Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kesetiaan di Lembah Kelam
Andromeda Sirius Jhon adalah seorang alkemis kegelapan; ia tahu bahwa baja sekeras apa pun akan retak jika diberikan tekanan pada titik yang tepat. Baginya, titik terlemah dalam benteng pertahanan Adam Al-Fatih bukanlah pada sistem keamanannya, melainkan pada orang-orang terdekatnya. Dan target utamanya adalah Reza, asisten setia yang telah mendampingi Adam sejak mereka masih merintis bisnis dari sebuah gudang kecil di pinggiran Jakarta.
Sirius Jhon memulai operasinya dengan sangat halus. Suatu malam, saat Reza baru saja meninggalkan rumah sakit dengan wajah lelah, sebuah limusin hitam mencegatnya di area parkir yang sepi. Dua pria berbadan tegap membukakan pintu, dan di dalamnya, Sirius Jhon duduk dengan segelas minuman mahal di tangannya.
"Masuklah, Reza. Kita perlu bicara tentang masa depanmu yang terbuang sia-sia," suara Sirius terdengar seperti desisan ular yang merdu.
Reza, yang biasanya sangat waspada, merasa ragu sejenak. Namun, rasa ingin tahu dan kelelahan mental akibat serangan bertubi-tubi terhadap Al-Fatih Group membuatnya melangkah masuk. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Sirius mulai menebar racunnya.
"Berapa Adam membayarmu, Reza? Sepuluh juta? Seratus juta sebulan? Itu hanya recehan dibandingkan dengan risiko nyawa yang kau hadapi setiap hari," Sirius menyodorkan sebuah koper perak. Saat dibuka, isinya adalah tumpukan uang tunai dalam mata uang Dollar Amerika dan sertifikat kepemilikan saham di sebuah perusahaan cangkang di Swiss. "Aku tahu ibumu butuh operasi ginjal di luar negeri. Aku tahu kau bosan menjadi bayang-bayang pria 'suci' yang sebenarnya sedang hancur itu. Bergabunglah denganku. Berikan aku kunci akses ke server utama cadangan dana Al-Fatih, dan kau bisa pensiun dengan tenang di Eropa besok pagi."
Selama beberapa hari berikutnya, Reza mengalami gejolak batin yang luar biasa. Iblis di telinganya terus membisikkan kemudahan hidup yang ditawarkan Sirius, sementara nuraninya menjeritkan kenangan tentang Adam. Ia teringat bagaimana Adam memberikan modal pertama untuk pengobatan keluarganya tanpa pernah meminta ganti. Ia teringat bagaimana Adam, pria perkasa yang kini sedang hancur di depan pintu ICU, selalu memperlakukannya sebagai saudara, bukan sekadar bawahan.
Namun, tekanan Sirius semakin gila. Sirius mulai mengirimkan foto-foto keluarga Reza yang sedang diikuti oleh orang-orang suruhannya. "Satu klik, Reza. Hanya satu kode akses, dan keluargamu selamat. Jika tidak, kau akan melihat mereka hancur bersama Adam," ancam Sirius lewat pesan singkat.
Puncaknya terjadi malam itu. Adam, dengan tubuh yang nampak lebih kurus namun otot-ototnya tetap menegang karena amarah, memanggil Reza ke ruangan kecil di samping ICU. Adam meletakkan tangannya yang besar dan hangat di bahu Reza.
"Rez, aku tahu kau sedang ditekan. Aku tahu Sirius mencoba mendekatimu," suara Adam rendah, penuh luka namun tetap berwibawa. "Jika kau merasa tidak sanggup lagi, pergilah. Ambil apa pun yang kau butuhkan dari brankas kantorku. Aku tidak akan membencimu. Kau sudah memberiku lebih dari sekadar loyalitas selama ini."
Kalimat itu menghujam jantung Reza lebih dalam daripada ancaman Sirius. Adam, di titik terendahnya, masih memikirkan keselamatan asistennya. Adam yang atletis dan gagah itu kini nampak begitu rapuh secara emosional, namun keagungan jiwanya tetap tak tertandingi.
Malam itu, Reza menemui Sirius Jhon di sebuah dermaga pribadi di Jakarta Utara. Ia membawa sebuah flashdisk hitam. Sirius tersenyum puas, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Pilihan yang cerdas, Reza. Selamat datang di sisi pemenang," ujar Sirius sambil mengulurkan tangan untuk mengambil flashdisk itu.
Namun, Reza tidak memberikan benda itu. Ia justru meremasnya hingga hancur di depan mata Sirius. Ia melangkah maju, menatap langsung ke mata dingin sang predator.
"Tuan Sirius," suara Reza bergetar oleh kemarahan yang tertahan. "Anda mungkin punya uang untuk membeli dunia, tapi Anda tidak punya cukup uang untuk membeli satu detik pun kesetiaan saya kepada Adam Al-Fatih. Saya hampir tergoda, itu benar. Tapi melihat Adam yang tetap berdiri tegak demi istrinya meski dunia mencoba merobohkannya, membuat saya sadar... pria seperti Anda hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik tumpukan kertas berharga."
Sirius Jhon terpaku. Wajahnya memerah karena murka. "Kau telah memilih kematianmu sendiri, Reza!"
"Mungkin," jawab Reza tenang. "Tapi saya akan mati sebagai manusia, bukan sebagai anjing peliharaan Anda."
Tiba-tiba, lampu sorot dari beberapa mobil SUV menyala dari kegelapan dermaga. Adam Al-Fatih melangkah keluar, diikuti oleh tim keamanan bersenjata lengkap. Di sampingnya, Isabelle berdiri dengan laptop terbuka, menunjukkan bahwa ia telah berhasil melacak lokasi Sirius melalui sinyal ponsel yang dikirimkan ke Reza.
Adam berjalan mendekat dengan langkah yang berat dan mengintimidasi. Postur tubuhnya yang atletis dan tinggi besar nampak seperti raksasa di bawah lampu dermaga. Ia berdiri tepat di depan Sirius Jhon.
"Permainan selesai, Sirius," geram Adam. Suaranya seperti guntur yang tertahan. "Kau mencoba meracuni istriku, kau mencoba menyuap saudaraku. Kau pikir kau sangat kuat karena kau punya elit di pihakmu? Kau lupa, penguasa langit tidak pernah butuh elit untuk menghancurkan iblis sepertimu."
Sirius Jhon mencoba mundur, namun ia sudah terkepung. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang manipulator ulung itu merasakan ketakutan yang nyata. Ia melihat di depan matanya bukan lagi Adam sang pengusaha yang lembut, tapi Adam Al-Fatih sang pejuang yang siap menghancurkan apa pun demi melindungi kehormatannya.
Reza berdiri di samping Adam, kembali ke posisinya yang semula. Kesetiaannya kini telah teruji oleh api, dan ia tahu, selama ia berdiri di belakang Adam, tak ada badai yang mampu menumbangkannya. Perang fisik baru saja akan dimulai, namun di medan kesetiaan, Adam Al-Fatih telah memenangkan pertempuran paling krusial.