Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Arena di Atas Awan
Bus pariwisata eksekutif yang membawa delegasi tim sains meluncur membelah kabut di jalur pendakian menuju Pusat Riset Nasional. Ini adalah babak final kompetisi "Sains Terapan" tingkat nasional bagi siswa SMP. Di dalam bus itu, suasana hening yang tegang sangat terasa. Di barisan kursi depan, Bima duduk sendirian, menatap pemandangan luar dengan sorot mata yang tajam dan tak tenang. Sementara itu, Senara duduk beberapa baris di belakangnya, sibuk memeriksa tumpukan jurnal cetak yang ia pinjam dari perpustakaan daerah.
Sejak kegagalan Bima mengusik beasiswa Senara, ia tidak lagi melakukan serangan terbuka. Namun, paranoia telah mencengkeramnya. Ia merasa setiap perangkat digital yang ia sentuh sedang diawasi oleh entitas misterius yang melindungi Senara.
"Kita akan sampai dalam tiga puluh menit," suara Darmono memecah keheningan melalui mikrofon. "Ingat, kalian bukan hanya membawa nama sekolah, tapi nama provinsi. Bima, sebagai koordinator teknis, pastikan semua perangkat digital sudah tersinkronisasi. Senara, sebagai ketua, pastikan narasi presentasi kita tidak bercelah."
Bima membuka tabletnya. Ia ingin memverifikasi data simulasi akhir yang akan dipresentasikan besok. Namun, saat jarinya menyentuh layar, sebuah anomali kembali terjadi. Data grafik yang seharusnya statis tiba-tiba berubah warna menjadi merah, lalu muncul sebuah pesan singkat di pojok layar.
“Fokus pada sains, bukan pada sabotase. Mata ini masih melihatmu.”
Bima tersentak, hampir menjatuhkan tabletnya ke lantai bus. Ia menoleh ke belakang, menatap ke arah Senara. Namun, gadis itu benar-benar sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar pada kaca bus, buku fisika masih terbuka di pangkuannya. Wajahnya tampak sangat lelah.
"Siapa? Kalau bukan dia, siapa yang melakukannya?" batin Bima, napasnya memburu. Ia mulai merasa bahwa ada kekuatan besar di luar sana yang menjadikan Senara sebagai proyek perlindungan mereka. Hal ini membuat Bima merasa kecil, sebuah perasaan yang sangat ia benci.
Mereka tiba di kompleks penginapan atlet dan pelajar yang megah. Setiap tim mendapatkan satu bungalow dengan fasilitas lengkap. Senara terpana melihat kemewahan itu. Kamar dengan kasur empuk, air hangat, dan meja belajar yang luas adalah mimpi yang tak pernah ia bayangkan.
"Nara, kamu tidak apa-apa?" tanya Maya, teman satu timnya, saat melihat Senara hanya berdiri diam di depan pintu kamar.
"Aku hanya... belum pernah melihat tempat seindah ini, May," jawab Senara jujur, kepolosannya terpancar jelas.
Di sisi lain, Bima justru sibuk melakukan hal yang tidak biasa bagi seorang siswa kelas dua SMP. Ia tidak membongkar baju, melainkan membongkar perangkat Wi-Fi di bungalow tersebut. Ia ingin memastikan tidak ada penyadapan. Namun, saat ia mencoba masuk ke sistem admin jaringan penginapan, sebuah pesan pop up muncul lagi di layar laptopnya.
[ACCESS DENIED]
“Kamu sedang bertamu, Tuan Muda. Jadilah tamu yang sopan.”
Bima membanting mouse-nya ke meja. "Sial! Siapa sebenarnya kalian? Kenapa kalian selalu ada dimana-mana!" teriaknya frustrasi.
Teriakan Bima terdengar hingga ke ruang tengah, tempat anggota tim lain sedang berkumpul. Senara, yang baru saja keluar dari kamarnya, berjalan mendekati ruang kerja Bima yang pintunya terbuka sedikit.
"Bima, kamu baik-baik saja?" tanya Senara dengan nada khawatir.
Bima berbalik, menatap Senara dengan tatapan penuh kebencian sekaligus ketakutan. "Berhenti bersikap seolah kamu tidak tahu apa-apa, Senara! Katakan padaku, siapa yang membantumu? Apa ayahmu punya kenalan orang intelejen? Atau kamu punya kakak yang bekerja di perusahaan keamanan cyber?"
Senara terdiam, matanya berkaca-kaca karena kaget dibentak secara tiba-tiba. "Bima, aku sudah bilang berkali-kali... aku tidak punya siapa-siapa. Ayahku... ayahku bahkan tidak tahu aku ada di sini sekarang. Dia hanya tahu aku sekolah. Kakak? Aku anak tunggal, kamu tahu itu dari berkas administrasiku."
"Lalu kenapa setiap kali aku ingin menjatuhkanmu, sistemku selalu diserang? Kenapa beasiswamu tidak bisa disentuh? Ada kekuatan yang melindungimu, Senara. Kekuatan yang bahkan tidak bisa dilacak oleh teknologi terbaik yang aku punya!"
Senara menggeleng, air mata mulai menetes di pipinya. "Aku tidak tahu, Bima! Demi Tuhan, aku tidak tahu! Mungkin... mungkin Tuhan memang tidak ingin kamu berbuat jahat padaku. Mungkin itu saja penjelasannya."
Melihat tangisan Senara, amarah Bima mendadak surut, berganti dengan kebingungan yang lebih dalam. Gadis di depannya ini terlihat sangat rapuh, ia tidak tampak seperti seseorang yang memiliki akses ke hacker kelas dunia. Ia hanyalah gadis miskin yang pintar, yang sedang ketakutan karena rekan satu timnya mulai kehilangan akal sehat.
"Maaf," gumam Bima, suaranya sangat rendah. Ia segera berpaling dan masuk kembali ke kamarnya, membanting pintu dengan keras.
Hari kompetisi dimulai. Di gedung konvensi yang megah, mereka menghadapi dewan juri yang terdiri dari para profesor senior dan praktisi industri. Bima dan Senara harus berdiri berdampingan di podium.
Saat presentasi dimulai, Bima bertugas mengoperasikan visualisasi data. Namun, di tengah presentasi, layar proyektor besar tiba-tiba berkedip. Jantung Bima hampir copot, ia takut entitas misterius itu akan memunculkan pesan memalukan di depan semua orang.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sebuah grafik yang tadinya sempat salah perhitungan oleh Bima secara otomatis terkoreksi di layar. Sebuah data tambahan yang memperkuat argumen Senara muncul secara halus, seolah-olah itu memang bagian dari presentasi mereka.
Senara, yang sedang bicara di depan mikrofon, sempat terhenti sejenak melihat data tambahan yang tidak ia buat itu. Namun, insting jeniusnya bekerja cepat. Ia langsung mengintegrasikan data tersebut ke dalam penjelasannya seolah-olah ia sudah menyiapkannya sejak awal.
"Dan seperti yang Anda lihat di layar," suara Senara mengalun tegas, "efisiensi metode kami terbukti meningkat sepuluh persen lebih tinggi dari estimasi awal berdasarkan data real time ini."
Para juri mengangguk kagum. Presentasi mereka berakhir dengan tepuk tangan dari seluruh hadirin.
Selesai presentasi, di belakang panggung, Bima menarik Senara ke sudut yang sepi.
"Kamu lihat tadi?" tanya Bima, napasnya memburu. "Data itu... aku tidak memasukkannya. Seseorang masuk ke sistem proyektor gedung ini dan membantumu."
Senara menatap Bima. "Aku pikir kamu yang menyiapkannya untuk mengejutkan para juri."
"Bukan aku, Senara! Aku bahkan belum sempat memverifikasi data itu!" Bima mencengkeram kepalanya sendiri. "Ini gila. Siapa pun orang ini, dia tidak hanya melindungimu, dia ingin kita menang. Tapi kenapa dia harus menggunakan cara seperti ini?"
Senara memegang lengan Bima, mencoba menenangkannya. "Bima, kalau pun ada orang itu... dia membantu kita, kan? Kita baru saja memberikan presentasi terbaik untuk tim kita. Kenapa kamu tidak bisa menerimanya saja?"
"Karena aku tidak suka dikendalikan!" bentak Bima pelan. "Aku ingin menang karena kemampuanku, bukan karena bantuan dari sosok yang tidak aku kenal!"
Malam harinya, pengumuman pemenang dilakukan di aula utama.
"Juara Pertama Kompetisi Sains Terapan Nasional: Delegasi Provinsi... kelompok dari Senara Zafira Atmaja dan Bima Arkana Adhikara Wijaya!"
Keduanya naik ke panggung. Senara tersenyum lebar dengan air mata bahagia, memegang piala besar itu dengan tangan gemetar. Bima berdiri di sampingnya, tersenyum ke arah kamera, namun matanya tetap dingin dan waspada.
Di saat mereka berfoto bersama, sebuah notifikasi masuk ke jam tangan pintar Bima. Ia meliriknya sebentar.
“Selamat atas kemenangannya. Portofolio kalian berdua kini sempurna untuk SMA Garuda Nusantara. Ingat, kemenangan ini adalah titipan.”
Bima menatap Senara yang sedang memeluk piala itu dengan penuh rasa syukur. Ia melihat kegembiraan yang tulus di wajah gadis itu. Di kelas dua SMP ini, Bima menyadari bahwa rivalitas mereka telah ditarik ke dalam sebuah skenario yang lebih besar.
Ia mulai bertanya-tanya. Apakah Senara benar-benar hanya pion yang tidak tahu apa-apa? Atau apakah kepolosan ini adalah topeng paling sempurna yang pernah diciptakan manusia?
Bima bersumpah, ia tidak akan berhenti sampai ia menemukan siapa yang berada di balik semua ini. Namun untuk sekarang, ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa posisinya sebagai nomor satu di sekolah kini harus berbagi tempat dengan Senara, sang gadis misterius yang seolah dijaga oleh semesta, atau oleh seseorang yang jauh lebih pintar dari Bima.
Perjalanan mereka menuju kelas tiga SMP dan gerbang SMA Garuda Nusantara kini membentang di depan mata, dengan sebuah misteri besar yang menghantui setiap langkah kaki mereka.