"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik Azeus titik
Ayah Azeus melepaskan kaitan dasinya dengan kasar, matanya masih menatap tajam putra semata wayangnya.
"Ikut Papa ke ruang kerja. Sekarang. Biarkan Nana istirahat."
Azeus memberikan satu usapan lembut di puncak kepala Nana sebelum berdiri.
"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," bisiknya posesif, lalu melangkah mengikuti ayahnya dengan punggung tegap.
Begitu pintu ruang kerja yang kedap suara itu tertutup, suasana mendadak mencekam. Ayah Azeus duduk di balik meja eksekutifnya yang megah, menatap Azeus yang berdiri tegap di hadapannya tanpa niat untuk tunduk.
"Hapus pikiran konyolmu itu, Azeus," buka Ayahnya dingin.
"Papa mengangkatnya jadi anak karena dia gadis baik. Dia butuh perlindungan, butuh keluarga yang stabil. Bukan butuh pacar ugal-ugalan sepertimu."
"Zeus bukan lagi bocah ugal-ugalan, Pa!" bantah Azeus, suaranya naik satu oktav.
"Satu tahun Zeus berubah demi dia. belajar serius, siap pegang cabang perusahaan Papa. Itu semua buat Nana! Aku nggak mau dia jadi adik. Aku mau dia jadi masa depan Aku!"
Ayah Azeus menggebrak meja kayu jati itu hingga terdengar bunyi berdentum.
"Kamu itu badboy, Azeus! Kamu keras, egois, dan dominan. Sedangkan Aluna? Dia terlalu lembut, terlalu polos. Gadis seperti dia akan hancur kalau bersamamu. Dia lebih cocok jadi adik yang kita lindungi, bukan istri yang harus melayani sifat liarmu!"
Azeus menyeringai sinis, tatapannya berkilat penuh obsesi. "Justru karena dia lembut, dia butuh orang sepertiku buat jagain dia dari dunia yang jahat, Pa! Papa nggak berhak nentuin siapa yang cocok buat ku. Dia juga bukan darah daging Papa, nggak ada alasan medis atau hukum yang bisa ngelarang Aku buat nikahin dia nanti!"
"Papa tetap akan urus dokumen adopsinya," ancam Ayahnya.
"Silakan," tantang Azeus berani, melangkah maju hingga tangannya bertumpu di meja kerja ayahnya. "Tapi jangan salahin Aku kalau nanti Aku bawa Nana kabur dan Papa kehilangan calon pewaris perusahaan sekaligus anak angkat Papa. Zeus nggak main-main, Pa. Nana itu milik Zeus."
Kedua pria itu saling melempar tatapan mematikan. Ayah Azeus tertegun melihat sorot mata putranya yang begitu posesif dan serius—sorot mata yang persis seperti dirinya saat sedang menegosiasikan bisnis besar.
Azeus membalikkan badan, meninggalkan ayahnya yang masih terpaku di kursi kebesarannya. Ia tidak peduli lagi dengan rentetan kalimat logis atau ancaman tentang status keluarga. Baginya, satu-satunya hukum yang berlaku adalah Nana milik Azeus. Titik.
Langkahnya lebar dan mantap menuju kamar Nana. Begitu pintu terbuka, pemandangan di depannya seketika meruntuhkan sisa-sisa amarahnya pada sang ayah
Nana duduk bersimpuh di tengah ranjang, tenggelam dalam pendar cahaya dari ponsel barunya. Wajahnya yang mungil tampak menggemaskan, seperti anak kecil yang baru saja menemukan pintu menuju dunia ajaib. Ia memegang ponsel itu dengan kedua tangan yang gemetar halus, seolah benda itu terbuat dari kristal yang bisa pecah hanya dengan satu embusan napas.
Saat Nana membuka aplikasi kamera, matanya yang jernih membulat sempurna. Ia menatap pantulan dirinya di layar, tersenyum simpul hingga kedua pipinya yang ranum membentuk bulatan mungil yang manis. Rambutnya yang sedikit berantakan membingkai wajahnya yang polos, menciptakan aura kecantikan yang tulus, seumpama embun pagi yang tertangkap dalam bingkai kotak kaca. Ia tampak takjub melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih jernih, berkali-kali memiringkan kepala dengan gerakan yang sangat lugu.
Azeus bersandar di bingkai pintu, melipat tangan di dada. Senyum narsisnya muncul, tapi kali ini bercampur dengan rasa sayang yang meluap-luap. Gimana bisa gue biarin dia jadi adek gue, kalau liat dia senyum ke arah kamera aja gue udah mau gila? batinnya.
"Suka sama dunianya yang baru, Na?" tegur Azeus lembut.
Nana tersentak, langsung menoleh ke arah Azeus. Senyumnya mendadak surut, berganti dengan sorot mata yang penuh rasa penasaran namun tertutup oleh kabut malu yang tebal. Ia ingin bertanya,
“Kak, tadi Papa bilang apa? Kita beneran bakal jadi adek-kakak?” tapi bibirnya terkunci rapat. Nana hanya diam mematung, meremas ponsel mahalnya, dan menatap Azeus dengan mata yang seolah meminta jawaban tanpa suara.
Azeus melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang hingga kasur itu amblas. Ia mengusap puncak kepala Nana dengan posesif.
"Nggak usah dipikirin omongan Papa tadi. Kamu cuma perlu fokus satu hal," Azeus menjeda, menatap dalam ke manik mata Nana.
"Fokus belajar, dan fokus jadi milik aku. Sisanya, biar aku yang 'perang' sama Papa."
Nana hanya bisa menunduk, pipinya kembali semerah tomat. Ia tidak tahu harus menjawab apa, tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat yang menjalar setiap kali Azeus menegaskan kepemilikannya
Azeus meraih ponsel mewah itu dari tangan Nana yang masih kaku. Dengan jemari yang lincah, ia mengetikkan nomor pribadinya ke dalam daftar kontak. Senyum miringnya muncul saat ia mengetikkan nama di sana: "Ayang ❤️".
"Nih, kalau kangen tinggal tekan yang ini. Jangan berani-berani hapus atau ganti namanya," ucap Azeus narsis sambil meletakkan kembali ponsel itu di atas ranjang yang empuk.
Azeus mulai mengikis jarak, duduk semakin merapat hingga Nana bisa merasakan hawa panas dari tubuh cowok itu.
"Hari Senin, guru home schooling-mu datang. Siap-siap, jangan ada alasan malas. Aku mau kamu pinter biar bisa jadi pendamping CEO yang hebat nanti."
Nana mengangguk antusias, matanya berbinar. "Beneran Senin, Kak? aku semangat banget! pengen cepet-cepet lulus!"
Melihat kegembiraan Nana yang begitu tulus, Azeus merasa dunianya seakan berhenti.
"Nah, karena besok aku libur kuliah—nggak ada jadwal kelas atau praktikum—aku mau ajak kamu jalan-jalan. Atau Kita ke Basecamp. Di sana banyak anak-anak mahasiswa teman-temanku. Kamu harus kenal sama mereka biar nggak kuper."
Nana tampak ragu tapi juga penasaran.
"Ke markas motor Kakak? Emang boleh?"
"Siapa yang berani larang? Kamu itu ratunya di sana kalau bareng aku," sahut Azeus bangga.
Namun, suasana diskusi itu mendadak berubah drastis. Tatapan Azeus yang tadi fokus bicara soal jadwal, kini mulai turun menatap bibir Nana yang mungil dan ranum. Sisi mesum dan obsesifnya kembali mendidih. Azeus merangkak pelan di atas ranjang, memposisikan dirinya di atas Nana hingga gadis itu terhimpit di antara tubuh bidang Azeus dan bantal.
"Kak... Kak Azeus, ngapain?" bisik Nana gugup, jantungnya berdegup kencang melihat sorot mata Azeus yang menggelap.
"Hadiah buat besok," bisik Azeus serak. Tangannya menyusup ke tengkuk Nana, menariknya lembut agar wajah mereka bersatu.
"Tadi di kolam terganggu pembantu. Sekarang... nggak akan ada yang ganggu."
Azeus melahap bibir Nana dengan gairah yang lebih dalam dari sebelumnya. Ia tidak memberikan ruang bagi Nana untuk protes, menyesap manisnya bibir gadis itu seolah ia sedang menaruh tanda kepemilikan. Tangan Azeus mulai menjelajahi pinggang Nana, meremasnya pelan di balik selimut, membuat Nana hanya bisa mengerang halus dalam dekapan posesif itu.
Hasratnya meledak begitu saja, ia melahap bibir Nana dengan gairah yang lebih dalam, seolah ingin menanamkan tanda kepemilikan yang permanen.
Tangannya mulai menjelajahi pinggang Nana, meremasnya pelan di balik selimut hingga membuat Nana mengerang halus dalam dekapan posesif itu.
Namun, tanpa mereka sadari, pintu kamar yang sedikit terbuka itu kembali menjadi saksi bisu. Ayah Azeus yang baru saja hendak kembali ke kamarnya untuk mandi, langkahnya terhenti kaku. Beliau melihat pemandangan intim itu melalui celah pintu. Guratan kecemasan mendalam muncul di wajah tegasnya.
Hati sang Ayah mencelos. Ia mengenal betul siapa putranya. Dulu, saat masih di bangku SMA, Azeus adalah seorang playboy kelas kakap dengan daftar gebetan yang tak terhitung jumlahnya. Beliau takut, sifat nakal dan liar Azeus akan menghancurkan Nana. Bagi sang Ayah, Aluna adalah gadis yang terlalu suci, polos, dan lembut untuk menghadapi Azeus yang badboy dan dominan.
Beliau tidak ingin Nana hanya menjadi "piala" atau pelampiasan nafsu sesaat putranya yang obsesif itu, sebelum akhirnya disakiti dan ditinggalkan seperti gadis-gadis Azeus di masa lalu.
Ayah Azeus mengepalkan tangannya, membuang muka dengan rasa sesak, lalu melangkah pergi tanpa suara—namun dengan rencana yang lebih tegas untuk memisahkan mereka demi melindungi Aluna.
^^^
Azeus menidurkan Aluna dengan gerakan yang sangat pelan di atas ranjang. Atmosfer kamar mendadak terasa panas, hasrat Azeus sudah di ujung tanduk, tak terbendung lagi. Napasnya memburu tepat di ceruk leher Aluna, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Saat jemari Azeus yang gemetar mulai merayap liar dan hendak menyentuh area dadanya, Aluna tersentak. Kesadarannya pulih seketika.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aluna mendorong dada Azeus kuat-kuat. Ia segera bangkit dan duduk di pojok ranjang dengan napas tersengal-sengal. Matanya yang jernih menatap Azeus dengan sorot ketakutan yang nyata, namun ada ketegasan di sana.
"Kak, jangan... Aku takut," bisik Aluna parau. Suaranya bergetar, tapi ia mencoba menatap mata Azeus.
Azeus tertegun, tangannya menggantung di udara. Ia menatap Aluna yang kini meremas ujung selimut, menutupi tubuhnya rapat-rapat. Rasa bersalah mulai merayap di hati Azeus melihat gadis yang ia puja itu tampak begitu rapuh.
"Maaf, Aluna... Aku nggak bermaksud—"
"Aku sayang sama Kakak, tapi aku nggak mau kita sejauh itu," potong Aluna jujur. Ia menunduk.
"Aku punya mimpi, Kak. Aku mau sekolah, aku mau kuliah. Aku nggak mau hamil di luar nikah dan ngerusak semuanya. Aku... aku nggak mau masa depan aku hancur."
Kalimat jujur dan sederhana itu menghantam Azeus lebih keras dari apa pun. Ia terdiam, jakunnya bergerak naik-turun menahan emosi yang berkecamuk. Ia sadar, Aluna bukan lagi anak kecil, dia remaja 18 tahun yang sedang menjaga kehormatannya demi masa depan yang selama ini ia perjuangkan sendirian dari panti asuhan.
Azeus meraup wajahnya dengan kasar, merasa menjadi bajingan paling hina saat itu juga. Ia teringat cap playboy yang disematkan Ayahnya. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang merusak bidadarinya sendiri.
"Maafin aku, Aluna. Aku bener-bener minta maaf," ucap Azeus rendah, suaranya sarat akan penyesalan.
"Aku janji nggak akan ngulangin lagi. Aku bakal tunggu sampai waktunya tiba. Aku bakal jaga kamu, bukan ngerusak kamu."
Azeus bergeser menjauh, memberikan ruang bagi Aluna untuk menenangkan diri. Di balik pintu yang masih sedikit terbuka, Ayahnya yang mendengar percakapan itu mengembuskan napas lega, namun tetap waspada. Sang Ayah melihat ada perubahan besar pada Azeus, tapi ia tahu nafsu masa muda putranya tetaplah ancaman bagi kepolosan Aluna.