⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: London Calling & The Satset Strategy
Kalau hidup Gia adalah sebuah simulasi, sepertinya si pemain lagi sengaja mencet tombol Hard Mode. Baru saja dia merasa melayang di awan karena genggaman tangan Pak Radit di bioskop, sekarang dia serasa dijatuhkan ke lantai marmer ruang tamunya sendiri.
Pak Baskoro duduk di sana dengan setelan jas seharga satu motor sport, menyesap teh melati buatan Ibu Gia seolah-olah dia yang punya rumah. Senyumnya itu lho—tipe senyum "orang kaya yang bisa beli masa depan lo".
"London, Gianna. King’s College. Jurusan bisnis. Itu mimpi semua anak muda, kan?" suara Pak Baskoro halus, tapi tiap katanya kerasa kayak perintah.
Ibu Gia, yang emang dasarnya ambis soal pendidikan anak, matanya udah berbinar-binar. "Ini kesempatan sekali seumur hidup, Gi! Om Baskoro baik banget mau full-sponsor kamu. Kamu tinggal belajar yang bener, lupakan urusan main-main di sekolah."
Gia meremas ujung rok denimnya. Dia tahu "main-main" yang dimaksud ibunya dan Pak Baskoro adalah Pak Radit. Ini bukan tawaran beasiswa, ini adalah pengusiran secara estetik.
"Kenapa saya, Om? Masih banyak anak lain yang lebih pinter," tanya Gia, suaranya mencoba tetap tenang padahal tangannya dingin.
Pak Baskoro terkekeh. "Karena Om liat kamu punya potensi besar. Dan... Om rasa, lingkungan sekolah sekarang lagi kurang sehat buat kamu. Terlalu banyak distraksi dari oknum-oknum yang nggak profesional. Om cuma mau menyelamatkan masa depan kamu."
Oknum. Dia panggil Pak Radit oknum. Gia pengen banget teriak, tapi dia tahu kalau dia meledak sekarang, Pak Radit yang bakal makin kena imbasnya.
"Gia pikir-pikir dulu ya, Om. Capek banget baru pulang main," kata Gia sambil berdiri, pamit masuk ke kamar tanpa nunggu jawaban.
...
Begitu pintu kamar terkunci, Gia langsung ambruk di atas tumpukan boneka. Dia buru-buru buka grup WhatsApp "Remedial Squad".
Gia: GAWAT! EMERGENCY! SI PENGUASA YAYASAN LAGI DI RUMAH GUE!
Caca: Hah?! Pak Baskoro?! Ngapain?! Mau ngelamar lo buat Revan?!
Gia: Bukan! Dia mau buang gue ke London! Dia nawarin beasiswa full biar gue jauh dari Pak Radit. Gue harus gimana?! Gue nggak mau LDR antar benua anjir, gue LDR beda kelas aja udah mau mati.
Caca: GILA! Itu mah plot twist drakor banget. Tapi Gi... London lho. Oxford Street, Harry Potter vibes, cowok-cowok British accent...
Gia: CA! FOKUS! Gue maunya Pak Radit, bukan Harry Potter!
Gia nge-chat Pak Radit. Jarinya gemetar.
Gia: Pak... bisa ketemu bentar di taman belakang komplek? Sekarang. Urgent. Pakai banget.
....
Setengah jam kemudian, Gia sudah duduk di ayunan taman komplek yang sepi. Angin malam ini kerasa lebih nusuk dari biasanya. Nggak lama, suara motor gede yang khas itu terdengar. Pak Radit datang, masih pakai jaket hitam yang tadi, tapi mukanya kelihatan jauh lebih lelah.
"Gia, ini udah jam sembilan lewat. Bahaya kalau ada yang liat," kata Pak Radit sambil duduk di ayunan sebelah Gia.
"Bapak tau nggak? Pak Baskoro di rumah saya. Dia nawarin beasiswa ke London," Gia langsung to the point.
Pak Radit terdiam. Dia menatap ke arah lampu taman yang berkedip. "Saya sudah duga."
"Maksud Bapak?"
"Tadi siang, setelah saya ketemu dia di yayasan... dia juga kasih saya 'tawaran'. Dia mau mutasi saya ke sekolah cabang di luar kota, di pedalaman, dengan iming-iming kenaikan pangkat. Kalau saya tolak, dia bakal pastiin lisensi mengajar saya dicabut dengan bukti-bukti 'kedekatan' kita yang dia kumpulkan."
Gia melongo. "Jadi... dia nyerang kita dari dua sisi?"
Pak Radit mengangguk. Dia menoleh ke arah Gia, matanya kelihatan sangat sayu tapi dalam. "Gia, dengerin saya. Ini kesempatan bagus buat kamu. London itu tempat yang luar biasa. Kamu bisa berkembang di sana, jauh dari semua drama ini. Kamu nggak perlu ngerusak masa depan kamu cuma demi saya."
Gia ngerasa hatinya kayak disilet. "Jadi Bapak nyuruh saya pergi? Bapak mau kita... udahan?"
Pak Radit memegang rantai ayunan Gia, menghentikan gerakannya. "Saya mau kamu sukses. Saya ini guru, Gia. Tugas saya adalah mengantar murid saya ke pintu kesuksesan, bukan jadi penghalang. Kalau kamu tetep di sini, Pak Baskoro bakal terus nekan kita. Saya mungkin bisa bertahan, tapi kamu? Kamu bakal kehilangan beasiswa, reputasi kamu bakal rusak..."
"Gue nggak peduli!" Gia berdiri dari ayunan, suaranya naik satu oktaf. "Bapak pikir saya sependek itu mikirnya? Saya mau sukses, tapi saya maunya sama Bapak! Kenapa Bapak selalu mau jadi pahlawan kesiangan yang ngorbanin perasaan sendiri?!"
"Ini bukan soal perasaan, ini soal logika!" Pak Radit ikut berdiri. Tensi di antara mereka mendadak tinggi.
"Gia, kamu masih 18 tahun. Dunia kamu masih luas. Di London nanti, kamu bakal ketemu banyak orang baru, cowok-cowok yang lebih sepadan sama kamu, yang nggak punya beban kayak saya. Kamu bakal lupain saya dalam tiga bulan."
"Bapak ngeremehin saya?!" Gia mendekat, menatap tepat ke mata Pak Radit. "Bapak pikir perasaan saya cuma temporary kayak snapgram yang ilang dalam 24 jam? Saya rela lari 100 putaran, saya rela dapet poin disiplin, saya rela dimarahin Ibu... tapi saya nggak rela kalau Bapak nyerah gitu aja!"
Pak Radit terdiam. Rahangnya mengeras. Dia pengen banget meluk Gia dan bilang kalau dia juga nggak mau kehilangan gadis berisik ini, tapi logikanya terus teriak kalau ini salah.
...
"Oke," kata Gia tiba-tiba, suaranya mendadak tenang tapi dingin. "Kalau Bapak mau main logika, kita main logika. Bapak pikir Pak Baskoro bakal berhenti gangguin Bapak kalau saya pergi ke London? Enggak, Pak. Dia bakal tetep mutasi Bapak karena dia dendam Bapak udah bikin Revan malu. Dia mau kita berdua hancur, terpisah atau enggak."
Gia ngambil HP-nya. "Saya bakal terima tawaran itu. Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?" tanya Pak Radit bingung.
"Syaratnya, saya mau beasiswa itu diproses setelah kelulusan. Dan selama sisa semester ini, Om Baskoro nggak boleh ganggu Bapak sama sekali. Kalau dia setuju, saya berangkat. Kalau enggak, saya bakal viralin semua kelakuan Revan yang sering bully anak kelas 10 di grup rahasia mereka. Saya punya buktinya."
Pak Radit menatap Gia nggak percaya. "Gia, itu berbahaya. Kamu main api sama Pak Baskoro."
"Bapak yang ajarin saya buat defense, kan? Ini defense saya," sahut Gia mantap. "Dan buat Bapak... Bapak jangan berani-berani terima mutasi itu. Bapak harus tetep di sini sampai saya lulus. Setelah saya di London... kita liat siapa yang bakal lupa duluan."
Pak Radit akhirnya nggak bisa nahan diri lagi. Dia menarik Gia ke dalam pelukannya, kali ini lebih erat dari sebelumnya. "Kamu beneran nekat, ya."
"Saya belajar dari guru yang paling kaku sedunia," bisik Gia di dada Pak Radit.
...
Gia pulang ke rumah dengan muka yang sangat "pasrah tapi berisi". Di ruang tamu, Pak Baskoro masih ada, lagi nunggu jawaban.
"Om, Gia mau ke London," kata Gia mantap. Ibu Gia langsung teriak kegirangan.
"Pilihan yang sangat bijak, Gianna," kata Pak Baskoro sambil tersenyum kemenangan.
"Tapi," potong Gia, "Gia mau keberangkatannya nanti setelah wisuda. Dan Gia mau selama sisa waktu Gia di sini, lingkungan sekolah Gia kondusif. Termasuk guru-guru yang Gia suka cara ngajarnya... jangan ada yang diganti atau dipindah. Kalau suasana sekolah berubah, Gia bisa stress dan nggak jadi berangkat."
Pak Baskoro menyipitkan mata. Dia tahu Gia lagi melakukan negosiasi terselubung. Dia melirik Gia, lalu terkekeh. "Kamu pinter negosiasi juga ya. Oke. Saya pegang omongan kamu. Selama kamu nggak bikin 'masalah' lagi, sekolah bakal tetap tenang."
Setelah Pak Baskoro pulang, Gia masuk ke kamar dengan perasaan campur aduk. Dia baru saja menjual kebebasannya buat waktu beberapa bulan bareng Pak Radit.
Bzzzt. Sebuah pesan masuk dari Pak Radit.
Pak Radit: Tidur, Gia. Besok ada latihan basket jam 7 pagi. Jangan telat. Dan... makasih sudah berjuang
.
Gia tersenyum. "London masih jauh, Pak. Tapi cinta kita? Masih di sini."
Namun, di tempat lain, Revan yang dari tadi nguping pembicaraan bapaknya di telepon, meremas HP-nya sampai retak. "Lo pikir lo bisa menang, Gia? Gue bakal pastiin lo berangkat ke London lebih cepet dari yang lo duga."
.
.
.
[To be continued ke Episode Selanjutnya]
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..