NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — Tidak Tidur

Pukul satu pagi, aku masih terjaga.

Bukan karena tidak mencoba. Sudah mencoba — berbaring dengan posisi yang nyaman, memejamkan mata, mengatur napas dengan cara yang pernah kubaca di artikel tentang mengatasi insomnia yang kutemukan tengah malam enam bulan lalu ketika cicilan Bapak sedang di titik yang paling tidak bisa dikelola. Teknik yang waktu itu berhasil karena masalahnya konkret dan bisa diidentifikasi.

Malam ini masalahnya tidak konkret dan tidak mau diidentifikasi.

Aku membuka mata, menatap langit-langit, dan memutuskan bahwa berbohong kepada diri sendiri di posisi berbaring lebih melelahkan dari duduk dan mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu diakui.

Aku duduk. Meraih bantal, meletakkannya di punggung, bersandar ke headboard.

Gelap. Sunyi. Dari wing kanan tidak ada suara — Revano sudah tidur, atau sedang bekerja diam-diam, atau melakukan apapun yang dilakukannya di balik pintu yang tidak pernah sepenuhnya terbuka.

Dan aku di sini, pukul satu pagi, tidak tidur karena perempuan berambut hitam dengan gaun merah yang tidak melakukan apapun secara objektif kepadaku.

Aku tidak cemburu.

Itu yang pertama kali aku katakan kepada diri sendiri ketika baru berbaring tadi, dan kalimat itu masih aku pegang sekarang — bukan karena perlu diyakinkan terus-menerus, tapi karena penting untuk mendefinisikan dengan tepat apa yang sedang terjadi sebelum bereaksi terhadapnya.

Cemburu mengasumsikan kepemilikan. Mengasumsikan ada sesuatu yang bisa diambil darimu. Dan aku tidak punya kepemilikan atas Revano — tidak dalam cara yang relevan dengan perasaan itu.

Kontrak kami jelas tentang itu. Dua belas bulan, dengan batas yang sudah tertulis. Tidak ada pasal tentang perasaan karena perasaan tidak masuk dalam jurisdiksi kontrak.

Jadi bukan cemburu.

Tapi juga bukan tidak-merasakan-apapun.

Dan gap di antara dua hal itu adalah tempat aku duduk sekarang di kasur yang terlalu besar, dengan bantal di punggung dan langit-langit yang tidak memberikan jawaban.

Yang menggangguku bukan Lana sendiri.

Artinya — Lana sebagai orang, Lana sebagai manusia yang punya hidupnya sendiri dan masa lalunya sendiri dan hak untuk hadir di acara yang dia diundang, tidak ada yang salah dengan itu. Aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya. Dia tidak melakukan apapun yang bisa secara objektif disebut tidak baik.

Yang menggangguku adalah sesuatu yang lebih tidak nyaman dari itu — sesuatu tentang cara kehadirannya malam tadi membuka kesadaran yang sudah ada tapi belum pernah datang ke permukaan dengan cukup jelas untuk perlu dihadapi.

Kesadaran bahwa ada kehidupan Revano sebelum semua ini.

Kehidupan yang aku tidak punya akses ke dalamnya — dan seharusnya memang tidak perlu. Bukan urusanku. Bukan bagian dari kontrak. Masa lalu seseorang adalah miliknya, bukan milik orang yang kebetulan tinggal serumah dengannya berdasarkan perjanjian yang sudah punya tanggal berakhirnya.

Tapi seharusnya tidak perlu tahu dan tidak merasa perlu tahu adalah dua hal yang malam ini memilih untuk tidak menjadi hal yang sama.

Dan itulah yang menggangguku.

Bukan Lana. Tapi fakta bahwa Lana membuatku menyadari bahwa aku ingin tahu — tentang siapa dia, tentang apa yang berakhir dua tahun lalu, tentang bagian dari Revano yang ada sebelum versi yang kukenal. Ingin tahu dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai kebutuhan informasi kontekstual untuk menjalankan peran.

Aku bangkit dari kasur.

Ke dapur. Bukan untuk susu hangat kali ini — hanya air, langsung dari keran yang sudah kuhapal suhunya, dalam gelas yang sudah kutahu posisinya di rak kedua dari kiri. Hal-hal kecil yang dalam dua bulan sudah jadi hapal tanpa disadari.

Aku berdiri di dapur yang gelap — hanya lampu bawah kabinet yang aku nyalakan karena lebih dari itu terasa terlalu terang untuk pukul satu pagi — dan minum airnya pelan.

Di luar jendela dapur yang menghadap ke arah kota, Jakarta malam terlihat berbeda dari biasanya. Lebih sunyi dari yang terlihat, atau setidaknya terasa lebih sunyi dari ketinggian ini. Lampu-lampu gedung yang tidak pernah sepenuhnya padam, kendaraan yang sesekali lewat di jalan bawah dengan kecepatan yang berbeda dari siang — semua bergerak tapi tidak terburu-buru.

Aku meletakkan gelas di counter.

Dan berdiri di sana lebih lama dari yang diperlukan untuk minum segelas air.

Masalah yang sebenarnya — yang baru bisa aku akui setelah cukup malam dan cukup sunyi untuk tidak bisa lagi ditutupi dengan aktivitas atau distraksi — bukan tentang Lana atau tentang masa lalu Revano.

Masalah yang sebenarnya adalah bahwa dua bulan terakhir sudah membuat sesuatu tumbuh di tempat yang tidak disiapkan untuk ditumbuhi.

Bukan dramatis. Bukan jenis sesuatu yang langsung kelihatan besar dan menakutkan. Lebih seperti tanaman yang tumbuh di celah beton — perlahan, tanpa banyak pengumuman, tapi cukup kuat untuk menggeser sesuatu kalau dibiarkan.

Empat puluh detik di dapur setiap pagi yang awalnya bisu tapi perlahan mulai punya isinya sendiri. Mug susu hangat di meja pukul dua pagi tanpa diminta. Kalender bersama yang disiapkan sebagai cara meminta maaf tanpa kata maaf. Lebih dari cukup malam ini yang diucapkan di dalam mobil dengan nada yang tidak punya agenda lain selain menyatakan yang dilihat.

Potongan-potongan kecil yang masing-masing bisa dijelaskan dengan cara yang masuk akal dan tidak memerlukan interpretasi lebih — tapi yang kalau dikumpulkan membentuk sesuatu yang susah diabaikan.

Aku mengumpulkannya tanpa sadar. Dan malam ini, ketika Lana berdiri di sana dengan gaun merahnya dan dua detik mata yang menemukan Revano sebelum siapapun lain, semua potongan itu memilih untuk hadir sekaligus dengan cara yang tidak bisa kualihkan ke mana-mana.

Aku kembali ke kamar pukul satu lewat empat puluh.

Berbaring lagi. Menatap langit-langit lagi.

Kali ini dengan satu pertanyaan yang lebih jelas dari sebelumnya — bukan tentang Lana, bukan tentang Revano, tapi tentang aku sendiri:

Apa yang kamu lakukan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ada tapi sudah ada?

Pertanyaan yang tidak punya jawaban mudah. Yang mungkin tidak punya jawaban yang tidak menyakitkan dalam bentuk apapun.

Karena pilihan yang tersedia tidak ada yang sempurna — mengabaikannya dan membiarkannya terus tumbuh sampai tidak bisa diabaikan lagi, atau menghadapinya sekarang dan berisiko merusak sesuatu yang, meski tidak sempurna, sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang terasa lebih bisa dihuni dari yang aku bayangkan dua bulan lalu.

Atau pilihan ketiga: menamai apa yang ada tanpa langsung memutuskan harus diapakan.

Mengakui bahwa ya, ada sesuatu. Mengakui bahwa sesuatu itu mungkin bukan hanya konteks dan bukan hanya kebiasaan tinggal serumah. Mengakui bahwa cara Revano mengatakan lebih dari cukup dan cara dia meletakkan croissant di piring dan cara dia berdiri di balkon tanpa perlu menjelaskan kenapa semuanya sudah berbicara sesuatu yang tidak ada di pasal manapun.

Mengakui itu semua.

Lalu menutup mata.

Dan membiarkan pagi memutuskan apa yang perlu dilakukan dengan pengakuan itu.

Aku tertidur pukul dua lewat dua puluh.

Bukan karena pertanyaannya terjawab. Bukan karena sesuatu yang mengganggu itu selesai. Tapi karena tubuh pada akhirnya tidak bisa terus terjaga hanya karena kepala belum selesai bekerja, dan ada kebijaksanaan tersendiri dalam menyerah kepada kelelahan yang lebih jujur dari semua resolusi yang bisa dibuat.

Sebelum benar-benar tertidur, ada satu pikiran terakhir yang lewat dengan cara pikiran-pikiran terakhir sebelum tidur biasanya lewat — tidak diminta, tidak terfilter, terlalu jujur untuk dikontrol:

Aku tidak mau menghitung hari sampai dua belas bulan selesai.

Pikiran yang kecil. Yang tidak perlu ditindaklanjuti malam ini.

Yang besok pagi mungkin akan terlihat berbeda di cahaya yang lebih terang.

Atau mungkin tidak.

Dan aku tertidur sebelum bisa memutuskan mana yang lebih aku harapkan.

— Selesai Bab 25 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!