buruk. Dan pria ini ternyata setulus ini?
Di dalam kesadaran, Xu Hao selesai. Ia menatap hasil ciptaannya dengan puas. Ranjang itu indah, melebihi apa pun yang pernah ia lihat. Dan di atas ranjang itu, Lianxue terbaring damai, lebih tenang dari sebelumnya.
Xu Hao mendekat. Ia menunduk, mencium pipi Lianxue dengan lembut. Bibirnya menyentuh kulit dingin itu, dan untuk sesaat, ia merasakan kehangatan.
"Xue'er," bisiknya pelan. "Tunggulah. Aku akan mencari cara untuk membangkitkan mu. Aku tidak akan menyerah. Tidak akan pernah."
Ia berdiri, masih menatap wajah itu.
"Aku pergi."
Kemudian ia menghilang dari kesadarannya.
Di dunia luar, Xu Hao membuka matanya.
Begitu matanya terbuka, tubuhnya langsung rubuh. Lututnya menghantam tanah keras dengan bunyi keras. Darah masih mengalir dari bibirnya, membasahi jubah hitamnya.
Napasnya berat, dadanya naik turun dengan cepat. Mengorbankan empat bintang kultivasi dalam satu waktu bukanlah hal yang mudah. Tubuhnya hampir tidak bisa untuk digerakkan.
Namun Xu Hao tidak berhenti. Dengan sisa tenaganya, ia mengeluarkan empat pil dari cincin penyimpanan. Pil-pil itu berwarna emas dan perak, memancarkan cahaya hangat. Dua pil untuk memperbaiki fondasi kultivasi, dua pil untuk memulihkan jiwa. Semua ini diambilnya dari cincin penyimpanan mayat-mayat musuh yang ia bunuh dalam perjalanan menuju Kota Changyuan.
Xu Hao menelan keempat pil itu sekaligus. Ia langsung duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai bermeditasi.
Energi pil menyebar ke seluruh tubuhnya. Hangat, menyembuhkan. Dantiannya yang hampir kering mulai terisi lagi. Pohon willow di dalamnya yang tadinya layu, perlahan mulai bangkit. Daun-daun kecil tumbuh di ranting-ranting yang sempat mengering.
Wanita ular itu hanya mengamati. Ia duduk di kejauhan, tidak mengganggu. Matanya terus tertuju pada Xu Hao, memperhatikan setiap perubahan. Kadang-kadang ia tersenyum kecil, kadang-kadang ia menghela nafas.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"