Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pulas.
Malam semakin larut di apartemen mewah yang didominasi warna monokrom itu. Suara rintik hujan yang menghantam jendela kaca setinggi langit-langit menjadi satu-satunya melodi yang menemani keheningan di ruang tengah.
Nana tengah melihat anatomi saraf di tablet Aska, itu bukan ia yang gambar, jadi ia cuman melihat. Sementara Aska duduk tak jauh darinya, tenggelam dalam tumpukan berkas perkara barunya tentang kasus pembunuhan seorang tokoh politik.
Nana merasa matanya mulai memberat. Kelelahan setelah berbulan-bulan dikejar deadline naskah, ditambah ketegangan emosional menghadapi Aska, akhirnya menagih upahnya. Tanpa sadar, kepala Nana terkulai ke bantalan sofa kulit yang empuk. Tablet grafisnya perlahan merosot dari pangkuannya, tertahan oleh lipatan pakaiannya.
Aska menutup map dokumennya dengan desahan berat. Ia melirik jam dinding digital yang menunjukkan pukul 00.45. "Nana, sudah terlalu malam. Aku akan mengantarmu pu—"
Kalimat Aska terhenti di udara. Ia menoleh dan mendapati gadis itu sudah berkelana jauh ke alam mimpi. Nana tertidur dengan posisi yang sedikit meringkuk, napasnya teratur dan halus. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini tergerai sebagian, menutupi pipinya yang masih menyisakan rona kemerahan setelah bekerja keras di dapur tadi.
Aska berdiri, melangkah mendekat dengan ragu. Awalnya, ia berniat membangunkan Nana dengan ketukan pelan di bahu. Namun, saat melihat betapa pulasnya Nana, seolah beban dunia yang ia pikul selama ini menghilang saat ia memejamkan mata, tangan Aska tertahan. Ada rasa tidak tega yang mendadak menusuk egonya yang keras.
"Kau benar-benar ceroboh," gumam Aska dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Aska memperhatikan posisi tidur Nana. Sofa itu memang panjang, tapi permukaannya licin. Nana yang tidurnya sedikit gelisah mulai bergeser ke pinggir. Aska membayangkan jika ia meninggalkan Nana di sana, gadis itu pasti akan berakhir jatuh ke lantai granit yang dingin hanya dengan satu gerakan kecil.
Tanpa kesadaran penuh akan apa yang ia lakukan, Aska membungkuk. Ia menyelipkan satu lengannya di bawah leher Nana dan lengan lainnya di bawah lutut gadis itu. Saat ia mengangkat tubuh Nana, Aska sedikit terkejut betapa ringannya beban yang ia bawa. Apakah dia sesedikit itu makan akhir-akhir ini? pikir Aska dengan kening berkerut.
Harum sampo stroberi yang manis dari rambut Nana menyeruak, sangat kontras dengan parfum kayu cendana milik Aska yang maskulin. Aska membawa Nana menuju kamar tamu yang terletak di lorong sebelah kanan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, lebih hati-hati daripada saat ia menangani bukti perkara yang paling rapuh, Aska meletakkan Nana di atas ranjang yang sejuk. Ia menarik selimut hingga sebatas dada Nana, memastikan gadis itu tidak kedinginan.
Aska berdiri di tepi ranjang sejenak, menatap wajah Nana di bawah temaram lampu tidur. Di sini, tanpa perdebatan naskah atau formalitas kontrak, Nana terlihat sangat rapuh. Aska menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang mulai melampaui batas profesionalitasnya. Ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar secara perlahan, hampir tanpa suara.
Kembali ke ruang tamu, Aska melihat ponsel Nana yang tertinggal di atas meja kopi. Layarnya tiba-tiba menyala, memecah kegelapan ruangan. Notifikasi terus bermunculan, cahayanya memantul di mata Aska.
Meskipun ia adalah seorang pengacara yang sangat menjunjung tinggi privasi dan etika, rasa penasaran yang aneh merayap di benaknya. Ia mengambil ponsel itu. Jarinya ragu di atas layar. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin memastikan tidak ada panggilan darurat dari bapaknya di desa.
Aska menggeser layar yang ternyata tidak terkunci. Alih-alih pesan rahasia atau foto dengan pria lain (yang diam-diam ia khawatirkan adalah Gani), layar utama ponsel Nana hanya dipenuhi oleh deretan notifikasi dari aplikasi online shop.
“Paket sedang dikemas: Tablet Pen Nib (10 pcs)”
“Promo diskon 70% alat lukis cat air.”
“Pengingat: Bayar tagihan internet Anda.”
Aska mendengus, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di bibirnya. "Dasar budak korporat kreatif," gumamnya. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya kehidupan sederhana seorang gadis yang sedang berjuang meniti karier dan menabung untuk S2-nya. Aska meletakkan ponsel itu kembali, merasa sedikit konyol karena sempat merasa waswas.
***
Pagi harinya, cahaya matahari yang cerah menembus celah gorden kamar tamu, mengenai tepat di kelopak mata Nana. Ia mengerang pelan, mengucek matanya, dan meregangkan otot-tubuhnya yang terasa sangat rileks. Namun, saat ia menyadari tekstur sprei yang ia sentuh terasa terlalu halus dan wangi ruangan yang terasa sangat... mahal, mata Nana langsung membelalak lebar.
Ia duduk tegak dengan jantung berdebum kencang. Ini bukan kamar apartemennya yang sempit. Ini bukan kamarnya yang penuh dengan tumpukan kertas dan kabel.
"Oh, Tuhan... aku ketiduran?" Nana menepuk jidatnya dengan keras.
Ingatannya kembali ke semalam. Ia sedang di sofa, lalu ... kosong. Ia tidak ingat pernah berjalan masuk ke kamar ini. Nana menatap dirinya sendiri; pakaiannya masih utuh, tapi ia berada di dalam selimut. Hanya ada satu penjelasan logis, dan penjelasan itu membuat wajah Nana mendidih karena malu. Aska memindahkannya. Aska, pengacara paling kaku sejagat raya, telah menggendongnya masuk ke kamar.
Nana panik. Ia merasa sangat bodoh dan ceroboh. Bagaimana mungkin seorang gadis bisa tidur sepulas itu di rumah pria yang statusnya masih "abu-abu"? Bagaimana kalau Aska menganggapnya gadis gampangan? Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau Aska merasa terganggu dengan kehadirannya yang "menjajah" kamar tamu?
Dengan rambut yang masih berantakan seperti sarang burung karena posisi tidur yang kacau, dan kaki telanjang tanpa alas kaki, Nana memberanikan diri membuka pintu kamar. Ia melangkah berjinjit, berharap bisa menyelinap keluar sebelum bertemu sang pemilik apartemen.
Namun, harapannya pupus saat ia sampai di ruang tengah. Aska sudah duduk di sana, mengenakan kemeja biru muda yang rapi namun tanpa dasi. Ia sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca tumpukan dokumen tebal. Aska melirik ke arah suara langkah kaki Nana, lalu menurunkan dokumennya perlahan.
Nana membeku di tempat. Penampilannya saat ini sangat jauh dari kata profesional. Rambutnya mencuat ke mana-mana, wajahnya masih bengkak karena bangun tidur, dan ia tampak sangat mungil tanpa sepatu hak tingginya.
"Maaf!" ucap Nana seketika, suaranya sedikit parau. "Maaf, Bang. Aku ... aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sepulas itu. Aku harusnya pulang semalam. Maaf sudah merepotkanmu sampai harus... um, memindahkanku."
Aska tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan Nana dari atas ke bawah, menatap rambut kusutnya dan kakinya yang telanjang. Sebuah pemandangan yang sangat manusiawi, yang rasanya sudah lama tidak melihatnya dari Nana.
Sudut bibir Aska tertarik ke atas. Ia tertawa kecil, bukan tawa mengejek, tapi tawa yang terdengar sangat rileks, sesuatu yang sangat langka keluar dari mulutnya.
"Kau baru sadar sekarang kalau kau ceroboh?" tanya Aska, suaranya tenang namun mengandung nada jahil.
"Aku ... aku biasanya tidak seperti ini," Nana membela diri, tangannya sibuk mencoba merapikan rambutnya yang membandel.
"Kau beruntung aku sedang dalam suasana hati yang baik," ujar Aska sambil meletakkan cangkir kopinya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Nana, membuat gadis itu mundur selangkah karena gugup. "Kalau tidak, aku mungkin sudah menagih biaya sewa kamar per jam kepadamu."
"Eh?" Nana melongo, otaknya yang masih setengah mengantuk mencoba mencerna candaan Aska. "Biaya sewa? Bang, aku kan tidak minta menginap!"
Aska berhenti tepat di depan Nana, cukup dekat hingga Nana bisa mencium aroma sabun mandinya yang segar. Aska membungkuk sedikit agar mata mereka sejajar. "Dan kau tidur sangat berisik, Nana. Kau terus-menerus mengigau soal 'garis yang miring' dan 'naskah yang hilang'. Kau membuatku tidak bisa konsentrasi bekerja semalam."
Nana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Lalu ia sadar, tidak mungkin Aska bisa mendengar suaranya di kamar berbeda dan kedap suara itu. "Bohong! Aku tidak pernah mengigau!"
Aska tertawa lagi, kali ini lebih keras. Ia mengacak rambut Nana yang sudah berantakan itu dengan gemas. "Cuci mukamu. Ada sikat gigi baru di lemari bawah wastafel. Setelah itu kita sarapan, lalu aku antar kau pulang untuk berganti baju."
Nana menatap punggung Aska yang berjalan kembali ke arah dapur. Ia masih mematung, menyentuh kepalanya yang baru saja diacak oleh pria itu. Di balik rasa malunya yang selangit, ada setitik rasa hangat yang mulai menetap di hatinya. Aska tidak marah. Aska justru menjahilinya.
Bersambung....