Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak dalam Bayang-bayang
“Mereka bergerak lebih cepat dari yang kukira,” bisik Tuan Aris sambil mematikan lampu ruangan agar mereka tidak menjadi sasaran dari luar. “Isaac, bawa Luna ke pintu belakang lewat jalur pelayan. Aku akan menahan mereka di sini sebentar.”
“Tidak!” seru Luna. “Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan diri setelah kau menyimpan rahasia ini begitu lama untuk ayahku.”
“Luna, dengarkan aku!” Tuan Aris mencengkeram bahu Luna. “Data di tanganmu itu satu-satunya senjata kita. Jika kau tertangkap, perjuangan ayahmu akan sia-sia. Pergi!”
Isaac menatap Tuan Aris dalam gelap. Ada rasa hormat yang tulus di antara mereka. Ia tahu ini bukan waktunya berdebat. Ia menyambar laptop dan flashdisk, lalu menarik Luna menuju lorong sempit di belakang perpustakaan.
Dari luar terdengar pintu depan dihantam keras. Beberapa pria berpakaian taktis hitam merangsek masuk ke dalam rumah.
“Di lantai dua!” teriak salah satu dari mereka.
Isaac dan Luna berlari menuruni tangga kayu yang berderit. Detak jantung Luna menggema di telinganya, namun genggaman tangan Isaac memberinya keberanian. Mereka tiba di dapur tua yang terhubung ke pintu belakang. Saat Isaac membuka pintu, dua pria sudah menghadang.
“Berhenti di situ, Tuan Muda Waren,” ujar salah satu dari mereka. “Serahkan benda itu, dan istrimu akan aman.”
Isaac mendorong Luna ke belakang punggungnya. “Aku tidak percaya pada janji orang-orang yang merusak hidup keluarga kami.”
Dengan gerakan cepat, Isaac menendang meja kayu hingga terguling, menciptakan penghalang sementara. Ia melempar botol kaca dari rak dapur untuk mengacaukan perhatian mereka.
“Ke garasi, Luna! Sekarang!” teriaknya.
Luna berlari tanpa menoleh. Di garasi, ia masuk ke kursi pengemudi SUV milik Isaac dan menyalakan mesin dengan tangan gemetar. Isaac melompat masuk ke kursi penumpang tepat saat suara tembakan terdengar menghantam bagian belakang mobil.
“Injak gasnya!”
Mobil itu menerobos pintu garasi kayu dan melesat ke jalan raya yang sepi. Di kaca spion, rumah masa kecil Luna semakin menjauh—bersama Tuan Aris yang masih tertinggal di dalamnya.
“Kita tidak bisa kembali ke apartemen,” ujar Isaac sambil memeriksa goresan di lengannya. “Mereka pasti menunggu di sana.”
“Aku tahu tempat yang aman,” jawab Luna. “Vila tua milik kakekku di lereng gunung. Tidak pernah terdaftar atas nama keluarga Waren.”
Mereka melaju menembus malam. Flashdisk itu tergeletak di dasbor—kecil, namun memuat kebenaran yang bisa mengguncang banyak pihak.
Vila itu sunyi dan dingin, lama tak dihuni. Isaac mengunci pintu dan menutup tirai. Luna terduduk di sofa usang, tubuhnya gemetar hebat.
“Luna, lihat aku,” ujar Isaac sambil berlutut di hadapannya. “Kita aman. Untuk sementara.”
Luna menatapnya dengan mata kosong. “Ayahmu membiarkan semua ini terjadi. Bagaimana aku bisa melihat wajahmu tanpa mengingat keluargamu menghancurkan keluargaku?”
Isaac menunduk. “Aku tidak meminta kau melupakan. Tapi biarkan aku menebusnya. Biarkan aku berdiri di sisimu, bahkan jika itu berarti aku harus menjatuhkan ayahku sendiri.”
Ia membuka laptop dan mulai menyiapkan koneksi terenkripsi.
“Kita tidak bisa langsung menyebarkan data ini,” jelas Isaac. “Mereka bisa menghapusnya dan melacak lokasi kita.”
“Lalu?” tanya Luna, kini kembali tegar.
“Ada protokol darurat dalam flashdisk ini. Server independen di luar negeri. Tapi saat pengiriman dimulai, sinyal kita akan terdeteksi.”
“Artinya mereka akan tahu kita di sini.”
Isaac mengangguk. “Kita punya waktu sekitar tiga puluh menit.”
Luna meletakkan tangannya di atas tangan Isaac. “Lakukan. Aku tidak mau hidup dalam pelarian selamanya.”
Isaac menekan tombol Enter.
[PROSES PENGIRIMAN DATA: 1%]
Ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya menegang—Tuan Waren.
Ia mengangkat panggilan dan menyalakan pengeras suara.
“Isaac… kau membuat kesalahan besar,” suara ayahnya terdengar tenang. “Matikan pengiriman itu. Aku bisa memastikan kalian hidup nyaman di luar negeri.”
Isaac menatap Luna sebelum menjawab. “Kami tidak ingin hidup nyaman di atas kebohongan. Dan Luna tidak akan pernah sendirian menghadapi ini.”
Ia mematikan panggilan dan menghancurkan ponselnya.
[PROSES PENGIRIMAN DATA: 15%]
Di kejauhan terdengar suara baling-baling helikopter mendekat.
“Mereka datang,” bisik Isaac, menarik napas dalam. Ia mengambil besi pengait perapian—satu-satunya benda yang bisa ia gunakan untuk bertahan. “Tetap di belakangku. Apa pun yang terjadi, jangan hentikan prosesnya.”
Di luar, cahaya sorot mulai menyapu dinding vila tua itu.
Perjuangan mereka kini bukan lagi tentang membongkar masa lalu—tetapi tentang bertahan cukup lama agar kebenaran bisa melihat cahaya.