Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Buku Harian
Mata merah di dalam lemari itu berkedip, seolah sedang menghitung sisa detik kehidupan yang masih dimiliki Lauren. Aroma tanah basah dan busuk semakin tajam, menyusup ke dalam paru-paru Lauren yang kini terasa sesak. Ia tidak lagi memiliki energi untuk berteriak. Kepalanya yang pening terkulai di atas bantal, pasrah jika kegelapan itu memutuskan untuk melahapnya saat ini juga.
"Lauren! Jangan tatap matanya! Lihat aku!" suara Herza memecah keheningan dengan nada yang sangat mendesak.
Lauren berkedip lambat. Ia memaksakan matanya beralih ke arah Herza. Arwah remaja itu tampak berpendar sangat redup, tangannya merentang mencoba menghalangi pandangan mata merah tersebut. Lauren bisa melihat tubuh transparan Herza bergetar hebat. Mentornya sedang mempertaruhkan sisa esensinya untuk menjadi perisai bagi Lauren yang sudah di titik nadir.
"Aku... tidak bisa... Herza," bisik Lauren. Suaranya hampir tenggelam oleh suara detak jantung raksasa yang masih bergema dari arah loteng.
"Kamu bisa. Ambil buku itu. Di atas meja belajarmu. Tulis apa pun. Alihkan energimu ke sana sebelum mereka mengurasmu habis," perintah Herza. Suaranya terdengar pecah, seolah ia sedang menahan beban yang luar biasa berat.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Lauren menyeret tubuhnya turun dari tempat tidur. Setiap gerakannya terasa menyiksa, seolah tulang-tulangnya terbuat dari kaca yang siap retak. Ia merangkak menuju meja belajar, mengabaikan suara cakar yang kini mulai menggores dinding kamarnya dengan lebih berani.
Ia meraih sebuah buku harian bersampul biru tua yang selama ini tersimpan di laci. Tangannya gemetar saat ia memegang pena. Lauren membuka halaman pertama yang kosong di bawah cahaya lampu kamar yang masih berkedip mengikuti irama horor di atas sana.
"Tulis, Lauren. Tulis ketakutanmu. Keluarkan mereka dari kepalamu," desak Herza lagi.
Lauren mulai menggoreskan pena. Aku takut. Aku tidak mau mati di sini. Tolong aku.
Awalnya, tulisan itu berantakan dan lemah. Namun, saat tinta hitam itu mulai membasahi kertas, Lauren merasakan sebuah sensasi aneh. Rasa dingin yang tadinya mencekik ulu hatinya perlahan-lahan mengalir menuju lengan kanannya. Lengan itu mendadak menjadi sangat panas, hampir membara, berbanding terbalik dengan suhu tubuhnya yang sedingin es.
"Akh!" Lauren mengerang kecil. Ia mencoba melepaskan pena itu, namun jari-jarinya seolah terkunci secara permanen pada batang plastik tersebut.
"Lauren? Ada apa?" Herza melayang mendekat, wajahnya penuh kecemasan.
"Tanganku... aku tidak bisa menghentikannya, Herza!"
Pena di tangan Lauren mulai bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Bukan lagi tulisan tangan Lauren yang rapi, melainkan goresan-goresan kasar, tajam, dan miring yang seolah-olah ditarik oleh kekuatan magnet raksasa. Lauren menatap ngeri pada buku hariannya. Matanya membelalak melihat tangannya sendiri bergerak tanpa perintah dari otaknya.
Sret. Sret. Sret.
Kertas itu mulai dipenuhi oleh garis-garis yang membentuk pola aneh. Lauren mencoba menarik tangan kirinya untuk menahan tangan kanannya, namun ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya telah dipaku ke kursi. Ketakutan baru yang lebih tajam menghujam batinnya. Ia merasa bukan lagi pemilik tubuhnya sendiri.
"Herza, tolong! Aku kesurupan!" jerit Lauren dalam hati, suaranya tidak mampu keluar dari tenggorokan yang tercekat.
Herza mencoba menyentuh lengan Lauren, namun arwah itu terpental oleh gelombang energi jingga yang mendadak meledak dari medali di saku Lauren. Medali kuno itu berpendar hebat di balik kain seragamnya, seirama dengan gerakan pena yang semakin liar.
"Itu bukan kesurupan, Lauren! Itu medali itu! Dia sedang berbicara melaluimu! Jangan dilawan! Biarkan alirannya selesai!" teriak Herza dari sudut ruangan.
Lauren mencoba mengatur napasnya. Ia memejamkan mata, berhenti meronta. Ia mencoba melakukan apa yang Herza ajarkan selama berminggu-minggu: menerima aliran energi. Ia berhenti memaksakan kehendaknya dan membiarkan tangan kanannya menjadi alat bagi sesuatu yang lebih tua darinya.
Begitu ia tenang, rasa sakit terbakar di lengannya berubah menjadi denyutan ritmis yang hampir terasa seperti musik. Dalam kegelapan batinnya, Lauren tidak lagi melihat mata merah. Ia melihat untaian benang cahaya yang menghubungkan titik-titik di sebuah peta yang sangat luas.
Pena itu akhirnya berhenti bergerak dengan satu hentakan keras yang menyobek ujung kertas.
Lauren terengah-engah, peluh dingin membanjiri wajahnya. Cengkeraman pada penanya melonggar, membiarkan benda itu jatuh berdenting di atas lantai. Suara langkah kaki di loteng mendadak berhenti. Mata merah di dalam lemari itu menutup, dan aroma busuk di ruangan itu menguap seolah tertiup angin kencang.
Hening. Sunyi yang sangat pekat kembali menyelimuti kamar itu.
"Kamu oke?" tanya Herza pelan. Ia melayang kembali ke samping Lauren, menatap gadis itu dengan tatapan penuh kekaguman sekaligus ngeri.
Lauren tidak menjawab. Ia menatap buku harian di depannya. Di sana, di atas kertas yang tadinya kosong, tidak ada tulisan tentang ketakutan atau permohonan tolong. Yang ada adalah sebuah gambar rumit yang menyerupai denah bangunan kuno, dan di sela-sela gambar itu, tertulis tiga nama dengan tinta hitam yang tampak sangat pekat, seolah tinta itu baru saja diperas dari kegelapan.
Suryaningrat.
Prajawangsa.
Adiwangsa.
Lauren menyentuh tulisan itu. Ujung jarinya masih merasakan sisa panas dari energi yang tadi mengalir.
"Siapa mereka, Herza? Namanya terdengar... sangat tua."
Lauren menoleh ke arah Herza, berharap mendapatkan penjelasan. Namun, ia melihat mentornya membeku. Wajah arwah Herza yang pucat kini berubah menjadi benar-benar transparan, seolah keberadaannya sedang terancam hanya dengan melihat nama-nama itu. Mata Herza tertuju pada nama terakhir yang tertulis di pojok bawah kertas.
"Herza? Kamu kenal mereka?" tanya Lauren lagi, suaranya mulai bergetar karena melihat reaksi mentornya.
Herza melangkah mundur, gelombang ketakutan yang murni terpancar dari esensi arwahnya.
"Adiwangsa..." bisiknya, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering yang tertiup badai.
"Nama itu... tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Lauren, tutup buku itu. Sekarang!" perintah Herza dengan nada yang sangat tajam, lebih mirip perintah seorang jenderal di medan perang.
"Herza, jelaskan padaku! Apa yang tanganku tulis tadi?" Lauren mencengkeram buku itu, menolak untuk menutupnya. Ia merasa berhak tahu setelah hampir kehilangan kewarasannya.
Herza menatap Lauren dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Ada penyesalan dan ketakutan yang mendalam di sana.
"Nama-nama itu bukan sekadar nama, Lauren. Itu adalah garis keturunan para indigo yang pernah gagal. Mereka adalah mereka yang mencoba melawan Sang Arsitek, namun akhirnya berakhir menjadi bagian dari pasukannya."
Herza menunjuk nama Adiwangsa. "Dan nama yang terakhir itu... dia adalah alasanku terjebak di sekolah ini selama sepuluh tahun. Dia adalah sosok yang membunuhku dalam kecelakaan laboratorium itu, Lauren. Dia bukan manusia lagi saat itu, dan dia tidak akan membiarkanmu hidup setelah kamu menyebut namanya."
Jantung Lauren mencelos. Ia menatap kembali tulisan tangannya sendiri. Tiba-tiba, tinta di atas kertas itu seolah mulai mencair dan bergerak, membentuk bayangan kecil yang menyerupai tangan-tangan mungil yang mencoba merangkak keluar dari halaman buku.
Lauren membanting buku harian itu hingga tertutup rapat. Ia melemparkannya ke sudut ruangan seolah benda itu adalah bara api yang panas.
"Dia tahu, Lauren," bisik Herza, matanya menatap ke arah jendela yang kini mulai bergetar hebat.
"Dengan menulis nama itu, kamu baru saja memberikan koordinat jiwamu secara sukarela. Mereka tidak lagi perlu mencarimu. Mereka sudah di sini."
Tepat saat Herza menyelesaikan kalimatnya, lampu di kamar Lauren meledak secara serentak. Kegelapan total menyergap. Di tengah gelap itu, suara tawa pria yang tenang dari loteng tadi kembali terdengar, kali ini tepat di belakang telinga Lauren.
"Terima kasih atas petunjuknya, Gadis Kecil. Sekarang, mari kita mulai perburuan yang sesungguhnya."