NovelToon NovelToon
SETELAH HUJAN BERHENTI

SETELAH HUJAN BERHENTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Romantis
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.

Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.

Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.

Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAPAMU ARSEN

Siang itu, matahari bersinar terik, namun suasana di depan sekolah terasa jauh lebih tenang dibandingkan pagi tadi. Arsen sengaja datang lebih awal, berdiri tegap di samping pintu mobil dengan kacamata hitamnya, menyapu setiap sudut jalanan, pohon peneduh, hingga gang-gang kecil di sekitar sekolah.

Benar saja. Tidak ada jejak Laras.

Tempat di bawah pohon seberang jalan itu kini kosong. Tidak ada lagi wanita bersyal yang berdiri mematung dengan tatapan penuh kerinduan yang mengintai. Tekanan udara yang tadinya terasa berat seolah terangkat, menyisakan hiruk-pikuk normal anak-anak sekolah yang berhamburan keluar gerbang.

"Mama! Papa!" seru Arlo sambil berlari kencang, kali ini dengan tas robot merahnya yang baru.

Arsen menyambut Arlo dengan gendongan kuat, mencium pipi putranya yang sedikit berkeringat. "Gimana sekolahnya hari ini, Jagoan?"

"Seru! Tadi aku main robot sama Romeo. Terus... hantunya sudah pergi, Pa!" ucap Arlo dengan polosnya sambil menunjuk ke arah seberang jalan. "Tadi aku lihat dari jendela, pohonnya sudah nggak ada siapa-siapa. Robot aku hebat ya, bisa usir hantu!"

Arsen dan Rosa saling berpandangan. Rosa tersenyum tipis, ada rasa lega yang luar biasa merambat di dadanya. Ia mengusap kepala Arlo dengan sayang.

"Iya, Sayang. Robot Arlo hebat, dan Papa juga hebat jagain Arlo," bisik Rosa.

Mereka pun masuk ke dalam mobil. Arsen melajukan kendaraannya dengan perlahan, sengaja melewati titik tempat Laras berdiri tadi pagi hanya untuk memastikan sekali lagi. Kosong. Benar-benar bersih. Sepertinya peringatan keras Arsen tadi pagi berhasil mengetuk sisa-sisa kesadaran Laras bahwa keberadaannya hanya akan menyakiti Arlo.

"Mas," panggil Rosa lembut saat mereka sudah di perjalanan.

"Ya, Sayang?"

"Terima kasih ya, sudah jadi benteng buat kami. Aku merasa... jauh lebih aman sekarang," ucap Rosa sambil menggenggam tangan Arsen yang berada di tuas transmisi.

Arsen meremas balik tangan istrinya, sesekali melirik Arlo yang sudah asyik menyanyi di kursi belakang. "Selama aku masih bernapas, nggak akan ada yang bisa ganggu kalian lagi. Bab itu sudah benar-benar tertutup, Rosa."

Hari itu ditutup dengan tawa Arlo yang menceritakan tentang bekal makan siangnya yang habis tak bersisa. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu di spion mobil mereka. Hanya ada jalan panjang di depan yang siap mereka lalui sebagai keluarga yang utuh dan bahagia.

Suasana ruang tamu yang tadinya tenang mendadak mencekam. Rosa, yang sedang menyiapkan camilan sore, hampir menjatuhkan piring keramik di tangannya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ditarik kembali ke masa lalu yang paling ia takuti.

Arlo, yang kini sudah duduk di kelas 3 SD, tersedu-sedu di sofa. Seragam putih-merahnya tampak sedikit kusut, dan wajahnya memerah karena menahan tangis yang pecah.

"Arlo kenapa, Sayang?" tanya Rosa dengan suara bergetar, ia segera berlutut di depan putranya.

Pak Ayi, supir setia mereka yang menjemput Arlo hari itu, berdiri di dekat pintu dengan wajah serba salah dan prihatin. "Itu Bu... temannya bilang Arlo kaya karena ayahnya Arsen, padahal Arsen bukan ayahnya," lapor Pak Ayi pelan. "Mereka bilang papa asli Arlo dipenjara."

Rosa merasa dunianya berputar. Rahasia yang selama ini mereka simpan rapat-rapat, yang mereka jaga dengan tembok perlindungan setinggi langit, tiba-tiba bocor lewat mulut anak-anak sekolah yang kejam.

"Maksud mereka apa, Mama?" tanya Arlo sambil sesenggukan, menatap Rosa dengan mata bulat yang penuh luka. "Papa Arsen itu Papa Arlo, kan? Mereka bohong kan, Ma? Mereka bilang Papa asli aku orang jahat yang ada di penjara. Kenapa mereka bilang begitu?"

Rosa tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya terasa tersumbat. Bagaimana cara menjelaskan kenyataan pahit ini kepada anak usia sembilan tahun yang selama ini hanya tahu bahwa Arsen adalah pahlawannya?

Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Arsen baru saja pulang lebih awal dari kantor. Ia langsung menghentikan langkahnya melihat pemandangan di ruang tamu: Arlo yang menangis histeris, Rosa yang pucat pasi, dan Pak Ayi yang tampak gelisah.

"Ada apa ini?" suara Arsen menggelegar, namun penuh kekhawatiran.

Arlo langsung berlari dan memeluk kaki Arsen dengan erat. "Papa! Papa bukan Papa Arlo ya? Kata mereka Papa Arlo di penjara! Bilang mereka bohong, Pa! Bilang kalau Papa itu Papa kandung Arlo!"

Arsen tertegun. Ia menatap Rosa, dan dari tatapan istrinya yang hancur, ia tahu bahwa hari yang paling mereka hindari telah tiba. Arsen perlahan berlutut, menyamakan tingginya dengan Arlo, lalu memegang kedua bahu putranya dengan mantap.

"Arlo, lihat Papa," ucap Arsen, suaranya dalam dan tenang, meski rahangnya mengeras menahan amarah pada siapa pun yang telah menyakiti perasaan anaknya

Arsen menarik napas panjang, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan hangat. Ia mengusap air mata di pipi Arlo dengan ibu jarinya, menatap dalam ke mata putranya yang masih berkaca-kaca.

"Arlo, coba dengar Papa. Papa mau tanya sesuatu," ucap Arsen lembut. "Siapa Papa dan Mama Arlo?"

Arlo sesenggukan, menjawab dengan suara yang masih gemetar. "Papa Arsen dan Mama Rosa..."

Arsen tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan. "Kalau kakek, nenek, dan om tante Arlo... Arlo tahu kan siapa mereka?" tanya Arsen lagi, merujuk pada keluarga besar mereka yang selama ini memang sangat memanjakan Arlo.

"Tahu... Semuanya hebat, sayang dan jaga Arlo," jawab Arlo polos. Ingatannya tentang kasih sayang keluarga besarnya sedikit meredakan isak tangisnya.

Arsen mengangguk mantap. Ia memegang kedua pundak Arlo, memberikan keyakinan penuh. "Nah, itu Arlo tahu. Berarti teman Arlo bohong, kan?"

Arlo terdiam sejenak, mencerna kata-kata papanya. Arsen melanjutkan dengan nada yang lebih berwibawa namun tetap penuh kasih.

"Papa adalah orang yang ada di sini setiap Arlo bangun tidur. Papa yang ajari Arlo main bola, Papa yang peluk Arlo kalau Arlo sedih. Dan Mama Rosa adalah orang yang melahirkan doa-doa paling banyak buat Arlo setiap hari. Keluarga kita nyata, Arlo. Sayang kita ke Arlo itu nyata."

Arsen kemudian menarik Arlo ke dalam pelukan yang sangat erat. "Orang di luar sana bisa bicara apa saja karena mereka tidak tahu betapa bahagianya kita. Jadi, mulai sekarang, kalau ada yang bicara seperti itu lagi, Arlo jangan menangis. Arlo cukup bilang: 'Papaku Arsen, Mamaku Rosa, dan mereka sangat sayang aku.' Bisa?"

Arlo mengangguk pelan di dalam pelukan Arsen. Meskipun hatinya masih sedikit bingung, rasa hangat dari pelukan papanya membuat ketakutan itu perlahan memudar.

Rosa yang melihat dari samping akhirnya bisa bernapas lega, meski matanya sendiri masih basah. Ia ikut berlutut dan memeluk mereka berdua. "Kita keluarga, Sayang. Sampai kapan pun, Arlo adalah putra kebanggaan Papa dan Mama."

Namun, di balik pelukan itu, mata Arsen menatap tajam ke arah Pak Ayi yang masih berdiri di sana. Ada kilatan amarah yang ia sembunyikan dari Arlo. Arsen tahu, informasi tentang "papa asli di penjara" tidak mungkin muncul dari imajinasi anak SD secara tiba-tiba. Pasti ada seseorang yang sengaja membisikkannya.

1
Susilawati Arum
Ganti panggilannya dong thor,, masa sama suami sendiri msh panggil nama..kan nggak sopan
nanuna26: baik ka
total 1 replies
falea sezi
keluarga nya kompak bgt meski! tau itu anak mantan arsen mereka ttep sayang sama. arlo/Sob/
falea sezi
q ksih hadiah karena dedek Arlo
falea sezi
apa ini anak mantan arsen
falea sezi
moga Rosa jdoh nya arsen ya
falea sezi
kok bs tinggal di rmh berdebu
nanuna26: kan arsen depresi dittinggal nikah mantannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!