Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Serangan Cahaya
Energi luminar di kedua kakinya meledak seperti ledakan terkendali, mengeluarkan suara gemuruh yang menggema di seluruh kawasan perumahan Enam B. Tanpa ragu, Heras meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa—lebih cepat dari yang pernah ia capai dengan transformasi penuh tubuhnya. Udara menerpa wajahnya dengan kuat, membuat rambut hitamnya yang pendek bergerak liar, tapi pandangannya tetap fokus tajam ke arah lautan monster yang menghancurkan segalanya di depannya.
Kaki yang berselimut cahaya keperakan menekan tanah dengan keras setiap kali ia melangkah, meninggalkan bekas jejak cahaya yang sementara di permukaan aspal yang sudah retak. Dalam sekejap, ia sudah berada di tengah jalanan utama, dan sebelum monster-monster ikan teri bisa bereaksi, ia melompat tinggi ke udara dengan kekuatan yang luar biasa. Suara angin yang terdengar seperti desisan keras menyertai gerakannya, sementara tubuhnya yang masih dalam bentuk aslinya—kecuali kedua kakinya—mulai berputar dengan cepat seperti topan yang berputar.
Tanpa bantuan suara panduan dari Luminar yang sudah lama tidak berbicara, Heras mengandalkan seluruh pelatihan yang ia lakukan sendiri dan teknik baru yang dipelajari dari Rian kemarin. Ia memutar tubuhnya dengan gesit saat masih berada di udara, membuat kedua kakinya yang bersinar terang menghadap langsung ke gerombolan monster yang sedang bergerak menuju rumah-rumah di sisi jalan. Dengan kekuatan yang terkumpul dari seluruh otot punggung dan betisnya, ia menghantamkan kedua kaki itu ke tengah kelompok monster yang paling padat.
BAM! Suara benturan yang keras mengguncang udara, disertai percikan cahaya putih keperakan yang menyilaukan. Satu monster ikan teri dengan tubuh ramping langsung terlempar beberapa meter jauhnya, tubuhnya yang berlapis sisik pecah berantakan dan mengeluarkan suara menggelegak sebelum menjadi puing-puing yang tidak bergerak lagi.
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
Heras tidak berhenti di situ. Segera setelah kaki-kakinya menyentuh tubuh monster itu, ia melakukan gerakan salto mundur yang cepat dan anggun, mendarat dengan kaki yang kokoh di atas permukaan jalan yang sudah penuh dengan lendir dan bekas kerusuhan. Ia menoleh ke belakang dengan cepat, melihat tiga monster lain yang sudah mengepungnya dari sisi kanan, kiri, dan depan.
"Teknik Sepihak Keliling yang aku pelajari dari Rian kemarin… harus berhasil kali ini," bisiknya dengan suara penuh konsentrasi, sambil menggeser posisi tubuhnya agar siap menghadapi serangan dari segala arah. Ia ingat betul bagaimana Rian mengajarkannya teknik itu dengan susah payah kemarin di ruang latihan bawah tanah—berlari dengan kecepatan tinggi sambil berputar mengelilingi musuh, menyerang dengan tendangan putar yang tidak terduga. Kekuatan yang ia gunakan saat ini memang relatif lemah karena hanya menyatukan energi di bagian kaki saja, tapi ia tahu bahwa setiap gerakan yang tepat akan membuat perbedaan besar.
Tanpa menunggu monster-monster itu menyerang terlebih dahulu, Heras melesat ke arah yang paling banyak monster berkumpul. Kakinya yang dalam bentuk Luminar memancarkan kilatan cahaya yang semakin terang, sementara energi di dadanya mengalir deras untuk mendukung gerakan cepat yang ia lakukan. Ia berlari dengan kecepatan yang membuat bayangannya tampak seperti sosok cahaya yang bergerak liar, mengelilingi kelompok monster yang terdiri dari sekitar dua puluh ekor.
Setiap kali ia berputar mengelilingi mereka, ia memberikan tendangan cepat dengan satu atau kedua kakinya. SWISH! Suara gesekan udara terdengar setiap kali kaki-kakinya menyentuh tubuh monster, disertai dengan suara sisik yang pecah dan lendir yang melesat ke segala arah.
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
Merasa ada perubahan pada kekuatannya, Heras menyentuh dadanya dengan lembut dan memusatkan pikiran untuk melihat progresnya. Segera setelah ia berniat, jendela status muncul hanya dalam kesadaran dirinya. Setelah melihatnya, ia kembali fokus ke medan perang, sambil merasakan aliran kekuatan baru yang mengalir melalui tubuhnya.
[Notifikasi Sistem: EXP telah mencapai batas maksimal untuk Level 10!]
[Notifikasi Sistem: Level Naik! Sekarang Level 11]
[Notifikasi Sistem: Semua atribut Luminar bertambah 3 poin!]
Rasanya seperti ada tenaga baru yang menyebar ke seluruh tubuhnya saat level naik. Meskipun hanya menggunakan penyatuan di kaki saja, ia merasakan bahwa setiap gerakan menjadi lebih lancar dan kekuatan tendangan menjadi lebih besar. Ia melompat lagi ke udara, kali ini melakukan putaran tiga putaran penuh sebelum menghantamkan kedua kakinya ke arah empat monster yang sedang mencoba melarikan diri ke arah gang kecil.
CRASH! Monster-monster itu terjatuh ke tanah dengan keras, tubuh mereka tidak bisa lagi bergerak.
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
[Notifikasi Sistem: Monster Ikan Teri berhasil dikalahkan – EXP +10 poin]
Namun, jumlah monster yang datang terus bertambah dari arah selokan besar di ujung perumahan. Mereka keluar seperti aliran air yang tak pernah berhenti, membuat Heras merasa bahwa meskipun ia sudah berhasil mengalahkan puluhan monster, masih ada banyak lagi yang harus dihadapi. Energinya sudah mulai berkurang, tapi tekadnya tidak pernah goyah.
Ia melihat ke arah rumah yang masih berdiri di dekatnya, di mana ada seorang wanita dengan anak kecil yang sedang bersembunyi di balik meja kayu yang terbalik. Monster-monster itu sudah mulai mendekati arah mereka, dan Heras tahu bahwa ia harus bertindak cepat.
"Demi kota ini… dan untuk semua orang yang tinggal di sini… aku tidak akan menyerah!" teriaknya dengan suara yang kuat dan jelas, membuat beberapa monster berhenti sejenak sebelum kembali menyerang. Cahaya di dadanya mulai bersinar lebih terang dari biasanya, sementara energi Luminar di kakinya membentuk lapisan tambahan yang lebih tebal dan kuat meskipun hanya menyatu di bagian kaki saja. Dengan semangat yang baru muncul setelah naik level, Heras melesat lagi ke tengah gerombolan monster, siap menghadapi tantangan yang lebih besar. Teknik Sepihak Keliling yang ia pelajari dari Rian kini semakin lancar dan efektif, membuatnya bisa mengalahkan lebih banyak monster dalam waktu yang lebih singkat.