NovelToon NovelToon
Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Tamu Tak Diundang dan Sandiwara Gagal

Suasana meja makan yang tadi terasa romantis bin canggung, mendadak berubah menjadi medan tempur saat ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama "Varro - Si Utang Banyak" berkedip di layar.

Calvin mengangkatnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih memegang sendok sup dengan elegan. "Ya, Navarro?"

"VIN! GUE DI DEPAN LOBI!" suara cempreng Varro terdengar bahkan tanpa perlu fitur loudspeaker. "Gue dapet libur dua hari! Kangen banget sama adek gue yang centil itu. Bukain pintu lift dong, gue bawa martabak nih!"

Uhuk!

Nirbi yang sedang menyeruput sup pereda mabuk langsung tersedak. Matanya melotot ke arah Calvin. "Abang?! Sekarang?!"

Calvin mematikan ponselnya dengan gerakan secepat kilat. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sedikit panik—bukan karena takut pada Varro, tapi karena ia sadar penampilan mereka berdua sangat tidak "normal".

"Nirbita! Cepat pakai high neck atau syal! Bekas kemerahan di lehermu itu... Navarro bisa membunuh saya kalau dia lihat," perintah Calvin tegas sambil berdiri.

"Ih! Kakak juga! Bibir Kakak tuh, ada bekas luka gigitan kecil tau! Nanti kalau Abang tanya kenapa, mau jawab apa?!" Nirbi panik sendiri, ia berlari ke kamarnya mencari baju yang bisa menutupi leher.

"Katakan saja saya sariawan!" sahut Calvin asal sambil merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah sangat rapi.

Sandiwara Dimulai

Lima menit kemudian, pintu lift terbuka. Varro masuk dengan gaya sok keren, menenteng kantong plastik berisi martabak manis yang berminyak—hal yang biasanya membuat Calvin ingin melakukan ritual pengusiran setan.

"HALOOO PENGHUNI RUMAH SAKIT! Abang pulang!" teriak Varro sambil merentangkan tangan.

Nirbi keluar dari kamar dengan memakai sweater rajut tebal sampai menutupi dagu, meski cuaca Jakarta sedang panas-panasnya. "Abanggg! Kok nggak bilang-bilang sih mau ke sini!"

Varro memeluk Nirbi erat, lalu mengerutkan kening. "Bi, kamu kenapa pake baju musim dingin? Kamu sakit? Muka kamu merah banget, terus itu... bibir kamu kenapa bengkak gitu? Digigit tawon?"

Nirbi melirik Calvin yang sedang pura-pura membaca koran (padahal korannya terbalik). "E-eh, ini... ini alergi, Bang! Iya, alergi debu di kantor Kak Calvin!"

Varro menyipitkan mata, lalu beralih ke Calvin. Ia berjalan mendekati musuh lamanya itu dan memperhatikan wajah Calvin dengan jarak hanya sepuluh sentimeter.

"Vin, lo juga kenapa? Bibir lo robek dikit. Lo berantem sama siapa? Atau jangan-jangan..." Varro menggantung kalimatnya.

Jantung Calvin berdegup kencang. Apa dia tahu?

"Jangan-jangan lo berdua makan martabak pedas tanpa ngajak gue ya?!" lanjut Varro dengan nada menuduh.

Calvin menghela napas lega yang sangat panjang. "Otakmu memang hanya berisi makanan, Navarro. Masuklah, tapi jangan berani-berani menjatuhkan remah martabak itu di karpet saya."

Momen-Momen Berbahaya

Selama satu jam, mereka bertiga duduk di ruang tamu. Varro terus bercerita tentang usahanya yang mulai merangkak naik, sementara Calvin dan Nirbi duduk berjauhan dengan kaku.

"Eh, Bi," Varro tiba-tiba menoleh ke adiknya. "Gimana Calvin? Dia nggak galak-galak banget kan? Dia nggak macem-macem sama kamu, kan?"

"Nggak kok, Bang... Kak Calvin baik banget. Malah... malah sering kasih cokelat," jawab Nirbi gugup.

"Kasih cokelat?" Varro menatap Calvin curiga. "Vin, lo nggak lagi nyogok adek gue biar dia nggak lapor kalau lo nindas dia, kan?"

Calvin berdehem, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Saya hanya memastikan asisten saya punya energi yang cukup untuk bekerja. Tidak lebih."

Tepat saat itu, Nirbi bergerak untuk mengambil air minum, namun kakinya tersandung kaki meja (dasar ceroboh!). Secara refleks, Calvin langsung melompat dari kursinya dan menangkap pinggang Nirbi agar tidak jatuh.

Posisi mereka sangat intim. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Calvin menatap mata Nirbi dengan tatapan protektif yang sangat dalam—tatapan yang sama sekali tidak ditujukan untuk seorang "asisten".

Varro terdiam. Ia melihat tangan Calvin yang melingkar erat di pinggang adiknya, dan tangan Nirbi yang mencengkeram kemeja Calvin di bagian dada.

"Ehem," Varro berdehem keras. "Kayaknya reflek lo bagus banget ya, Vin. Melebihi reflek seorang 'musuh' yang terpaksa dititipin adek."

Calvin segera melepaskan Nirbi dan kembali berdiri tegak dengan wajah dingin andalannya. "Saya hanya tidak ingin lantai saya rusak karena tertimpa tubuh adikmu yang berat."

"Berat?! Heh! Aku langsing ya!" protes Nirbi sambil memukul lengan Calvin tanpa sadar.

Varro memperhatikan interaksi itu dengan mata menyipit. Sebagai seorang kakak, instingnya mulai mencium sesuatu yang tidak beres—atau mungkin, sesuatu yang terlalu "manis" untuk hubungan musuh.

"Okee... gue bakal nginep di sini semalam. Gue mau liat gimana cara lo berdua berinteraksi kalau lagi nggak ada tamu," ujar Varro santai sambil menyandarkan punggungnya di sofa.

Calvin dan Nirbi saling berpandangan. Gawat. Malam ini bakal jadi malam yang sangat panjang untuk menyembunyikan "kuman cinta" di antara mereka.

1
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
ga takut di gigit nyamuk bulan madu di hutan 🤣
Rian Moontero
mampiiirrr/Bye-Bye/👍😍
umie chaby_ba
amazon ga tuh... 🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
An
amit" pake penggaris??diukur segala?? kang bangunan kah🤭🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih kak, sudah mampir 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
yaelah Caplin...
umie chaby_ba
kirain syekh puji... 😄😄😄🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
Vario Vario.. 🤣
umie chaby_ba
buset...🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
alah sia cemburu... 😄
umie chaby_ba
duh... si Caplin udh kedemenan itu 😍🤣🤣
Ariska Kamisa: Calvin kak... /Facepalm/
tapi lucu sih kenapa jadi Caplin /Chuckle/
Semoga kak umi menikmati cerita saya yaa... /Kiss/
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah lucu😄
umie chaby_ba
Dih.. Varro Kocagghh....
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ini ceritanya romansa komedian nih... asik kayanya .. kakaknya kocakk.
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!