NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tarian yang Terselip Cahaya

Setelah sarapan, Sari berdiri di belakang Heras yang duduk di kursi roda besi hitamnya, lalu mulai mendorongnya perlahan keluar dari kantin dan menuju keluar dari markas. Mereka berencana berkeliling kota—tidak hanya untuk menyegarkan tubuh dan mental, tapi juga melakukan patroli untuk meningkatkan keamanan dari ancaman monster. Heras duduk dengan tegap, tangannya selalu dekat dada tempat sumber energi luminar berada, sesekali menggeser bantal di belakang punggungnya agar lebih nyaman. Sari mendorong dengan tangan yang kuat namun lembut, sesekali menyesuaikan arah saat melewati rintangan kecil di jalan.

Mereka melewati sebuah bangunan besar bertingkat tiga dengan dinding putih pudar dan jendela luas—kantor pemerintahan lokal yang sudah mulai ramai dengan pekerja yang masuk. Tidak jauh dari situ, sebuah sekolah kanak-kanak berdiri dengan pagar besi kuning cerah. Di halaman depan, ayunan, jungkat-jungkit, dan rumah kayu berjejer rapi. Beberapa anak kecil dengan seragam putih-biru berkumpul di gerbang, tertawa riang sambil mengangkat tas bentuk hewan lucu. Sari mengangguk ramah kepada guru yang menyambut siswa, sementara Heras hanya tersenyum lembut melihat keceriaan mereka.

Lalu mereka melintas melewati Rumah Sakit Umum Kota dengan taman bunga di depan pintu masuk. Papan namanya sudah mulai pudar, tapi masih terbaca jelas. Dinding luar berwarna biru muda dengan jendela berkerudung tirai putih. Heras berhenti sejenak, matanya menatap pintu masuk dengan ekspresi melamun. "Sari, tolong berhenti sebentar ya," katanya dengan suara pelan.

Sari segera menghentikan kursi roda dan berdiri di sisinya. Heras menatap taman bunga di depan rumah sakit dengan mata yang penuh kagum—ketika ia dirawat di sana beberapa waktu lalu karena kelelahan ekstrem saat baru belajar mengendalikan energi luminar, ia hanya bisa terbaring di kamar selama beberapa hari dan tidak pernah punya kesempatan untuk keluar melihat sekeliling rumah sakit. Ia melihat kolam kecil di sudut taman yang bentuknya sama dengan taman yang mereka tuju, dan di sekelilingnya tumbuh bunga mawar merah dan putih yang sedang mekar subur.

"Waktu itu aku hanya bisa mendengar suara burung dari jendela kamar perawatan," ujarnya dengan suara yang sedikit bersemangat, sambil mengacu ke arah taman yang indah itu. "Teman perawat bilang ada taman yang cantik di sini, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melihatnya langsung. Lihat saja Sari, bunga-bunganya benar-benar cantik ya? Udara di sini juga sangat segar, sama seperti yang aku bayangkan dulu!"

Sari kembali berdiri di belakangnya dan melanjutkan mendorong kursi roda. Mereka sampai di sebuah taman asri—rerumputan hijau menyebar seperti karpet alami, dihiasi bunga warna-warni. Pohon-pohon besar memberikan teduh, kolam kecil berkilau di tengah, dan bangku-bangku kayu tersebar di sekelilingnya. Burung berkicau riang, dan angin membawa aroma segar dari tanah lembap dan bunga mawar.

Sari mendorong kursi rodanya ke salah satu bangku di bawah pohon besar, lalu duduk bersebelahan untuk beristirahat bersama.

Suasana jadi canggung karena Heras yang diam saja, matanya menatap jauh sambil menggerakkan jari-jarinya yang memegang pegangan kursi roda—dia sedang memikirkan cara menghemat energi luminar. Sari melihatnya dengan ragu, beberapa kali ingin bicara tapi akhirnya menutup mulutnya lagi. Akhirnya dia menepuk bahu Heras lembut. "Heras, kenapa kau diam terus dari tadi? Kau sedang galau, ya?"

Lamunan Heras terpecah. "Maaf, Sari. Aku hanya bingung apakah bisa berubah jadi luminar hanya dalam wujud kakinya saja. Takut bentuk itu gagal dan malah—"

"Kenapa tidak dicoba saja?" Sari memotongnya dengan santai, sedikit tersenyum. "Kau pernah lakukan itu kan? Saat berlatih sama Rian. Aku yakin kamu pasti berhasil!"

Heras berpikir lama, alisnya mengerut. Setelah beberapa saat dia menghela nafas dan memutuskan untuk mencoba.

Setelah energi luminar menyelimuti kedua kakinya hingga membentuk wujud putih kemilau dengan aksen garis hitam yang tajam, Heras menatapnya dengan pandangan penuh harap. Ia perlahan mengangkat satu kaki, seperti seorang penari yang akan memulai tarian pertamanya—gerakannya lambat, namun penuh keanggunan yang tersembunyi.

Kakinya menyentuh rerumputan yang lembut seperti kain halus, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasakan sensasi tanah yang menyentuh bagian bawah tubuhnya. Dia mencoba melangkah, langkahnya awalnya seperti alunan musik yang belum teratur—goyah dan sedikit tidak seimbang, tapi setiap gerakan membawa irama baru yang semakin jelas. Ia mulai berjalan, lalu perlahan berlari kecil-kecil, bayangannya bergerak seperti nyala api yang lembut di atas rerumputan hijau.

Kadang ia melompat ringan, cahaya pada kakinya bersinar seperti bintang yang turun ke bumi. Saat tersandung oleh akar pohon yang tidak terlihat, ia menahan diri dengan pose yang sedikit goyah—seolah sedang menangkap irama yang hilang sejenak, sebelum kembali menemukan ritme dan berdiri tegak lagi. Cahaya pada kakinya berkilau mengikuti setiap gerakan, seperti air yang mengalir atau kain yang bergoyang lembut di angin.

Setelah cukup puas mencoba, Heras menghirup napas dalam-dalam lalu fokuskan perhatiannya pada kedua kakinya yang masih dalam wujud luminar. Sebuah cahaya putih lembut mulai menyebar dari bagian bawah tubuhnya, menyala terang sejenak sebelum perlahan-lahan mulai redup. Dengan gerakan yang hati-hati, ia lepaskan aliran energi luminar yang ada di kakinya—cahaya perlahan menghilang, dan kedua kakinya kembali ke bentuk semula seperti biasanya. Ia terdiam sejenak untuk merasakan sensasi pada kakinya, lalu dengan ekspresi lega kembali duduk nyaman di kursi rodanya.

Sari berdiri di belakangnya lagi untuk mendorongnya pergi ke kedai makan terdekat. Seperti biasa, Heras langsung memesan porsi besar sekali—dua piring nasi goreng dengan telur mata sapi, satu porsi ayam bakar, dan segelas jus alpukat besar. Dia makan dengan lahap, tangannya bergerak cepat antara piring dan mulut, bibirnya terkadang terkena nasi dan saus tanpa dia sadari. Sari hanya tersenyum hangat sambil menyaksikannya, sambil menikmati mie ayamnya sendiri yang jauh lebih sedikit porsinya.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!