NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri dulu Balik Senyum

Simbol mata merah yang terukir di kaca jendela itu perlahan memudar, meninggalkan bau anyir yang menusuk hidung. Lauren masih terduduk lemas di kursinya, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga memutih. Di luar, lolongan anjing pelan-pelan lenyap, digantikan oleh kesunyian malam yang jauh lebih mengintimidasi.

Mereka tidak main-main, batin Lauren. Keringat dingin merembes di keningnya. Ancaman itu bukan lagi sekadar bisikan di telinga, melainkan peringatan visual yang nyata di wilayah pribadinya.

Lauren melirik laptop yang masih menyala di meja. Pendar birunya memantul di mata Lauren yang lelah. Ia tahu Herza benar; mendekati Banyu adalah cara tercepat untuk memicu ledakan. Namun, ia tidak bisa berhenti. Rasa ingin tahu itu kini bercampur dengan insting protektif. Jika Banyu benar-benar wadah yang sedang disiapkan, Lauren harus tahu apa yang ada di dalam kotak itu sebelum Sang Arsitek membukanya.

Dengan tangan gemetar, Lauren mulai mengetik. Ia memasukkan nama lengkap yang ia lihat di daftar absensi kelas tadi siang: Banyu Danuarta.

Satu per satu hasil pencarian muncul. Lauren melewati unggahan-unggahan umum tentang prestasi sekolah Banyu yang biasa saja. Ia menggali lebih dalam, masuk ke forum-forum berita lokal daerah asal Banyu di Jawa Tengah. Herza muncul di sampingnya, pendar peraknya tampak gelisah.

"Apa yang kamu cari, Lauren? Sudah kukatakan, menjauhlah," bisik Herza.

"Aku perlu tahu siapa yang sedang kuhadapi, Herza. Bukan hanya entitas di punggungnya, tapi manusianya," jawab Lauren tanpa menoleh.

Halaman demi halaman ia telusuri hingga ia menemukan sebuah arsip digital berita tahunan dari sebuah surat kabar lokal yang hampir bangkrut. Judulnya membuat Lauren berhenti bernapas sejenak: Tragedi Keluarga Danuarta: Tiga Generasi Tewas dalam Semalam.

Lauren membaca dengan cepat. Berita itu bertanggal sepuluh tahun yang lalu. Disebutkan bahwa kakek, nenek, dan paman Banyu ditemukan tewas di dalam ruang bawah tanah rumah mereka. Tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik, tidak ada gas beracun, tidak ada jejak perampokan. Tim medis menyatakan mereka meninggal karena gagal jantung serentak.

"Gagal jantung serentak? Itu tidak masuk akal," gumam Lauren.

Ia menggeser kursor ke bawah, menemukan foto buram lokasi kejadian. Di sana, di dinding ruang bawah tanah yang gelap, Lauren mengenali sebuah simbol yang diambil oleh kamera polisi. Simbol lingkaran dengan mata api di tengahnya. Simbol yang sama dengan medalinya. Simbol yang sama yang tadi muncul di jendelanya.

"Herza, lihat ini," Lauren menunjuk layar.

Herza mendekat, wajah arwahnya berubah ngeri.

"Itu bukan gagal jantung. Itu pengosongan energi secara paksa. Mereka digunakan sebagai tumbal untuk menjaga sesuatu tetap hidup. Dan lihat tanggalnya, Lauren. Itu terjadi tepat saat gerhana bulan merah sepuluh tahun lalu."

Lauren menutup laptopnya dengan hentakan keras. Ruangan kembali menjadi gelap, hanya menyisakan pendar merah tipis dari medali di balik pakaiannya. Ia menyadari bahwa Banyu adalah satu-satunya yang selamat dari garis keturunannya. Pemuda itu bukan hanya membawa kegelapan; ia adalah sisa-sisa dari sebuah persembahan yang gagal atau mungkin baru saja dimulai.

***

Tiga hari kemudian, suasana di SMA Garuda terasa lebih berat bagi Lauren. Awan mendung seolah enggan beranjak dari langit sekolah. Lauren mendapati Banyu sedang berdiri di koridor lantai dua yang sepi, menatap ke arah lapangan basket yang basah karena sisa hujan.

Lauren melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti menapak di atas duri. Kehadiran Banyu menciptakan resonansi yang membuat medalinya bergetar terus-menerus.

"Berita lama itu cukup menarik untuk dibaca, bukan?" suara Banyu terdengar sebelum Lauren sempat membuka mulut.

Lauren terhenti. Banyu berbalik, matanya yang gelap tampak lebih cekung dari biasanya. Ada rona kelelahan yang sangat dalam di wajahnya.

"Kamu mencariku di internet," tebak Banyu. Ia menyandarkan punggungnya ke pagar balkon, melipat tangan di dada.

"Aku hanya ingin tahu kenapa mereka sangat menginginkanmu, Banyu," jawab Lauren jujur.

"Kenapa keluargamu... kenapa mereka semua pergi?"

Ekspresi Banyu mengeras. Ketenangan yang biasanya ia tunjukkan retak sejenak, memperlihatkan kemarahan yang tertahan di bawah permukaan.

"Ada hal-hal yang lebih baik tetap terkubur di bawah tanah, Lauren. Mencampuri urusanku hanya akan membuatmu ikut terseret ke lubang yang sama."

"Aku sudah ada di lubang itu sejak lahir!" seru Lauren, suaranya bergema di koridor yang sunyi.

"Lihat aku, Banyu. Aku tidak bicara karena rasa kasihan. Aku bicara karena aku tahu rasanya diikuti oleh sesuatu yang ingin memakan jiwamu."

Banyu menatap Lauren lama, seolah sedang mencoba menembus dinding pertahanan gadis itu. Sesaat, Lauren melihat kilasan kesedihan yang murni di mata Banyu.

"Mereka tidak meninggal karena sakit, kan?" desak Lauren.

"Simbol di rumahmu sepuluh tahun lalu... itu ada hubungannya dengan apa yang menempel di punggungmu sekarang."

Banyu mengepalkan tangannya.

"Cukup, Lauren. Kamu tidak tahu apa-apa. Ayahku membawaku pindah ke sini untuk melupakan semuanya. Dia pikir dengan menjauh dari tanah leluhur, mereka akan berhenti mengikuti. Tapi dia salah. Semakin kita lari, jaringnya semakin kencang melilit."

"Banyu, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi malam itu," Lauren melangkah maju satu tahap lagi, mencoba meraih tangan Banyu.

"Jangan sentuh aku!" Banyu membentak, mundur selangkah.

"Setiap kali kamu mendekat, kepalaku rasanya mau meledak. Kekuatanmu... itu seperti pisau yang mengiris batin keduaku. Jika kamu memang peduli, menjauhlah dariku."

Banyu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Lauren sendirian di koridor yang mendadak terasa sangat dingin. Herza muncul di sampingnya, menatap punggung Banyu dengan tatapan sedih.

"Dia tahu, Lauren. Dia tahu dia adalah bom waktu," kata Herza pelan.

"Tapi dia tidak harus menghadapinya sendiri," Lauren membalas, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Beberapa kutukan memang dirancang untuk dipikul sendirian," sahut Herza.

Lauren menyandarkan kepalanya di pagar balkon. Ia merasa sangat tidak berdaya. Ia memiliki kekuatan yang besar, namun ia tidak bisa menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak ingin diselamatkan. Saat ia memejamkan mata, Lauren mulai merasakan getaran di udara. Bukan getaran medali, tapi getaran suara yang halus, seperti gesekan kain sutra di lantai kayu yang tua.

Bisikan itu datang lagi. Kali ini bukan dari luar jendela, melainkan seolah-olah berasal dari dinding sekolah itu sendiri.

Darah murni bertemu darah hitam...

Lauren mengangkat kepalanya, matanya menyapu koridor. Tidak ada siapa-siapa. Namun bisikan itu semakin jelas, ribuan suara yang tumpang tindih menjadi satu dengungan yang memuakkan.

Jaring telah terpasang, pintu telah ditemukan...

"Herza, kamu dengar itu?" tanya Lauren panik.

Herza tidak menjawab. Arwah itu tampak membeku, pendar tubuhnya berfluktuasi hebat menjadi warna kelabu yang mati. Ia menatap ke ujung koridor, ke tempat Banyu baru saja menghilang.

Suara itu kini berubah menjadi satu suara tunggal yang berat, suara yang Lauren kenali sebagai suara Sang Arsitek yang pernah ia dengar di loteng rumahnya.

Garis keturunan terkutuk tidak akan pernah bisa putus, Lauren. Pemuda itu adalah persembahan terakhir kami. Dan kamu... kamu adalah undangan yang sudah kami kirim sejak lama.

Lauren merasakan tanah di bawah kakinya seolah menghilang. Ia mencengkeram pagar balkon, berusaha menjaga keseimbangannya. Di ujung koridor, bayangan hitam besar mulai merayap keluar dari sela-sela pintu kelas, membentuk siluet tangan-tangan raksasa yang mencoba menjangkau ke arahnya.

"Lauren! Lari!" Herza akhirnya berteriak, suaranya pecah oleh ketakutan yang luar biasa.

Lauren mencoba bergerak, namun kakinya terasa seperti terpaku di lantai. Bayangan itu terus mendekat, membawa aroma kematian yang sama dengan yang ia baca di berita keluarga Danuarta tadi malam. Di tengah kepanikan itu, Lauren menyadari satu hal yang lebih mengerikan: bukan dia yang sedang diburu saat ini.

Bayangan-bayangan itu tidak mengarah padanya. Mereka mengalir melewati Lauren, mengejar Banyu yang sedang berjalan menuju pintu keluar sekolah.

Ritualnya sudah dimulai, bisik kegelapan itu di telinganya.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!