NovelToon NovelToon
Hatimu Milik Siapa?

Hatimu Milik Siapa?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.

Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.

​Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.

"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"

Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)

Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Asing di Rumah Sendiri

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden, mengenai wajah Tania yang masih terpejam. Biasanya, sebelum alarm berbunyi pukul lima pagi, Tania sudah berada di dapur. Ia akan berkutat dengan wajan, menata bekal, dan memastikan kemeja Rey sudah licin tanpa cela.

​Tapi pagi ini, suara alarm dibiarkannya menjerit sampai berhenti sendiri. Tania membuka mata, menatap langit-langit kamar yang putih dan luas. Dadanya masih terasa nyeri mengingat pesan dari Bianca semalam.

​Di sisi tempat tidur sebelah kanan, Rey sudah terbangun. Tania bisa mendengar suara gesekan kain saat suaminya itu duduk di tepi ranjang.

Biasanya, Tania akan segera bangun dan bertanya, "Tidurmu nyenyak, Mas?"—panggilan yang dulu sering ia gunakan sebelum akhirnya ia merasa tak layak memanggilnya begitu lagi.

​Hari ini, Tania memilih tetap berbaring, memunggungi suaminya.

​"Tan?" suara Rey terdengar serak khas orang bangun tidur.

​Tania diam. Ia memejamkan mata kuat-kuat.

​"Tania, kemeja biru aku di mana? Kok nggak ada di gantungan?" Rey bertanya lagi, kali ini dengan nada sedikit menuntut.

​Tania bangkit perlahan. Ia tidak menoleh ke arah Rey. Ia langsung melangkah menuju kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

​"Tania? Aku tanya, kamu denger nggak?" Rey mengernyit, tangannya tertahan di udara saat hendak meraih handuk.

​Tania berhenti di depan pintu kamar mandi. Ia menoleh sedikit, hanya dengan ujung matanya.

"Cari sendiri, Rey. Kamu punya tangan dan mata, kan?"

Pintu kamar mandi tertutup dengan suara debuman pelan, meninggalkan Rey yang mematung dengan wajah bingung. Selama tiga tahun, tidak pernah sekalipun Tania menjawabnya dengan nada sedingin itu.

​Sambil membiarkan air pancuran membasahi tubuhnya, pikiran Tania melayang ke empat tahun lalu. Saat itu, dunianya baru saja hancur. Ayah Tania meninggal mendadak karena serangan jantung, meninggalkan tumpukan hutang usaha yang tidak sedikit. Keluarga Tania berada di titik terendah.

​Di pemakaman yang diguyur hujan, Rey datang bersama Mama Ratna. Rey yang saat itu baru saja "ditinggal" oleh Bianca karena wanita itu harus mengikuti keluarganya ke luar negeri, tampil sebagai sosok penyelamat.

​"Jangan khawatir soal hutang Ayahmu, Tan. Aku akan urus semuanya. Ibuku ingin kita menikah, dan aku rasa... itu keputusan yang terbaik buat kita berdua," ucap Rey saat itu.

​Saat itu, Rey tidak sedingin ini. Matanya memang terlihat hampa karena kehilangan Bianca, tapi dia memperlakukan Tania dengan sangat sopan. Tania yang masih berusia 22 tahun, merasa Rey adalah pahlawan yang dikirim Tuhan. Dia pikir, meskipun mereka menikah karena perjodohan dan situasi darurat, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.

Tania teringat malam pertama mereka. Rey menatapnya dengan lembut meski ada jarak yang lebar di antara mereka. "Maaf kalau aku belum bisa memberikan hati aku sepenuhnya, Tania. Tapi aku janji, aku bakalan jadi suami yang bertanggung jawab."

​Tania tersenyum saat itu, menggenggam tangan Rey dengan tulus. "Aku akan tunggu sampai hati itu jadi milikku sepenuhnya, Rey."

​Ternyata, tiga tahun adalah waktu yang lama untuk sebuah penantian yang sia-sia. Janji "bertanggung jawab" bagi Rey ternyata hanya soal finansial, bukan soal kehadiran jiwa.

​Tania keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di rambutnya. Ia melihat Rey masih berdiri di depan lemari yang berantakan. Kaus kaki berserakan di lantai, dan kemeja-kemeja yang sudah disetrika rapi kini menjadi kacau karena ditarik-tarik asal oleh suaminya itu.

​"Tania! Kamu lihat nggak kemeja biru yang aku maksud?" Rey bertanya dengan nada tinggi. Dia mulai frustrasi.

​Tania duduk di depan meja rias, mulai mengoleskan pelembap di wajahnya dengan tenang. "Di laci bawah. Kalau nggak ada, berarti belum dicuci."

​"Kok belum dicuci? Biasanya kan selalu siap!" Rey berjalan mendekat, berdiri di belakang kursi Tania. "Kamu kenapa sih dari tadi pagi? Sakit?"

​Tania menatap pantulan Rey di cermin. Pria itu tampak tampan, tapi asing. "Aku nggak sakit. Aku cuma capek."

​"Capek kenapa? Kan ada asisten rumah tangga yang bantu bersihin rumah? Kamu cuma tinggal nyiapin keperluan aku doang, masa capek?"

​Tania meletakkan botol pelembap nya dengan suara brak yang cukup keras. Ia berbalik, menatap Rey tepat di manik matanya.

​"Nyiapin keperluan kamu itu butuh hati, Rey. Dan hati aku sekarang lagi istirahat," ucap Tania datar.

​"Ini soal semalam lagi? Soal Bianca? Kan aku udah bilang itu cuma nggak sengaja ketemu!" Rey membela diri, suaranya naik satu oktav.

​Tania tertawa sinis. "Nggak sengaja ketemu sampai dia tahu nomor telepon aku dan kirim pesan pamer kalau kamu beliin dia tas? Rey, aku mungkin sayang sama kamu, tapi aku nggak bego."

​"Dia cuma salah kirim, Tania! Jangan kekanak-kanakan!"

​"Iya, aku memang kekanak-kanakan," Tania berdiri, merapikan jubah mandinya.

"Makanya, mulai hari ini, urus semua keperluan kamu sendiri. Biar orang dewasa kayak kamu nggak perlu repot-repot sama istri yang 'dramatis' ini."

​Tania melangkah pergi menuju ruang pakaian (walk-in closet). Rey ingin mengejar, tapi ponselnya di atas nakas bergetar. Sebuah nama muncul di sana: Bianca.

​Rey melirik ponselnya, lalu melirik pintu tempat Tania menghilang. Dia tampak bimbang sejenak, walaupun begitu akhirnya Rey justru memilih meraih ponselnya dan menjauh dari sana untuk mengangkat telepon tersebut.

​Tania, yang sebenarnya masih berdiri di balik pintu, mendengar suara suaminya yang tiba-tiba melunak saat menjawab telepon.

​"Iya, Bianca? Kenapa? Kamu tenang dulu..."

​Tania memejamkan mata. Benar. Lirik lagu itu bergema di kepalanya. Jujurlah, hatimu milik dia...

​Tanpa air mata lagi, Tania segera memakai baju kerjanya. Dia berdandan lebih cantik dari biasanya. Lipstik merah yang jarang ia pakai kini menghiasi bibirnya. Dia tidak akan lagi menjadi istri yang menunggu di rumah dengan mata sembab.

​Saat keluar kamar, Rey berpapasan dengan Tania di koridor. Rey menatapnya heran, melihat perubahan penampilan Tania yang mencolok. Biasanya Tania hanya memakai riasan tipis.

​"Mau ke mana?" tanya Rey, matanya mengikuti gerak-gerik Tania.

​Tania terus berjalan. Dia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah suaminya. Wangi parfum Tania yang elegan melewati hidung Rey, tapi Tania seolah-olah melewati sebuah tiang listrik. Dia tidak peduli lagi.

​"Tania! Aku nanya, kamu mau ke mana?" Rey mencoba menarik lengan Tania.

​Tania melepaskan tangannya dengan sekali sentakan. "Bukan urusan kamu."

​Tania terus melangkah menuruni tangga, meninggalkan Rey yang kini merasakan dadanya sedikit berdenyut aneh. Ada rasa kehilangan yang mulai menyusup, tapi egonya masih terlalu besar untuk mengakuinya.

​Di bawah, Tania langsung keluar rumah dan masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggunya. Dia akan menemui Maya, dan mungkin... dia akan membalas pesan Adrian yang sudah seminggu ini ia abaikan.

1
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
cari masalah baru kalian berdua
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
tania makin bersinar, kamu mah apa atuh rey🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
arus biang kerok🥲
lgian ngpain dia ngurus harta orang🙄
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
Adrian emang pling ngerti si tania🤭
🧡⃟ʏᴇ ʜͫᴀᷲᴏʀᴀɴ⁴
rey sama bianca nmbah mslh
aris juga ngpain ikutan juga🫣
🧡⃟ʏᴇ ʜͫᴀᷲᴏʀᴀɴ⁴
semangat tania
tunjuka. kamu bisa lebih sukses
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
Bianca berulah lagi
padahal udh dihukum 3tahun penjara msh ajaa kurang kayanya
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
untung ada Adrian yang hendeell semuanya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢ ᴛɪɴɢ ʀᴜɪ
Aris pengacau🙄🙄🙄🙄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢ ᴛɪɴɢ ʀᴜɪ
terima Iklas apa yang terjadi rey, ga perlu malu apa minder
❤️⃟Wᵃfᴍᷟᴀᷰxᷟɪᷰᴀᴏʏᴜ
rey kamu gali kuburmu sndri
❤️⃟Wᵃfᴍᷟᴀᷰxᷟɪᷰᴀᴏʏᴜ
tania keren iih🤗
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
msh bnyk jln lain rey
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
yeee tania sukses bnget🤗
🧡⃟αмᷫєᷤℓιαηтι
semoga semua berjalan dengan lancar iya
🧡⃟αмᷫєᷤℓιαηтι
dlu Bianca bangga smaa mukanya bisa jerat orang" kaya, skrng semua hancur🥳
ѕ⍣⃝✰ѕнєη нᷟαᷴσᷟηᷴαη
nah ayo ambil semua tania
ѕ⍣⃝✰ѕнєη нᷟαᷴσᷟηᷴαη
semangat tania🤗
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
jngan takut Tania
rey dibutakan uang 60miliar
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
tania makin cemerlang iya karirnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!