-Dark Romance
-Bukan untuk anak-anak.
-Adegan kekerasan dan darah.
Sherly gadis berusia 21 tahun, yang mengalami kematian setelah tertabrak mobil. Kini jiwanya justru memasuki sebuah novel, dan masuk ke dalam raga dari sang tokoh utama yang memiliki nama depan sama sepertinya.
Sherly Agda Yeremia, tokoh utama perempuan bodoh dan lemah yang tidak pernah dianggap, bahkan diselingkuhi beberapa kali oleh Vincent suaminya.
Tapi dengan jiwa baru, semua cerita berubah. Sherly yang baru tidak peduli dan mengabaikan Vincent. Bahkan Sherly memilih untuk melindungi, Jeremy Christ Chadwick, tokoh antagonis favoritnya yang akan mati pada akhir cerita.
Di balik wajah tampan penuh pesona, Sherly tidak pernah menduga jika Jeremy memiliki sisi gelap dan obsesi tersembunyi pada tokoh utama.
“Setelah ini, kau tidak akan bisa lari dariku, Sherly sayang~ Kau adalah milikku, tidak peduli jika kau sudah memiliki suami.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : pergi dengan Jeremy
Sherly memakan makanan steak di depannya, sembari memandang ke arah Jeremy. Dirinya ingat jika di dalam novel, Jeremy meninggal karena mengikuti rencana dari Aluna.
Itulah kenapa aku membenci tokoh antagonis perempuan !! Dialah penyebab Jeremy meninggal !! Itu artinya aku harus menjauhkan Jeremy dari Aluna batin Sherly dalam hatinya, masih setia menatap ke arah Jeremy.
Sementara yang menjadi arah tatapan itu, mengangkat kepalanya perlahan, hingga iris mata light hazel itu beradu tatapan dengan iris mata biru milik Sherly. Membuat perempuan itu seketika terpaku sejenak, sebelum akhirnya memutuskan pandangan itu dengan pipi memerah.
Jeremy tersenyum kecil, saat melihat Sherly sedikit salah tingkah di sana.
Ah sialan !! Antagonis lelaki memang selalu saja, memiliki pesona tersendiri bagi Sherly.
“Tidak perlu terlalu terburu-buru, aku tidak akan merebut makananmu.”
Sherly yang sudah terlanjur malu, hanya menganggukkan kepalanya secara perlahan. Jeremy hanya tersenyum kecil, kepalanya dia sandarkan pada tangan kirinya di atas meja. Tatapannya kini mengarah ke arah Sherly, memberikan tatapan gemas saat melihat wanita di depannya makan dengan berantakan.
Tangan kanannya yang memegang tissue kemudian terjulur ke arah depan, tepatnya ke arah wajah Sherly, membuat wanita itu seketika melihat ke depannya. Dia bisa merasakan tangan Jeremy dengan lembut mengelap mulutnya menggunakan tissue.
“Kau sangat menyukai makanannya, apa kau mau tambah lagi ??” Ujar Jeremy sembari menarik kembali tangannya, Sherly menggeleng pelan, sembari tertawa malu.
“Ti.. Tidak perlu.. Apakah wajahku terlihat sangat berantakan ??”
“Tidak, kau terlihat sangat cantik.”
Demi Tuhan !! Jika ini bukan tempat umum !! Sherly benar-benar akan berteriak karena malu dan salah tingkah. Kenapa sang penulis malah memberikan wajah yang terlalu tampan untuk antagonis di depannya ini ?! Oke, ini terlalu lebay.
Tapi Sherly, kau harus ingat !! Antagonis itu sosok yang sangat licik, jangan terlalu terpengaruh pada perkataannya. Sherly harus menguatkan dirinya, agar tidak terjebak pada pesona Jeremy. Ingat dia harus menjaga lelaki itu, agar tidak meninggal di akhir cerita.
“Terima kasih.” Ujar Sherly sembari tersenyum, dirinya harus bisa bertingkah senormal mungkin di hadapan Jeremy.
“Baiklah, tunggu disini. Aku akan membayarnya.”
“Baiklah.. Aku akan mengganti bagianku, aku membawa uang yang cukup.”
Jeremy menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, aku yang mengajakmu, maka aku juga yang harusnya membayarimu.” Ujar Jeremy sembari mengulurkan tangannya membelai rambut Sherly tidak lama, kemudian dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah kasir.
Sherly terdiam sejenak, tangannya menyentuh rambutnya yang di belai oleh Jeremy. Seketika pipinya kembali memerah, demi Tuhan !! Apakah Sherly bisa menjaga karakternya, jika lelaki di depannya itu benar-benar romantis seperti ini ??
Jika aku tidak menjaga karakterku, aku benar-benar akan seperti wanita murahan di depannya. Batin Sherly merasakan perlakuan lembut dari Jeremy.
Kenapa di novel tidak ada adegan seperti ini ?! Oh iya, dia ingat Sherly di dalam novel selalu menghindari Jeremy, seakan wanita itu takut kepada sang antagonis. Tapi kenapa ?? Tidak ada penjelasan lain, selain Sherly yang menjaga dirinya dari lelaki lain, hanya demi suaminya itu.
Suaminya bisa berselingkuh, bahkan membawa selingkuhannya ke rumah, tapi Sherly justru menjaga dirinya dari lelaki lain. Batin Sherly dengan miris, mengingat perlakuan buruk Vincent pada Sherly di dalam novel.
“Kau terlalu banyak melamun.”
Suara lembut terdengar, menyadarkan Sherly dari lamunannya, dan menoleh melihat Jeremy sudah berdiri di sampingnya.
“Jangan terlalu banyak berfikir, itu tidak baik untukmu.” Lanjut Jeremy masih dengan nada lembutnya. Membuat Sherly tertawa pelan, karena malu.
“Maafkan aku.”
Jeremy mengulurkan tangannya, “Mau melanjutkan jalan-jalan kita ??”
“Tentu.” Sherly meraih uluran tangan Jeremy, tanpa memperdulikan kalimat lelaki itu yang menyebut istilah ‘kita’.
Kedua orang itu kemudian berlalu dari restoran kecil, dan mulai melanjutkan jalan-jalan mereka di mall. Sepanjang perjalanan Sherly terlihat mengagumi mall itu di dalam novel. Benar-benar sangat indah, tidak jauh berbeda dari mall di dunia nyata.
“Ehm.. Sherly.. ??”
“Iya ??” Sherly menoleh tanpa menghentikan langkah kakinya, dia bisa melihat wajah yang sedikit berbeda dari Jeremy, ada sesuatu dari balik mata Light hazel yang terlihat sangat bingung.
“Bisa aku meminta tolong padamu..” Suara itu terlihat gelisah, antara bingung, takut tapi juga terlihat tatapan berbeda yang tidak bisa Sherly baca.
“Tentu, ada apa ??”
“Huft.. Maafkan aku, jika ini merepotkanmu katakan saja.. Kau bisa menolaknya.”
Seketika langkah kaki Sherly terhenti sejenak, dan entah bagaimana Jeremy juga mengikuti pergerakan Sherly, dan menghentikan kakinya di saat yang bersamaan. Sherly seketika memiringkan posisi tubuhnya menatap ke arah Jeremy.
“Kau terlihat sangat serius ?? Ada masalah ??” Tanya Sherly saat menatap ekspresi bingung dari lelaki di depannya.
Jeremy menghela nafasnya berat, “Teman-temanku, mengajakku untuk pertemuan di sebuah club malam. Aku sebenarnya merasa malas jika terlalu lama di sana, karena itu aku berfikir ingin mengajakmu, agar aku mendapat alasan untuk pulang lebih awal.” Ujar Jeremy menjelaskan keinginannya, Sherly terdiam sejenak. Dia memang tidak mengetahui kehidupan asli Jeremy, karena lelaki itu hanyalah antagonis yang bertindak dalam bayangan.
Tidak banyak kalimat yang menjelaskan mengenai Jeremy, hanya sedikit peringatan jika lelaki di depannya adalah sosok yang sangat berbahaya. Bolehkah Sherly berpura-pura buta dengan semua peringatan itu, dan memilih untuk bisa lebih dekat dengan sang lelaki ???
“Tentu saja.. Tapi aku tidak mau meminum alkohol.” Ujar Sherly.
Jeremy tersenyum, “Tenang saja, di sana banyak sekali minuman selain alkohol. Pilih saja, mana yang kamu mau.” Ujar Jeremy dengan lembut sembari membelai rambut Sherly.
“Baiklah, aku akan menemanimu.” Ujar Sherly dengan pasrah, sebenarnya ada keraguan dari wanita itu dengan ajakan Jeremy, lelaki dan perempuan berdua pergi ke klub ?? Oh, apa kata orang-orang nantinya.
Tapi lelaki itu berkata mereka juga akan bertemu dengan teman-temannya yang lain, tapi teman yang mana ?? Di dalam novel sosok Jeremy adalah tokoh yang sangat misterius, bahkan sangat jarang sekali muncul. Tapi entah kenapa, Sherly justru sangat tertarik pada Jeremy, sang tokoh antagonis misterius daripada Aluna.
“Ya udah, mending kita langsung kesana sekarang, takutnya keburu malam.” Ujar Jeremy menatap ke arah jam tangannya.
“Memang ini jam berapa ??”
“Jam sembilan malam, udah ayo..” Ujar Jeremy sembari meraih tangan Sherly dan menggandengnya, menuju ke arah lift untuk turun ke lantai bawah, tepatnya lokasi parkir basemen mall.
Sherly yang asyik mengikuti Jeremy, tidak pernah menyadari senyuman licik dari balik topeng sang antagonis. Wajah tersenyum ramah, seakan meyakinkan siapapun jika Jeremy adalah lelaki yang baik dan alim, nyatanya di balik kebaikan itu, Jeremy menyimpan sesuatu yang buruk.
🌟🌟🌟
..