NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LINGKUNGAN MALAIKAT, GAJI SEDEKAH

Setelah keluar dari "Neraka Ruko" milik Pak Mulyono, Bagas sempat menganggur selama tiga minggu. Masa-masa itu ia habiskan dengan membantu Bapak di bengkel las dan sesekali memijat kaki Ibu yang sering kram. Meski hatinya cemas melihat tabungan yang kian menipis, Bagas merasa jiwanya perlahan pulih. Warna wajahnya yang sempat abu-abu monyet kini mulai kembali segar.

Sampai suatu hari, sebuah panggilan datang dari sebuah yayasan pendidikan kecil yang juga mengelola unit bisnis percetakan. Namanya "Cahaya Ilmu Kreatif". Saat Bagas datang untuk wawancara, ia tidak disambut oleh bentakan atau aroma stres, melainkan oleh suara tawa dari dalam ruangan dan bau kopi luwak sachet yang harum.

"Halo, kamu Bagas ya? Masuk, masuk. Maaf ya berantakan, kita habis ngerayain ulang tahun kucing kantor," sapa seorang pria paruh baya bernama Pak Danu. Wajahnya teduh, tipe bapak-bapak yang kalau marah paling cuma bilang, "Aduh, kok gitu sih?"

Bagas diterima saat itu juga. Tanpa tes yang aneh-aneh. Dan benar saja, seminggu pertama bekerja, Bagas merasa seperti sedang berada di taman bermain. Teman-temannya, Mas Bowo dan Mbak Laras, adalah manusia-manusia paling baik yang pernah Bagas temui.

"Gas, ini meja kamu. Kalau haus ambil aja di dispenser, kalau lapar itu di lemari ada kerupuk sama abon. Anggap rumah sendiri ya," ujar Mbak Laras sambil memberikan sebuah tanaman kaktus kecil untuk menghias meja Bagas.

Bagas hampir menangis. Tidak ada lempar tanggung jawab, tidak ada teriakan, dan yang paling penting: Jam lima sore teng, Pak Danu bakal berdiri dan bilang, "Ayo pulang, kasihan keluarga nunggu di rumah. Kerja itu secukupnya, ibadah itu selamanya."

Selama sebulan, Bagas merasa hidupnya sangat tenang. Ia bisa pulang tepat waktu, makan malam bareng Ibu dan Bapak, bahkan sempat ikut pengajian di masjid dekat rumah. Teman-temannya di kantor sering membantunya kalau ia kesulitan.

Pokoknya, lingkungan kerja ini adalah definisi dari "Work-Life Balance" yang sering diidam-idamkan anak muda di media sosial. Namun, momen kejujuran itu akhirnya datang di akhir bulan. Hari itu adalah tanggal dua puluh lima, hari yang paling dinanti oleh seluruh buruh di muka bumi. Pak Danu memanggil Bagas ke ruangannya dengan senyum yang sangat tulus.

"Ini amplop gaji pertama kamu, Gas. Maaf ya kalau belum banyak, yayasan kita kan memang lagi merintis. Semoga barokah ya," kata Pak Danu sambil menyerahkan amplop putih tipis.

Bagas keluar dari ruangan dengan perasaan berbunga-bunga. Ia sudah membayangkan akan membelikan Ibu daster baru dan mengajak Bapak makan sate kambing depan gang. Ia duduk di mejanya, menarik napas dalam, lalu perlahan membuka amplop itu.

Bagas mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menutup amplopnya, lalu membukanya lagi. Mungkin saya salah lihat, pikirnya.

 Ia menghitung lembaran uang di dalamnya. Satu lembar seratus ribu, dua lembar lima puluh ribu... dan beberapa lembar dua puluh ribu. Totalnya? Tidak sampai menyentuh angka dua juta rupiah. Untuk ukuran Jakarta, gaji ini lebih mirip "uang jajan tambahan" daripada gaji seorang karyawan tetap.

"Kenapa, Gas? Kaget ya?" Mas Bowo tiba-tiba muncul di sampingnya sambil mengunyah gorengan. "Sama, saya juga dulu pas pertama dapet gaji di sini langsung istighfar tujuh kali."

"Mas, ini... ini beneran gajinya segini?" tanya Bagas dengan suara bergetar.

Mas Bowo duduk di kursi sebelah Bagas, wajahnya berubah serius tapi tetap ramah. "Iya, Gas. Di sini mah gajinya emang 'toxic'. Cukup buat bayar bensin sama beli sabun colek doang. Tapi ya itu, hatinya tenang. Nggak ada yang maki-maki kita. Pak Danu itu orang baik banget, tapi ya hartanya emang di akhirat, bukan di bank."

Bagas terdiam. Ia melihat slip gajinya. Setelah dipotong ongkos angkot selama sebulan dan uang makan siang (yang padahal dia sudah sering bawa bekal), sisa uang yang bisa ia kasih ke Ibu tinggal uang yang bisa ia kasih ke Ibu tinggal sedikit sekali. Bagaimana ia bisa membawa Ibu ke luar negeri kalau gaji sebulan saja habis cuma buat bayar cicilan motor bapak yang nunggak?.

Sore itu, Bagas pulang dengan perasaan yang sangat kontradiktif. Hatinya sangat senang karena ia punya teman kerja yang seperti saudara, tapi kepalanya pusing memikirkan cara membayar tagihan listrik rumah yang sudah berwarna merah.

Di meja makan, Bagas menyerahkan sebagian gajinya ke Ibu. "Bu, ini gaji pertama Bagas di tempat baru. Maaf ya, Bu... cuma sedikit banget."

Ibu menerima uang itu, menghitungnya sekilas, lalu tersenyum lebar jenis senyum yang selalu membuat Bagas merasa bersalah. "Alhamdulillah, Gas. Sedikit atau banyak itu relatif. Yang penting kamu kerjanya senang, nggak pulang tengah malam sambil muka ditekuk. Ibu lebih suka uang segini tapi kamu sehat, daripada uang banyak tapi kamu kayak orang nggak punya nyawa."

Bagas tersenyum pahit. Kata-kata Ibu memang menenangkan, tapi kenyataan bahwa bapak harus tetap mengelas besi dengan mata yang mulai rabun karena uang mereka belum cukup untuk operasi katarak, membuat Bagas tidak bisa tenang begitu saja.

Ia bertahan di Cahaya Ilmu Kreatif selama satu tahun penuh. Selama setahun itu, ia menjadi orang paling bahagia secara mental, tapi paling menderita secara finansial.

 Ia ahli dalam membagi satu bungkus mi instan menjadi dua porsi makan, dan ia menjadi raja dalam urusan menawar harga di pasar. Sampai pada suatu titik, Bagas sadar. Ia sudah cukup beristirahat secara mental. Sekarang, usianya makin bertambah, dan kebutuhan orang tuanya makin mendesak.

"Mas Bowo, Mbak Laras, Pak Danu..." kata Bagas di suatu sore setelah setahun bekerja. "Bagas mohon pamit. Bagas sayang banget sama tempat ini, tapi Bagas harus cari tempat yang bisa bantu Bagas wujudin mimpi buat orang tua."

Pak Danu tidak marah. Beliau justru memeluk Bagas. "Pergilah, Gas. Kamu anak baik, kamu berhak dapat yang lebihbesar. Jangan lupa mampir sini kalau kangen gorengan Mbak Laras."

Bagas keluar dari kantor itu dengan air mata di sudut matanya. Ia meninggalkan "Malaikat-malaikat" itu demi sebuah pertempuran baru. Ia melamar ke sebuah perusahaan manufaktur besar yang kabarnya punya gaji dua kali lipat UMR, ditambah bonus yang menggiurkan.

"Bismillah," gumam Bagas saat menatap gedung pabrik raksasa di depannya. "Gaji besar, saya datang. Semoga kali ini bosnya bukan titisan naga." Namun, Bagas belum tahu, bahwa di balik gaji yang besar, ada seorang Bos yang sanggup membuat suara guntur terdengar seperti bisikan lembut.

Di sini Bagas akan masuk ke fase "Upgrade Nasib". Dari gaji sedekah, langsung loncat ke gaji yang bikin dompetnya tebal, tapi imbalannya adalah ketenangan batin yang digadaikan setiap hari.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!