Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di ruang keluarga yang hanya diterangi lampu sudut yang temaram, Rengganis menyandarkan kepalanya di bahu Permadi. Namun, pikirannya tidak sesantai posisi tubuhnya.
Jemarinya memainkan ujung gaunnya dengan gelisah, sebuah tanda bahwa ada beban yang masih mengganjal di hatinya.
"Permadi..." panggilnya pelan.
"Ya, Sayang?" sahut Permadi sambil mengelus lengan Rengganis dengan ibu jarinya, memberikan rasa nyaman yang menenangkan.
"Apa kamu tidak pernah memikirkan masa depan kita? Maksudku, secara visual?" Rengganis menghela napas panjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang memantulkan bayangan mereka berdua.
"Bisa jadi sepuluh atau lima belas tahun lagi, perbedaannya akan semakin nyata. Kalau kita jalan berdua, pasti akan ada orang yang menatap keanehan. Mereka mungkin akan menganggap kita sebagai ibu dan anak, bukan suami istri."
Rengganis memejamkan mata, membayangkan cemoohan sosial yang mungkin akan ia terima saat keriputnya semakin jelas sementara Permadi baru memasuki usia matang yang gagah.
"Aku takut kamu akan malu, Permadi. Aku takut suatu saat kamu sadar bahwa kamu butuh seseorang yang kecantikannya lebih tahan lama," bisiknya lirih.
Permadi menghentikan gerakan tangannya. Ia melepaskan rangkulannya, bukan untuk menjauh, melainkan untuk memutar tubuh Rengganis agar mereka bisa berhadapan sepenuhnya.
Ia menangkup kedua pipi Rengganis, memaksa istrinya melihat kesungguhan di matanya.
"Ganis, lihat aku. Biarkan mereka menganggap apa pun yang mereka mau. Kalau mereka bilang kamu ibuku, aku tinggal menciummu di depan mereka agar mereka tahu siapa yang punya dokter cantik ini," ucap Permadi dengan senyum miring yang sedikit menantang.
Ia mengusap tulang pipi Rengganis dengan ibu jarinya.
"Kamu tahu kenapa aku tidak butuh wanita yang lebih muda? Karena wanita muda hanya punya kulit yang kencang, tapi mereka tidak punya kedalaman jiwa sepertimu. Mereka tidak punya ketenangan yang kamu berikan setiap kali aku pulang dalam keadaan lelah."
Permadi mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Rengganis.
"Sepuluh tahun lagi kamu akan tetap cantik di mataku. Kalaupun rambutmu memutih, aku akan ikut mengecat rambutku jadi putih supaya kita serasi. Jangan pernah berpikir aku akan malu, karena prestasimu, kecerdasanmu, dan hatimu adalah kebanggaan terbesarku."
Permadi mengecup ujung hidung Rengganis yang menggemaskan.
"Jadi, berhenti mengkhawatirkan mata orang lain. Cukup lihat mataku saja. Apa kamu lihat ada tanda-tanda aku akan pergi?"
Rengganis menggeleng pelan, air mata haru kembali menggenang, namun kali ini ia merasa jauh lebih kuat.
Ketulusan Permadi seolah menjadi perisai yang melindunginya dari rasa minder yang selama ini menghantuinya.
Kemudian Permadi mengajak istrinya untuk ke ruang keluarga.
Suasana di ruang keluarga itu terasa sangat nyaman.
Permadi sudah menyalakan televisi, memilih sebuah film romantis klasik untuk menemani sisa malam mereka.
Aroma popcorn yang baru saja ia hangatkan di microwave mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat layaknya di bioskop pribadi.
"Aku ke kamar sebentar ya, sepertinya ponselku berdering," ucap Rengganis tiba-tiba sambil berdiri dari sofa.
Permadi hanya menganggukkan kepalanya santai tanpa menaruh curiga.
"Jangan lama-lama, Sayang. Filmnya sudah mau mulai."
Rengganis melangkah cepat menaiki tangga. Namun, tujuannya bukan ponsel, melainkan tempat sampah di sudut kamar.
Dengan jantung yang berdebar liar, ia mengambil kembali bungkusan satin hitam yang tadi ia buang.
Ia mengeluarkan lingerie merah itu, merapikan kerutannya, dan menatap pantulan dirinya di cermin besar.
"Ayo, Ganis. Kamu bisa melakukannya," bisiknya pada diri sendiri.
Dengan tangan gemetar, ia menanggalkan gaun hitam elegannya dan mulai mengenakan kain sutra merah yang sangat minim itu.
Saat tali tipisnya menyentuh bahu dan renda transparannya membungkus tubuhnya,
Rengganis merasa seperti orang yang berbeda.
Ia menyisir rambutnya agar tergerai bebas dan memulas sedikit lipstik merah yang senada.
Setiap langkah menuruni tangga terasa seperti dentum genderang perang di dadanya.
Rengganis merasa sangat malu, namun ada dorongan keberanian yang muncul karena ia ingin membalas ketulusan suaminya tadi.
Di ruang keluarga, Permadi sedang duduk santai sambil menikmati popcorn-nya, matanya fokus ke layar televisi yang sedang menampilkan adegan pembuka film.
"Lama sekali, Sayang? Ponse—"
Kalimat Permadi terputus seketika. Tangannya yang hendak memasukkan popcorn ke mulut membeku di udara.
Ia menoleh dan mendapati istrinya berdiri tidak jauh dari sofa, bukan lagi dengan gaun hitam yang sopan, melainkan dengan "hadiah" merah yang tadi ia berikan.
Permadi menelan salivanya dengan susah payah, matanya menatap tanpa kedip ke arah Rengganis.
Cahaya remang dari layar televisi memantul di atas kulit putih Rengganis yang kontras dengan warna merah berani dari lingerie tersebut.
Popcorn di tangannya jatuh kembali ke dalam wadah. Permadi merasa tenggorokannya mendadak sangat kering.
Dokter spesialis yang biasanya terlihat sangat otoriter di rumah sakit itu, kini bertransformasi menjadi sosok yang begitu menggoda dan rapuh di saat yang bersamaan.
"Ganis. Aku rasa, kita sudah tidak tertarik lagi menonton filmnya."
Rengganis menggigit bibir bawahnya, menatap Permadi dengan tatapan antara malu dan menantang.
"Tadi katanya, poin nomor lima?"
Permadi perlahan berdiri dari sofa, mengabaikan film yang masih berjalan.
Ia melangkah mendekati istrinya, matanya tidak sekalipun beralih dari sosok Rengganis yang kini sukses membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Cahaya televisi yang berkedip-kedip kini menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu, membiaskan bayangan mereka berdua di dinding.
Tanpa peringatan, Permadi meletakkan tangannya di bawah lipatan lutut dan punggung Rengganis, lalu membopong tubuh istrinya itu dengan satu gerakan mantap.
Rengganis memekik kecil karena terkejut, secara refleks melingkarkan lengannya di leher kokoh Permadi.
Ia bisa merasakan kekuatan otot suaminya dan aroma sabun mandi yang segar bercampur dengan maskulinitas yang kuat.
"Permadi..." bisik Rengganis.
Dengan satu tangan yang bebas, Permadi meraih sakelar di dinding, mematikan lampu rumah hingga suasana menjadi gelap gulita, menyisakan kesunyian yang intim.
Ia membawa Rengganis menaiki tangga dengan langkah pasti, seolah beban di lengannya adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki.
Sesampainya di dalam kamar, Permadi menurunkan Rengganis dengan perlahan di atas ranjang yang empuk.
Cahaya bulan yang menembus celah gorden memberikan penerangan remang, menyinari warna merah lingerie yang dikenakan Rengganis.
"A-aku malu..." ucap Rengganis lirih.
Ia mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan, rasa tidak percaya dirinya kembali mencuat di bawah tatapan intens Permadi.
"Untuk apa malu, Sayang?"
Permadi berlutut di tepi tempat tidur, meraih jemari Rengganis dan mengecupnya satu per satu.
"Aku suamimu. Dan di mataku, tidak ada pemandangan yang lebih indah daripada wanita yang sedang bersamaku sekarang."
Permadi merangkak naik, memposisikan dirinya di atas Rengganis tanpa memberikan beban yang berat.
Ia menatap dalam ke manik mata istrinya, mencari sisa-sisa keraguan dan menghapusnya dengan senyum tulus.
"Kamu cantik, Ganis. Sangat cantik," bisiknya parau.
Permadi perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Rengganis.
Awalnya hanya sentuhan ringan yang menggoda, sebelum akhirnya ia memberikan ciuman khasnya
Rengganis memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa malu yang tadi menghimpit perlahan menguap, digantikan oleh gelombang panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia mulai membalas ciuman yang diberikan oleh suaminya.
Jantungnya berdetak kencang, beradu dengan detak jantung Permadi yang sama liar di balik dadanya.
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, segala perbedaan usia, cemoohan sosial, dan bayangan masa lalu seolah lenyap.
Hanya ada mereka berdua, dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan yang tepat, membuktikan bahwa cinta tidak mengenal waktu, hanya mengenal detak yang saling terpaut.
Suara desahan mereka terdengar jelas di dalam kamar.
Setelah hampir satu jam mereka melakukan hubungan intim.
Di bawah selimut yang hangat, Rengganis merebahkan kepalanya, bersandar di dada bidang suaminya yang masih terasa hangat.
Suasana ini begitu asing, namun sekaligus begitu nyaman bagi Rengganis.
Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang sekarang terasa seperti irama yang paling menenangkan di dunia.
"M-mas, terima kasih," bisik Rengganis.
Permadi, yang tadinya sedang mengelus pelan rambut Rengganis, tiba-tiba menghentikan gerakannya.
Ia menunduk, mencoba menatap wajah istrinya yang masih menyembunyikan rona merah di dadanya.
"Sayang, kamu panggil aku apa tadi? Mas?" tanya Permadi dengan wajah terkejut sekaligus penuh kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Rengganis menganggukkan kepalanya pelan di dalam pelukan Permadi.
Ia tidak berani mendongak, merasa malu dengan perubahan panggilannya yang tiba-tiba.
"Iya, Mas," ulang Rengganis dengan suara yang sedikit lebih jelas.
Meskipun usianya jauh di atas Permadi, meskipun selama ini ia merasa sebagai pihak yang lebih dewasa dan senior, malam ini mengubah segalanya.
Rengganis sadar sepenuhnya bahwa di hadapan Tuhan dan hukum, Permadi adalah imamnya.
Pria yang baru saja membuktikan pengabdian dan cintanya dengan begitu tulus.
Biasanya, ia selalu memanggilnya dengan sebutan "Berondong" atau "Tuan Muda" sebagai bentuk pertahanan diri atau sekadar ejekan. Namun sekarang, dinding pertahanan itu telah runtuh total.
Permadi terkekeh rendah, suara tawanya terasa menggetarkan dada yang menjadi sandaran Rengganis.
Ia memeluk Rengganis lebih erat lagi, lalu mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan.
"Aku suka sekali dengarnya, Ganis. Rasanya jauh lebih enak daripada dipanggil CEO atau Tuan Muda," ucap Permadi dengan nada bangga.
"Panggil lagi, coba."
"Jangan tuman," sahut Rengganis ketus, namun ia justru semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Permadi.
"Ayolah, sekali lagi saja untuk suamimu yang sudah bekerja keras malam ini," goda Permadi sambil mencolek hidung Rengganis.
Rengganis akhirnya mendongak, menatap mata Permadi yang berkilau jenaka.
"Iya, Mas Permadi. Sekarang waktunya tidur!"
Permadi tersenyum lebar, ia menarik selimut untuk menutupi bahu mereka berdua.
"Baik, Ibu Dokter. Malam ini aku tidur sebagai pria paling bahagia karena akhirnya diakui sebagai 'Mas' oleh istrinya sendiri."
Malam itu berakhir dengan senyum di wajah keduanya.