Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: TITIK TERENDAH
Tiga hari setelah insiden dengan Dae-ho, Ha-neul jatuh sakit.
Mungkin itu akumulasi dari latihan keras tanpa henti selama berminggu-minggu. Mungkin juga efek stres mental setelah pertemuannya dengan Dae-ho. Atau mungkin tubuhnya yang sudah tiga tahun terbiasa bermalas-malasan, kaget dengan ritme baru yang memaksanya bangun sebelum fajar dan tidur setelah tengah malam.
Apapun penyebabnya, Ha-neul terbaring di atas tumpukan karung di gudang dengan demam tinggi. Tubuhnya menggigil meski dua selimut tambalan membungkusnya. Keringat dingin membasahi dahinya.
Soo-ah duduk di sampingnya, wajah pucat karena cemas. Sesekali ia mengompres dahi kakaknya dengan kain basah, lalu mengganti handuk kecil yang ia letakkan di dahi Ha-neul.
"Kang Oppa, jangan sakit. Soo-ah takut." bisiknya pelan.
Ha-neul tidak menjawab. Matanya terpejam, napasnya berat dan tidak teratur.
Hyeol-geon mengamati dari dalam cincin. Ia bisa merasakan kondisi tubuh muridnya—melemah, demam tinggi, dan yang paling mengkhawatirkan: aliran Qi yang kacau. Segel Naga Tidur bereaksi terhadap demam, menciptakan semacam tekanan balik yang menyiksa.
"Bocah bodoh," gumamnya dalam hati. "Kupikir kau kuat, tapi kau lupa tubuhmu masih manusia."
Ia ingin keluar, memberi saran pada Soo-ah tentang ramuan apa yang harus dicari. Tapi ia tidak bisa. Keberadaannya harus dirahasiakan, bahkan dari adik Ha-neul.
Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu.
---
Malam tiba. Soo-ah tertidur di samping Ha-neul, kelelahan setelah seharian menjaganya. Ha-neul masih terbaring lemah, tapi demamnya sedikit turun.
Di dalam kegelapan, Hyeol-geon akhirnya keluar dari cincin. Ia melayang di samping Ha-neul, menatap wajah muridnya yang pucat.
"Heh. Kau dengar aku?"
Ha-neul mengerang pelan. Matanya terbuka sedikit—sayu, setengah sadar.
"Gu...ru..."
"Iya, gurumu di sini. Jangan banyak bicara. Kau butuh istirahat."
"Maaf... aku... gagal."
Hyeol-geon mendengus. "Gagal? Gagal apa? Gagal mati? Karena kau belum mati. Masih hidup. Jadi belum gagal."
Ha-neul tersenyum lemah. "Tubuhku... lemah..."
"Memang. Tapi itu bukan kesalahanmu. Kau tiga tahun tidak bergerak. Tubuhmu butuh waktu beradaptasi. Kau terlalu memaksakan diri."
"Tapi... aku tidak punya banyak waktu... Dae-ho..."
"Dae-ho itu kutu. Ganggu, tapi tidak berbahaya dalam skala besar. Yang berbahaya adalah di belakangnya—pamannya, dan orang yang memasang segel itu. Mereka yang harus kau kejar. Dan untuk mengejar mereka, kau harus sehat."
Ha-neul diam. Napasnya mulai lebih teratur.
"Dengar, bocah. Aku tahu kau marah. Aku tahu kau ingin cepat kuat. Tapi jalan iblis itu panjang. Bukan lari cepat, tapi lari marathon. Yang menang bukan yang tercepat di awal, tapi yang bisa bertahan sampai akhir."
Ha-neul menatap gurunya. Mata merah itu, untuk pertama kalinya, terlihat hangat.
"Guru... kau pernah... gagal?"
Hyeol-geon tertawa pelan. "Pernah? Jangan tanya. Puluhan kali. Ratusan kali. Dulu, saat masih hidup, aku pernah kalah dalam duel dan hampir mati. Butuh satu tahun untuk pulih. Pernah juga muridku—murid pertama, sebelum si pengkhianat—meninggal di depanku karena aku terlalu lemah melindunginya."
Suaranya bergetar sedikit.
"Kegagalan itu bumbu kehidupan, Ha-neul. Tanpanya, kemenangan terasa hambar."
Ha-neul merenung. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain gurunya—bukan iblis pedang yang kejam, tapi manusia tua yang telah melewati banyak hal.
"Murid pertamamu... ceritakan."
Hyeol-geon diam cukup lama. Lalu ia menghela napas—sesuatu yang aneh dilakukan arwah.
"Namanya Baek Ah-jin. Gadis kecil yatim piatu yang kuambil dari pasar budak. Aku pikir, dengan melatihnya, aku bisa menebus dosa-dosaku. Tapi takdir berkata lain. Dalam sebuah pertempuran, ia terkena serangan yang seharusnya untukku. Ia mati di pelukanku, tersenyum, berkata 'Guru, jangan menangis.' Sejak itu, aku bersumpah tidak akan punya murid lagi. Sampai kau datang."
Ha-neul terpaku. Ia tidak tahu guru penyendiri ini punya masa lalu sepilu itu.
"Maaf... aku membuatmu ingat."
"Tidak apa. Memori itu bagian dari diriku. Aku tidak ingin melupakannya." Hyeol-geon menatap Ha-neul. "Tapi kau berbeda. Aku melihat potensi dalam dirimu. Bukan hanya bakat, tapi hati. Kau punya seseorang yang kau lindungi—adikmu. Itu membuatmu lebih kuat dari siapa pun."
Ha-neul tersenyum tipis. "Aku hanya ingin dia bahagia."
"Dan kau akan mewujudkannya. Tapi istirahat dulu. Besok kau harus sehat. Lusa kau harus latihan lagi. Tapi malam ini... kau boleh lemah."
Ha-neul memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidur tanpa mimpi buruk.
---
Dua hari kemudian, Ha-neul sudah bisa bangun.
Demamnya turun, meski tubuhnya masih lemas. Ia duduk di depan gudang, menghirup udara segar. Soo-ah duduk di sampingnya, mengupas buah apel liar yang ia petik dari gunung.
"Oppa, jangan sakit lagi ya," pinta Soo-ah sambil menyodorkan potongan apel.
Ha-neul menerimanya, tersenyum. "Iya. Oppa janji."
"Janji Oppa banyak banget. Nanti kalau tidak ditepati, Oppa jadi pembohong."
Ha-neul tertawa pelan. Suara tawanya membuat Soo-ah ikut tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar kakaknya tertawa.
Di kejauhan, Kang Sung-min mengamati dari balik pohon. Ia mencatat dalam buku kecilnya: "Ha-neul sakit dua hari. Sekarang sudah sembuh. Adiknya merawat. Tidak ada kontak dengan orang luar."
Lalu ia pergi, meninggalkan Ha-neul dan Soo-ah yang menikmati sore yang tenang.
---
Malam harinya, Ha-neul kembali berlatih.
Tapi kali ini dengan intensitas yang lebih terkontrol. Hyeol-geon mengawasi dengan ketat, memastikan muridnya tidak memaksakan diri.
"Lima puluh tusukan. Istirahat. Lalu ulangi."
Ha-neul mematuhi. Ia sudah belajar dari kesalahan.
Selesai latihan, ia duduk bersila, mengatur napas. Hyeol-geon melayang di sampingnya.
"Kau sudah melewati titik terendah pertamamu. Itu bagus. Tapi akan ada lebih banyak lagi. Setiap kali kau jatuh, kau harus bangkit. Itu satu-satunya cara."
Ha-neul mengangguk. "Aku tidak akan menyerah, Guru."
"Aku tahu. Itu sebabnya aku memilihmu."
Bulan purnama bersinar terang di atas mereka. Di lereng gunung yang sunyi, seorang pemuda dan arwah tua duduk bersama, memandangi langit malam.
Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, mereka melangkah bersama.